Serempak secara ilmiah untuk seluruh wilayah RI 
jelas nggak mungkin, tapi kalau secara politis bisa 
saja diatur. 

Saking luasnya kepulauan nusantara ini (matahari 
butuh waktu sekitar 14 jam untuk menerangi / melintasi 
seluruh wilayah kepulauan) maka Indonesia harus 
membagi wilayahnya ke dalam 3 zona waktu (tadinya 6) 
berdasarkan koordinat, dihitung secara atomic, dan 
ditentukan secara politis. 

Sama seperti Eropa yang secara geografis juga dibagi 
menjadi 3 wilayah waktu. Tetapi secara politis, 
Prancis & Spanyol yang berada pada koordinat bujur yang 
sama dengan Inggris (tepat di selatan Pulau Inggris) 
justru mengikuti zona Waktu Eropa Tengah. Sementara, 
Inggris & Portugal mengklaim berada di wilayah Waktu 
Eropa Barat. Uni Eropa sepertinya belum sempat 
memikirkan penyatuan waktu ini karena masih repot 
dengan penyatuan mata uang dan lain-lainnya. 

Realitanya, secara ilmiah pun standar waktu di bumi 
(internasional) menggunakan 2 cara yaitu, dihitung 
berdasarkan frekuensi atom dan dibagi menurut koordinat 
- berdasar posisi bumi terhadap matahari. 

Satu hal yang pasti, standar waktu internasional 
menggunakan perhitungan ilmiah berdasarkan posisi bumi 
terhadap matahari. Hitungan ini juga yang digunakan 
untuk menetapkan hari / tanggal, bulan, dan tahun baru. 

Umat Islam juga menggunakan posisi matahari dalam 
kegiatan sehari-hari. Seperti misalnya untuk menentukan 
masuknya waktu shalat, atau menentukan waktu imsak dan 
berbuka puasa pada bulan Ramadhan. Tetapi untuk menentukan 
datangnya periode bulan baru, Islam tentu saja 
menghitungnya dari posisi bulan, bukan posisi matahari. 

Dengan demikian, selain dibantu dengan hitungan ilmiah, 
manusia hendaknya mendekatkan hidup & kehidupannya dengan 
kondisi alamiah. 

Jadi, penyatuan / penyeragaman waktu masuknya BULAN baru 
(sebutlah masuknya bulan Syawal) untuk seluruh wilayah 
Indonesia dengan menggunakan posisi MATAHARI justru menjadi 
lelucon. Tidak ilmiah, dan samasekali tidak alamiah. 

Bicara NKRI ke depan, hal-hal ilmiah (keseragaman) dan 
alamiah (keberagaman) begini perlu dipahami dalam penerapan 
desentralisasi. Jangan sesumbar desentralisasi tapi isinya 
cuma menang-kalah dalam pilkada. Atau malah menuntut 
penyeragaman hal-hal yang secara alamiah berbeda. 


--- baswati <baswati@...> wrote:
 
> Setuju, 
> mengikuti sidang tersebtu sungguh sangat inspiring untuk membangun > NKRI 
> masa depan.
> 
> Namun ada pertanyaan mengganjal nih dari orang awam.
> Ketika wilayah NKRI itu lebar sekali sehingga apakah hilal yang 
> terlihat di wilayah barat juga terlihat di wilayah timur. Artinya, 
> secara ilmiah apakah bisa disimpulkan sama untuk NKRI mengingat 
> bumi itu bulat ? 
> 
> 
> rifky pradana wrote:
>    
> > Sidang Itsbat dengan Memperhatikan Layar Hasil Pengamatan Teleskop
> > dari Beberapa Lokasi di Indonesia (Antara/Fouri Gesang Sholeh) 

[...] 






------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke