Senin, 15/11/2010 17:19 WIB
Gayus di Bali untuk Negosiasi? (1)
Dua Spekulasi untuk Aburizal Bakrie 
Didik Supriyanto - detikNews


Foto: Dikhy S/detikcom


Jakarta - Meskipun Gayus Halomoan Tambunan terus membantah, bukti-bukti semakin 
kuat, bahwa pada Jumat (5/11/2010), dia di Bali. Gayus tertangkap kamera 
wartawan Kompas saat sedang menonton pertandingan tenis Daniela Hantuchova vs 
Yanina Wickmayer dalam  Commonwealth Bank Tournament of Champions di Nusa Dua, 
Bali. Selain pengakuan beberapa petugas Westin Hotel, keberadaan Gayus juga 
diperkuat oleh foto istrinya yang berada di belakang foto Gayus dalam Kompas, 
Rabu (10/11/2010).

Hasil analisis telematika menunjukkan, foto-foto yang beredar selama ini asli, 
bukan rekayasa.  Metode komputasi juga memperlihatkan adanya kesamaan antara 
foto di Bali tersebut dengan foto Gayus yang lain.Tindakan Mabes Polri yang 
menetapkan para penjaga Rumah Tahanan Brimob, Kelapa Dua, sebagai tersangka, 
semakin menegaskan kebenaran bahwa Gayus berada di Bali.

Sementara itu, Polda Bali membenarkan bahwa Gayus bersama beberapa orang 
tercatat menginap di Westin Hotel. Jadi, tidak perlu diragukan lagi kalau 
tersangka kasus penggelapan pajak tersebut berada di Bali. Padahal statusnya 
adalah tahanan yang tidak boleh keluar tanpa izin pengadilan.

Kini pertanyaannya adalah, jika sekadar untuk melepas kepengapan sel tahanan, 
mengapa Gayus harus pergi ke Bali? Jika hanya untuk mencari hiburan, mengapa 
harus terbang ke Kuta? Pada titik inilah beredar spekulasi, bahwa Gayus sedang 
melakukan negosiasi kelas tinggi. Dalam hal ini, keberadaan Gayus di Bali 
dikait-kaitkan dengan Aburizal Bakrie, alias Ical.

Spekulasi pertama, menyatakan bahwa Gayus ke Bali untuk bertemu dengan Ical, 
Ketua Umum Partai Golkar dan bos Grup Bakrie. Spekulasi ini berangkat dari 
fakta bahwa dalam kesaksiannya di pengadilan, Gayus menyebut beberapa 
perusahaan Ical ikut menyogok dirinya untuk penggelapan pajak.

Apalagi pada Sabtu (6/11/2010), Ical juga berada di Bali. Ical membantah 
spekulasi tersebut. "Iya, pada waktu itu saya memang  sedang berada di Bali. 
Akan tetapi bukan untuk menemui Gayus," kata mantan Menkokesra itu. Lagi pula, 
"Kalau ingin bertemu dengan Gayus, kenapa harus di Bali?" katanya. Rasanya 
memang tidak masuk akal, seorang politisi dan pengusaha sekaliber Ical, harus 
menemui dan bernegoisasi dengan Gayus.

Memang sebagai seorang pegawai pajak biasa, Gayus memiliki akses ke sejumlah 
pejabat tinggi (di lingkungan Ditjen Pajak, Kejaksaan Agung dan Kepolisian). 
Dia punya pengalaman dan reputasi untuk bernegosiasi dengan siapa saja sehingga 
dia cukup percaya diri untuk menghadapi Ical. Namun apakah Ical tak menyadari 
risiko yang akan didapat apabila pertemuannya dengan Gayus diketahui publik?

Ical bukanlah orang bodoh; sabaliknya, dia pengusaha sukses, juga politisi 
ulung. Katakanlah, perusahaan Ical benar-benar terdesak dengan kesaksian Gayus 
sehingga harus melakukan segala cara untuk mengamankan diri. Tetapi apakah 
memang sudah tidak ada eksekutif di Grup Bakrie yang bisa mengatasi masalah 
ini? Apakah Gayus sedemikian hebatnya, sehingga Ical harus turun tangan 
sendiri? Sekali lagi, secara logika tidak sampai ke situ. Namun logika bisa 
kalah dengan fakta, jika telah ditemukan bukti-bukti kuat yang membenarkan 
spekulasi ini.

Spekulasi kedua, masih tarkait dengan Ical, tapi kali ini berdasar informasi 
dan fakta lain. Kesaksian Gayus di pengadilan bahwa beberapa perusahaan Ical 
telah menyogok dirinya untuk penggelapan pajak, tetap menjadi dasar spekulasi 
ini. Kesaksian ini jelas menjadikan Ical dan perusahaannya sebagai sasaran 
impuk bagi lawan-lawan politik dan kompetitor bisnisnya.

Bagaimana pun posisi dan manuver-manuver politik Ical (seperti dalam kasus 
penanganan bencana lumpur Lampindo dan skandal Bank Century), telah menempatkan 
sejumlah orang atau kelompok, menjadi korban politik Ical. Dalam hal ini, Sri 
Mulyani bukan satu-satunya korban, masih banyak yang lain, baik di lingkungan 
birokrasi maupun partai politik.

Dalam sebuah permainan politik yang berkelanjutan, tentu mereka tidak tinggal 
diam. Mereka bisa melakukan balas dendam, jika peluang untuk itu terbuka. Nah, 
pada titik inilah, Ical sedang menerima serangan balik, entah dia sadari atau 
tidak, dari lawan-lawan politiknya. Coba perhatikan, tindakan Mabes Polri yang 
demikian cepat, begitu kasus ini mencuat ke permukaan.

Padahal, nyaris dalam kasus apapun, terhadap bukti-bukti yang ditunjukkan oleh 
media massa, polisi selalu pintar memberi dalih. Jadi, tumben polisi bergerak 
cepat, hingga dalam hitungan hari langsung menetapkan para penjaga Gayus 
sebagai tersangka, dan masuk tahanan.

Perhatikan cerita para wartawan yang hadir dalam arena tenis tempat Gayus 
tertangkap kamera. Wartawan Kompas dan beberapa yang lain, tidak dengan sengaja 
mendapati Gayus di arena tenis. Mereka diberitahu oleh seseorang bahwa Gayus 
ada di situ. Tidak hanya satu dua orang yang memberi tahu itu kepada wartawan. 
Para pemberi informasi itu juga seakan memilih wartawan sebagai penerima 
informasi.

Pertanyaannya, mengapa meski sudah sembunyi-sembunyi, keberadaan Gayus 
diketahui? Mengapa mereka yang mengetahui sengaja membocorkan ke wartawan? 
Adakah hal ini berkait erat dengan tindakan cepat polisi? Jika memang ada 
kaitannya, maka soal Gayus tertangkap kamera ini akan panjang ceritanya.

Dan semua itu tidak mudah dilepaskan dari keterkaitannya dengan Ical.  Sekali 
lagi, spekulasi ini masih memerlukan bukti untuk bisa dipercaya sebagai 
kenyataan. Apapun, cerita Gayus ini semakin membuka mata kita, bahwa di 
Republik  ini suap menyuap adalah praktek harian yang dilakukan oleh aparat 
penegak hukum. Saling terkait kegiatan bisnis dan politik sedemikian kuat, 
sehingga semakin meningkatkan kegiatan korupsi, sebuah penyakit sosial yang 
membuat negeri ini terus terpuruk.
(diks/nrl)
Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel 
anda! 



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke