gw langsung nyamber ni topik, karena terkait dgn salah satu
pekerjaan sekarang. dikit ceritanya gini, barusan ada mutasi dan
promosi eselon dua di prov kalbar. salah satunya kepala bappeda
yg "tergusur" jadi kepala badan mitigasi provinsi kalbar. ya
sesama eselon dua sih, tapi siapa juga tau klo bappeda lebih
basah, sejuk dan berwibawa. artinya doi emang rada apes sih.

lantas waktu ketemuan dan kasih selamat, doi sempet bilang:
"tolong tetep bantu saya, apalagi ini badan yg masih baru".
siap bos, mungkin program pertama adalah perlu inventarisir
dan peta bencana secara spasial (peta) biar gampang koordinasi
melalui overlay. serta salah satu topiknya adalah map kerawanan
pangan secara prov yg akan di update oleh tiap kabupaten/kota.
serta bisa disinkronkan dgn kebijakan rpjm-d juga rtrw prov.

salah satu kerawanan bencana di kalbar selain alam adalah
aspek sosial khususnya sara (perang suku/adat). tapi salah
satu pemicunya adalah faktor kemiskinan dan kebodohan sosial.
nah salah satu yg gampang menyulut faktor itu adalah pangan.
sementara itu, krisis pangan sudah ada depan mata, antara lain
lewat cerita gw sebelumnya lewat cabe, perubahan musim, dst.
doi setuju dan kayaknya bisa jadi sambilan gede di taon ini.

sementara soal perubahan cuaca ekstrim (climate change), perlu
pemahaman dan penanganan lebih seksama. memang keliatan lewat
dampaknya, iklim bumi secara global sedang berubah. apakah
akibat siklus (seperti jaman es, dst), maupun akibat karbon
sejak era revolusi industri (penggunaan bahan bakar fosil).
yg menjadi problem, apakah trend "global warming" ditunggangi
pihak konspirasi tertentu seperti al gore or conservatories cs?
bukan berarti jelek ato menuduh, tapi ketika topik pemanasan
global yg lantas diikuti oleh skema pendanaan seperti carbon
trade ato redd (reduksi dan emsisi karbon) yg ditunggangi
para kapitalis, bisa bermakna cuci dosa bahkan money laundry.

"cuci dosa" bisa bermakna bahwa merekalah yg selama ini andil
mengakselesari kerusakan hutan (termasuk konsumennya) termasuk
di indonesia, lantas seolah "cuci tangan" dgn bentuk kompensasi.
sementara hak adat ato masyarakat asli tetap jadi penontonnya
terutama dgn persyaratan ala konservatoris yg "zero access".
artinya pula akan terdapat enclave yg justru mengusir para
penduduk lokal (hak ulayat) karena di luar skema pembangunan.

tapi apapun dugaan dan pembenaran *termasuk "kesalahan dugaan)
di atas, gak soal selama "para locals" melek informasi serta
diberdayakan secara mandiri (free, prior and informed consent)
dan didukung penuh oleh pemerintahnya. artinya, kudu lebih
pinter dan siap, walaupun kudu berhadapan dgn org pinter lain".

mungkin mirip gub kalteng (teras nyarang) yg secara cerdas dan
berani, mengambil wilayahnya sbg pilot project redd+ terutama
memanfaatkan sumber dana dari luar (third party). tapi ketika
pihak ketiga itu macam2 dgn segala syarat yg mengikat sekaligus
kontra dgn kebijakannya serta gak pro rakyat, si gubernur
udah siap dgn perangkat formal rpjm berikut tata ruangnya.
kasarnya, licik dilawan ama cerdik .. walau berarti rtrw
prov kalteng belum kelar juga (deadlock) ampe sekarang ;o)

semuanya untuk bumi dan kesejahteraan rakyat, termasuk cabe 
 

--- "rezameutia" <rezameutia@...> wrote:
>
> fenomena cabe, walaupun harganya melompat tinggi dari 20 rb/kg menjadi 100 
> rb/kg, tapi cabe masih ada di pasar.  dulu pernah harga cabe mencapai sekitar 
> 80,000/kg, lalu banyak orang yang menanam cabe dan nggak lama kemudian harga 
> cabe turun lagi menjadi normal.
> 
> pada saat itu, semua orang rame2 menanam cabe sehingga supply akhirnya masih 
> bisa memenuhi demand sehingga bisa balik ke harga equilibrium.  sekarang ini 
> nggak bisa seperti dulu lagi, semua orang rame2 menanam cabe, karena masalah 
> kendala cuaca ekstrim.
> 
> gw pernah tanya ob kantor tentang hasil bumi di kampungnya.  dia bilang, 
> petani tidak bisa menanam segala macam hasil bumi karena faktor cuaca 
> ekstrim, disamping hujan dan juga abu dari merapi.  fyi, ob gw itu berasal 
> dari daerah sekitar magelang.
> 
> sebenernya sih, awal mula pembicaraan dari rambutan.  di halaman kantor ada 
> pohon rambutan yang selalu berbuah tapi kali ini nggak berbuah sama sekali 
> dan rambutan nggak ada di pasar sama sekali.  so, gw tanya tentang rambutan 
> di kampungnya dan pembicaraan merembet ke hasil bumi lainnya dari kampung 
> asalnya.
> 
> pemerintah indonesia kayaknya udah kehabisan akal untuk menanggulangi masalah 
> cuaca ekstrim ini, penggunaan energi juga tidak efisien, pemerintah tidak 
> mengeluarkan regulasi tentang hemat energi sampai saat ini.  
> 
> penduduk jakarta utara makin pusing terkena dampaknya ini, sudah tidak bisa 
> melaut dah gitu sering sekali terjadi rob di penjaringan utara pula, air laut 
> masuk ke kampung.  
> 
> sebenernya sih udah jelas lah, cuaca ekstrim yang menjadi problem utamanya 
> karena hujan terus sepanjang tahun dan ditambah lagi (you got that right) 
> masalah rumah kaca (co2).
> 
> pada saat ini di davos, negara maju bukannya bersama-sama berembuk mengurangi 
> dan menanggulangi masalah co2 ini, tapi masih aja berantem saling menyalahkan 
> bahwa mereka bukan penyebab perubahan cuaca ekstrim ini.
>  
> mereka tetep menyalahkan kita sebagai penyebab perubahan cuaca ini karena 
> penebangan hutan yang membabi buta.  padahal, konsumen kayunya ya mereka2 
> juga.
> 
> the government has to do some actions, bukan hanya membuat rencana antisipasi 
> dan penanggulangan bencana multi sektoral, tapi harus membuat peraturan yang 
> bisa mengurangi co2.
> 
> mungkin mengurangi emisi co2 dari mobil, that's the least we can do.
> 
> 
> 
> 
> 
> --- In [email protected], "liver_duke" <endyonisius@> wrote:
> >
> > yg paling beken deh, fenomena cabe di awal taon ini.
> > sesuai azas supply and demand, mestinya harga cabe melambung
> > lantaran permintaan yg banyak. tapi yg terjadi adalah lebih
> > karena langka akibat gagal panen secara masif, diperparah dgn
> > tindakan spekulan (distributor) yg lepas dari rantai petani.
> > 
> > jika dikatakan bahwa faktor iklim (unpredictable season) sbg
> > biang kerok, mungkin ada benarnya. sepanjang taon 2010 adalah
> > curah hujan yg relatif merata tiap bulan di seluruh indonesia.
> > perubahan siklus musim yg berakibat gak teraturnya pola panen
> > baik di daratan maupun lautan, sbg salah satu kendala utama.
> > masih perlu diteliti apakah perubahan siklus ini merupakan
> > dampak dari pemanasan global kini trend sbg efek rumah kaca?
> > (masih blon kelar baca michael crichton, "state of fear").
> > 
> > yg kini perlu disikapi adalah antisipasi multi sektoral yg
> > antara lain melalui badan penanganan bencana di tiap level.
> > salah satu pendekatan adalah pra mitigasi (preventif) sebelum
> > mencapai taraf bencana, yakni penguatan sentra produksi unggulan
> > berbasis tehnologi (bagi petani dan nelayan) serta ekoregion.
> > melalui ekoregion berbasis spasial akan dicermati keseimbangan
> > ekosistim melalui eksplorasi sekaligus konservasi (stock fishing
> > terutama untuk perikanan tangkap) agar siklus tetap terjaga.
> > 
> > konon stok pangan (swa sembada) indonesia saat ini adalah hasil
> > lumbung 2008 yg akan didistribusi melalui bulog. maka jika 2010
> > telah dilalui dgn kegagalan panen, bisa dipastikan indonesia
> > akan defisit pangan (beras, jagung, ikan, termasuk cabe) dan
> > ganti status produsen jadi konsumen dgn penduduk berjubel.
> > 
> > 
> > --- "rezameutia" <rezameutia@> wrote:
> > >
> > > para pakar mengatakan terjadi krisis pangan di dunia karena cuaca 
> > > ekstrim.  pemerintah berusaha keras menangani hal ini, dengan menjanjikan 
> > > tidak akan ada krisis pangan di indonesia.  
> > > 
> > > btw, biasanya bulan desember dan januari dibanjiri rambutan.  tapi, tahun 
> > > ini kok nggak ada rambutan sama sekali di pasar.  apa ini akibat cuaca 
> > > ekstrim juga?
> > > 
> > > 
> > > =====
> > > 
> > > 
> > > * SBY: STABILITAS PANGAN PENTING
> > > 
> > > Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengatakan kestabilan pangan harus jadi 
> > > prioritas kunci G20. Menurutnya, harga makanan yang terus melonjak bisa 
> > > menyebabkan kerusuhan. Demikian presiden SBY dalam pertemuan di World 
> > > Economic Forum di Davos, Swiss.
> > > 
> > > Harga sereal misalnya, mencapai rekor di tahun 2008 dan menyebabkan 
> > > krisis pangan serta kerusuhan di sejumlah negara Afrika, Haiti dan 
> > > FIlipina. Demonstrasi belum lama ini termasuk di Tunisia dan Aljazair, 
> > > sebagian disebabkan oleh semakin meningkatnya harga pangan.
> > > 
> > > SBY juga menambahkan, pertumbuhan ekonomi dan sosial Asia sedang 
> > > berkembang pesat dan minta dunia internasional tidak hanya melihat Cina 
> > > Jepang atau India ketika membicarakan Asia, tapi juga Indonesia dan ASEAN.
> > > 
> > > 
> > > ===========
> > >
> >
>




------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke