Sebenrnta diuat itu bisa dibayar Pemerintah NKRI ! Hnya saja boro2 membantu WNI kan ? Kalau bisa mah bagaimana MOROT WNI sebanyak banyaknya !!! Masalah HUKUM dan aturan, itu sudah memang TRADISI KSA ! Jadi mereka semdirilah yang akan merubah kalau memang mereka merasa kurang adil !
Komentar segudang dari kita tak ada gunnta ; tapi JELAS disini PEMERINTAH MAFIA NKRI benar2 cuci tangan ! --- In [email protected], Habe Proletar <proletar4@...> wrote: > > bukan soal ratap meratap, tapi hukuman pancung di arab itu ngga adil > pertama hukuman mati dalam hukum sharia di arab, bila sang pembunuh berasal > dari keluarga berduit banyak > dia bisa menebus dengan uang darah alias diyya pada keluarga yang terbunuh > > cara nebus dengan diyya ini sudah sering dilakukan berulang ulang > > ini sama dengan memberi lisensi buat majikan untuk menyiksa atau membunuh > tkw > dari negara negara miskin > apalagi raja arab punya hak pula untuk memberikan amnesty segala buat warganya > > sebaliknya jika tkw membunuh majikan, gimana mau bayar blood money? udah > miskin > gaji jarang dibayar, keluarga yang ditinggali di tanah air lebih tragis lagi > kondisi perekonomiannya > > arab itu memang bajingan, Islam sudah waktunya melepaskan hubungan dengan > tradisi arab > > dan gue ngomong begini bukan berarti mendukung si item babu > > > > > > ________________________________ > From: widura <a.widura@...> > To: [email protected] > Sent: Sun, June 19, 2011 6:25:20 PM > Subject: Re: [proletar] Ruyati Dipancung, ke Mana SBY? + Arab Pancung > Perempuan > Indonesia > > > Di berita, ramainya ngomentarin soal pemerintah ngga bisa bantuin melindungi > nyawa warganya...ngga salah sih komentar yg ngritik pemerintah spt itu, tapi > ngga ada satupun yg ngomentari soal hukum pancung itu sendiri..yah, kita bisa > taulah alasannya...mestinya sih bagi mereka yg memahami hukum di arab, ya > ngga > usah meratapi lg nasib seperti itu..kan udah siap waktu berangkat...sekarang > udah terjadi, tinggal bgm memulangkan jenazahnya aja...apakah ada yg kapok > kerja > ke arab ?...pasti ada..tapi yg ngga kapok jg jauh lebih banyak krn ngga semua > bernasib apes seperti si royati...katanya sih kalo ngga salah kenapa takut > ?... > -----Original Message----- > From: "sunny" <ambon@...> > Sender: [email protected] > Date: Sun, 19 Jun 2011 14:24:12 > To: <Undisclosed-Recipient> > Reply-To: [email protected] > Subject: [proletar] Ruyati Dipancung, ke Mana SBY? + Arab Pancung Perempuan > Indonesia > > Refl: Mungkin SBY lagi di toilet jadi tak tahu, bahwa ada PRT dipancung, > > http://internasional.kompas.com/read/2011/06/19/11014581/Ruyati.Dipancung..ke.Mana.SBY > > > > TKW Dihukum Mati di Arab Saudi > > Ruyati Dipancung, ke Mana SBY? > Tri Wahono | Minggu, 19 Juni 2011 | 11:01 WIB > > > Tribun Batam/Iman Suryanto Ilustrasi: Tenaga kerja Indonesia (TKI) > > > JAKARTA, KOMPS.com - Eksekusi mati terhadap PRT Migran Indonesia Ruyati binti > Sapubi di Saudi Arabia adalah bentuk keteledoran pemerintah melakukan > diplomasi. > Eksekusi mati ini bukti pidato Presiden SBY pada sidang ILO ke-100 pada 14 > Juni > 2011 mengenai perlindungan PRT migran di Indonesia hanya buaian saja. > > "Dalam pidato itu, Presiden SBY menyatakan di Indonesia mekanisme > perlindungan > terhadap PRT migran Indonesia sudah berjalan, tersedia institusi dan > regulasinya. Tentu saja pidato ini menyejukkan dan menjanjikan. Namun buaian > pidato tersebut tiba-tiba lenyap ketika hari Sabtu, 18 Juni 2011, muncul > berita > di banyak media asing. Mengenai pelaksanaan eksekusi hukuman mati dengan cara > dipancung terhadap Ruyati binti Sapubi, PRT migran Indonesia yang bekerja di > Saudi Arabia," tulis Migrant CARE, dalam rilisnya, Minggu (19/6/2011). > > Peristiwa ini, menurut Migrant CARE, jelas memperlihatkan apa yang > dipidatokan > Presiden SBY di ILO tidak sesuai dengan realitas. Dalam soal hukuman mati > terhadap PRT migran dan warga negara Indonesia di luar negeri, diplomasi luar > negeri Indonesia terlihat sangat tumpul. > > "Di Saudi Arabia, ada sekitar 23 warga negara Indonesia (mayoritas PRT > migran) > menghadapi ancaman hukuman mati. Kasus terakhir yang muncul ke permukaan > adalah > ancaman hukuman mati terhadap Darsem. Dalam kasus ini pemerintah Indonesia > lebih > berkonsentrasi dalam pembayaran diyat (uang darah) ketimbang melakukan > advokasi > litigasi di peradilan maupun diplomasi secara maksimal," kecam Migrant CARE. > > Eksekusi mati terhadap Ruyati binti Sapubi, menurut Migrant CARE, merupakan > bentuk keteledoran diplomasi perlindungan PRT migran Indonesia. Dalam kasus > ini, > publik tidak pernah mengetahui proses hukum dan upaya diplomasi apa yang > pernah > dilakukan oleh Pemerintah Indonesia. > > "Keteledoran ini juga pernah terjadi pada kasus eksekusi mati terhadap Yanti > Iriyanti, PRT migran Indonesia asal Cianjur yang juga tidak pernah diketahui > oleh publik sebelumnya. Bahkan hingga kini jenazah Yanti Iriyanti belum bisa > dipulangkan ke Tanah Air atas permintaan keluarganya," papar Migran CARE. > > Dijelaskan, dalam kasus Ruyati binti Sapubi, sebenarnya Migrant CARE telah > menyampaikan perkembangan kasus ini ke Pemerintah Indonesia sejak bulan > Maret. > Namun, ternyata tidak pernah ada tindak lanjutnya. > > Migrant CARE menyatakan duka sedalam-dalamnya atas eksekusi mati terhadap > almarhumah Ruyati binti Sapubi. Atas kasus ini pula Migrant CARE mendesak > Presiden SBY untuk mengusut tuntas keteledoran diplomasi perlindungan PRT > migran > Indonesia. > > "Migrant CARE juga mendesak agar dilakukan evaluasi kinerja (dan jika perlu > pencopotan) terhadap para pejabat yang terkait dengan keteledoran kasus ini > seperti Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Menteri Luar Negeri, Kepala > BNP2TKI dan Duta Besar RI untuk Saudi Arabia," demikian Migrant CARE. > > > ++++ > > http://internasional.kompas.com/read/2011/06/19/06584176/Arab.Pancung.Perempuan.Indonesia > > > > Arab Pancung Perempuan Indonesia > > Josephus Primus | Minggu, 19 Juni 2011 | 06:58 WIB > > JEDDAH, KOMPAS.com - Seorang perempuan Indonesia telah dipancung dengan > pedang, > Sabtu (18/6/2011). Perempuan itu dihukum karena membunuh seorang perempuan > Arab > Saudi, kata Kementerian dalam Negeri Arab Saudi. > > > Perempuan bernama Raiaiti Beth Sabotti Sarona, menurut penyalinan huruf dari > bahasa Arab, terbukti bersalah membunuh perempuan Saudi Khairiya binti Hamid > Mijlid dengan menyerangnya berulang kali pada kepala dengan pemotong daging > dan > menikamnya di leher, kata kementerian itu dalam sebuah pernyataan yang > diangkat > oleh kantor berita resmi SPA. > > > Kantor berita itu tidak menguraikan motif kejahatan itu, ataupun > mengungkapkan > hubungan antara kedua perempuan itu. Tapi beberapa pejabat Indonesia > mengatakan > bahwa sekitar 70 persen dari 1,2 juta warga Indoesia yang bekerja di Arab > Saudi > adalah staf domestik (rumah tangga). > > > Pemancungan di provinsi Mekah di Saudi barat itu membuat jumlah eksekusi di > kerajaan yang sangat konservatif itu tahun ini menjadi 28 orang, menurut > hitungan AFP berdasarkan pada laporan-laporan pejabat dan kelompok hak asasi > manusia. Kelompok Amnesty International yang bermarkas di London pekan > lalu > minta pada Arab Saudi untuk berhenti melaksanakan hukuman mati, mengatakan > telah > ada peningkatan signifikan dalam jumlah eksekusi yang dilakukan pada enam > tahun > terakhir. > > > Mereka menyatakan sedikitnya 27 orang telah dieksekusi di Arab Saudi pada > 2011. > Jumlah itu sama seperti jumlah semua orang yang dieksekusi pada sepanjang > 2010. > Ada 15 orang dieksekusi pada Mei saja. Pada 2009, jumlah eksekusi mencapai > 67, > dibanding 102 oada 2008. > > > Pemerkosaan, pembunuhan, kemurtadan , perampokan bersenjata semuanya dapat > dihukum dengan hukuman mati menurut interpretasi keras hukum syariah Islam > Arab > Saudi. > > > [Non-text portions of this message have been removed] > > > > [Non-text portions of this message have been removed] > > > negara Indonesia di luar negeri, diplomasi luar negeri Indonesia > terlihat sangat tumpul. > > "Di Saudi Arabia, ada sekitar 23 warga negara Indonesia (mayoritas PRT > migran) > menghadapi ancaman hukuman mati. Kasus terakhir yang muncul ke permukaan > adalah > ancaman hukuman mati terhadap Darsem. Dalam kasus ini pemerintah Indonesia > lebih > berkonsentrasi dalam pembayaran diyat (uang darah) ketimbang melakukan > advokasi > litigasi di peradilan maupun diplomasi secara maksimal," kecam Migrant CARE. > > Eksekusi mati terhadap Ruyati binti Sapubi, menurut Migrant CARE, merupakan > bentuk keteledoran diplomasi perlindungan PRT migran Indonesia. Dalam kasus > ini, > publik tidak pernah mengetahui proses hukum dan upaya diplomasi apa yang > pernah > dilakukan oleh Pemerintah Indonesia. > > "Keteledoran ini juga pernah terjadi pada kasus eksekusi mati terhadap Yanti > Iriyanti, PRT migran Indonesia asal Cianjur yang juga tidak pernah diketahui > oleh publik sebelumnya. Bahkan hingga kini jenazah Yanti Iriyanti belum bisa > dipulangkan ke Tanah Air atas permintaan keluarganya," papar Migran CARE. > > Dijelaskan, dalam kasus Ruyati binti Sapubi, sebenarnya Migrant CARE telah > menyampaikan perkembangan kasus ini ke Pemerintah Indonesia sejak bulan > Maret. > Namun, ternyata tidak pernah ada tindak lanjutnya. > > Migrant CARE menyatakan duka sedalam-dalamnya atas eksekusi mati terhadap > almarhumah Ruyati binti Sapubi. Atas kasus ini pula Migrant CARE mendesak > Presiden SBY untuk mengusut tuntas keteledoran diplomasi perlindungan PRT > migran > Indonesia. > > "Migrant CARE juga mendesak agar dilakukan evaluasi kinerja (dan jika perlu > pencopotan) terhadap para pejabat yang terkait dengan keteledoran kasus ini > seperti Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Menteri Luar Negeri, Kepala > BNP2TKI dan Duta Besar RI untuk Saudi Arabia," demikian Migrant CARE. > > > ++++ > > http://internasional.kompas.com/read/2011/06/19/06584176/Arab.Pancung.Perempuan.Indonesia > > > > Arab Pancung Perempuan Indonesia > > Josephus Primus | Minggu, 19 Juni 2011 | 06:58 WIB > > JEDDAH, KOMPAS.com - Seorang perempuan Indonesia telah dipancung dengan > pedang, > Sabtu (18/6/2011). Perempuan itu dihukum karena membunuh seorang perempuan > Arab > Saudi, kata Kementerian dalam Negeri Arab Saudi. > > > Perempuan bernama Raiaiti Beth Sabotti Sarona, menurut penyalinan huruf dari > bahasa Arab, terbukti bersalah membunuh perempuan Saudi Khairiya binti Hamid > Mijlid dengan menyerangnya berulang kali pada kepala dengan pemotong daging > dan > menikamnya di leher, kata kementerian itu dalam sebuah pernyataan yang > diangkat > oleh kantor berita resmi SPA. > > > Kantor berita itu tidak menguraikan motif kejahatan itu, ataupun > mengungkapkan > hubungan antara kedua perempuan itu. Tapi beberapa pejabat Indonesia > mengatakan > bahwa sekitar 70 persen dari 1,2 juta warga Indoesia yang bekerja di Arab > Saudi > adalah staf domestik (rumah tangga). > > > Pemancungan di provinsi Mekah di Saudi barat itu membuat jumlah eksekusi di > kerajaan yang sangat konservatif itu tahun ini menjadi 28 orang, menurut > hitungan AFP berdasarkan pada laporan-laporan pejabat dan kelompok hak asasi > manusia. Kelompok Amnesty International yang bermarkas di London pekan > lalu > minta pada Arab Saudi untuk berhenti melaksanakan hukuman mati, mengatakan > telah > ada peningkatan signifikan dalam jumlah eksekusi yang dilakukan pada enam > tahun > terakhir. > > > Mereka menyatakan sedikitnya 27 orang telah dieksekusi di Arab Saudi pada > 2011. > Jumlah itu sama seperti jumlah semua orang yang dieksekusi pada sepanjang > 2010. > Ada 15 orang dieksekusi pada Mei saja. Pada 2009, jumlah eksekusi mencapai > 67, > dibanding 102 oada 2008. > > > Pemerkosaan, pembunuhan, kemurtadan , perampokan bersenjata semuanya dapat > dihukum dengan hukuman mati menurut interpretasi keras hukum syariah Islam > Arab > Saudi. > > > [Non-text portions of this message have been removed] > > > > [Non-text portions of this message have been removed] > > > > > [Non-text portions of this message have been removed] > ------------------------------------ Post message: [email protected] Subscribe : [email protected] Unsubscribe : [email protected] List owner : [email protected] Homepage : http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: [email protected] [email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
