Chrisye meninggal tgl 30 Maret 2007.  
Memang agak telat, but it's better late than nothing.


PS.  
Jusfiq si junkie tua tolol bilang, gw plagiat tulisan Taufiq Ismail.  
Harap maklum dah, si junkie tua memang terlalu tolol sih.  Saking tololnya, si 
junkie tua nggak bisa membedakan antara kontol dan pantat.  

Makanya, sampe tua kayak gini nggak bisa punya anak, lah.., si Marlene bininya 
dientot pantatnya bukan memeknya, ya mana bakalan bisa punya anak?

Jusfiq, kalo ngentot jangan terlalu mabok dong sampe nggak bisa membedakan 
antara memek dan pantat, kesian tuh si Marlene nggak bisa punya anak.


=======



KETIKA MULUT TAK LAGI BERKATA

Di tahun 1997 saya bertemu Chrisye sehabis sebuah acara, dan dia berkata,
"Bang,saya punya sebuah lagu. Saya sudah coba menuliskan kata-katanya, tapi 
saya tidak puas. Bisakah Abang tolong tuliskan liriknya?"

Karena saya suka lagu-lagu Chrisye, saya katakan bisa. Saya tanyakan kapan 
mesti selesai. Dia bilang sebulan. Menilik kegiatan saya yang lain, deadline 
sebulan itu bolehlah.

Kaset lagu itu dikirimkannya, berikut keterangan berapa baris lirik diperlukan, 
dan untuk setiap larik berapa jumlah ketukannya, yang akan diisi dengan suku 
kata.  Chrisye menginginkan puisi relijius.

Kemudian saya dengarkan lagu itu. Indah sekali. Saya suka betul. Sesudah 
seminggu,tidak ada ide.  Dua minggu begitu juga. Minggu ketiga inspirasi masih 
tertutup.  Saya mulai gelisah.  Di ujung minggu keempat tetap buntu.

Saya heran.  Padahal lagu itu cantik jelita.  Tapi kalau ide memang macet, apa 
mau dikatakan.  Tampaknya saya akan telepon Chrisye keesokan harinya dan saya 
mau bilang, "Chris, maaf ya, macet. Sori."

Saya akan kembalikan pita rekaman itu.

Saya punya kebiasaan rutin baca Surah Yasin. Malam itu, ketika sampai ayat 65 
yang berbunyi, "A'udzubillahi minasy syaithonirrojim. Alyauma nakhtimu 'alaa 
afwahihim, wa tukallimuna aidhihim, wa tasyhadu arjuluhum bimaa kaanu 
yaksibuun", saya berhenti.

Maknanya, "Pada hari ini Kami akan tutup mulut mereka, dan tangan mereka akan 
berkata kepada Kami, dan kaki mereka akan bersaksi tentang apa yang telah 
mereka lakukan."

Saya tergugah. Makna ayat tentang Hari Pengadilan Akhir ini luar biasa!  Saya 
hidupkan lagi pita rekaman dan saya bergegas memindahkan makna itu ke 
larik-larik lagi tersebut.

Pada mulanya saya ragu apakah makna yang sangat berbobot itu akan bisa masuk 
pas ke dalamnya.  Bismillah.  Keragu-raguan teratasi dan alhamdulillah 
penulisan lirik itu selesai.

Lagu itu saya beri judul "Ketika Tangan dan Kaki Berkata".  Keesokannya dengan 
lega saya berkata di telepon," Chris, alhamdulillah selesai".  Chrisye sangat 
gembira.  Saya belum beritahu padanya asal-usul inspirasi lirik tersebut.

Berikutnya hal tidak biasa terjadilah. Ketika berlatih di kamar menyanyikannya 
baru dua baris Chrisye menangis, menyanyi lagi, menangis lagi, berkali-kali.

Di dalam memoarnya yang dituliskan Alberthiene Endah, Chrisye ? Sebuah Memoar
Musikal, 2007 (halaman 308-309), bertutur Chrisye: Lirik yang dibuat Taufiq 
Ismail adalah satu-satunya lirik dahsyat sepanjang karier, yang menggetarkan 
sekujur tubuh saya.

Ada kekuatan misterius yang tersimpan dalam lirik itu.  Liriknya benar-benar 
mencekam dan menggetarkan. Dibungkus melodi yang begitu menyayat, lagu itu 
bertambah susah saya nyanyikan!

Di kamar, saya berkali-kali menyanyikan lagu itu. Baru dua baris, air mata saya 
membanjir.  Saya coba lagi. Menangis lagi. Yanti sampai syok! Dia kaget melihat 
respons saya yang tidak biasa terhadap sebuah lagu.

Taufiq memberi judul pada lagu itu sederhana sekali, Ketika Tangan dan Kaki 
Berkata.  Lirik itu begitu merasuk dan membuat saya dihadapkan pada kenyataan, 
betapa tak berdayanya manusia ketika hari akhir tiba.

Sepanjang malam saya gelisah. Saya akhirnya menelepon Taufiq dan menceritakan 
kesulitan saya. "Saya mendapatkan ilham lirik itu dari Surat Yasin ayat 65..." 
kata Taufiq.

Ia menyarankan saya untuk tenang saat menyanyikannya. Karena sebagaimana bunyi
ayatnya, orang memang sering kali tergetar membaca isinya.  Walau sudah 
ditenangkan Yanti dan Taufiq, tetap saja saya menemukan kesulitan saat mencoba 
merekam di studio.

Gagal, dan gagal lagi. Berkali-kali saya menangis dan duduk dengan lemas.   
Gila! Seumur-umur, sepanjang sejarah karir saya, belum pernah saya merasakan 
hal seperti ini. Dilumpuhkan oleh lagu sendiri!

Butuh kekuatan untuk bisa menyanyikan lagu itu.  Erwin Gutawa yang sudah 
senewen menunggu lagu terakhir yang belum direkam itu, langsung mengingatkan 
saya, bahwa
keberangkatan ke Australia sudah tak bisa ditunda lagi.

Hari terakhir menjelang ke Australia, saya lalu mengajak Yanti ke studio, 
menemani saya rekaman. Yanti sholat khusus untuk mendoakan saya.  Dengan susah 
payah, akhirnya saya bisa menyanyikan lagu itu hingga selesai.

Dan tidak ada take ulang! Tidak mungkin.  Karena saya sudah menangis dan tak 
sanggup menyanyikannya lagi.  Jadi jika sekarang Anda mendengarkan lagu itu, 
itulah suara saya dengan getaran yang paling autentik, dan tak terulang!

Jangankan menyanyikannya lagi, bila saya mendengarkan lagu itu saja, rasanya 
ingin berlari!  Lagu itu menjadi salah satu lagu paling penting dalam deretan 
lagu yang pernah saya nyanyikan. Kekuatan spiritual di dalamnya benar-benar 
meluluhkan perasaan. Itulah pengalaman batin saya yang paling dalam selama 
menyanyi.

Penuturan Chrisye dalam memoarnya itu mengejutkan saya.

Penghayatannya terhadap Pengadilan Hari Akhir sedemikian sensitif dan luar 
biasanya, dengan saksi tetesan air matanya.  Bukan main.  Saya tidak menyangka 
sedemikian mendalam penghayatannya terhadap makna Pengadilan Hari Akhir di hari 
kiamat kelak.

Mengenai menangis ketika menyanyi, hal yang serupa terjadi dengan Iin Parlina 
dengan lagu Rindu Rasul.  Di dalam konser atau pertunjukan, Iin biasanya cuma 
kuat menyanyikannya dua baris, dan pada baris ketiga Iin akan menunduk dan 
membelakangi penonton menahan sedu sedannya.  Demikian sensitif dia pada 
shalawat Rasul dalam lagu tersebut.


http://www.youtube.com/watch?v=AIQOwUSoq9M


=================




------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke