Refl: Berkat penggundulan huitan ini maka fulus bantuan luargeneri masuk 
kantong, Bertalian dengan masalah lingkungan dengan adanya pengudulan ini, 
antara lain ini diberitakan bahwa Norwegi memberikan US$ 1 miliar, Perancis US$ 
300,-- juta dan Australia US$ 250,-- juta. Jadi silahkan gundul, makin banyak 
gundul makin banyak fulus mengalir masuk. Bukankagh itu yang dibutuhkan? Hutan 
makin gundul, dompet penguasa NKRI dan kaum elit serta konco bin sahabat mereka 
makin bunting buncit dengan fulus.

http://www.sinarharapan.co.id/content/read/mimpi-kosong-penggundulan-hutan/

03.05.2011 16:32

Mimpi Kosong Penggundulan Hutan
Penulis : Sulung Prasetyo   


(foto:dok/ist)
Kerusakan hutan akibat deforestasi mencapai 1,6 juta hektare per tahun. Tampak 
muskil target menghilangkan laju deforestasi pada 2020.
World Wildlife Foundation (WWF) mengeluarkan laporan bertajuk "The Living 
Forest", pertengahan minggu ketiga April 2011. Menurut laporan tersebut, angka 
deforestasi hutan di Indonesia bisa mencapai titik nol pada 2020. 

Sebuah harapan yang muluk-muluk sepertinya, mengingat laju kerusakan hutan 
akibat deforestasi yang terjadi saat ini masih mencapai angka 1,6 juta hektare 
per tahun. Penyebabnya, menurut Pusat Penelitian Kehutanan Internasional 
(Center for International Forestry Research/Cifor) bersumber dari faktor-faktor 
komersial dan perubahan makroekonomi.

Rod Taylor, Direktur Kehutanan WWF-Internasional, pada acara Bussiness for 
Environment (B4E) di Jakarta mengatakan, kalau secara jangka pendek, 
faktor-faktor penyebab deforestasi tersebut bisa ditanggulangi bila memiliki 
tata kelola lahan yang baik. 

"Namun bila kita melihat proyeksi jangka panjangnya, hingga 2050 dengan 
populasi 9 miliar jiwa, kita harus mengurangi konsumsi yang berlebihan, 
pemborosan bahan makanan maupun energi, serta meningkatkan produktivitas 
pertanian dan kehutanan untuk menekan pembukaan hutan pada tingkat nyaris nol," 
tambah Rob menjelaskan. 

Angka mendekati nol deforestasi hutan tersebut juga dimahfumkan pemerintah. 
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) kemudian mengajak kalangan pengusaha 
untuk turut serta mewujudkannya.  

"Sekarang ada sekitar 30 juta hektare lahan kritis terdegradasi ada di 
Indonesia," ujar SBY. Kalangan pengusaha bisa memanfaatkannya untuk mewujudkan 
program moratorium hutan alami, atau pengurangan emisi gas rumah kaca melalui 
deforestasi dan degradasi hutan (Reducing Emission from Forest Degradation and 
Deforestation/REDD). 

Namun banyak kalangan yang tak sepaham dengan hal ini, seperti Joko Supriyono, 
Sekretaris Jenderal dari Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki). 
Menurut Joko, lahan kritis terdegradasi seluas 30 juta hektare tersebut 
kebanyakan merupakan wilayah yang dulunya hutan alam, sehingga secara legal 
tidak dapat digunakan untuk ekspansi industri kelapa sawit. "Kecuali ada 
perubahan tata ruang dan pelepasan kawasan hutan," imbuh Joko. 

Tapi perubahan tata ruang bisa sangat sulit, karena akan terbentur beberapa 
undang-undang yang telah ada. "Dengan kata lain program moratorium hutan sangat 
tidak realistis, karena hanya akan menghambat ekspansi sawit," tukas Joko lagi. 

Di pihak lain, Elfian Effendi dari Greenomics Indonesia mengaku kaget dengan 
pernyataan Presiden SBY, yang dianggap terlalu mendahului dari kenyataan yang 
ada. "Sementara secara definisi yang disebut hutan dan perkebunan saja masih 
tak jelas, sudah dikeluarkan pernyataan mengenai pemanfaatan," kata Elfian. 

Kontroversi mengenai definisi hutan memang terus menjadi tak menentu. Badan 
Pangan Dunia (FAO) sempat mengeluarkan pernyataan, perkebunan seperti kelapa 
sawit termasuk sebagai hutan. Namun definisi tersebut jelas ditentang banyak 
lembaga konservasi lingkungan, mengingat hutan menurut mereka bukan yang hanya 
memiliki satu jenis pohon (monokultur) saja. 

Masalah lain, menurut Elfian, yaitu belum disetujuinya Instruksi Presiden 
(Inpres) mengenai moratorium. Dengan kata lain, tanpa adanya dasar legal maka 
berbagai kegiatan yang akan dilakukan bisa dimentahkan begitu saja. 

Kemudian bila semua dikaitkan dengan harapan nol deforestasi pada 2020 maka 
hanya tersisa sekitar sembilan tahun lagi untuk mewujudkannya, dari sekarang. 
Dalam waktu sesempit itu, jangan sampai harapan nol deforestasi hanya akan 
menjadi mimpi belaka. 


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke