lain padang lain belalang, bego! seperti hukum dibelanda dan indonesia tentunya berbeda juga.
seperti contohnya, disini orang yang memiliki sebutir ekstasi dihukum 4 tahun penjara dan denda 800 jt. makanya, junkie tua sialan seperti anda lebih baik tinggal di belanda aja, junkie tua seperti anda nggak bakalan bisa hidup di indonesia. --- In [email protected], "Bukan Pedanda" <bukan.pedanda@...> wrote: > > > Sekali lagi: orang Islam yang membunuh Theo van Gogh TIDAK dihukum pancung. > > Ruyati yang membunuh majikan perempuannnya oleh pengadilan yang tidak > transparent dipancung. > > Saya bilang dan saya ulang: ajaran agama taik anjing Islam itu hanya pantas > untuk anjing liar dan binatang buas serta manusia yang otaknya sudah pada > rusak dan jadi bangsat penipu dan bajingan tukang fitnah seperti Abbas Amin, > Dipo, johny-indon, ndeboost, PAREWA PAREWA, rezameutia, Roman Proteus, Tawang > dll/ > > > --- In [email protected], Mira Wijaya Kusuma <la_luta@> wrote: > > > > [Tanka] Melawan Perbudakan > > > > Pekerja migran > > Mernuntut keadilan > > Hidup hak layak > > Hukuman eksekusi > > Siapa yang peduli? > > > > Kebiadaban > > Rezim penjual budak > > Buruh bersatu > > Melawan perbudakan > > Demi martabat bangsa > > > > MiRa - Amsterdam, 25 Juni 2011 > > > > *** > > > > > > http://us.detiknews.com/read/2011/06/19/124055/1663347/10/kronologi-pemancungan-ruyati > > > > > > Minggu, 19/06/2011 12:40 WIB > > > > Kronologi Pemancungan Ruyati > > > > Nurul Hidayati - detikNews > > > > Kronologi Pemancungan Ruyati > > Demo buruh migran/dok > > > > > > Jakarta - Ruyati menghembuskan nafas dengan tebasan pedang pada Sabtu > > kemarin. > > Perempuan 54 tahun itu dihukum karena membunuh majikan perempuannya. > > > > Berikut ini kronologi kasus Ruyati, yang dihimpun detikcom, Minggu > > (19/6/2011): > > > > 2008 > > Ruyati binti Sapubi berangkat ke Arab Saudi sebagai TKW dengan menggunakan > > jasa > > pengirim tenaga kerja PT Dasa Graha Utama Bekasi. Menurut LSM Migrant Care, > > umur > > Ruyati dimudakan 9 tahun. > > > > 31 Desember 2009 > > Kontak terakhir Ruyati dengan keluarganya di Bekasi. Ruyati pernah mengeluh > > pada > > keluarganya bahwa majikannya yang sekarang ini suka berlaku kasar padanya. > > > > 10 Januari 2010 > > Ruyati binti Sapubi membunuh majikan perempuannya bernama Khairiya Hamid > > binti > > Mijlid dengan alat pemotong daging. > > > > Mei 2010 > > Ruyati diadili pertama kali, terancam hukuman qisas yaitu hukuman yang > > setimpal > > dengan apa yang dilakukannya. Pendeknya, membunuh dijatuhi hukuman dibunuh. > > > > Maret 2011 > > LSM Migrant Care mengingatkan sejumlah TKI terancam hukuman mati di Arab > > Saudi > > termasuk Ruyati. > > > > April 2011 > > Menkum Patrialis Akbar pergi ke Arab Saudi untuk melobi pemerintah Arab > > Saudi > > agar mengampuni para TKI yang melanggar hukum. Kemlu RI menegaskan telah > > memberikan bantuan hukum dan kekonsuleran pada Ruyati. > > > > > > Mei 2011 > > Ruyati diadili lagi, dijatuhi hukuman qisas. > > > > Sabtu, 18 Juni 2011 > > Ruyati dieksekusi pukul 15.00 WIB di Kota Makkah, menjadi orang ke-28 yang > > dieksekusi pada tahun ini. Jenazah langsung dimakamkan. > > > > Minggu, 19 Juni > > Pagi hari, Kemlu menghubungi keluarga Ruyati di Bekasi, memberitahukan > > pemancungan itu. Kemlu RI mengecam pemancungan itu karena tidak diberitahu > > pemerintah Saudi dan akan memanggil Dubes Saudi di Jakarta. Keluarga Ruyati > > meminta jenazah dimakamkan di Indonesia. > > > > > > (nrl/nvt) > > > > *** > > Gus Dur bertemu PM Malaysia Abdullah Ahmad Badawi, dan menelepon Raja Arab > > Saudi. > > > > Peran Abdurrahman Wahid, atau akrab disapa Gus Dur, melindungi Tenaga Kerja > > Indonesia (TKI) di luar negeri tidak diragukan lagi. Gus Dur pernah > > menyelamatkan Siti Zaenab, TKI asal Desa Martajasah, Bangkalan, Madura, > > dari > > hukuman mati tahun 1999. > > > > "Ada informasi yang masuk ke telinga Gus Dur. Waktu itu akan ada eksekusi. > > Kemudian keluarga Zaenab diundang langsung ke Istana oleh Gus Dur," kata > > Direktur Eksekutif Migrant Care, Anis Hidayah kepada VIVAnews.com, Selasa, > > 21 > > Juni 2011. > > > > Untuk mencegah hukuman mati, selain mengirim surat, Gus Dur juga langsung > > menelepon Raja Arab Saudi, Abdullah bin Abdulaziz al-Saud. "Gus Dur cuma > > menelepon sekali saja, dan ditanggapi dengan baik," ujar Anis. > > > > Menurut Anis, Gus Dur tahu karena peran raja di Arab Saudi adalah sangat > > sentral. Untuk itu, sebagai Kepala Negara waktu itu, Gus Dur melakukan hal > > yang > > tepat. "Di Arab, otoritas raja adalah segala-galanya. Kalau raja memberikan > > maaf, maka putusan eksekusi bisa dicegah," jelas Anis. > > > > Dia menceritakan, waktu itu Gus Dur dalam komunikasinya tidak panjang > > lebar. > > Menurut Anis, Gus Dur langsung ke inti permasalahan. "Komunikasi itu > > layaknya > > Kepala Negara atas mandat konstitusi dan agama. Gus Dur langsung ke > > substansinya," ujar Anis. > > > > Namun, bukan hanya Zaenab yang selamat dari hukuman mati. Gus Dur juga > > pernah > > menyelamatkan TKI yang bekerja di Malaysia dari ancaman hukuman mati. TKI > > itu > > adalah Adi bin Asnawi. Kasusnya juga sama, pembunuhan. > > > > "Kali ini Gus Dur langsung berkunjung ke Malaysia untuk bertemu dengan > > Perdana > > Menteri Malaysia (Abdullah Ahmad Badawi)," jelas Anis. > > > > Adi adalah TKI asal Desa Kediri Kecamatan Kediri Lombok Tengah, NTB. Ia > > bisa > > kembali ke Tanah Air dan lolos dari hukuman gantung pada 9 Januari 2010. > > > > Lolosnya Adi dari hukuman mati setelah melalui proses hukum yang panjang di > > Malaysia selama delapan tahun, 2002-2010. Adi dituduh terlibat dalam > > pembunuhan > > majikannya, Acin. Dia mulai bekerja di Malaysia sejak tahun 1996 pada Acin > > yang > > beralamatkan di Teluk Langsa Port Dicson Negeri Sembilan, Malaysia. > > > > Peran Gus Dur melindungi TKI di Malaysia juga tak berhenti pada kasus Adi. > > Gus > > Dur juga pernah memperjuangkan 81 orang buruh migran Indonesia yang bekerja > > di > > Malaysia. Ke-81 buruh itu dideportasi. > > > > "Mereka dipulangkan tanpa gaji setelah bekerja berbulan-bulan di Malaysia. > > Kemudian Gus Dur kembali ke Malaysia pada 5 Maret 2005 untuk bertemu Wakil > > Perdana Menteri Malaysia, Datuk Seri Najib Tun Razak," ujar Anis. > > > > Gus Dur waktu itu mengupayakan agar buruh yang dideportasi itu mendapatkan > > haknya. "Gus Dur seingat saya langsung melobi ke sana," tegas Anis. > > > > Namun setibanya di Indonesia, ke-81 buruh itu juga tidak ditampung oleh > > pemerintah. "Buruh seharusnya ditampung Kementerian Tenaga Kerja dan > > Transmigrasi, tapi tidak dilakukan. Alasannya tempatnya penuh. Kemudian Gus > > Dur > > menampungnya di Pondok Pesantrennya, Ciganjur," ujar Anis.(np) > > > > http://nasional.vivanews.com/news/re...-tiang-gantung > > > > *** > > Nasib Ruyati Sudah Diinformasikan Sejak Maret > > > > "Ini memperlihatkan, yang dipidatokan Presiden SBY di ILO tidak sesuai > > dengan > > realitas." > > > > Minggu, 19 Juni 2011, 11:18 WIB > > Syahid Latif > > > > TKW terlantar di Jeddah, Arab Saudi (ANTARA/SAPTONO) > > > > VIVAnews - Perhimpunan Indonesia untuk Buruh Migrant Berdaulat (Migrant > > Care) > > menilai pemerintah teledor dalam melindungi nasib pembantu rumah tangga > > (PRT) > > Indonesia di luar negeri. > > > > "Dalam kasus Ruyati binti Sapubi, sebenarnya Migrant Care telah > > menyampaikan > > perkembangan kasus ini ke pemerintah Indonesia sejak bulan Maret 2011, > > namun > > ternyata tidak pernah ada tindak lanjutnya," ujar Direktur Eksekutif > > Migrant > > Care Anis Hidayah dalam siaran pers, Jakarta, Minggu, 19 Juni 2011. > > > > Menurut Anis, eksekusi mati terhadap Ruyati binti Sapubi menunjukkan adanya > > keteledoran dalam diplomasi perlindungan PRT migran Indonesia. Dalam kasus > > ini, > > publik tidak pernah mengetahui proses hukum serta upaya diplomasi yang > > pernah > > dilakukan pemerintah Indonesia. > > > > Keteledoran serupa menurutnya juga pernah terjadi pada kasus eksekusi mati > > Yanti > > Iriyanti, PRT migran Indonesia asal Cianjur--yang juga tidak pernah > > diketahui > > publik sebelumnya. Bahkan, hingga kini jenasah Yanti Iriyanti belum bisa > > dipulangkan ke Tanah Air. > > > > Bukti tumpulnya diplomasi luar negeri indonesia makin terlihat dari > > gagalnya > > pemerintah dalam mencegah ancaman hukuman mati terhadap salah satu TKI > > lain, > > Diyem. Pemerintah kala itu lebih berkonsentrasi dalam pembayaran diyat > > (uang > > darah) ketimbang mengupayakan upaya litigasi di peradilan maupun diplomasi. > > > > > > > > Hal itu membuat Migrant Care khawatir pemerintah tidak mampu mencegah > > ancaman > > hukuman mati terhadap 23 WNI lainnya di Arab Saudi. > > > > Migrant Care lebih jauh menilai eksekusi mati Ruyati menjadi tamparan keras > > bagi > > pemerintahan Indonesia. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam pidatonya > > di > > Sidang ILO ke-100 pada tanggal 14 Juni 2011 lalu menyatakan bahwa di > > Indonesia > > mekanisme perlindungan terhadap PRT migran Indonesia sudah berjalan, > > tersedia > > institusi dan regulasinya. > > > > > > "Namun buaian pidato tersebut tiba-tiba lenyap ketika hari Sabtu, 18 Juni > > 2011, > > muncul pemberitaan di berbagai media asing mengenai pelaksanaan eksekusi > > hukuman > > mati dengan cara dipancung terhadap Ruyati binti Sapubi, PRT migran > > Indonesia > > yang bekerja di Saudi Arabia. Peristiwa ini jelas memperlihatkan bahwa apa > > yang > > dipidatokan Presiden SBY di ILO tidak sesuai dengan realitas," kata dia. > > (kd) > > ⢠VIVAnews > > > > *** > > http://www.investor.co.id/national/pemerintah-harus-minta-maaf-pada-rakyat/14455 > > > > Pemerintah Harus Minta Maaf pada Rakyat > > > > Senin, 20 Juni 2011 | 15:28 > > > > Santunan Ahli Waris TKI Ruyati Rp90,2 Juta . > > > > JAKARTA - Guru Besar FISIP-UI, Iberamsjah mengimbau pemerintah agar meminta > > maaf > > kepada rakyat Indonesia terkait hukuman pancung terhadap Ruyati binti > > Satubi > > yang dilakukan pemerintah Arab Saudi. > > > > "Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Menteri Luar Negeri, Menakertrans dan > > Kepala > > BPN2TKI harus meminta maaf kepada rakyat Indonesia karena tidak bisa > > melindungi > > rakyatnya yang bekerja di luar negeri," kata Iberamsjah usai diskusi publik > > di > > Rumah Perubahan, Jakarta, Senin. > > > > Menurut dia, pemerintah harus membela "mati-matian" TKI yang mendapatkan > > hukuman > > di luar negeri, khususnya di Arab Saudi. > > > > "Selama ini Presiden Yudhoyono selalu bermain "cantik" terus. Saya tidak > > tahu > > siapa yang ditugaskan apakah dubesnya atau konsulnya. Orang Arab itu feodal > > sekali, kalau rajanya bilang A, ya A. Jadi tidak bisa mengandalkan kawat > > diplomatik. Percuma saja," ujarnya. > > > > Ia menambahkan, pemerintah harus bertanggungjawab dengan adanya hukuman > > pancung > > yang menimpa Ruyati hingga pemerintah Indonesia kecolongan. > > > > Merendahkan Indonesia > > Pengamat masalah Timur Tengah dari Universitas Indonesia, Yon Machmudi, > > menilai > > hukuman pancung yang dilakukan terhadap TKW Indonesia di Arab Saudi, > > Ruyati, > > menunjukkan sikap Arab Saudi yang merendahkan Indonesia. > > > > "Apalagi sejak proses hukum dimulai hingga eksekusinya, ternyata pihak > > pemerintah Indonesia tidak pernah mendapatkan pemberitahuan," kata Machmudi > > melalui siaran pers yang dikirim kepada Antara di Jakarta, Senin. > > > > Dosen Fakultas Ilmu Budaya UI itu mengatakan, rendahnya posisi tawar > > Indonesia > > berhadapan dengan pemerintah Arab Saudi dapat dilihat dari berbagai kasus > > yang > > menimpa WNI di Arab Saudi. Mulai dari kasus penyiksaan, pemerkosaan hingga > > pembunuhan terhadap WNI dan penyelesaiannya selalu tidak menguntungkan > > warga > > Indonesia. > > > > "Seringkali kasus pembunuhan yang dituduhkan kepada warga negara Indonesia > > berawal dari kasus-kasus pemerkosaan yang dilakukan oleh warga Arab Saudi. > > Hanya > > saja karena tidak adanya perlindungan hukum bagi para tenaga kerja > > Indonesia, > > maka sebagian besar kasus-kasus itu berujung pada hukuman mati," paparnya. > > > > Padahal, lanjut dia, pada umumnya WNI yang dituduh melakukan pembunuhan itu > > terpaksa melakukannya hanya karena membela diri. Menurut dia, hukum di Arab > > Saudi cenderung memberikan diskriminasi terhadap WNA, terutama Indonesia. > > > > "Mereka sangat keras dalam menerapkan hukuman "qishas" kepada warga negara > > Indonesia tetapi tidak untuk kasus pembunuhan yang dilakukan oleh warga > > Arab > > Saudi," tuturnya. > > > > Padahal, kata Machmudi, pembunuhan yang dilakukan oleh orang-orang Saudi > > sering > > dibarengi dengan penyiksaan dan tindakan-tindakan lain yang tidak manusiawi. > > > > Ia mencontohkan, kasus yang menimpa Darsem binti Tawar, dimana Darsem > > dapat > > lolos dari hukum pancung asalkan mau membayar diyat sebesar 2 juta riyal > > (Rp 4,6 > > miliar) sementara untuk kasus pembunuhan disertai penyiksaan yang dilakukan > > oleh > > warga Arab Saudi selalu berujung damai dan cukup membayar diyat tidak lebih > > dari > > 185.000 riyal (Rp 450 juta). > > > > Artinya, kata dia, pemerintah Arab Saudi menganggap satu nyawa warganya > > setara > > dengan 10 nyawa warga Indonesia. > > > > "Kasus-kasus kematian tidak wajar yang dialami tenaga kerja Indonesia di > > Arab > > Saudi tidak sedikit. Untuk tahun 2008 saja sebanyak 81 kasus dan tahun 2010 > > mencapai 156 kasus," ucapnya. (*/gor) > > > > > > *** > > > > Sumber: > > http://bolmerhutasoit.wordpress.com/2011/03/15/perlindungan-hukum-dan-penyelesaian-kasus-penyiksaan-tenaga-kerja-indonesia-di-semarang/ > > > > > > > > > > MAKALAH METODE PENELITIAN DAN PENULISAN HUKUM > > Disusun oleh: > > Nama : Bolmer Suryadi Hutasoit > > NIM : 8111409160 > > Mata Kuliah : Metode Penelitian dan Penulisan Hukum > > Oleh : Suhadi, Saru Arifin > > FAKULTAS HUKUM > > UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG > > SEMARANG > > 2011 > > JUDUL > > Perlindungan Hukum Dan Penyelesaian Kasus Penyiksaan Tenaga Kerja Indonesia > > Di > > Semarang > > > > LATAR BELAKANG > > > > Sudah banyak kasus penyiksaan yang menimpa para Tenaga Kerja Indonesia > > (TKI). > > Tidak terdapat perubahan atas berbagai kasus sebelumnya yang terjadi, > > justru > > belakangan kasus penyiksaan TKI semakin meningkat. Pemerintah seolah tidak > > belajar atas kesalahan-kesalahan dimana terjadinya kasus yang sama > > sebelumnya. > > Seakan-akan sudah merupakan hal yang lumrah apabila terjadinya penyiksaan > > TKI > > setiap tahun. Disebutkan sudah terdapat regulasi yang mengatur mengenai > > perlindungan atas penempatan TKI. Tetapi faktanya kasus-kasus yang sama > > tetap > > saja terjadi dan tidak grafiknya tidak menurun justru meningkat. Perlu > > dipertanyakan kinerja pemerintah dalam penanganan berbagai yang telah > > terjadi > > sebelumnya. > > > > RUMUSAN MASALAH > > Adapun rumusan masalah atas latar belakang diatas adalah sebagai berikut : > > 1. Bagaimanakah tindakan pemerintah menangani kasus sebelumnya dan > > tindakan > > seharusnya dalam memberikan perlindungan hukum serta tindakan seharusnya > > menangani masalah yang terjadi saat ini? > > 2. Bagaimanakah ketentuan yang sah menurut hukum agar seseorang bisa > > menjadi > > sesorang buruh migran yang mendapat asuransi dan perlindungan hukum yang > > layak? > > 3. Apakah yang menjadi faktor permasalahan kasus penyiksaan TKI > > grafriknya > > justru semakin meningkat? > > TUJUAN > > Sesuai dengan rumusan masalah diatas maka yang menjadi tujuannya adalah : > > 1. Mencari tahu tindakan seharusnya pemerintah dalam memberikan > > perlindungan > > hukum terhadap TKI dan tindakannya dalam menangani masalah saat ini serta > > tindakan pemerintah menangani masalah sebelumnya. > > 2. Melakukan crosscheck terhadap ketentuan serta regulasi yang ada > > yang memuat > > bagaimana sesorang dapat menjadi seorang buruh migran yang sah dan legal > > serta > > mendapat asuransi dan perlindungan hukum yang layak. > > 3. Atas meningkatnya grafik kasus yang terjadi belakangan ini, dicari > > apa yang > > menjadi faktor terjadinya hal tersebut. > > MANFAAT > > Adapun manfaat dalam hal ini berorientasi pada pemecahan masalah yang > > solutif > > dan efisien. Berdasarkan fakta yang terjadi dilapangan dicari fakor- > > faktor > > penyebab terjadinya masalah dan alasan masalah justru semakin marak > > terjadi. > > Atas fakor permasalah yang ada digali dan dicari problem solving. Dalam > > hal ini > > juga dituntut peran serta dari masyarakat dalam pencari solusi. Tidak > > hanya > > berperan kritis dengan berbagai masalah yang terjadi tetapi juga > > memberikan > > kritik dan saran. Karena ketika pemerintah masyarakat bergandengantangan > > dalam > > penyelesaian masalah niscaya akan dicapai hasil yang maksimal dan tentu > > tidak > > akan merugikan salah satu pihak. Dengan ini juga membuka wawasan > > masyarakat > > dengan hukum positif di Indonesia terutama mengenai undang-undang yang > > mengatur > > tentang perlindungan dan penempatan TKI di luar negeri. > > > > TINJAUAN PUSTAKA > > Tenaga Kerja Indonesia (TKI) adalah setiap warga negara Indonesia yang > > memenuhi syarat untuk bekerja di luar negeri dalam hubungan kerja untuk > > jangka > > waktu tertentu dengan menerima upah. Pengertian merupakan defenisi yuridis > > mengenai TKI menurut Pasal 1 Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2004 tentang > > Perlindungan dan Penempatan Tenaga Kerja Indonesia di Luar Negeri. > > Sedangkan penempatan buruh migran dalam Pasal 1 angka (3) Undang-Undang > > Nomor > > 39 Tahun 2004 adalah kegiatan pelayanan untuk mempertemukan buruh migran > > sesuai > > bakat, minat, dan kemampuannya dengan pemberi kerja di luar negeri yang > > meliputi keseluruhan proses perekrutan, pengurusan dokumen, pendidikan dan > > > > pelatihan, penampungan, persiapan pemberangkatan, pemberangkatan sampai ke > > negara tujuan, dan pemulangan dari negara tujuan. > > Dengan adanya undang-undang ini memberikan kewenangan pemerintah pusat dan > > pemerintah daerah dalam mengatur penempatan buruh migran. Dalam penempatan > > tersebut â Setiap tenaga kerja mempunyai hak dan kesempatan yang sama > > untuk > > memilih, mendapatkan, atau pindah pekerjaan dan memperoleh penghasilan > > yang > > layak di dalam atau di luar negeriâ sesuai Pasal 31 Undang-Undang Nomor > > 13 > > Tahun 2003 Tenang Ketenagakerjaan. Kemudian dalam Pasal 32 ayat (1) dan > > ayat > > (2) dijelaskan bahwa âPenempatan tenaga kerja dilaksanakan berdasarkan > > asas > > terbuka, bebas, obyektif, serta adil, dan setara tanpa diskriminasi. > > Penempatan > > tenaga kerja diarahkan untuk menempatkan tenaga kerja pada jabatan yang > > tepat > > sesuai dengan keahlian, keterampilan, bakat, minat, dan kemampuan dengan > > memperhatikan harkat, martabat, hak asasi, dan perlindungan hukum.â > > Untuk menghindari ketidakamanan yang akan diderita oleh buruh migran > > (khususnya > > Pembantu Rumah Tangga) maka Pasal 4 Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2004 > > menegaskan bahwa âOrang perseorangan dilarang menempatkan warga negara > > Indonesia untuk bekerja di luar negeriâ. Dalam Pasal 3 Undang-Undang > > Nomor 39 > > Tahun 2004 dinyatakan bahwa tujuan penempatan dan perlindungan calon buruh > > migran adalah: > > * memberdayakan dan mendayagunakan tenaga kerja secara optimal dan > > manusiawi; > > * menjamin dan melindungi calon buruh migran sejak di dalam negeri, di > > negara > > tujuan, sampai kembali ke tempat asal di Indonesia; > > * meningkatkan kesejahteraan buruh migran dan keluarganya. > > Dalam Pasal 5 ayat (1) Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2004 dinyatakan bahwa > > âPemerintah bertugas mengatur, membina, melaksanakan, dan mengawasi > > penyelenggaraan penempatan dan perlindungan buruh migran di luar > > negeri.â Dan > > dalam Pasal 6 Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2004 bahwa Pemerintah > > bertanggung > > jawab untuk meningkatkan upaya perlindungan buruh migran di luar negeri. > > Demi menjamin perlindungan lebih lagi terdahad TKI diatur dalam Pasal 27 > > Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2004 mengatur tentang penempatan buruh migran > > di > > luar negeri hanya dapat dilakukan ke negara tujuan yang pemerintahnya > > telah > > membuat perjanjian tertulis dengan Pemerintah Republik Indonesia atau ke > > negara > > tujuan yang mempunyai peraturan perundang-undangan yang melindungi tenaga > > kerja > > asing. Namun meskipun seperti itu, masih saja terdapat penganiayaan > > terhadap > > para buruh migran yang sudah jelas dan terang mendapat perlindungan hukum. > > Perlindungan tersebut dilakuakan dengan penyelengaraan keadilan dan > > ketertiban > > untuk mendatangkan kemakmuran dan kebahagiaan pada rakyat sesuai dengan > > tujuan > > negara menurut Prof. Subekti, S.H. > > Perlindungan hukum terhadap para TKI juga sudah dimuat dalam Pasal 7 > > Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2004 menyatakan bahwa pemerintah berkewajiban: > > * menjamin terpenuhinya hak-hak calon TKI, baik yang berangkat melalui > > pelaksana penempatan TKI, maupun yang berangkat secara mandiri; > > * mengawasi pelaksanaan penempatan calon TKI; > > * membentuk dan mengembangkan sistem informasi penempatan calon TKI di > > luar > > negeri; > > * melakukan upaya diplomatik untuk menjamin pemenuhan hak dan > > perlindungan TKI > > secara optimal di negara tujuan; dan > > * memberikan perlindungan kepada TKI selama masa sebelum > > pemberangkatan, masa > > penempatan, dan masa purna penempatan. > > Perlindungan bagi TKI yang bekerja di luar negeri diawali dan terintegrasi > > dalam setiap proses penempatan TKI, sejak proses rekrutmen, selama bekerja > > dan > > hingga pulang ke tanah air. Sebagaimana ditegaskan dalam Pasal 77 > > Undang-Undang > > Nomor 39 Tahun 2004 bahwa setiap calon TKI mempunyai hak untuk memperoleh > > perlindungan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Perlindungan > > tersebut > > seperti tertuang dalam ayat (1) dilaksanakan mulai dari pra penempatan, > > masa > > penempatan, sampai dengan masa setelah penempatan. > > > > METODE PENELITIAN > > Dalam hal ini dilakukan dengan memakai metode penelitian hukum normatif > > dan > > penelitian hukum sosiologis. Dengan tahapan-tahapan sebagai berikut : > > 1. Penetapan lokasi dan sampel > > Penelitian ini akan mengambil sampel atas berbagai referensi yang memuat > > tentang > > kasus-kasus penyiksaan TKI yang telah terjadi. > > 2. Pendekatan Studi > > Penelitian ini menggunakan pendekatan naturalistik kualitatif dan > > kuantitatif, > > dengan model analisis yaitu suatu penelitian yang menghasilkan data > > deskriptif > > yang berupa kata-kata tertulis atau lisan dari data kasus yang telah > > terjadi. > > 3. Identifikasi Masalah > > Tahap ini merupakan pengumpulan informasi dengan pendekatan terhadap > > objek-objek yang akan diteliti. Seberapa besar isu yang timbul dalam > > masyarakat > > tentang itu. Bagaimana respon singkat dari orang-orang yang terkait > > ataupun > > tidak. > > 4. Observasi dan Survei > > Tahap ini merupakan inti dari semua yang dikerjakan pencarian data yang > > diharapkan. Dengan cara mencari kasus penyiksaan TKI yang diteliti, > > seberapa > > banyak data yang diharapkan yang muncul dan dibutuhkan. > > 5. Pengumpulan Data > > Tahap ini merupakan penghitungan kasar dan pencatatan data yang didapat > > dari > > setiap kasus penyiksaan TKI yang diteliti. > > 6. Analisis Data > > Analisis data merupakan penghitungan yang dilakukan dengan melakukan > > perbandingan dari jumlah yang diteliti ataupun perkembangan data dari yang > > pernah diteliti sebelumnya. > > 7. Evaluasi Data > > Tahap pemeriksaan keakuratan data yang sudah dihitung, ketepatan, dan > > kelayakan > > data untuk dijadikan ilmiah yang memenuhi tujuan dan keluaran serta > > kegunaan > > yang diharapkan. > > 8. Keabsahan Data > > Data yang telah terkumpul diuji validitasnya dengan melakukan crosscheck > > dengan > > berbagai sumber data lain dan fakta dilapangan. > > 9. Penyajian Data > > Penyajian data ini merupakan tahap penulisan dan penuangan data dalam > > bentuk > > ilmiah yang dapat dipertangungjawabkan keberadaanya serta originalitasnya. > > 10. Penulisan Laporan Penelitian > > Tahap ini memberikan sistematika dan kronologis dan hal-hal yang terjadi > > dilapangan selama penelitian berlangsung yang disajikan dengan bukti-bukti > > penelitian dari gambar dan foto. Kemudian melampirkannya sebagai hasil > > dari > > penelitian. > > > > DAFTAR PUSTAKA > > http://elfatsani.blogspot.com/2009/04/perlindungan-hukum-bagi-buruh-migran.html > > > > diakses tanggal 23 Desember 2010, pukul 12:34 > > http://hukum.kompasiana.com/2010/12/15/perlindungan-hukum-terhadap-tenaga-kerja-indonesia-sektor-pembantu-rumah-tangga-di-luar-negeri-bagian-ii/ > > diakses tanggal 23 Desember 2010, pukul 13:03 > > Kansil, C.S.T., 1989. Pengantar Ilmu Hukum dan Tata Hukum Indonesia. > > Jakarta: > > Balai Pustaka > > Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan > > Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2004 Tentang Penempatan dan Perlindungan > > Tenaga > > Kerja Indonesia Di Luar Negeri > > Disimpan dalam Fakultas Hukum, Hukum, Indonesia, Keadilan, Perempuan, > > Sosial, > > Tulisan, Undang-Undang · Ditandai dengan Metode Penulisan dan Penelitian > > Hukum, > > MPPH, Perlindungan, PERLINDUNGAN HUKUM DAN PENYELESAIAN KASUS PENYIKSAAN > > TENAGA > > KERJA INDONESIA DI SEMARANG > > > > > > http://sastrapembebasan.wordpress.com/ > > http://tamanmiryanti.blogspot.com/ > > Information about KUDETA 65/ Coup d'etat '65, click: > > http://www.progind.net/ > > > > > > > > > > ________________________________ > > From: Mawar Liar Merah <mawarlirah@> > > To: [email protected]; Jurnal Perempuan > > <mariana@>; institut_perempuan@; PPMUH > > <ppmuh@>; Salahuddin Wahid <salahuddin_wahid@>; > > eepsf@; Goenawan Mohamad <goenawan_mohamad@>; > > ulil99@; Redaksi IslamLib <redaksi@>; > > redaksi@; Redaksi Gus Dur Net <redaksi@>; Republika > > <redaksi@>; Yeni Zannuba <zannuba@>; > > faridgaban@; Jajang C Noer <jcnoer@>; La Luta > > <la_luta@> > > Cc: Yuyun Harmono <harmono@>; Julia Suryakusuma <jskusuma@>; > > Henny Hughes <hennyp@>; Evi Douren <evi_eds@>; > > ccde.aceh@; Rakyat Harus Sehat SF Supari <mediadkr@>; Radityo > > Djadjuri <radityo_dj@>; Tiffatul Sembiring > > <amatullahshaffiyah@>; Umi Lasminah <umilasminah@>; > > asvi@; Shinta Maruto <shinta_maruto@> > > Sent: Sun, June 19, 2011 12:14:42 PM > > Subject: Rieke: Ruyati Dipancung, ''Shame on You SBY'' > > > > > > Rieke: Ruyati Dipancung, 'Shame on You SBY' > > Minggu, 19 Juni 2011 | 11:11 WIB > > > > > > Rieke Dyah Pitaloka. TEMPO/Fully Syafi > > TEMPO Interaktif, Jakarta - Anggota Komisi IX DPR Bidang Tenaga Kerja dan > > Kesehatan, Rieke Dyah Pitaloka miris mendengar kabar Ruyati, tenaga kerja > > wanita > > asal Indonesia yang dipancung pada 18 Juni 2011. "Shame on you, SBY," > > katanya > > melalui sambungan telepon hari ini. > > > > Rieke menyesalkan kejadian pahit yang menimpa tenaga kerja Indonesia > > berulang. > > "Ini bukan kasus yang pertama dan sudah seperti trafficking yang dilegalkan > > saja," katanya geram. Pemerintah, kata dia, harus bertanggung jawab. > > > > Politikus dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan ini menilai pidato > > Presiden SBY soal buruh di Sidang PBB 14 Juni 2011 yang mendapat standing > > ovation dari seluruh peserta pun sia-sia. "Ini obituari bagi rakyat," > > katanya. > > > > Padahal pidato SBY di Jenewa saat itu merupakan momen baru karena baru > > pertama > > kali Indonesia diundang sebagai pembicara kunci dalam konferensi seabad > > berdirinya Badan PBB soal buruh atau International Labour Organization > > (ILO). > > "Anda adalah Presiden pertama Indonesia yang bicara di forum ini," kata > > Juan > > Somavia, Direktur Jendral ILO dalam sambutannya. > > > > Dalam pidatonya, Presiden SBY menyampaikan 6 program prioritas Indonesia > > dalam > > menangani permasalahan bagi buruh. Enam program itu adalah bagian dari > > upaya > > pemerintah untuk melindungi para buruh migran. Baik dari sektor kesehatan, > > perlindungan, hingga pendapatan. > > > > Tapi, kenyataannya belum sepekan setelah itu, kabar duka datang dari Arab > > Saudi. > > Ruyati binti Saboti Saruna dipancung lantaran kasus pembunuhan. "Pemerintah > > selama ini tidak transparan, bagaimana dengan nasib Ruyati lainnya," kata > > Rieke. > > > > RUDY > > > > [Non-text portions of this message have been removed] > > > ------------------------------------ Post message: [email protected] Subscribe : [email protected] Unsubscribe : [email protected] List owner : [email protected] Homepage : http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: [email protected] [email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
