Yudhoyono itu serigala.

Titik.

Tidak pake berbulu domba.

Dia terang-terangan kok membela laskar Jihad sunnah wal Jamaah pergi membantai 
orang Ambon.

--- In [email protected], item abu <itemabu@...> wrote:
>
> SBY itu bukan macan ompong, tp serigala berbulu domba. Makanya segala macam 
> serigala dan buaya itu ga takut buat ngumbar keganasan mereka krn tau siapa 
> SBY sebenarnya.
> 
> 
> 
> 
> >________________________________
> >From: sunny <ambon@...>
> >To: Undisclosed-Recipient@...
> >Sent: Sunday, June 26, 2011 3:58 PM
> >Subject: [proletar] Inpres Moratorium Hanya Macan Ompong
> >
> >
> >  
> >Refleksi : Mungkin karena SBY dikritik berpidato dalam bahasa Inggris 
> >beberapa waktu silam  maka belakangan ini interviewnya dengan CNN dijawab 
> >dalam bahasa Indonesia. Untuk melihat interview tsb click : 
> >http://edition.cnn.com/video/#/video/world/2011/06/15/intv.stevens.yudhoyono.corruption.cnn
> >
> >Sejalan dengan  itu dan moratoirum pegiriman tenaga kerja ke tanah kelahiran 
> >nabi yaitu Arab Saudia dan negeri-negeri di sekitarnya  maka timbul 
> >pertanyaan apakah kalau SBY berpidato akan tetap dimulai dengan mengucapkan 
> >kata-kata bahasa Arabia?
> >
> >Sekadar untuk diingatkan bahwa menurut catatan sejarah pada tahun 1950-an 
> >ada kampanye dengan plakat-plakat  yang ditempel di kantor-kantor bertulisan 
> >"Pakailah Bahasa Indonesia". Apakah macan ompong  bisa berbahasa Indonesia?
> >
> >http://www.sinarharapan.co.id/content/read/inpres-moratorium-hanya-macan-ompong/
> >
> >25.06.2011 09:43
> >
> >Inpres Moratorium Hanya Macan Ompong 
> >Penulis : Moh Yamin* 
> >
> >Instruksi presiden (inpres) tentang perlindungan tenaga kerja Indonesia 
> >(TKI) selepas dipancungnya Ruyati konon ditujukan untuk menjawab benang 
> >kusut ketenagakerjaan di luar negeri.
> >
> >Inpres tersebut berisikan tentang moratorium pengiriman TKI ke Arab Saudi 
> >mulai 1 Agustus 2011, pembentukan konsulat hukum dan HAM di setiap kedutaan 
> >negara tujuan, dan membentuk satuan tugas pembela TKI yang terancam hukuman 
> >mati. 
> >
> >Ini kemudian mempertegas bahwa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono telah tiga 
> >kali mengeluarkan inpres dan substansinya tidak jauh berbeda dengan perkara 
> >yang muncul sejak 2006. Dua inpres yang lain adalah Inpres No 6/2006 tentang 
> >Kebijakan Reformasi Sistem Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja dan 
> >Inpres No 3/2010 tentang Pembentukan BNP2TKI (Badan Nasional Penempatan dan 
> >Perlindungan TKI). 
> >
> >Apakah ada jaminan bahwa dengan adanya inpres baru tidak akan mengulang 
> >preseden buruk serupa di kemudian hari dan apakah inpres tersebut akan 
> >efektif dilaksanakan? Publik sangat pesimistis bila hal tersebut akan mampu 
> >bekerja dengan baik. 
> >
> >Justru yang terjadi sebaliknya adalah aturan apa pun yang dibuat negara 
> >(pemerintah), baik itu inpres maupun yang lainnya, dengan tujuan final untuk 
> >melindungi warganya dari bencana apa pun, hanya seperti macan ompong. 
> >
> >Segala bentuk kebijakan yang dibuat negara hanya diproduksi untuk semata 
> >menghibur rakyat agar negara terkesan dan dikesankan sangat serius melakukan 
> >keberpihakan terhadap kepentingan rakyat. Negara tetap mendapat simpati 
> >rakyat sehingga tidak terlalu hancur citranya, walaupun dalam kenyataan 
> >rakyat akan lebih cerdas menilai, manakah kerja negara yang sangat serius 
> >dan tidak. 
> >
> >Respons negara yang sangat reaktif dalam menjawab kebutuhan rakyat bisa 
> >dimaknai sebagai bentuk ketidakmampuannya dalam mengemban tugas dan tanggung 
> >jawabnya guna berbicara secara lantang serta berani. Keteledoran negara 
> >dalam mengurus rakyatnya sehingga harus ada warga yang terbunuh di negeri 
> >orang menjadi sebuah cermin ironis bahwa inpres apa pun yang dibuat tidak 
> >akan memiliki kontribusi signifikan bagi keberlangsungan hidup rakyat ke 
> >depan. 
> >
> >Sudah terlalu banyak inpres yang dibuat, tidak hanya mengenai buruh migran 
> >an sich, sebut saja pemberantasan korupsi, juga mengalami kondisi serupa. 
> >Selalu mengalami kemandekan sangat luar biasa dalam ranah implimentasi. 
> >
> >Yang harus dilakukan negara bukan membuat aturan baru yang semakin menambah 
> >tumpukan kebijakan sehingga harus mengalami tumpang tindih satu sama lain. 
> >Semakin banyak aturan, semakin tidak jelas manakah yang harus diikuti dan 
> >dilaksanakan. Setiap aturan yang dimunculkan memiliki kadar esensi yang 
> >tidak jauh berbeda dengan sebelumnya dan ini merupakan sebuah persoalan. 
> >
> >Negeri ini sudah terlalu banyak memiliki aturan, namun pelaksanaannya masih 
> >sangat "nol". Wajah negeri ini memang bermuka hukum, tetapi pelaksanaannya 
> >justru sangat memprihantikan. Hukum tidak dijalankan sama sekali, hanya 
> >dijadikan aksesori belaka sebagai lip service. Negara entah berentah bernama 
> >Indonesia bukan diimpikan sebagai negara hukum yang sangat ruwet dan 
> >membosankan. Negeri ini harus dibangun dengan paradigma visioner yang jelas 
> >dan negara kemudian harus mampu membumikan itu. Jangan hanya lihai 
> >beretorika.
> >
> >Semakin banyak aturan yang digelontorkan, anggaran negara kemudian juga 
> >hanya habis dan dihabiskan untuk sesuatu yang tidak jelas juntrung-nya. 
> >
> >Amanat inpres yang diwujudkan dengan diperlukannya pembentukan konsulat 
> >hukum dan HAM di setiap kedutaan negara tujuan serta membentuk satuan tugas 
> >pembela TKI kemudian dapat dimaknai sebagai bentuk nyata yang hanya 
> >memboroskan kas negara, padahal dua bidang tersebut sudah masuk dalam tugas 
> >Kementerian Luar Negeri (Kemenlu). 
> >
> >Kementerian Hukum dan HAM, Kementerian Tenaga Kerja dan Trasmigrasi, dan 
> >Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan TKI diharapkan mampu bekerja sama 
> >secara lintas sektoral untuk mengefektifkan pendampingan terhadap TKI, bukan 
> >kemudian membuat pos advokasi baru dengan segala tetek bengeknya. 
> >
> >Kacamata Kuda
> >
> >Mengapa negara tidak pernah mampu melebarkan pandangannya dalam menjawab 
> >persoalan dan kebutuhan rakyat? Jawabannya, karena negara selalu menggunakan 
> >kacamata kuda dalam membaca realitas kehidupan warganya, selalu sangat 
> >parsial sehingga kebijakan yang dimunculkan pun juga sangat parsial, tidak 
> >pernah holistik serta komprehensif. 
> >
> >Negara tidak mampu berpikir jauh ke depan, memikirkan jangka panjangnya 
> >apabila harus membuat sebuah aturan tertentu. Aturan hanya berlaku pada masa 
> >kini dan belum tentu bisa dilaksanakan di masa selanjutnya. Keluasan dan 
> >kepanjangan berpikir negara dalam bertindak sangat luar biasa minus, sebab 
> >masih dipengaruhi kepentingan-kepentingan yang berwajah politik praktis dan 
> >pragmatis, bukan diniatkan untuk secara tulus melindungi hajat hidup orang 
> >banyak. 
> >
> >Pertanyaan selanjutnya, apakah negara akan selalu bertindak begitu ke 
> >depannya? Terlepas apa pun jawabannya, realitas perilaku dan tindakan negara 
> >yang sangat lemah dalam bekerja untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat dalam 
> >konteks apa pun selama ini sudah membuktikan secara telanjang bulat bahwa 
> >nasib rakyat tidak akan pernah bisa keluar dari krisis. Rakyat justru tetap 
> >akan berada dalam krisis segala dimensi di hari esoknya. 
> >
> >Kebijakan yang dikeluarkan negara tidak didasari komitmen, kehendak politik, 
> >dan etos kerja tinggi untuk berbuat yang terbaik bagi kemaslahatan publik 
> >dari Sabang sampai Merauke. 
> >
> >*Penulis adalah pengajar di Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin.
> >
> >[Non-text portions of this message have been removed]
> >
> >
> > 
> >
> >
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
>




------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke