Refleksi :  Untuk kaum pria beragama, tetapi belum atau malas mengetahui wahyu 
Allah dengan sempurna, maka sejalan dengan berita dibawah ini diberitahukan 
bahwa Al Quran 2:223 menyatakan: "Isteri-isterimu  adalah (seperti) tempat 
bercocok tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok tanammu  itu bagaimana 
saja kamu kehendaki. Dan kerjakanlah (amal yang baik)  untuk dirimu, dan 
bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kamu kelak akan menemui Nya. Dan 
berilah kabar gembira orang-orang yang beriman". 

Tentu saja tokoh-tokoh MUI, konglomerat segera berdatatangan ke kantor "Isteri 
taaat suami", untuk bagi cerita dengan ibu-ibu perawan, 

Salah satu hal yang menarik ialah  para TKW seagama yang diperkosa atau 
diperlakukan tidak adil yang kembali dari tanah Nabi, agaknya tidak ada tokoh 
MUI menujuk muka  dan meninta cerita mereka dibagi atau membuang suara 
prihatin. Hal ini berlangsung kurang lebih setengah abad. hehehe 

Selamat bercocok tanam!

http://www.tempointeraktif.com/hg/Wawancara/2011/06/26/brk,20110626-343303,id.html


Dr. Gina Puspita, Deklarator Klub Taat Suami: Poligami Itu Bukan Suami yang 
Suruh 

Minggu, 26 Juni 2011 | 04:42 WIB
  
Gina Puspita. TEMPO/Wisnu Agung Prasetyo


TEMPO Interaktif, Jakarta - Deklarasi Klub Taat Suami yang dicanangkan oleh 
Kelompok Global Ikhwan di sebuah restoran di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta 
Selatan, pada 18 Juni lalu, menuai pro dan kontra. Kalangan pria yang memiliki 
keistimewaan menikah lagi merasa mendapat angin segar dengan ajaran klub ini 
bahwa istri selayaknya harus menaati suami, termasuk ketika suaminya menikah 
lagi. Namun, banyak juga yang menolak deklarasi klub, terutama para istri dan 
kalangan feminis yang memandang klub ini telah merendahkan perempuan.



"Kami hanya ingin berbagi pengalaman bahwa di Global Ikhwan ada cara mendidik 
suami, mendidik istri, dan anak-anak. Kami membagi bagaimana melaksanakan 
perintah Tuhan untuk taat. Di mana merendahkannya?" kata Gina Puspita, Ketua 
Klub Taat Suami Indonesia, Rabu lalu.



Kecaman terhadap klub ini makin kencang manakala seorang pengurusnya mengatakan 
agar para istri melayani hasrat seksual suaminya seperti pelacur melayani 
pelanggannya demi menghindari perselingkuhan. Klub ini dituding menyamakan 
istri dengan pelacur dan urusan pernikahan hanya sebatas ranjang. "Kita 
melayani suami karena Tuhan, maka kita berbuat seperti orang yang melayani 
orang lain karena uang, tapi bukan menyamakan seperti pelacur," ujar Gina, yang 
menjabat sebagai Ibu Global Ikhwan untuk wilayah Sumatera I, yang melingkupi 
seluruh Sumatera, kecuali Medan dan Aceh.



Global Ikhwan didirikan oleh Abuya Asaari Muhammad Tamimi, yang pernah mengaku 
mendatangkan tsunami Aceh pada 26 Desember 2004. Saat berdiri pada 1968, 
namanya adalah Darul Arqam, lalu berubah menjadi Rufaqa lantaran dianggap sesat 
oleh Pemerintah Malaysia, dan akhirnya berubah lagi menjadi Global Ikhwan. 
Pusat perkumpulan ini sekarang berada di Haramain (Tanah Suci) Mekah dan 
Madinah, Arab Saudi, setelah bertahun-tahun berada di Malaysia. 
Cabang-cabangnya ada di Indonesia, Malaysia, Yordania, Suriah, Mesir, Eropa, 
dan Australia. Anggotanya diprediksi mencapai 10 ribu jiwa di seluruh dunia. Di 
Indonesia, Gina memperkirakan ada 500 keluarga.



Tempo berkesempatan melihat geliat roda bisnis Global Ikhwan berjalan. Di 
Jakarta, Global Ikhwan menyewa sebelas rumah toko di Plaza Niaga II Blok E 9-21 
Sentul City, Bogor. Di sini, aktivitas yang ada adalah homestay, penerbitan, 
minimarket, rumah produksi, rumah kebajikan (rumah amal), asrama untuk santri 
perempuan dan laki-laki, usaha air isi ulang, kafetaria, klinik gigi dan salon, 
serta sekolah taman kanak-kanak. Tak jauh dari plaza di kawasan Victory, Global 
Ikhwan menjalankan usaha binatu, toko roti, dan penjahitan pakaian.



Saat melayani wawancara dengan Istiqomatul Hayati dan fotografer Wisnu, Gina 
didampingi oleh Siti Fauzah, ibu untuk Jawa I (Pulau Jawa dan Pontianak); 
Nunung Saleh Ibrahim, Ketua Yayasan Global Ikhwan; Sofiah Duleh, ibu untuk 
Pekanbaru; dan Khadijah Duleh, ibu untuk Global Ikhwan Sentul.



Apa respons dari pendeklarasian Klub Taat Suami ini?

Setelah peluncuran, banyak yang datang dari tokoh-tokoh Islam, MUI, 
konglomerat, dan pemerintah. Dari kantor Wali Kota Jakarta Selatan datang 
meminta agar Klub Taat Suami bisa membagi cerita dengan ibu-ibu PKK. Responsnya 
bagus sampai sekarang. Orang-orang banyak yang bertanya konsep taat suami itu 
seperti apa.



Bagaimana Anda menanggapi kalangan yang kontra?

Saya rasa itu karena beberapa sebab. Pertama, mungkin mereka tidak memahami 
konsep taat yang kami pahami. Dan bagi kalangan feminis, konsep taat itu 
menjadi asing. Islam itu awalnya asing dan kembali menjadi asing. Bukan saja 
soal taat. Waktu saya pakai jilbab pada 1982, hebohnya luar biasa. Tapi, 
lihatlah sekarang, jilbab bukan suatu yang aneh. Sebenarnya, kalau kita masuk 
ke perusahaan, ada bos, pemiliknya, kita yang jadi stafnya itu taat. Ketaatan 
itu maksudnya bukan sesuatu status yang merendahkan martabat.



Bukankah seharusnya muslim hanya taat kepada Allah?

Bukti seorang taat kepada Allah, dia terima semua aturan-Nya. Prinsipnya, kita 
berbuat baik pada orang karena iman. Begitu juga taat kepada suami. Bukan suami 
yang suruh, tapi Allah yang suruh.



Apa maksud pernyataan bahwa istri yang tidak taat, tidak menghiburkan, bisa 
menjadi sumber kerusakan masyarakat?

Bahwa istri yang baik, tapi tidak bisa melayani suaminya akan membuat suaminya 
pulang dengan wajah kusut. Apalagi jika istrinya bermasalah, padahal seharusnya 
istri itu menjadi tiang negara. Kalau yang mengalami masalah rumah tangga ini 
adalah para pemimpin dunia, maka sudah tentu merugi, tapi itu bukan berarti 
istri menjadi biang kerusakan masyarakat karena sebenarnya sumber kerusakan itu 
karena manusia sudah kehilangan moral. Suami pun, sebelum dia membimbing 
istrinya menjadi lebih baik, harus taat dulu kepada Allah dan bersikap baik. 
Kenapa kami terfokus pada ketaatan istri karena ini klub perempuan, maka yang 
dibicarakan masalah perempuan.



Apa tanggapan Anda ketika klub ini dituding merendahkan martabat perempuan?

Saya pikir ketika kita melayani suami kita dengan dasar cinta, itu bukan 
merendahkan martabat. Kami hanya ingin berbagi pengalaman meski kami masih jauh 
dari sempurna, bahwa sejak Global Ikhwan berdiri (1968) ada cara mendidik 
suami, mendidik istri, dan dan anak-anak. Kami bahagia, tidak ada krisis. Kami 
membagi pengalaman yang sudah ada. Hasilnya bagaimana kami melaksanakan 
perintah Tuhan untuk taat karena akhirnya seperti kami, Allah memberikan balas 
jasa kepada kita. Di mana merendahkannya? Di sini (Global Ikhwan), 50 persen 
penggerak perusahaan adalah perempuan. Kalaupun ada komentar (negatif), itu 
karena informasi yang belum sampai. Ini sebuah ajaran Tuhan, bukan teori baru.



Sebenarnya apa konsep taat dalam definisi Klub Taat Suami ini?

Dalam rumah tangga, sudah Tuhan katakan bahwa pria itu pemimpin bagi perempuan. 
Suami yang baik, bukti bahwa dia taat kepada Allah, dia adalah yang berakhlak 
baik. Begitu juga istri. Kalau dia taat kepada Allah, dia akan mengikuti suami. 
Rasulullah sendiri mengatakan perempuan itu di (hari) akhir akan dilihat empat 
hal: salat, puasa, menjaga marwah dirinya, yang keempat akan ditanya tingkat 
ketaatan pada suami.



Kenapa konsep ketaatan itu hanya dibebankan kepada istri. Bagaimana jika 
suaminya tidak taat kepada Allah?

Kalau begitu, mesti ditanya mengapa dulu mereka menikah. Kalau suami tidak taat 
kepada Allah, kita tidak wajib taat. Hanya, kadang penyelesaiannya akan kami 
panggil kedua belah pihak untuk konseling, mendekatkan suaminya kepada Allah. 
Kadang suaminya menjadi ganas karena istrinya. Jadi, kita lihat keduanya.



Definisi taat ini sampai seberapa jauh?

Kami ingin 100 persen taat. Ketaatan tentulah ada dalam aspek kehidupan. 
Misalnya mau makan, suami mau sup, kita ingin sayur asam. Apa salahnya kita 
sediakan sup. Kalau sudah berumah tangga lama, kita juga akan bersenang hati 
melayani orang yang kita cintai. Dan begitu juga tentang hubungan seksual. 
Kalau orang-orang memberikan layanan kepada lelaki hanya untuk cari uang, dia 
melayaninya dengan begitu rupa, luar biasa, yang membuat orang datang 
lagi-datang lagi sampai ketagihan. Kenapa kita tidak juga melayani (seperti itu 
terhadap suami sendiri)? Ini bukanlah menyamakan istri sama dengan pelacur. Ada 
aturannya, apa yang tidak boleh jangan dikerjakan.



Artinya perempuan tidak punya hak untuk mengekspresikan keinginan seksualnya?

Kita bicara tentang taat kepada Allah, maka Allah yang terbaik. Bila seorang 
istri ketika menikah, maka suaminya terima nikahnya, dia yang bayar mahar. 
Artinya, dalam berumah tangga, yang raja itu suami. Jadi, dalam aturan itu 
pasti ada hikmahnya. Allah itu baik. Kalau kita melayani suami menurut selera 
suami, nanti Tuhan akan berikan kepada kita nikmat lebih hebat dari perempuan 
lain yang ingin memuaskan diri sendiri.



Ketaatan ini termasuk mengikhlaskan ketika suami ingin menikah lagi?

Ya. Awalnya kan ketaatan pada Tuhan, bukan karena suami suruh. Artinya, kalau 
kita taat kepada Allah, kita harus terima seluruh perintah Allah yang 
dibolehkan. Poligami termasuk yang dibolehkan Allah. Itu kita harus 
menyetujuinya. Makanya saya geli kalau ada yang bilang korban poligami 
(tertawa). Kalau kami ini bukan korban, kami ini pejuang poligami.



Ada standar ganda di sini: berupaya agar suami tidak melirik perempuan lain dan 
menyetujui suami berpoligami....

Itu betul, suami tidak melirik orang lain. Makanya dia tidak pernah menyatakan 
mau poligami. Dalam Global Ikhwan tidak ada pria yang bilang saya mau poligami. 
Pernikahan di Global Ikhwan itu perkawinan yang dirancang. Begitu pula 
poligami. Kami ada Departemen Keluarga dan Kesejahteraan yang mengurusi 
monogami dan poligami. Di situ mengurus, selain agar mendapatkan kecocokan 
antarpasangan, tapi juga akan memperkuat perjuangan Islam. Jadi, suami-suami 
yang sudah dididik untuk takut kepada Allah, mereka tidak terpikir menikah lagi 
karena takut akan amanah. Departemen ini mengurus madu-madu juga. Departemen 
ini juga yang memperkenalkan saya dengan madu saya.



Bagaimana perasaan Anda ketika menikahkan suami Anda dengan perempuan lain?

Fauzah: Perasaan kami tentu rasa sakit itu ada, tapi kami tahu sakit itu apa. 
Tapi, kami tahu ada obatnya. Ini seperti ujian naik kelas. Kalau poligami itu 
bukan sesuatu yang baik, tentu para nabi dan rasul tidak akan poligami. 
Padahal, mereka adalah orang-orang yang paling tinggi ketakwaannya.



Selama ini pijakan poligami adalah Surat Annisa ayat 3. Tapi, pada ayat 129 
disebutkan bahwa sesungguhnya manusia itu tidak bisa berbuat adil....

Islam itu meletakkan sesuatu pada tepatnya. Adil yang paling tinggi adalah 
meletakkan Allah sebagai Tuhan. Dalam konsep adil yang utama dari suami, dia 
harus bisa menempatkan Allah sebagai Tuhannya. Bila itu sudah dapat, pernikahan 
akan bahagia dengan sendirinya.



Ayat 129 itu menunjukkan Allah menyukai monogami?

Kan diizinkan mengambil istri kedua, ketiga, keempat. Kalau enggak mampu, satu. 
Jadi, sebetulnya istri satu ini emergency. Saya katakan tadi ini sebuah 
pengalaman. Kami lihat Abuya dengan 4 istri, 40 anak, 200 cucu, pernikahan 
rukun, karena semua mengambil Tuhan sebagai pemimpin. Itu kuncinya.



Bukankah Rasulullah pernah mengadu kepada Allah kalau dia tidak sanggup berbuat 
adil?

Saya rasa yang Rasulullah kata soal perasaan dia yang khusus kepada Aisyah 
dibanding kepada istri-istri yang lain. Kecenderungan hati itu disetujui oleh 
istri-istri yang lain karena Siti Aisyah diberi keistimewaan, dia yang paling 
bertakwa. Waktu dengan Aisyah, Rasulullah mendapatkan wahyu, lalu Aisyah 
mendapatkan pembelaan dari Allah.



Bisakah dideskripsikan kebahagiaan Anda ketika masih monogami dan kini poligami?

Fauzah: Saat monogami itu hidup, ya, begitu-begitu saja. Tidak ada tantangan 
apa-apa. Seperti orang tidak pernah masuk mal yang dingin, tentu dia akan 
bilang belanja di Blok M itu sudah paling oke. Tapi, ketika ditawarkan mal 
lain, dia akan lihat memang ada mal dingin. Begitu juga ketika poligami, 
ternyata ada ya kehidupan ini. Jadi, makin kita taat kepada Allah, makin akan 
dibukakan pintu-pintu yang kita tidak pernah tahu.



Kalau Anda merasa cinta suami Anda terbesar untuk Anda, bagaimana dengan istri 
kedua, ketiga, dan keempat yang seakan menjadi pelengkap?

Kalau kita sudah cinta Allah, itu memang semua indah. Pengorbanan itu terbayar. 
Dan, dalam perjalanannya itu, kami terheran-heran bagaimana Allah membalas. Ada 
kebaikan yang banyak dalam poligami. Kami tiba-tiba merasa rindu dengan madu 
kami. Kayak adik-beradik. Satu rumah.



Apa saja yang diajarkan dalam Global Ikhwan?

Kami mengajarkan paling tidak ada satu paket seperti halnya Rasulullah 
mengajarkan salat setelah sebelas tahun kenabian. Begitu pula pola didikan yang 
ada dalam Global Ikhwan ini, terutama kepada orang yang taat kepada Allah. Ada 
praktik membimbing salat. Kemudian diajarkan bagaimana berumah tangga. Dan 
memang ada pengenalan tentang hubungan suami-istri yang menurut tata cara 
aturan. Tapi, tampaknya orang sangat tertarik tentang hal itu karena sebelumnya 
pendidikan soal seks ditutup. Tabu. Padahal, dalam Islam ada kok dan halal.



Jika ada klub taat suami, apakah di Global Ikhwan juga ada klub memperlakukan 
istri dengan baik?

Oh, ya. Kami kan mengajarkan paket, jadi bukan hanya perempuan.



Apakah di Global Ikhwan anak-anak diajarkan kursus pernikahan?

Kami sudah mengajarkan sejak mereka masih kecil. Kalau anak-anak ditanya oleh 
kami apakah mau poligami kelak, mereka menjawab, "Mau." Ini kan yang Allah 
bolehkan dan dicontohkan oleh Rasulullah. Jadi, ini sudah ada di benak mereka 
saat kecil.



Global Ikhwan sendiri selama ini bergerak di bidang apa?

Kami bergerak di semua bidang. Ada kesehatan, pendidikan, kesejahteraan, dan 
lain-lain. Di Malaysia ada pabrik makanan, restoran, dan lain-lain.



Bagaimana anak-anak Global Ikhwan mendapat pendidikan?

Ya di sini. Kami ada homeschooling. Mereka belajar di sini sampai mereka mahir, 
jadi langsung aplikatif. Kalau mereka ingin meneruskan ke sekolah formal dengan 
kuliah, bisa juga. Kalau dia sudah ada keahlian, sudah langsung masuk ke proyek.



BIODATA



NAMA:

Dr. Gina Puspita



KELAHIRAN:

Bogor, 8 September 1963



SUAMI:

DR. Ing. Abdurrahman Riesdam Effendi (mempunyai tiga anak)



PEKERJAAN:

Dosen, Ibu Global Ikhwan wilayah Sumatera I



PENDIDIKAN:

- Bahasa Prancis dan adaptasi sistem pendidikan Prancis di Formation 
International de l'Aeronaetique et Spatiale, Toulouse, Prancis (1982-1983)

- Sarjana teknik di Paul Sabatier University, Toulouse, Prancis (1983-1987)

- Dipl. Ing dan DEA di Teknik Penerbangan (konstruksi pesawat udara) di Ecole 
National Superieure de l'Aeronautique et de l'Escape, Toulouse, Prancis 
(1987-1989)

- Doktor teknik penerbangan di Ecole National Superieure de l'Aeronautique et 
de l'Escape (1989-1993)



KARIER:

- Supervisor mahasiswa Teknik Mesin dan Teknik Penerbangan di Universitas 
Prancis untuk Pengembangan Struktur Analisis, ENSAE-Prancis (1990-1993)

- Dosen tamu di Teknik Penerbangan Institut Teknologi Bandung (1994-2000)

- Dosen Teknik Mesin Universitas Muhammadiyah Surakarta (1996-sekarang)

- Kepala Departemen Optimisasi Struktur Divisi Penelitian dan Pengembangan 
Kedirgantaraan PT Industri Pesawat Terbang Nusantara (1993-2003)



BUKU:

Pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi dalam Islam bersama Riesdam Effendi 
(2006)



PENGHARGAAN:

- Pelajar teladan tingkat sekolah menengah atas se-Provinsi Jawa Barat (1982)

- Medali emas dari Kementerian Industri Prancis (1989)

- Penghargaan Perempuan Teknologi Muslim Terbaik (2000)

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke