Mau mangkir?

http://groups.yahoo.com/group/proletar/message/296760

http://groups.yahoo.com/group/proletar/message/296770


--- In [email protected], "rezameutia" <rezameutia@...> wrote:
>
> 
> 
> Chrisye meninggal tgl 30 Maret 2007.  
> Memang agak telat, but it's better late than nothing.
> 
> 
> PS.  
> Jusfiq si junkie tua tolol bilang, gw plagiat tulisan Taufiq Ismail.  
> Harap maklum dah, si junkie tua memang terlalu tolol sih.  Saking tololnya, 
> si junkie tua nggak bisa membedakan antara kontol dan pantat.  
> 
> Makanya, sampe tua kayak gini nggak bisa punya anak, lah.., si Marlene 
> bininya dientot pantatnya bukan memeknya, ya mana bakalan bisa punya anak?
> 
> Jusfiq, kalo ngentot jangan terlalu mabok dong sampe nggak bisa membedakan 
> antara memek dan pantat, kesian tuh si Marlene nggak bisa punya anak.
> 
> 
> =======
> 
> 
> 
> KETIKA MULUT TAK LAGI BERKATA
> 
> Di tahun 1997 saya bertemu Chrisye sehabis sebuah acara, dan dia berkata,
> "Bang,saya punya sebuah lagu. Saya sudah coba menuliskan kata-katanya, tapi 
> saya tidak puas. Bisakah Abang tolong tuliskan liriknya?"
> 
> Karena saya suka lagu-lagu Chrisye, saya katakan bisa. Saya tanyakan kapan 
> mesti selesai. Dia bilang sebulan. Menilik kegiatan saya yang lain, deadline 
> sebulan itu bolehlah.
> 
> Kaset lagu itu dikirimkannya, berikut keterangan berapa baris lirik 
> diperlukan, dan untuk setiap larik berapa jumlah ketukannya, yang akan diisi 
> dengan suku kata.  Chrisye menginginkan puisi relijius.
> 
> Kemudian saya dengarkan lagu itu. Indah sekali. Saya suka betul. Sesudah 
> seminggu,tidak ada ide.  Dua minggu begitu juga. Minggu ketiga inspirasi 
> masih tertutup.  Saya mulai gelisah.  Di ujung minggu keempat tetap buntu.
> 
> Saya heran.  Padahal lagu itu cantik jelita.  Tapi kalau ide memang macet, 
> apa mau dikatakan.  Tampaknya saya akan telepon Chrisye keesokan harinya dan 
> saya mau bilang, "Chris, maaf ya, macet. Sori."
> 
> Saya akan kembalikan pita rekaman itu.
> 
> Saya punya kebiasaan rutin baca Surah Yasin. Malam itu, ketika sampai ayat 65 
> yang berbunyi, "A'udzubillahi minasy syaithonirrojim. Alyauma nakhtimu 'alaa 
> afwahihim, wa tukallimuna aidhihim, wa tasyhadu arjuluhum bimaa kaanu 
> yaksibuun", saya berhenti.
> 
> Maknanya, "Pada hari ini Kami akan tutup mulut mereka, dan tangan mereka akan 
> berkata kepada Kami, dan kaki mereka akan bersaksi tentang apa yang telah 
> mereka lakukan."
> 
> Saya tergugah. Makna ayat tentang Hari Pengadilan Akhir ini luar biasa!  Saya 
> hidupkan lagi pita rekaman dan saya bergegas memindahkan makna itu ke 
> larik-larik lagi tersebut.
> 
> Pada mulanya saya ragu apakah makna yang sangat berbobot itu akan bisa masuk 
> pas ke dalamnya.  Bismillah.  Keragu-raguan teratasi dan alhamdulillah 
> penulisan lirik itu selesai.
> 
> Lagu itu saya beri judul "Ketika Tangan dan Kaki Berkata".  Keesokannya 
> dengan lega saya berkata di telepon," Chris, alhamdulillah selesai".  Chrisye 
> sangat gembira.  Saya belum beritahu padanya asal-usul inspirasi lirik 
> tersebut.
> 
> Berikutnya hal tidak biasa terjadilah. Ketika berlatih di kamar 
> menyanyikannya baru dua baris Chrisye menangis, menyanyi lagi, menangis lagi, 
> berkali-kali.
> 
> Di dalam memoarnya yang dituliskan Alberthiene Endah, Chrisye ? Sebuah Memoar
> Musikal, 2007 (halaman 308-309), bertutur Chrisye: Lirik yang dibuat Taufiq 
> Ismail adalah satu-satunya lirik dahsyat sepanjang karier, yang menggetarkan 
> sekujur tubuh saya.
> 
> Ada kekuatan misterius yang tersimpan dalam lirik itu.  Liriknya benar-benar 
> mencekam dan menggetarkan. Dibungkus melodi yang begitu menyayat, lagu itu 
> bertambah susah saya nyanyikan!
> 
> Di kamar, saya berkali-kali menyanyikan lagu itu. Baru dua baris, air mata 
> saya membanjir.  Saya coba lagi. Menangis lagi. Yanti sampai syok! Dia kaget 
> melihat respons saya yang tidak biasa terhadap sebuah lagu.
> 
> Taufiq memberi judul pada lagu itu sederhana sekali, Ketika Tangan dan Kaki 
> Berkata.  Lirik itu begitu merasuk dan membuat saya dihadapkan pada 
> kenyataan, betapa tak berdayanya manusia ketika hari akhir tiba.
> 
> Sepanjang malam saya gelisah. Saya akhirnya menelepon Taufiq dan menceritakan 
> kesulitan saya. "Saya mendapatkan ilham lirik itu dari Surat Yasin ayat 
> 65..." kata Taufiq.
> 
> Ia menyarankan saya untuk tenang saat menyanyikannya. Karena sebagaimana bunyi
> ayatnya, orang memang sering kali tergetar membaca isinya.  Walau sudah 
> ditenangkan Yanti dan Taufiq, tetap saja saya menemukan kesulitan saat 
> mencoba merekam di studio.
> 
> Gagal, dan gagal lagi. Berkali-kali saya menangis dan duduk dengan lemas.   
> Gila! Seumur-umur, sepanjang sejarah karir saya, belum pernah saya merasakan 
> hal seperti ini. Dilumpuhkan oleh lagu sendiri!
> 
> Butuh kekuatan untuk bisa menyanyikan lagu itu.  Erwin Gutawa yang sudah 
> senewen menunggu lagu terakhir yang belum direkam itu, langsung mengingatkan 
> saya, bahwa
> keberangkatan ke Australia sudah tak bisa ditunda lagi.
> 
> Hari terakhir menjelang ke Australia, saya lalu mengajak Yanti ke studio, 
> menemani saya rekaman. Yanti sholat khusus untuk mendoakan saya.  Dengan 
> susah payah, akhirnya saya bisa menyanyikan lagu itu hingga selesai.
> 
> Dan tidak ada take ulang! Tidak mungkin.  Karena saya sudah menangis dan tak 
> sanggup menyanyikannya lagi.  Jadi jika sekarang Anda mendengarkan lagu itu, 
> itulah suara saya dengan getaran yang paling autentik, dan tak terulang!
> 
> Jangankan menyanyikannya lagi, bila saya mendengarkan lagu itu saja, rasanya 
> ingin berlari!  Lagu itu menjadi salah satu lagu paling penting dalam deretan 
> lagu yang pernah saya nyanyikan. Kekuatan spiritual di dalamnya benar-benar 
> meluluhkan perasaan. Itulah pengalaman batin saya yang paling dalam selama 
> menyanyi.
> 
> Penuturan Chrisye dalam memoarnya itu mengejutkan saya.
> 
> Penghayatannya terhadap Pengadilan Hari Akhir sedemikian sensitif dan luar 
> biasanya, dengan saksi tetesan air matanya.  Bukan main.  Saya tidak 
> menyangka sedemikian mendalam penghayatannya terhadap makna Pengadilan Hari 
> Akhir di hari kiamat kelak.
> 
> Mengenai menangis ketika menyanyi, hal yang serupa terjadi dengan Iin Parlina 
> dengan lagu Rindu Rasul.  Di dalam konser atau pertunjukan, Iin biasanya cuma 
> kuat menyanyikannya dua baris, dan pada baris ketiga Iin akan menunduk dan 
> membelakangi penonton menahan sedu sedannya.  Demikian sensitif dia pada 
> shalawat Rasul dalam lagu tersebut.
> 
> 
> http://www.youtube.com/watch?v=AIQOwUSoq9M
> 
> 
> =================
>




------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke