Refleksi : Koruptor sebagai kepala daerah sangat menguntungkan kaum dinasti 
rezim berkuasa, sebab upeti  mudah mengalir kepada mereka yang memegang kunci 
kekuasaan. 

http://www.mediaindonesia.com/read/2011/01/07/193856/3/1/-Biaya-Politik-Mahal-Jadi-Sumber-Bencana-Pemerintahan


Biaya Politik Mahal Jadi Sumber Bencana Pemerintahan 
Jumat, 07 Januari 2011 23:58 WIB 


Penulis : Nurulia Juwita Sari
JAKARTA--MICOM: Biaya politik saat ini yang begitu mahal tidak hanya menjadi 
sumber bencana politik, tetapi juga bagi hukum dan pemerintahan. 

Hal itu disampaikan pengamat politik Yudi Latief saat menjadi pembicara dalam 
Evaluasi Kinerja Kementerian Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan, di 
Jakarta, Jumat (7/1). 

"Pembiayaan politik yang mahal itu menjadi sumber segala macam bencana. Kita 
tahu ongkos politik yang mahal, menjadi penyebab kurang dari lima persen kepala 
daerah yang dinyatakan berprestasi. Di samping itu, sekitar 250 kepala daerah 
terancam korupsi," keluhnya. 

Mahalnya ongkos politik ini, sambung dia, juga menjadikan partai-partai yang 
berhasil duduk di parlemen bersikap serakah, dan berupaya melakukan segala cara 
untuk menutup jalan partai-partai baru menuju parlemen. 

"Partai-partai yang berada di parlemen jadi bermental serakah. Salah satu 
contohnya dengan menghambat arus peserta baru dalam politik," ujarnya. 

Upaya menghambat antara lain terlihat melalui undang-undang parpol. Langkah 
ini, menurut dia, beresiko besar. Ketidakpuasan nantinya tidak hanya datang 
dari kalangan partai baru, tetapi masyarakat secara luas. 

"Kalau syaratnya setiap partai baru harus punya kantor di seluruh provinsi, 75% 
kabupaten dan 50% kecamatan, artinya partai baru harus mengeluarkan triliunan 
rupiah Arus ini akan menimbulkan frustasi luar biasa dari kalangan-kalangan 
yang punya aspirasi masuk ke politik tetapi diakali," urainya. 

Dalam kesempatan yang sama, pengamat politik dari Center for Strategic and 
International Studies (CSIS) J Kristiadi mengaku khawatir, jika politik uang 
tidak bisa ditekan maka tahun 2011 menjadi kiamat politik. Apalagi, selama ini 
masyarakat tidak mengawasi keuangan partai politik. 

"Masyarakat berhak curiga bahwa setiap proses politik terdapat permainan 
politik uang. Karena masyarakat tidak bisa mengontrol berapa uang partai, 
berapa dana kampanye, berapa uang-uang yang terjebak untuk politik ini. Semua 
tidak bisa diaudit, tidak transparan. Saya kira ini kiamat," cetusnya. 

Proses politik yang mengandung politik uang ini, menurut Kristiadi, ikut 
menghancurkan birokrasi. "Penetrasi politik sangat kuat sekali dan susah 
dibuktikan. Tapi kita semua melihat bagaimana birokrasi diacak-acak untuk 
kepentingan politik," ujarnya. 

Ia mencontohkan penyusunan undang-undang yang tidak terintegrasi. Setiap proses 
pembuatan undang-undang erat dengan kepentingan politik sehingga program 
legislasi nasional (prolegnas) pun kacau balau. Ia mengeluhkan, saat ini tidak 
ada kesamaan politik yang menjadi arahan dalam pembuatan undang-undang. 

"Tidak ada pemikiran yang mendalam mengenai undang-undang. Apalagi yang saling 
berkaitan sehingga regulasinya bisa dilaksankan dengan baik. Tidak ada yang 
peduli dengan prolegnas." 

Di sinilah, sambung dia, dibutuhkan peran penting Menteri Koordinator Politik 
Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam). "Ini tugas paling berat Menko Polhukam. Di 
Indonesia koordinasi menjadi hal yang sangat susah dilakukan. Diperlukan 
penataan struktur kekuasan dan bagaimana minimalisir politik uang," ujarnya. 

Langkah ini dapat dilakukan, tidak hanya dapat dilakukan dengan melaksanakan 
reformasi birokrasi, tetapi juga dengan mereformasi partai-partai politik. 
Diantaranya dengan membuat aturan yang memberi akses kepada publik untuk 
mengawasi keuangan partai politik. (Wta/OL-3)

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke