Yg tolol itu adalah auloh, kenapa make bulan unt referensi waktu. Sampe ngocehnya sethn ada 12 bln, padahal kalo nurutin bulan, ternyata ada lebih dr 12, hehehe...
>________________________________ >From: ajeg <[email protected]> >To: [email protected] >Sent: Tuesday, August 30, 2011 11:11 AM >Subject: [proletar] Re: Jusuf Kalla dan Din Syamsudin serta Kriteria Hilal > > > > >Serempak secara ilmiah untuk seluruh wilayah RI >jelas nggak mungkin, tapi kalau secara politis bisa >saja diatur. > >Saking luasnya kepulauan nusantara ini (matahari >butuh waktu sekitar 14 jam untuk menerangi / melintasi >seluruh wilayah kepulauan) maka Indonesia harus >membagi wilayahnya ke dalam 3 zona waktu (tadinya 6) >berdasarkan koordinat, dihitung secara atomic, dan >ditentukan secara politis. > >Sama seperti Eropa yang secara geografis juga dibagi >menjadi 3 wilayah waktu. Tetapi secara politis, >Prancis & Spanyol yang berada pada koordinat bujur yang >sama dengan Inggris (tepat di selatan Pulau Inggris) >justru mengikuti zona Waktu Eropa Tengah. Sementara, >Inggris & Portugal mengklaim berada di wilayah Waktu >Eropa Barat. Uni Eropa sepertinya belum sempat >memikirkan penyatuan waktu ini karena masih repot >dengan penyatuan mata uang dan lain-lainnya. > >Realitanya, secara ilmiah pun standar waktu di bumi >(internasional) menggunakan 2 cara yaitu, dihitung >berdasarkan frekuensi atom dan dibagi menurut koordinat >- berdasar posisi bumi terhadap matahari. > >Satu hal yang pasti, standar waktu internasional >menggunakan perhitungan ilmiah berdasarkan posisi bumi >terhadap matahari. Hitungan ini juga yang digunakan >untuk menetapkan hari / tanggal, bulan, dan tahun baru. > >Umat Islam juga menggunakan posisi matahari dalam >kegiatan sehari-hari. Seperti misalnya untuk menentukan >masuknya waktu shalat, atau menentukan waktu imsak dan >berbuka puasa pada bulan Ramadhan. Tetapi untuk menentukan >datangnya periode bulan baru, Islam tentu saja >menghitungnya dari posisi bulan, bukan posisi matahari. > >Dengan demikian, selain dibantu dengan hitungan ilmiah, >manusia hendaknya mendekatkan hidup & kehidupannya dengan >kondisi alamiah. > >Jadi, penyatuan / penyeragaman waktu masuknya BULAN baru >(sebutlah masuknya bulan Syawal) untuk seluruh wilayah >Indonesia dengan menggunakan posisi MATAHARI justru menjadi >lelucon. Tidak ilmiah, dan samasekali tidak alamiah. > >Bicara NKRI ke depan, hal-hal ilmiah (keseragaman) dan >alamiah (keberagaman) begini perlu dipahami dalam penerapan >desentralisasi. Jangan sesumbar desentralisasi tapi isinya >cuma menang-kalah dalam pilkada. Atau malah menuntut >penyeragaman hal-hal yang secara alamiah berbeda. > >--- baswati <baswati@...> wrote: > >> Setuju, >> mengikuti sidang tersebtu sungguh sangat inspiring untuk membangun > NKRI >> masa depan. >> >> Namun ada pertanyaan mengganjal nih dari orang awam. >> Ketika wilayah NKRI itu lebar sekali sehingga apakah hilal yang >> terlihat di wilayah barat juga terlihat di wilayah timur. Artinya, >> secara ilmiah apakah bisa disimpulkan sama untuk NKRI mengingat >> bumi itu bulat ? >> >> >> rifky pradana wrote: >> >> > Sidang Itsbat dengan Memperhatikan Layar Hasil Pengamatan Teleskop >> > dari Beberapa Lokasi di Indonesia (Antara/Fouri Gesang Sholeh) > >[...] > > > > > [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------------------ Post message: [email protected] Subscribe : [email protected] Unsubscribe : [email protected] List owner : [email protected] Homepage : http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: [email protected] [email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
