1. saya kira ini cuman masalah waktu,
2. mohon diingat, saya bergabung di milis apakabar sudah sejak 1995-an dan 
sudah membaca posting uda jusfig sekian lama, tepatnya saya pernah baca 
posting2 uda berarti sudah 16 taon :-)

kemaren tulisan uda jusfig ttg soekarno saya posting di facebook, 

-----
Irwansyah Irwansyah Mas Wawan Setiawan ada bukti-bukti pendukung untuk statemen 
ini: Sayangnya, dan sedihnya, buat orang Indonesia, yang membawa Indonesia ke 
alam
merdeka itu adalah bangsat nasionalis anjing fascist Jepang Soekarno, penjual 
seperempat juta romusha kepada fascist Jepang?


Wawan Setiawan
‎1. ada foto soekarno sedang menggerakan romusha, kalau nggak salah ini 
ada di bukunya 'Soekarno penjambung lidah rakjat' oleh cindy adams, nanti akan 
saya cari
2. Soekarno dijanjikan oleh jepang ttg kemerdekaan indonesia, sehingga dibentuk 
badan2 bentukan jepang seperti dokuritsu junbi cosakai ataupun PPKI, soekarno 
pernah menagih janji kepada pimpinan militer jepang di hindia belanda 'apakah 
sikap tuan yg mengulur-ngulur janji tuan adalah sikap seorang bushido?'
3. Soekarno pertama kali ke luar negeri adalah ke jepang, dan diterima oleh 
kaisar hirohito
4. ketika jepang kalah perang, soekarno tidak percaya sehingga diculik chaerul 
saleh dkk untuk diyakinkan
5. uda jusfig bilang pernah melihat monumen romusha indonesia di thailand


Wawan Setiawan
Buku 'Penjambung Lidah Rakjat - Cindy Adams'
Inilah pernyataan Bung Karno tentang romusha: "Sesungguhnya akulah –Sukarno– 
yang mengirim mereka kerja paksa. Ya, akulah orangnya. Aku menyuruh mereka 
berlayar menuju kematian. Ya, ya, ya, ya akulah orangnya. Aku membuat 
pernyataan untuk menyokong pengerahan romusha Aku bergambar dekat Bogor dengan 
topi di kepala dan cangkul di tangan untuk menunjukkan betapa mudah dan enaknya 
menjadi seorang romusha. Degn para wartawan, juru potret, Gunseikan –Kepala 
Pemerintahan Militer- dan para pembesar pemerintahan aku membuat perjalanan ke 
Banten untuk menyaksikan tulang-tulang-kerangka-hidup yang menimbulkan belas, 
membudak di garis-belakang, itu jauh di dalam tambang batubara dan tambang mas. 
Mengerikan. Ini membikin hati di dalam seperti diremuk-remuk."



Dr. Lambert Giebels, 66 tahun, penulis biografi Soekarno : "Soekarno, 
1901-1950" dan "Soekarno, 1950-1970" yang keduanya dipersiapkan selama 5 tahun 
(1996-2001) hingga "Giebels sampai serasa hidup dan tinggal dengan Sukarno," 
kata Giebels kepada TEMPO. Banyak sekali masalah kontroversial dalam faset 
hidup Sukarno yang diungkapkan, misalnya soal Sukarno di masa Jepang. Giebels 
mengabdikan halaman yang cukup panjang untuk mengulas apakah Sukarno seorang 
kooperator atau kolaborator Jepang.

Beberapa hal yang cukup kontroversial diulas Giebels, diantaranya :

1. Soekarno tidak berperan dalam Soempah Pemoeda
Giebels merujuk Abu Hanifah yang menulis Dongeng dari Masa Revolusi (Tales of a 
Revolution). Dari dialah, Giebels kumpulkan sebagian besar informasi seputar 
Sumpah Pemuda. Menurut Hanifah, Sukarno hanyalah saksi mata pasif di pertemuan 
28 Oktober 1928 yang kondang itu. Dari riset yang Giebels lakukan, tak ada 
informasi yang membantah hal tersebut, kecuali pernyataan dari Sukarno sendiri. 
Sukarno menyatakan bahwa dirinya berada di tengah-tengah panggung. Di sini 
tampak kepribadiannya yang narcissistic?.

2. Soekarno bertanggung jawab atas suksesnya program Romusha
Ada dua disertasi sejarawan Jepang yang mendasari analisis Giebels terhadap 
kasus romusha, yakni War and Peasants: the Japanese Administration in Java and 
Its Impact on the Peasantry 1942-1945 karya Shigeru Sato dan Mobilization and 
Control: a Study of Social Change in Rural Java 1942-1945 karya Aiko Kurasawa. 
Referensi lain adalah tulisan Tan Malaka tentang pengalamannya di Banten. Di 
tahun-tahun pertama penjajahan Jepang, rekrutmen romusha merupakan kebijakan 
rasional yang bertujuan memobilisasi jutaan penganggur untuk merehabilitasi dan 
membangun Pulau Jawa. Kebijakan ini tak banyak berbeda dengan rekrutmen tenaga 
kerja di berbagai negara Barat selama krisis ekonomi tahun 1930-an. Hatta pun 
setuju dengan gagasan ini. Sebab, saat menjadi mahasiswa di Rotterdam, Hatta 
pernah melihat kebijakan semacam ini diterapkan di Barat. Masa kerja paksa ini 
berlangsung selama 3 bulan saja. Pekerja romusha bekerja di wilayah 
masing-masing dan mendapatkan makanan secara cukup. Kondisi romusha ini berubah 
pada akhir 1943, ketika Tokyo memutuskan agar Jepang mengambil sikap bertahan 
dan mengamankan belahan Jepang dengan bantuan militer selama waktu tertentu. 
Pada titik itulah kerja paksa berubah menjadi perbudakan. Banyak dari mereka 
yang dikirim jauh dari kampung halaman selama lebih dari tiga bulan. Sukarno 
layak dipersalahkan. Dalam otobiografinya, ia memang menyalahkan diri sendiri 
karena mempropagandakan program rekrutmen romusha tersebut. Apakah Hatta juga 
bertanggung jawab soal romusha ini? Ya, Hatta, yang menjadi Ketua Badan 
Pembantu Prajurit Pekerja (BP3), pun mesti dipersalahkan. Begitu juga 
pemerintah setempat Indonesia (kebanyakan kalangan priayi) yang mengeruk untung 
atas setiap tenaga kerja pria yang mereka serahkan kepada tim rekrutmen seraya 
melindungi keluarga dan teman-teman mereka sendiri. Begitu juga pemuda yang 
dilatih oleh pihak militer yang mengejar orang-orang yang berpotensi jadi 
romusha sampai ke desa-desa. Di sisi lain, peran Sukarno dalam skandal romusha 
tampak dibesar-besarkan. Misalkan, ada sebuah foto yang begitu terkenal, 
Sukarno berpose sebagai romusha ideal. Giebels sarankan Anda berbicara dengan 
Rosihan Anwar tentang proses pembuatan foto ini di Bogor. Ia saksi mata 
peristiwa itu. Satu hal baru lagi yang Giebels temukan seputar skandal romusha 
adalah soal jumlah romusha yang meninggal dunia. Jumlah ini terlalu 
dibesar-besarkan. Hal ini merupakan kebijakan yang disengaja oleh pemerintah 
Indonesia di era 1950-an. Jumlah korban romusha merupakan argumen kuat untuk 
menuntut pampasan perang (war reparation) yang tinggi dari pemerintah Jepang

3. Menyetorkan ratusan jugun ianfu
Giebels tidak mengerti kenapa informasi ini begitu mengejutkan Anda (yg 
dimaksud wartawan TEMPO Seno Joko Suyono, Gita W. Laksmini, dan Leila S. 
Chudori). Sukarno menyebut hal ini kepada Cindy Adams. Anda mesti sadar bahwa 
ketika itu Sukarno hanyalah seorang pemimpin lokal, pemimpin setempat. Apabila 
ia memprotes, besar kemungkinan Sukarno akan langsung dilempar ke dalam hotel 
prodeo alias masuk bui. Giebels berpendapat bahwa Sukarno membuat keputusan 
yang terbaik yang bisa ia perbuat ketika itu. Sukarno melindungi para perempuan 
dari perilaku serdadu Jepang dan menyediakan kesempatan kerja kepada pekerja 
seks komersial profesional di Padang.

Sukarno melihat adanya kesempatan untuk memerdekakan Indonesia dari penjajahan 
Jepang ketika Imamura memimpin. Sukarno cukup realistis dalam hal ini. 
Sebelumnya, Jepang sudah memberikan kemerdekaan kepada Filipina dan Burma. 
Bulan September 1944, deklarasi Koiso menjanjikan kemerdekaan Indonesia. Lepas 
dari perasaan utang budi Sukarno kepada Jepang atas kesempatan tersebut, 
Sukarno memang menyukai Negara Jepang dan orang-orangnya. Jepang menjadi negara 
tujuan kegemarannya.

Sukarno bahkan menikahi dua hostesu Jepang (hostesu pertama bernama Sakiko, 
yang bunuh diri pada 30 September 1959 dengan mengiris nadinya di kediamannya 
di Menteng karena malu lantaran hostesu kedua, Dewi, menjadi istri favorit 
Sukarno)

‎4. Menolak 2 naskah proklamasi, dari para pemuda yang menolak campur 
tangan Jepang dan dari Sutan Sjahrir.
Sjahrir menulis satu teks proklamasi kemerdekaan. Giebelsngnya, teks tersebut 
lenyap entah ke mana. Ini juga menyulitkan riset Giebels. Sekalipun demikian, 
Soebadio Sastrosatomo almarhum sangat yakni bahwa teks ini pernah ada. Ia 
mengatakan kepada Giebels bahwa ketika Sjahrir sempat membuat beberapa 
perubahan, Sjahrir melakukan perbaikan di sana-sini menggunakan pena milik 
Soebadio yang lupa ia kembalikan. Soebadio ingat bahwa teks tersebut kira-kira 
terdiri atas 100 kata. Isinya sangat anti-Jepang dan tidak terlalu kritis 
terhadap kolonialisme Belanda. Sukarno dan Laksamana Maeda kemudian memilih 
teks versi Hatta. Tapi itu pun menghapus kalimat Hatta yang berbunyi "Kekuasaan 
direbut dari tangan para penguasa." Sukarno dan Hatta sadar bahwa kerja sama 
dengan pihak Jepang perlu untuk menghindari banjir darah. Tapi, di saat yang 
sama, hal tersebut menunjukkan Sjahrir memang tidak ingin bergabung dengan 
Sukarno-Hatta. Mereka akhirnya sepakat bekerja sama ketika di rumah Laksamana 
Maeda.

Giebels pun menyebutkan Sukarno sebenarnya menginginkan enam orang mahasiswa 
radikal agar ikut menandatangani teks proklamasi bersama dirinya dan Hatta. 
Tapi para pelajar tersebut menolak karena beranggapan teks proklamasi versi 
Hatta merupakan hasil kompromi Indonesia-Jepang. Sumber utama dari peristiwa 
tersebut adalah memoar dari Nishijima yang disusun oleh Anthony Reid dan Oki 
Akari (editor) dalam The Japanese Experience in Indonesia: Selected Memoirs 
1942-1945, di mana terdapat pernyataan Nishijima kepada komite interograsi 
Belanda, yang Giebels temukan dalam arsip-arsip organisasi intelijen KNIL 
(Nefis) dan memoar Hatta

5. Melakukan negosiasi rahasia dengan Belanda
Sukarno, menurut Giebels, diam-diam mengatur kesepakatan dengan pemerintah 
Belanda melalui seorang agen rahasia bernama Bob Koke. Isi negosiasi adalah 
Sukarno tidak keberatan apabila pemerintah Belanda kembali menunjuk seorang 
gubernur jenderal untuk memerintah Indonesia, asalkan dia yang menjadi perdana 
menteri dan asalkan Indonesia bisa memperoleh 50 persen keuntungan 
perusahaan-perusahaan Belanda.

Nama Robert Koke pertama kali Giebels baca ketika Giebels menerjemahkan buku 
Revolusi dari Nusa Damai (Revolt in Paradise) karya K'tut Tantri (nama asli 
perempuan Amerika ini: Muriel Pearson) ke bahasa Belanda. Di awal 1930-an, Koke 
dan istrinya membuka hotel pertama di Kuta, Bali, bernama Hotel Kuta. Peran 
Koke sebagai agen itu Giebels dengar dari seorang Australia bernama Timothy 
Lindsey, yang berkawan dengan K'tut Tantri, semasa K'tut tinggal di Sydney, dan 
berharap bukunya yang best seller itu difilmkan. Timothy Lindsey menulis 
biografi tentang K'tut Tantri berjudul Romantika K'tut Tantri dan Indonesia 
(The Romance of K'tut Tantri and Indonesia), yang diterbitkan oleh Oxford 
University Press pada 1997. Dalam buku ini, Timothy Lindsey mengungkapkan peran 
Koke, di halaman 164-165, termasuk pertemuan Bob Koke dengan Sukarno di halaman 
386. Giebels sendiri kurang tahu apakah Timothy Lindsey pernah bertemu dengan 
Bob Koke. Di buku ini, Koke menyatakan bahwa Mohammad Diah beserta keluarga 
berada bersama dirinya dalam pertemuannya dengan Sukarno sebagai penerjemah. 
Mungkin Pak Mohammad Diah dan istrinya bisa memberikan informasi lebih banyak 
tentang hal ini.

Sebagai sebuah disertasi, karya Timothy Lindsey itu Giebels anggap punya 
otoritas yang bisa diandalkan. Tapi, apabila pertemuan tersebut betul-betul 
terjadi dan isinya memang demikian, Giebels tidak sependapat dengan pernyataan 
bahwa Sukarno "menjual" Indonesia. Sebab, Sukarno sendiri adalah laki-laki yang 
gemar omong kosong. Kemungkinan negosiasi ini hanyalah gagasan sekilas Sukarno 
untuk mencari tahu bagaimana musuh bereaksi?.

6. Sangat gandrung teosofi
Konon, Sukarno orang yang sangat terpengaruh teosofi. Pemimpin-pemimpin 
pergerakan nasional Indonesia sendiri seperti tokoh Boedi Oetomo, H. Agoes 
Salim, Tjipto Mangoenkoesumo, adalah penganut teosofi. Sementara itu, di masa 
remajanya, Sukarno sering bergelut di perpustakaan teosofi karena sang ayah 
merupakan pengikut teosofi.

Informasi tentang latar belakang teosofis pada diri ayah Sukarno Giebels 
peroleh dari studi mendalam tentang gerakan teosofi di Indonesia dalam buku The 
Politics of Divine Wisdom 1875-1947 karya Herman de Tollenaere (Nijmegen, 
1996). Giebels kira buku ini pun layak untuk diresensi TEMPO. Anda sebaiknya 
langsung menghubungi pengarangnya. Giebels yakin, ia pasti antusias dan segera 
mengirimkan contoh bukunya kepada Anda. Sesungguhnya Sukarno tidaklah terlalu 
taat menjalani kepercayaan yang diturunkan dari ayahnya. Sejak ia menetapkan 
Demokrasi Terpimpin pada 1959, Sukarno melarang Masyarakat Teosofi Indonesia 
(Theosophical Society of Indonesia) dengan menggunakan dekrit presiden (bersama 
dengan Freemasonry dan musik rock 'n' roll).

7. Kencan Marylin Monroe?
Dalam buku otobiografinya yang ditulis Cindy Adams, Soekarno tak bisa 
menyembunyikan kesukaannya terhadap wanita. "Bukan suatu dosa atau tidak sopan 
kalau seseorang mengagumi seseorang perempuan cantik", katanya .
"Aku hanya seorang pecinta kecantikan yang luar biasa", kata Soekarno menangkis 
cemooh orang ketika dia menemui aktris Gina Lollobrigida waktu berkunjung ke 
Italia bulan Oktober 1964.
Pertemuan Marylin dan Soekarno bisa terwujud atas jasa Joshua Logan, sutradara 
film "Bus Stop" yang diperani oleh Marilyn. Waktu itu dia sedang sibuk syuting 
ketika Soekarno berada dan bertemu sekitar 200 pekerja film di sana.
Malam hari Soekarno di Hollywood, Eric Allen Johnston, Presiden Motion Picture 
Association of America (MPAA) mengadakan pesta untuk menghormati Soekarno dan 
rombongannya di the Beverly Hills Hotel, Hollywood. Sebenarnya Marilyn tak 
dijadualkan datang ke pesta itu apalagi diundang. Tetapi saat syuitng film "Bus 
Stop" dia diajak Joshua Logan. "Saya ingin kau menemui sahabat saya nanti 
malam", bujuk Logan kepada Marilyn. Tanpa ragu Marylin mengiyakan permintaan 
Logan. Padahal esok harinya dia akan berulang tahun ke 30 dan harus terbang 
malam itu juga ke New York untuk suatu acara.
Akhirnya Marilyn datang juga ke pesta yang khusus diadakan untuk menghormati 
Soekarno itu. Dia mengenakan gaun gelap berleher panjang. Seketika kehadirannya 
membuat atmosfir pesta lebih hidup. Bahkan beberapa aktor ternama sudah hadir 
terlebih dahulu, termasuk Gregory Peck, George Murphy (kelak menjadi senator) 
dan Ronald Reagan (25 tahun kemudian jadi presiden AS).
Kehadiran Marilyn benar-benar memberi oksigen dalam pesta itu, serta mencuri 
perhatian hampir semua orang. Soekarno segera menghampiri saat mengetahui 
kedatangannya. Mereka bertemu dalam suasana akrab hampir selama 45 menit. 
Layaknya seperti dua sahabat yang lama yang tak bertemu. Momen itu tak 
disia-siakan oleh para fotografer Amerika dan Indonesia.
Marilyn dengan basa-basi mengatakan bahwa dia menyesal tak diundang ke pesta 
itu. Namun Soekarno tak peduli dia diundang atau tidak, asalkan sudah bertemu 
dengannya. "Tujuan saya datang ke Amerika antara lain untuk menemuinya 
(Marilyn)", kata Soekarno, sedikit diplomatis.
Pertemuan Marilyn dengan Soekarno meninggalkan beberapa kisah menarik yang 
berkembang melampaui batas-batas fakta sebenarnya. Misalnya, dalam buku Goddess 
The Secret Life of Marilyn Monroe, yang ditulis Anthony Summers. Dalam buku itu 
ada bagian yang menceritakan tentang affair kedua lagenda itu, yang menurut 
saya sangat sulit dikonfirmasikan apalagi untuk dibenarkan.
Misalnya saja pengakuan sutradara Joseph Logan dalam buku itu. "Saya pikir 
mereka berdua melakukan pertemuan lanjutan setelah pesta itu", kenang Logan 
yang memperkenalkan Marilyn kepada Soekarno.

*Sekedar melihat sisi lain Proklamator RI di bulan Agustus 2010 ini


--- In [email protected], "Jusfiq" <kesayangan.allah@...> wrote:
>
> 
> 
> 
> Salah satu masaalah berat memang.
> 
> Sepanjang yang menyangkut pemujaan terhadap Soekarno oleh sejumlah orangmuda 
> itu sebabnya saya kira adalah tidak terbukanya horizon mere



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke