--- "suryana" <gsuryana@...> wrote:

> Kang Ambon mana ngerti Pancasila ?, lha Ambon saja di tinggal kan, 
> dan malah mendukung untuk merdeka pula.
> Sayang memang banyak WNI tidak pernah ngeh mengapa bisa ada NKRI, 
> mengapa tidak RIS maupun terpecah.

Karena selalu dibekap iming-iming untuk jadi "seperti" orang lain; 
seperti Amerika; seperti Russia; bahkan seperti Belanda atau 
Singapura yang segede-gede upil itu. Mereka emoh jadi diri sendiri 
tapi juga takut jadi orang lain samasekali. Beraninya cuma "seperti" 
doang. Nanggung. 


> 
> Di kampung sebelah ada sebuah oretan yang menarik, mengenai kata " 
> Budak "
> Bila kita melihat kata budak di luar kontek NKRI, maka budak adalah 
> slave, sedang untuk Indonesia istilah Budak bukanlah slave, 
> melainkan anak ( sunda ), demikian juga sahaya yang sekarang umum 
> menjadi saya, yang menyatakan kerendahan hati, dan apakah di jaman 
> kerajaan kerajaan Indonesia ada budak seperti halnya di kerajaan 
> kerajaan timur tengah, europa ?, 
> siapakah yang memperkenalkan 'budak' ke Indonesia ?

Boleh baca-baca seputar Kerajaan Kediri, Singosari, Pajang, dan 
barangkali juga kerajaan lain di nusantara. Menurut penelitian 
Pramoedya, Kertajaya (Kediri) bahkan sudah menetapkan undang-undang 
antiperbudakan ketika Raja John baru merilis Magna Carta. 


> 
> sur.
> ps.
> Mohon dengan sangat didalam menghayati Pancasila janganlah dengan 
> memakai nomor urut, karena hakekat Pancasila bukanlah berdasarkan 
> urutan 1 sd 5, melainkan tergantung situasi dimana saat itu sedang 
> berada.

Betul, Pancasila itu berupa butir-butir, 5 butiran sikap, 
dan bukan nomor yang antri berurutan. 


> ----- Original Message ----- 
> From: "ajeg" <ajegilelu@...>
> 
> > Kalau Sila-1 diinterpretasi macam-macam ya itu
> > salahnya yang menginterpretasi, kenapa tuhan
> > diinterpretasi macam-macam, bahkan harus bergantung
> > corak agamanya.
> >
> > Mayoritas penduduk di nusantara yang menganut
> > animisme / dinamisme sekalipun, mengenal dan percaya
> > adanya kekuasaan di luar dirinya yang berpengaruh
> > atas kehidupannya. Sekurangnya, percaya bahwa dia
> > tidak punya kuasa apapun atas kelahiran & kematiannya.
> > Dalam Pancasila, kuasa itulah yang difalsafahkan
> > sebagai 'tuhan'.
> >
> > Kamu sendiri gimana mbon, percaya bahwa kamulah yang
> > menentukan kelahiran & kematianmu? Kalau percaya
> > seperti itu, maka bolehlah berbangga sebagai atheis.
> >
> > Sayangnya mayoritas manusia pasti nggak percaya kamu
> > bisa menentukan sendiri kelahiran serta kematianmu.
> > Dan, bagi yang percaya demokrasi, sudah pasti suara
> > mayoritaslah yang harus didahulukan.
> >
> > Tapi jangan khawatir, penerapan Sila-1 itu secara hukum
> > sudah ditetapkan dalam Pasal 29 ayat 2 UUD'45 yang
> > menjamin penduduk untuk memeluk agama dan 'KEPERCAYAAN-
> > nya'.
> >
> > Artinya, tidak memeluk agama apa pun ya nggak masalah
> > selama dia PERCAYA adanya kekuasaan di luar dirinya yang
> > berpengaruh atas kehidupannya.
> >
> >
> > --- "sunny" <ambon@...> wrote:
> >
> > > Kalau sila pertama  Pancasila  berbunyi "Kebebasan beragama" 
> > > maka semua pihak akan untung, tidak ada macam-macam 
> > > interpertasi tentang ketuhanan yang maha Esa. Ambil saja di 
> > > Indonesia ada agama Kong FuChu, Hindu, Buddha mereka mempunyai 
> > > agama yang tidak mengenal Ketuhanan Yang Maha Esa, apalagi kaum 
> > > atheis atau anisme. Serahkan saja kepada masing-masing orang, 
> > > mau percaya atau tidak, sebab kalau Allah itu penguasa alam 
> > > semesta, maka Allah yang menentukan bukan si penghobat tentang 
> > > tidak benarnya agamaa orang lain.
> > >
> > > Seperti di USA kebebasan beragama dijunjung tinggi, dan oleh 
> > > sebab itu semua agama termasuk percaya setan pun tentu saja ada.
> > >
> > > Jadi kalau kebebasan beragama ada tidak ada kejadian seperti 
> > > kaum Ahmadiah disikat dan AlQuan yang sama dengan kaum 
> > > penyerang pun dibakar.
> > >
> > > ----- Original Message ----- 
> > > From: suryana@...
> > >
> >




------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke