Refleksi : Tak apa-apa sekalipun dibikin stadion megah di atas rawa, sebab 
kalau nanti bangunan miring atau cemplung ke dalam rawa; bisa dibikin stadion 
baru, yang sekarang dipentingkan kontraktor sudah terima duitnya. 


http://www.klik-galamedia.com/indexnews.php?wartakode=20110114045326&idkolom=beritautama

Jumat, 14 Januari 2011 
Stadion Megah di Atas Rawa


PEMBANGUNAN megaproyek Stadion Utama Sepak Bola (SUS) Gedebage di Kel. 
Rancanumpang, Kec. Gedebage, merupakan impian seluruh masyarakat Kota Bandung. 
Pembangunan yang dimulai sejak 30 September 2009 itu, direncanakan selesai 
akhir Desember 2011. Pelaksana proyek adalah PT Adhi Karya, sekaligus pemenang 
lelang.

Berdasarkan data yang diperoleh dari Penta Rekayasa Architecture selaku 
konsultan proyek, SUS Gedebage nantinya akan menjadi stadion bertaraf 
internasional pertama di Jabar. Seluruh tribun akan ditutupi atap yang dibuat 
menyerupai bentuk gendang, yang dimodifikasi sedemikian rupa sehingga terlihat 
futuristik, modern, dan kokoh. 

Stadion nantinya akan berkapasitas 40.000 tempat duduk. Desainnya mengikuti 
standar Federation International Football Association (FIFA), sebagai Football 
Stadium Technical Recommendation Requirements dan FIFA Safety Guidelines. 

Selain itu, juga mengantongi standar Indonesia, SNI T-25-1991-03 tentang 
standar perencanaan stadion. SUS Gedebage, bahkan akan mengalahkan Stadion Si 
Jalak Harupat yang belum berstandar internasional.

Namun demikian, hingga akhir Desember 2011, pembangunan SUS tidak akan rampung 
100%. Berdasarkan data, pagu anggaran untuk pembanguan SUS Gedebage 80% sebesar 
Rp 623 miliar (Sesuai Perda Multiyears No. 06/ 2009). 

Dengan pagu anggaran yang ada, hanya bisa untuk membangun SUS sekitar 80% dari 
seluruh bangunan yang sudah dirancang. Artinya, stadion sudah dibangun dengan 
fasilitas tempat duduk, namun baru hanya dilengkapi atap untuk tribun barat. 

Selain itu, area site (luas keseluruhan lokasi SUS termasuk fasilitas lainnya 
seluas 24,5 ha), sudah diurug seluruhnya dan lansekap serta infrastruktur 
sebelah timur, barat, dan selatan sudah dikerjakan.

Sementara 20% lainnya yang belum dikerjakan, yaitu lansekap sebelah utara, 
scoring board, atap tribun timur, utara, dan selatan, lampu sorot lapangan 
serta struktur penyangga atap tribun timur ditunda.

Pembangunan SUS sendiri memang mengalami keterlambatan. Hingga akhir Desember 
2010, pembangunan baru mencapai 16% dari target yang ditetapkan yaitu 23%. 
Keterlambatan lebih disebabkan intensitas hujan di Bandung yang cukup tinggi 
selama tahun 2010, yaitu mencapai 61% atau sekitar 226 hari. Untuk tahun 2011 
sendiri diharapkan intensitas hujan hanya 20% saja sehingga progres pembangunan 
bisa mencapai target.

"Kalau curah hujannya seperti tahun 2010, kemungkinan besar pembangunan akan 
melenceng dari target. Dengan kata lain pembangunan baru bisa selesai sekitar 
bulan Juni 2012. Tapi kita masih memberikan toleransi karena ini termasuk force 
major, karena cuaca yang tidak bersahabat. Tidak ada sanksi karena bukan faktor 
kesengajaan. Harus jadi bagian toleransi pemerintah dalam pengerjaan," tutur 
Wakil Wali Kota Bandung, Ayi Vivananda kepada wartawan, usai meninjau 
perkembangan pembangunan stadion seluas 5.000 m2 itu, beberapa waktu lalu.

Untuk tahun 2011, anggaran yang disiapkan sebesar Rp 373 miliar. Sesuai 
kesepakatan, pembiayaan untuk stadion itu 60% dari Pemkot Bandung dan 40% 
sisanya dari Pemprov Jabar. Sedangkan pembiayaan yang sudah dikeluarkan selama 
tahun 2010, sebesar Rp 182 miliar. 

Kendala tanah

Sebagai stadion megah pertama di Kota Bandung bahkan Jawa Barat, pembangunan 
SUS Gedebage memang memiliki kendala terkait kontur tanah di lokasi pembangunan 
yang berbeda dengan kontur di daerah lainnya. Kontur tanah lunak bekas rawa, 
cukup memberi waktu panjang dalam proses pembangunan stadion. 

Bangunan SUS Gedebage akan dibangun setinggi 5 meter dari permukaan tanah. Hal 
itu dilakukan untuk mengejar elevasi banjir yang biasa terjadi di daerah 
tersebut. Namun karena lahan yang digunakan lunak, maka ketinggian akan turun 
1,7 meter hingga ketinggiannya menjadi 3,3 meter.

Dibangunnya stadion di atas tanah lunak, membuat kontraktor melakukan proses 
rekayasa teknologi untuk memadatkan tanah. Selain itu, rekayasa teknologi juga 
dilakukan agar proses pemadatan tidak memerlukan waktu lama. 

Proses tersebut disebut Prefabricated Vertikal Drain (PVD). Secara harfiah, 
teknik tersebut akan dilakukan untuk mengeluarkan air dari dalam tanah. Dengan 
demikian, tanah lunak setinggi 30 meter di lokasi tersebut yang secara alami 
padat dalam puluhan tahun, dengan teknik PVD dapat dipadatkan dalam beberapa 
bulan saja.

PVD sendiri merupakan suatu material fabricated yang biasanya dikombinasikan 
dengan pekerjaan pre-load berupa timbunan tanah. Maksudnya adalah untuk 
memberikan beban pada tanah sehingga air yang terkandung dalam tanah bisa 
termobilisasi dengan lebih cepat. 

Untuk menimbun site area seluas 24,5 ha, diperlukan 830 ribu m3 tanah yang 
diambil dari beberapa quory seperti dari Jatinangor, Batujajar, dan Baleendah. 
Pembangunan juga sempat terhambat, karena molornya pembukaan akses dari jalan 
Tol Padaleunyi. (lucky m. lukman/"GM")** 

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke