Tulisan ini juga disajikan dalam website http://umarsaid.free.fr/

yang sampai sekarang sudah dikunjungi  746 780   kali

= = =      = = =              = = =

Gerakan Konstitusi  Pasal 33 untuk

Membebaskan Rakyat Indonesia





Berdikari Online, organ PRD (Partai Rakyat Demokratik) tanggal 22 Juli 2011
telah menyajikan sebuah editorial untuk memperingati kelahiran partai
tersebut  15 tahun yang lalu. Dalam tulisan tersebut telah diangkat berbagai
hal penting tentang perjalanan partai yang terutama terdiri dari kaum muda
itu.



Tulisan tersebut selengkapnya adalah sebagai berikut :





15 Tahun Perjalanan PRD


«  Senin sore, 22 Juli 1996, di kantor Yayasan Lembaga Bantuan Hukum

Indonesia (YLBHI). Ratusan orang, sebagian besar berusia 20-an tahun,

menghadiri  pendeklarasian partai baru: Partai Rakyat Demokratik (PRD).



Kelahiran PRD 15 tahun yang lalu adalah sejarah kelahiran kembali

gerakan politik rakyat Indonesia, setelah selama 30-an tahun ditindas

dan diharamkan oleh rejim orde baru. Sejarah perkembangan PRD pun adalah

sejarah perjuangan politik rakyat Indonesia untuk menegakkan

kedaulatannya. Dimana, dalam upaya mencapai tujuan itu, PRD telah

menempatkan kekuatan rakyat sebagai inti gerakan politik. Hal itu sangat

nampak jelas dalam di bagian penutup Manifesto PRD  tahun 1996 yang

berbunyi: "untuk itu Partai Rakyat Demokratik (PRD) percaya dan

yakin bahwa pengorganisiran rakyat adalah satu-satunya cara untuk

menegakkan kedaulatan rakyat."



Dalam perjalanan 15 tahun itu, PRD telah melalui tahap-tahap penting

dalam perjuangan rakyat Indonesia: pada awalnya adalah perjuangan

melawan kediktatoran orde baru, dan sekarang ini adalah perjuangan

melawan imperialisme.



Dalam periode singkat itu, muncul berbagai perdebatan di internal partai

seputar strategi dan taktik menghadapi situasi-situasi baru tersebut,

yakni peralihan dari situasi kediktatoran menjadi situasi liberal, dari

menekankan perjuangan demokrasi menjadi perjuangan pembebasan nasional.



Ada sebagian orang yang mengatakan, tujuan PRD untuk membuka ruang-ruang

demokrasi sudah tercapai dan, karena itu, saatnya untuk memanfaatkan

ruang demokrasi itu sebaik mungkin. Sementara yang lain mengatakan,

perjuangan membuka demokrasi hanyalah salah satu `tahapan'—dari

sekian tahapan—dalam perjuangan PRD untuk membebaskan rakyat dari

penindasan dan penghisapan.



Oleh pendapat pertama, PRD dianjurkan untuk bekerja dalam kerangka

demokrasi dan kerangka politik yang tercipta saat ini. Atau, ringkas

kata, silahkan PRD menikmati ruang demokrasi yang sudah diperjuangkannya

itu.



Sementara pendapat yang kedua mengarah pada begitu banyak sekali tawaran

politik, diantaranya: (1) menolak berpartisipasi dalam ruang politik

yang ada dan tetap konsisten di garis ekstra-parlementer. (2) melihat

ruang politik itu sebagai langkah `taktis' untuk memajukan

gerakan politik rakyat.



Sejak tahun 1999 hingga sekarang, PRD setidaknya tiga kali berusaha

menggunakan momentum pemilu untuk agenda politik memperluas dan

memperbesar daya politik gerakan rakyat: pemilu 1999, pemilu 2004, dan

pemilu 2009. Akan tetapi, dalam proses memanfaatkan ruang politik itu,

dinamika internal partai ditandai dengan munculnya perdebatan-perdebatan

keras dan tidak sedikit yang berakhir dengan perpecahan (split).



Keikutsertaan PRD pada pemilu 2009, sekalipun dengan menggunakan

kendaraan politik partai lain, telah memberikan "pembelajaran"

penting kepada PRD. Bukan saja tentang bagaimana mengenal medan politik

demokrasi liberal, tetapi sekaligus mengerti situasi dan tantangan

perjuangan sekarang ini.



Kita menjadi tahu, bahwa untuk menjadi sebuah kekuatan politik

alternatif, kita tidak bisa sekedar berteriak-teriak bahwa kita adalah

alternatif, tetapi harus ada pengorganisasian rakyat   dari bawah dalam

waktu yang tidak singkat. Kita semakin mengerti bahwa perjuangan

sekarang ini memerlukan "kesabaran revolusioner"—mengutip

istilah Njoto, salah seorang penulis pidato Bung Karno.



Untuk itu, dalam kongres VII PRD, 1-3 Maret 2010 lalu, telah ditegaskan

tugas mendesak partai: pembangunan partai (party building). Kongres itu

juga telah mengubah PRD dari partai kader menjadi partai terbuka atau

partai massa.



Sekarang ini kita sedang berhadapan dengan situasi yang semakin jelas:

penjajahan asing (imperialisme) yang semakin agressif. PRD pun sangat

menyadari situasi baru ini dan memahami tantangan-tantangannya. Karena

itu, PRD telah menyusun sebuah Manifesto Politik yang baru, sebagai

jawaban terhadap problem pokok rakyat Indonesia saat ini: Imperialisme.



Oleh karena itu, jika deklarasi PRD pada 22 Juli 1996 lalu telah

mengumandangkan perjuangan melawan orde baru—dengan tiga tuntutan

pokok: pencabutan 5 paket UU Politik dan Dwi Fungsi ABRI, maka pada

peringatan 15 tahun PRD hari ini telah berkumandang "gerakan

nasional pasal 33" sebagai bentuk perlawanan langsung terhadap

imperialisme.



Akhirnya, PRD—sebagaimana partai-partai revolusioner di masa

perjuangan anti-kolonial—telah berjuang bersama rakyat Indonesia.

Sampai sekarang, banyak kader PRD masih hilang karena diculik rejim orde

baru dan sampai sekarang belum diketahui keberadaannya, diantaranya:

Wiji Thukul, Herman Hendrawan, Suyat, Bimo Petrus, dan lain-lain. Ada

banyak pula kader-kader PRD yang gugur dalam saat-saat perjuangan:

Gilang (Diculik oleh aparat rejim orba dan ditemukan mayatnya di Madiun,

Jawa Timur) Yusuf Rizal, Saddam Husein, Andi Munajat, dan Taufik

(meninggal karena ditabrak lari saat mengadvokasi rakyat di NTB).



Kita berharap, PRD bisa berkembang terus menjadi partai yang kuat dan

kokoh, tahan terhadap panas dan hujan, yang menjadi tempat bernaungnya

kaum revolusioner dan menghimpun sebanyak-banyaknya rakyat Indonesia.



Dirgahayu PRD! Berjuang terus untuk mewujudkan Sosialisme Indonesia! »



 (kutipan editorial selesai).



Komentar :



Editorial « Berdikari Online » di atas patut mendapat perhatian dari banyak
kalangan masyarakat, mengingat arti pentingnya kalau dihubungkan dengan
situasi negara dan bangsa, baik di masa yang lalu, dewasa ini maupun di
kemudian hari.



Apalagi, ketika negara dan bangsa dewasa ini sedang diporak-porandakan oleh
kebejatan akhlak atau kerusakan moral para « tokoh-tokohnya » di bidang
eksekutif, legislatif, dan judikatif, yang membikin Indonesia sebagai negara
di mana korupsi dan pelecehan hukum merajalela dengan hebatnya, dan juga
sudah menjadi jajahan kekuatan asing.



Editorial mengingatkan kita semua bahwa PRD, yang didirikan oleh kaum muda
dalam masa rejim militer Orde Baru telah menjadi obor dalam perlawanan yang
berani – dan penuh pengorbanan – melawan Dwibungsi ABRI dan berbagai politik
diktatorial lainnya (antara lain 5 paket UU Politik).



Kiranya, dalam sejarah berbagai perlawanan rakyat terhadap rejim militer
Suharto, perjuangan PRD adalah salah satu di antaranya yang termasuk paling
tegas, paling menonjol, dan paling terkenal, baik di kalangan para penentang
Orde Baru maupun di kalangan « musuhnya », yaitu para pendukung Suharto.



Seperti yang ditulis dalam editorial tersebut, PRD telah mengalami berbagai
pengalaman dalam perjalanannya selama 15 tahun ini, dalam usaha untuk
membangun partai yang berjuang untuk membebaskan rakyat dari penindasan dan
penghisapan.



PRD yang tadinya adalah  partai tertutup dan merupakan partai kader dalam
tahun 2010 telah dirobah menjadi partai massa dan partai terbuka. Sejak itu,
partai yang jelas-jelas menganut politik kiri ini dengan terang-terangan dan
tegas mengumandangkan ajaran-ajaran revolusioner Bung Karno, yang pro-rakyat
kecil (wong cilik), anti-imperialisme dan pro sosialisme à la Indonesia.



Dewasa ini PRD sedang mengobarkan « Gerakan Nasional Pasal 33 », yang
merupakan gerakan yang tepat untuk menghadapi situasi negara dan bangsa yang
sedang digerogoti oleh bahaya neo-liberalisme dan kolonialisme dalam bentuk
baru.



Sebab, banyak sekali bukti bahwa pengkhianatan berat telah dan sedang
terjadi terhadap Konstitusi atau UUD 45 pasal 33, yang berbunyi :


(1) Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas
kekeluargaan.
(2) Cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hajat
hidup orang banyak dikuasai oleh negara.
(3) Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh
negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. »



« Gerakan Nasional Pasal 33 » tersebut dewasa ini sudah dan sedang mendapat
dukungan dari banyak kalangan masyarakat : pemuda, mahasiswa, kaum buruh,
dan kaum  tani, yang mengadakan macam-macam aksi di banyak kota di
daerah-daerah. Dukungan yang begitu antusias dari mana-mana menunjukkan
bahwa gerakan ini mencerminkan aspirasi banyak kalangan. (Mengingat
pentingnya dukungan terhadap gerakan ini yang mengindikasikan berkembangnya
kesedaran politik dan patriotisme, akan diusahakan adanya tulisan khusus
tersendiri)



Dalam situasi ketika sikap kalangan atasan atau elite bangsa makin kelihatan
membusuk dan bobrok sekali akibat  korupsi dan  berbagai macam kongkalikong
dengan kekuatan ekonomi asing, maka perjuangan  PRD serta berbagai macam
organisasi kiri lainnya (yang cukup banyak)  merupakan harapan bahwa negara
dan bangsa kita masih bisa diselamatkan, demi anak cucu kita di kemudian
hari.



Kiranya, selama ini kita  semua sudah menyaksikan sendiri  bahwa kebanyakan
partai politik yang tergabung dalam koalisi SBY sudah tidak bisa  diharapkan
berbuat banyak bagi rakyat untuk mencapai tujuan-tujuan revolusi 17 Agustus
45 dan Konstitusi 45. Bahkan sebaliknya, partai-partai politik pendukung SBY
sudah menghancurkan, atau menjauhkan cita-cita masyarakat adil dan makmur,
masyarakat sosialisme à la Indonesia, yang dengan gigih sudah diperjuangkan
Bung Karno sepanjang hidupnya, sampai akhir hayatnya.



Situasi negara dan bangsa dewasa ini menunjukkan dengan jelas bahwa di bawah
pimpinan SBY pemerintahan  di Indonesia menjadi tambah morat-marit, dan
berbagai bidang kehidupan tambah kacau-balau.  Negara kita membutuhkan
pimpinan yang baru, namun bukanlah yang sejenis  atau segolongan SBY !!!



Paris, 26 Juli  2011



A. Umar Said






















[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke