Refl: Tidak sesuai dengan Pancasila, tetapi Demokrasi Indonesia menjadi model 
negara lain?

http://www.antaranews.com/berita/267198/demokrasi-di-indonesia-jadi-model-negara-lain

Demokrasi Di Indonesia Jadi Model Negara Lain 
Rabu, 13 Juli 2011 23:31 WIB | 1786 Views

  London (ANTARA News) - Direktur Eksekutif "Institute for Peace and Democracy" 
(IPD) Dr I Ketut Putra Erawan menilai pengalaman Indonesia sebagai negara 
demokrasi terbesar ketiga di dunia dan berpenduduk mayoritas Muslim dapat 
menjadi model bagi negara lain yang saat ini sedang menghadapi transisi.

  "Hal itu disampaikan direktur IPD dalam pertemuan tahunan `Crans Montana 
Forum` (Swiss) ke-22 di Brussel baru-baru ini," ujar `Minister

  Counsellor` Pensosbud and Diplik KBRI Brusel, Palupi S Mustajab kepada Antara 
London, Rabu.

  Ia mengatakan "Crans Montana Forum" (Swiss) yang berdiri sejak tahun 1989 
adalah forum bidang Polkam, sementara forum bidang ekonomi adalah "World 
Economic Forum" (Davos).

  Pada pertemuan "Special One Day Program" bertema "Looking for Political 
Model" dalam forum itu dihadiri sekitar 600 peserta terseleksi dari wakil 
pemerintah, organisasi internasional serta kalangan dunia usaha tersebut.

  Dalam kesempatan itu, Ketut Putra Erawan memaparkan bahwa penguatan demokrasi 
Indonesia masih terus berjalan, sehingga dapat menjadi referensi menarik dalam 
debat terbuka yang mengangkat tema tantangan dunia menghadapi masa transisi di 
negara-negara kawasan Afrika Utara dan Timur Tengah saat ini.

  Ia mengetengahkan pentingnya untuk melihat kembali dasar-dasar pembangunan 
dan konsolidasi institusi demorasi. Selain mendengarkan aspirasi dan 
suara/keinginan rakyat serta penyampaian demokrasi. 

  Tidak dapat dipungkiri terkait adanya apresiasi dari berbagai pihak pada 
forum ini terhadap perjalanan kehidupan demokrasi di Indonesia yang penduduknya 
mayoritas Muslim.

  Hal itu merupakan suatu refleksi terkait pentingnya pengakuan dunia 
internasional atas peran IPD sebagai pelaksana Bali Democracy Forum dalam upaya 
pemajuan perdamaian dan demokrasi.

  Ia juga menyampaikan peranan Indonesia dalam mengatasi masa transisi di 
Afrika Utara melalui pelaksanaan "Workshop on Egypt-Indonesia Dialogue on 
Democratic Transition" di Jakarta pada Mei lalu yang mendapat tanggapan 
posistif dari berbagai pihak, termasuk Uni Eropa.(*)
  ++++
  
http://www.antaranews.com/berita/267509/peneliti-demokrasi-di-indonesia-tak-sesuai-pancasila
  Peneliti: Demokrasi di Indonesia Tak Sesuai Pancasila 


  Jumat, 15 Juli 2011 21:33 WIB | 1118 Views

  Yogyakarta (ANTARA News) - Demokrasi yang berkembang di Indonesia selama ini 
dianggap tidak sesuai dengan nilai-nilai Pancasila yang mengedepankan 
musyawarah untuk mufakat demi kepentingan bangsa dan negara, kata peneliti 
Pusat Studi Pancasila Universitas Gadjah Mada Yogyakarta Diasma Sandi Swandaru.

  "Demokrasi yang ada di Indonesia dianggap liberal dan kebablasan. Mekanisme 
demokrasi di Indonesia dipertanyakan banyak kalangan karena dianggap tidak 
sesuai dengan nilai-nilai Pancasila," katanya di Yogyakarta, Jumat.

  Menurut dia, praktik demokrasi menjadi perdebatan seru di Indonesia karena 
selama ini demokrasi memang menjadi isu yang fundamental dalam kehidupan 
berbangsa dan bernegara. Demokrasi dianggap sebagai sistem yang paling baik di 
antara sistem yang ada.

  "Yogyakarta saat ini sedang mengalami gempuran politik demokrasi modern. Hal 
tersebut terkait dengan tarik-ulur susbtansi RUU Keistimewaan (RUUK) DIY antara 
pemerintah pusat dengan masyarakat Yogyakarta," katanya.

  Dalam hal ini, menurut dia, pemerintah pusat berkeinginan menerapkan 
pemilihan langsung gubernur dan wakil gubernur DIY, sedangkan mayoritas 
masyarakat Yogyakarta tetap berkehendak adanya penetapan posisi tersebut.

  "Jika pemaksaan atas nama demokrasi dengan pilihan langsung, maka 
diperkirakan akan terjadi `genocide of democracy`, yakni demokrasi yang 
membunuh anak kandungnya sendiri," katanya.

  Ia mengatakan, demokrasi tanpa kebijaksanaan pasti mendatangkan bencana bagi 
rakyatnya. Kebijaksanaan dalam ini lebih mengedepankan prinsip-prinsip 
kebenaran dan keadilan.

  "Pemimpin kebijaksanaan tidak lain adalah asas trias politica dengan 
puncaknya Pancasila. Akibatnya, tanpa kebijaksanaan akan menimbulkan anarkisme 
atas demokrasi yang dipaksakan," katanya.

  Menurut dia, proses demokrasi Yogyakarta justru memiliki kekuatan dan 
nilai-nilai lokalitas yang berperan penting dalam kevakuman regional dan 
kultural dalam teori demokrasi.

  "Demokrasi yang terjadi bukan hanya untuk `menang-menang`-an atau suara 
terbanyak. Namun, ada hal lain yang lebih fundamental yakni kesejahteraan dan 
keadilan sosial," katanya.

  Ia mengatakan, di Yogyakarta, masyarakat cukup puas dengan kepemimpinan Sri 
Sultan Hamengku Buwono X. Semua proses demokrasi sudah dilaksanakan, mulai dari 
aspirasi rakyat, dukungan, elemen masyarakat, "civil society", dan DPRD di 
kabupaten/kota mendukung kepemimpinan yang mereka kehendaki yakni demokrasi 
terpimpin, di mana Sultan sekaligus sebagai gubernur DIY.

  "Jangan lupakan prinsip-prinsip kebenaran dan keadilan dalam sebuah 
kebijaksanaan. Demokrasi tanpa kebijaksanaan tentu hanya akan mendatangkan 
bencana," katanya.(*

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke