Hehehe.... jadi lu ngejilat pantat KSA. 

Apa lu pernah cuap2 kalo ada tkw yg mati dibunuh oleh majikan Arab lu? Apa 
bukannya aturan dan hukum KSA itu bilang kalo ada yg ngebunuh orang Islam, maka 
yg ngebunuh itu hrs ganti dibunuh?






________________________________
From: Abbas <[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Mon, June 20, 2011 3:53:00 PM
Subject: [proletar] Re: Ruyati Dipancung, ke Mana SBY? + Arab Pancung Perempuan 
Indonesia

   
Sebenrnta diuat itu bisa dibayar Pemerintah  NKRI ! Hnya saja boro2 membantu 
WNI 
kan ? Kalau bisa mah bagaimana MOROT WNI sebanyak banyaknya !!!
Masalah HUKUM dan aturan, itu sudah memang TRADISI KSA ! Jadi mereka semdirilah 
yang akan merubah kalau memang mereka merasa kurang adil !

Komentar segudang dari kita tak ada gunnta ; tapi JELAS disini PEMERINTAH MAFIA 
NKRI benar2 cuci tangan !

--- In [email protected], Habe Proletar <proletar4@...> wrote:
>
> bukan soal ratap meratap, tapi hukuman pancung di arab itu ngga adil
> pertama hukuman mati dalam hukum sharia  di arab, bila sang pembunuh berasal 
> dari keluarga berduit banyak 
> dia bisa menebus dengan uang darah alias diyya pada keluarga yang terbunuh
> 
> cara nebus dengan diyya ini sudah sering dilakukan berulang ulang
> 
> ini sama dengan memberi lisensi buat majikan untuk menyiksa  atau membunuh 
> tkw 

> dari negara negara miskin
> apalagi raja arab punya hak pula untuk memberikan amnesty segala buat warganya
> 
> sebaliknya jika tkw membunuh majikan, gimana mau bayar blood money? udah 
miskin
> gaji jarang dibayar, keluarga yang ditinggali  di tanah air lebih tragis lagi 
> kondisi perekonomiannya
> 
> arab itu memang bajingan, Islam sudah waktunya melepaskan hubungan dengan 
> tradisi arab
> 
> dan gue ngomong begini bukan berarti mendukung si item babu
> 
> 
> 
> 
> 
> ________________________________
> From: widura <a.widura@...>
> To: [email protected]
> Sent: Sun, June 19, 2011 6:25:20 PM
> Subject: Re: [proletar] Ruyati Dipancung, ke Mana SBY? + Arab Pancung 
> Perempuan 
>
> Indonesia
> 
> 
> Di berita, ramainya ngomentarin soal pemerintah ngga bisa bantuin melindungi 
> nyawa warganya...ngga salah sih komentar yg ngritik pemerintah spt itu, tapi 
> ngga ada satupun yg ngomentari soal hukum pancung itu sendiri..yah, kita bisa 
> taulah alasannya...mestinya sih bagi mereka yg memahami hukum di arab, ya 
> ngga 

> usah meratapi lg nasib seperti itu..kan udah siap waktu berangkat...sekarang 
> udah terjadi, tinggal bgm memulangkan jenazahnya aja...apakah ada yg kapok 
>kerja 
>
> ke arab ?...pasti ada..tapi yg ngga kapok jg jauh lebih banyak krn ngga semua 
> bernasib apes seperti si royati...katanya sih kalo ngga salah kenapa takut 
?...
> -----Original Message-----
> From: "sunny" <ambon@...>
> Sender: [email protected]
> Date: Sun, 19 Jun 2011 14:24:12 
> To: <Undisclosed-Recipient>
> Reply-To: [email protected]
> Subject: [proletar] Ruyati Dipancung, ke Mana SBY? + Arab Pancung Perempuan 
> Indonesia
> 
> Refl: Mungkin  SBY lagi di toilet jadi tak tahu, bahwa ada PRT dipancung, 
> 
>http://internasional.kompas.com/read/2011/06/19/11014581/Ruyati.Dipancung..ke.Mana.SBY
>Y
> 
> 
> 
> TKW Dihukum Mati di Arab Saudi
> 
> Ruyati Dipancung, ke Mana SBY?
> Tri Wahono | Minggu, 19 Juni 2011 | 11:01 WIB 
> 
> 
> Tribun Batam/Iman Suryanto Ilustrasi: Tenaga kerja Indonesia (TKI) 
> 
> 
> JAKARTA, KOMPS.com - Eksekusi mati terhadap PRT Migran Indonesia Ruyati binti 
> Sapubi di Saudi Arabia adalah bentuk keteledoran pemerintah melakukan 
>diplomasi. 
>
> Eksekusi mati ini bukti pidato Presiden SBY pada sidang ILO ke-100 pada 14 
> Juni 
>
> 2011 mengenai perlindungan PRT migran di Indonesia hanya buaian saja.
> 
> "Dalam pidato itu, Presiden SBY menyatakan di Indonesia mekanisme 
> perlindungan 

> terhadap PRT migran Indonesia sudah berjalan, tersedia institusi dan 
> regulasinya. Tentu saja pidato ini menyejukkan dan menjanjikan. Namun buaian 
> pidato tersebut tiba-tiba lenyap ketika hari Sabtu, 18 Juni 2011, muncul 
> berita 
>
> di banyak media asing. Mengenai pelaksanaan eksekusi hukuman mati dengan cara 
> dipancung terhadap Ruyati binti Sapubi, PRT migran Indonesia yang bekerja di 
> Saudi Arabia," tulis Migrant CARE, dalam rilisnya, Minggu (19/6/2011).
> 
> Peristiwa ini, menurut Migrant CARE, jelas memperlihatkan apa yang 
> dipidatokan 

> Presiden SBY di ILO tidak sesuai dengan realitas. Dalam soal hukuman mati 
> terhadap PRT migran dan warga negara Indonesia di luar negeri, diplomasi luar 
> negeri Indonesia terlihat sangat tumpul.
> 
> "Di Saudi Arabia, ada sekitar 23 warga negara Indonesia (mayoritas PRT 
> migran) 

> menghadapi ancaman hukuman mati. Kasus terakhir yang muncul ke permukaan 
> adalah 
>
> ancaman hukuman mati terhadap Darsem. Dalam kasus ini pemerintah Indonesia 
>lebih 
>
> berkonsentrasi dalam pembayaran diyat (uang darah) ketimbang melakukan 
> advokasi 
>
> litigasi di peradilan maupun diplomasi secara maksimal," kecam Migrant CARE.
> 
> Eksekusi mati terhadap Ruyati binti Sapubi, menurut Migrant CARE, merupakan 
> bentuk keteledoran diplomasi perlindungan PRT migran Indonesia. Dalam kasus 
>ini, 
>
> publik tidak pernah mengetahui proses hukum dan upaya diplomasi apa yang 
> pernah 
>
> dilakukan oleh Pemerintah Indonesia.
> 
> "Keteledoran ini juga pernah terjadi pada kasus eksekusi mati terhadap Yanti 
> Iriyanti, PRT migran Indonesia asal Cianjur yang juga tidak pernah diketahui 
> oleh publik sebelumnya. Bahkan hingga kini jenazah Yanti Iriyanti belum bisa 
> dipulangkan ke Tanah Air atas permintaan keluarganya," papar Migran CARE.
> 
> Dijelaskan, dalam kasus Ruyati binti Sapubi, sebenarnya Migrant CARE telah 
> menyampaikan perkembangan kasus ini ke Pemerintah Indonesia sejak bulan 
> Maret. 

> Namun, ternyata tidak pernah ada tindak lanjutnya.
> 
> Migrant CARE menyatakan duka sedalam-dalamnya atas eksekusi mati terhadap 
> almarhumah Ruyati binti Sapubi. Atas kasus ini pula Migrant CARE mendesak 
> Presiden SBY untuk mengusut tuntas keteledoran diplomasi perlindungan PRT 
>migran 
>
> Indonesia.
> 
> "Migrant CARE juga mendesak agar dilakukan evaluasi kinerja (dan jika perlu 
> pencopotan) terhadap para pejabat yang terkait dengan keteledoran kasus ini 
> seperti Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Menteri Luar Negeri, Kepala 
> BNP2TKI dan Duta Besar RI untuk Saudi Arabia," demikian Migrant CARE. 
> 
> 
> ++++
> 
>http://internasional.kompas.com/read/2011/06/19/06584176/Arab.Pancung.Perempuan.Indonesia
>a
> 
> 
> 
> Arab Pancung Perempuan Indonesia
> 
> Josephus Primus | Minggu, 19 Juni 2011 | 06:58 WIB 
> 
> JEDDAH, KOMPAS.com - Seorang perempuan Indonesia telah dipancung dengan 
> pedang, 
>
> Sabtu (18/6/2011). Perempuan itu dihukum karena membunuh seorang perempuan 
> Arab 
>
> Saudi, kata Kementerian dalam Negeri Arab Saudi. 
> 
> 
> Perempuan bernama Raiaiti Beth Sabotti Sarona, menurut penyalinan huruf dari 
> bahasa Arab, terbukti bersalah membunuh perempuan Saudi Khairiya binti Hamid 
> Mijlid dengan menyerangnya berulang kali pada kepala dengan pemotong daging 
> dan 
>
> menikamnya di leher, kata kementerian itu dalam sebuah pernyataan yang 
> diangkat 
>
> oleh kantor berita resmi SPA. 
> 
> 
> Kantor berita itu tidak menguraikan motif kejahatan itu, ataupun 
> mengungkapkan 

> hubungan antara kedua perempuan itu. Tapi beberapa pejabat Indonesia 
> mengatakan 
>
> bahwa sekitar 70 persen dari 1,2 juta warga Indoesia yang bekerja di Arab 
> Saudi 
>
> adalah staf domestik (rumah tangga). 
> 
> 
> Pemancungan di provinsi Mekah di Saudi barat itu membuat jumlah eksekusi di 
> kerajaan yang sangat konservatif itu tahun ini menjadi 28 orang, menurut 
> hitungan AFP berdasarkan pada laporan-laporan pejabat dan kelompok hak asasi 
> manusia.     Kelompok Amnesty International yang bermarkas di London pekan 
> lalu 
>
> minta pada Arab Saudi untuk berhenti melaksanakan hukuman mati, mengatakan 
>telah 
>
> ada peningkatan signifikan dalam jumlah eksekusi yang dilakukan pada enam 
> tahun 
>
> terakhir. 
> 
> 
> Mereka menyatakan sedikitnya 27 orang telah dieksekusi di Arab Saudi pada 
> 2011. 
>
> Jumlah itu sama seperti jumlah semua orang yang dieksekusi pada sepanjang 
> 2010. 
>
> Ada 15 orang dieksekusi pada Mei saja. Pada 2009, jumlah eksekusi mencapai 
> 67, 

> dibanding 102 oada 2008. 
> 
> 
> Pemerkosaan, pembunuhan, kemurtadan , perampokan bersenjata semuanya dapat 
> dihukum dengan hukuman mati menurut interpretasi keras hukum syariah Islam 
> Arab 
>
> Saudi.
> 
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
> 
> 
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
> 
> 
>      negara Indonesia di luar negeri, diplomasi luar negeri Indonesia 
> terlihat sangat tumpul.
> 
> "Di Saudi Arabia, ada sekitar 23 warga negara Indonesia (mayoritas PRT 
> migran) 

> menghadapi ancaman hukuman mati. Kasus terakhir yang muncul ke permukaan 
> adalah 
>
> ancaman hukuman mati terhadap Darsem. Dalam kasus ini pemerintah Indonesia 
>lebih 
>
> berkonsentrasi dalam pembayaran diyat (uang darah) ketimbang melakukan 
> advokasi 
>
> litigasi di peradilan maupun diplomasi secara maksimal," kecam Migrant CARE.
> 
> Eksekusi mati terhadap Ruyati binti Sapubi, menurut Migrant CARE, merupakan 
> bentuk keteledoran diplomasi perlindungan PRT migran Indonesia. Dalam kasus 
>ini, 
>
> publik tidak pernah mengetahui proses hukum dan upaya diplomasi apa yang 
> pernah 
>
> dilakukan oleh Pemerintah Indonesia.
> 
> "Keteledoran ini juga pernah terjadi pada kasus eksekusi mati terhadap Yanti 
> Iriyanti, PRT migran Indonesia asal Cianjur yang juga tidak pernah diketahui 
> oleh publik sebelumnya. Bahkan hingga kini jenazah Yanti Iriyanti belum bisa 
> dipulangkan ke Tanah Air atas permintaan keluarganya," papar Migran CARE.
> 
> Dijelaskan, dalam kasus Ruyati binti Sapubi, sebenarnya Migrant CARE telah 
> menyampaikan perkembangan kasus ini ke Pemerintah Indonesia sejak bulan 
> Maret. 

> Namun, ternyata tidak pernah ada tindak lanjutnya.
> 
> Migrant CARE menyatakan duka sedalam-dalamnya atas eksekusi mati terhadap 
> almarhumah Ruyati binti Sapubi. Atas kasus ini pula Migrant CARE mendesak 
> Presiden SBY untuk mengusut tuntas keteledoran diplomasi perlindungan PRT 
>migran 
>
> Indonesia.
> 
> "Migrant CARE juga mendesak agar dilakukan evaluasi kinerja (dan jika perlu 
> pencopotan) terhadap para pejabat yang terkait dengan keteledoran kasus ini 
> seperti Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Menteri Luar Negeri, Kepala 
> BNP2TKI dan Duta Besar RI untuk Saudi Arabia," demikian Migrant CARE. 
> 
> 
> ++++
> 
>http://internasional.kompas.com/read/2011/06/19/06584176/Arab.Pancung.Perempuan.Indonesia
>a
> 
> 
> 
> Arab Pancung Perempuan Indonesia
> 
> Josephus Primus | Minggu, 19 Juni 2011 | 06:58 WIB 
> 
> JEDDAH, KOMPAS.com - Seorang perempuan Indonesia telah dipancung dengan 
> pedang, 
>
> Sabtu (18/6/2011). Perempuan itu dihukum karena membunuh seorang perempuan 
> Arab 
>
> Saudi, kata Kementerian dalam Negeri Arab Saudi. 
> 
> 
> Perempuan bernama Raiaiti Beth Sabotti Sarona, menurut penyalinan huruf dari 
> bahasa Arab, terbukti bersalah membunuh perempuan Saudi Khairiya binti Hamid 
> Mijlid dengan menyerangnya berulang kali pada kepala dengan pemotong daging 
> dan 
>
> menikamnya di leher, kata kementerian itu dalam sebuah pernyataan yang 
> diangkat 
>
> oleh kantor berita resmi SPA. 
> 
> 
> Kantor berita itu tidak menguraikan motif kejahatan itu, ataupun 
> mengungkapkan 

> hubungan antara kedua perempuan itu. Tapi beberapa pejabat Indonesia 
> mengatakan 
>
> bahwa sekitar 70 persen dari 1,2 juta warga Indoesia yang bekerja di Arab 
> Saudi 
>
> adalah staf domestik (rumah tangga). 
> 
> 
> Pemancungan di provinsi Mekah di Saudi barat itu membuat jumlah eksekusi di 
> kerajaan yang sangat konservatif itu tahun ini menjadi 28 orang, menurut 
> hitungan AFP berdasarkan pada laporan-laporan pejabat dan kelompok hak asasi 
> manusia.     Kelompok Amnesty International yang bermarkas di London pekan 
> lalu 
>
> minta pada Arab Saudi untuk berhenti melaksanakan hukuman mati, mengatakan 
>telah 
>
> ada peningkatan signifikan dalam jumlah eksekusi yang dilakukan pada enam 
> tahun 
>
> terakhir. 
> 
> 
> Mereka menyatakan sedikitnya 27 orang telah dieksekusi di Arab Saudi pada 
> 2011. 
>
> Jumlah itu sama seperti jumlah semua orang yang dieksekusi pada sepanjang 
> 2010. 
>
> Ada 15 orang dieksekusi pada Mei saja. Pada 2009, jumlah eksekusi mencapai 
> 67, 

> dibanding 102 oada 2008. 
> 
> 
> Pemerkosaan, pembunuhan, kemurtadan , perampokan bersenjata semuanya dapat 
> dihukum dengan hukuman mati menurut interpretasi keras hukum syariah Islam 
> Arab 
>
> Saudi.
> 
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
> 
> 
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
> 
> 
> 
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
>


 

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke