Tulisan ini juga disajikan dalam website http://umarsaid.free.fr/
yang sampai sekarang sudah dikunjungi   760  410 kali



===              =====                ====                   ======

Sejarawan Hilmar Farid : “G-30-S dan
Pembunuhan Massal 1965-66”



Berikut di bawah ini adalah lanjutan dari kumpulan tulisan tentang peristiwa
G30S, dalam rangka menyambut kedatangan tanggal 30 Sepember yang akan
datang. Sesudah tulisan tokoh PKI Hasan Raid alm dan sejarawan Aswi Warman
Adam, maka kali ini disajikan karya sejarawan Hilmar Farid.



Seperti halnya tulisan-tulisan lainnya, tulisan Hilmar Farid ini juga
memungkinkan bagi  kita semua untuk bisa mencoba melihat peristiwa besar
bagi sejarah bangsa dan negara kita ini dari berbagai segi dan sudut
pandang, untuk kita jadikan bahan renungan.



Hilmar Farid adalah sejarawan dari Institut Sejarah Sosial Indonesia (ISSI)
dan aktivis gerakan sosial.

Tulisan  ini sebelumnya telah dimuat di situs http://www.prp-indonesia.org,
Senin, 14 April 2008.



Paris, 17 September  2011

A. Umar Said





 = = = ===



Tulisan Hilmar Farid selengkapnya adalah sebagai berikut :


 “MENULIS sejarah bukan perkara mudah. Impian agar sejarawan bisa
menghadirkan masa lalu sebagaimana sesungguhnya terjadi semakin jelas tidak
mungkin terwujud. Seandainya ada mesin waktu yang bisa melontarkan kita ke
masa lalu pun, kita tetap akan melihatnya dari sudut pandang dan kerangka
pemikiran tertentu. Setelah menyerap apa yang kita dengar, lihat dan
rasakan, kita masih berurusan dengan bahasa sebagai alat kita menyampaikan
gagasan yang terbatas dan tidak cukup untuk menghadirkan semua dimensi masa
lalu secara penuh. Sejarah dengan kata lain adalah representasi dari masa
lalu dan bukan masa lalu itu sendiri. Sejarah selalu diceritakan dan disusun
kembali melalui bahasa berdasarkan informasi yang bisa diperoleh mengenai
masa lalu, dan karena itu akan selalu kurang, tidak lengkap dan memerlukan
perbaikan. Karena alasan itulah sejarawan umumnya mengatakan bahwa sejarah
itu terbuka bagi interpretasi yang berbeda, dan selalu bisa ditulis ulang.

Tapi ini tidak berarti bahwa kita bebas menafsirkan dan menulis sejarah. Ada
prinsip dasar yang membatasi kebebasan tafsir sejarah: pijakan pada fakta
atau kenyataan yang diketahui berdasarkan sumber informasi yang tersedia dan
dapat diuji. Tidak semua keterangan mengenai masa lalu dapat dipercaya, dan
sejarawan dibekali dengan metode dan prosedur ilmiah untuk memeriksa tingkat
keterandalan bahan-bahan yang dihadapinya.

Kekacauan dalam debat mengenai Gerakan 30 September atau G-30-S bersumber
dari pencampuradukan fakta, fiksi dan fantasi antara apa yang sesungguhnya
terjadi dengan apa yang diceritakan atau dibayangkan/diharapkan orang telah
terjadi. Di pusat kekacauan ini adalah penguasa Orde Baru yang menjadikan
tafsirnya yang penuh dengan fiksi dan fantasi sebagai sejarah resmi yang
tidak boleh dibantah. Orde Baru bersikeras mempertahankan tafsirnya mengenai
peristiwa G-30-S karena semua tindakannya untuk menghabisi PKI – mulai dari
menangkapi dan menghukum sebagian pemimpin dan membunuh ratusan ribu orang –
bersandar pada sejarah resmi itu. Penulisan sejarah di sini terkait dengan
legitimasi politik dan tanggung jawab hukum. Selanjutnya Orde Baru
menggunakan tangan besi untuk menjadikan tafsirnya terhadap peristiwa G-30-S
sebagai kebenaran umum. “Sejarah” yang dibuat oleh Orde Baru pun menjadi
lebih penting dari masa lalu itu sendiri.

Sejarah resmi ini, seperti nasib sejarah resmi di mana pun, mendapat kritik
dari banyak pihak yang kemudian menyusun versi alternatif. Walau memikat,
ada masalah besar dengan versi alternatif ini. Para penulis versi alternatif
ini biasanya lebih tertarik pada persoalan politik sejarah dan ingin
mengimbangi atau menentang sejarah resmi, dan bukan pada masa lalu itu
sendiri. Secara sadar maupun tidak mereka menerima medan pertempuran yang
dibuka oleh sejarah resmi. Di jantung medan pertempuran ini adalah
pertanyaan yang selalu kita dengar: siapa dalang G-30-S? Keterpakuan dan
keterpukauan pada dalang inilah yang membuat seluruh pembicaraan G-30-S
seperti berjalan di tempat.

Di sinilah John Roosa membuat sumbangan penting melalui Dalih Pembunuhan
Massal karena keluar dari perangkap teori dalang ini. Ia tidak sibuk
membantah atau membela versi tertentu, atau mencari-cari dalang, tapi
melakukan hal yang sangat elementer dan fundamental sekaligus: membuat
rekonstruksi G-30-S sebagai sebuah gerakan melalui keterangan mereka yang
terlibat di dalamnya.

Dalang Tanpa Lakon

Terlepas dari kesimpulan akhir yang berbeda-beda, semua teori tentang dalang
G-30-S berasumsi bahwa gerakan itu adalah persekongkolan politik yang
direncanakan dengan baik, memiliki rencana yang jelas, dan berada di bawah
garis komando. Sebagian mengatakan bahwa dalang itu adalah Soeharto dan
komplotan Angkatan Darat yang dipimpinnya, sementara Orde Baru bersikukuh
bahwa PKI adalah dalangnya dengan restu dari Presiden Soekarno. Sebagian
lain mengatakan pemerintah Amerika Serikat, melalui dinas rahasianya CIA,
adalah dalang yang dengan lihai memainkan anak wayangnya di Indonesia. Tidak
semua teori mengenai G-30-S dilengkapi bukti-bukti dan karena itu pantas
untuk diperhatikan secara serius. Sebagian malah lebih banyak memberi
informasi tentang kesadaran dan psikologi politik penyusunnya daripada
tentang gerakan itu sendiri.

Dalih Pembunuhan Massal berbeda dengan berbagai teori ini dalam hal yang
sangat mendasar, yakni perangkat pertanyaannya. Jika yang lain meyakini
bahwa G-30-S adalah sebuah persekongkolan jahat yang dirancang dan dimainkan
dengan sangat lihai oleh “sang dalang”, maka Dalih Pembunuhan Massal justru
menyoroti bahwa G-30-S sebenarnya sama sekali tidak tepat disebut sebagai
gerakan. Dengan penelitian yang cermat terhadap rangkaian bahan yang belum
pernah digunakan, dan penafsiran ulang terhadap bahan yang sudah pernah
digunakan, ia mereka ulang perjalanan “gerakan” yang berusia singkat itu.

Ia menunjukkan bagaimana para pemimpin gerakan sebenarnya tidak pernah punya
kesamaan pandangan dan sikap, apalagi rencana lain seandainya “rencana
 utama” (yang juga tidak jelas) gagal. Ia merekam bagaimana sebagian
pemimpin bersikeras menekankan bahwa “kita tidak bisa mundur lagi” dan
menutup diskusi dan perdebatan dengan otoritas. Dan setelah mereka yakin
bahwa gerakan itu gagal pun tidak ada rencana penyelamatan yang jelas: semua
pihak harus menyelamatkan diri masing-masing. Dengan kata lain, G-30-S sama
sekali tidak punya script yang bisa dijadikan pegangan. Analisis Brigjen
Supardjo yang menjadi salah dokumen andalan dalam buku ini – karena
merupakan satu-satunya keterangan tangan pertama yang dapat diandalkan –
dengan jelas menggambarkan kekacauan rencana dan pelaksanaan gerakan itu
dari perspektif militer dan politik.

Adalah penguasa Orde Baru yang kemudian membuat script setelah panggungnya
ditutup. Dalam studinya mengenai historiografi militer, Katharine McGregor
(2007), menceritakan dengan rinci proses penulisan script oleh tim yang
dibentuk Angkatan Darat di bawah pimpinan Nugroho Notosusanto. Buku pertama
diterbitkan dalam 40 hari, yang menunjukkan betapa pentingnya perang tafsir
untuk memaknai G-30-S ini bagi penguasa Orde Baru. Isinya jelas: PKI adalah
dalang dari gerakan itu yang sebenarnya bertujuan menggulingkan pemerintahan
yang sah.1 Buku kedua terbit tidak lama kemudian pada akhir 1965, ketika
script pertama sudah digunakan oleh penguasa untuk melancarkan pemusnahan
massal terhadap anggota, pendukung dan simpatisan PKI serta keluarga mereka.

Dalih Pembunuhan Massal tidak berpretensi dapat menjawab semua masalah.
Malahan ada pertanyaan terpenting yang menjadi kunci untuk memahami G-30-S
belum terjawab: siapa yang sebenarnya menyuruh pasukan-pasukan penculik
membunuh para jenderal? Jika memang tujuan dari gerakan itu adalah
menghadapkan para jenderal pemberontak kepada Soekarno, mengapa mereka
dibunuh? Roosa mengakui keterbatasannya dan mengatakan, “siapa tepatnya yang
membunuh para perwira itu masih belum diketahui.” (hlm. 60). Lembar-lembar
misteri G-30-S dengan begitu belum sepenuhnya terungkap, dan hanya
penelitian yang mendalam terhadap bukti-bukti – dan bukan dugaan atau
khayalan yang berdasar pada keyakinan tentang adanya dalang – yang dapat
membantu menyingkap misteri ini.

Dua Peristiwa Berbeda tapi Terkait

Judul buku ini, Dalih Pembunuhan Massal, memperlihatkan hubungan antara
peristiwa G-30-S dengan pembunuhan massal terhadap anggota, simpatisan dan
pendukung PKI dan organisasi gerakan kiri. Penguasa ORBA selama ini
menjelaskan pembunuhan massal sebagai “ekses” karena masyarakat marah
melihat pengkhianatan PKI. Seolah-olah reaksi terhadap PKI adalah sesuatu
yang wajar/alamiah karena perilaku PKI sendiri. Dalih Pembunuhan Massal
dengan cermat memisahkan antara apa yang kita ketahui telah terjadi
berdasarkan bukti-bukti yang ada dengan segala teori, tafsir dan juga
fantasi mengenai peristiwa itu. Pembunuhan massal dengan begitu bukan sebuah
konsekuensi logis dari apa yang sesungguhnya terjadi, tapi reaksi langsung
terhadap script yang disusun oleh penguasa Orde Baru.

Ben Anderson (1987) menulis artikel di jurnal Indonesia yang diterbitkan
Universitas Cornell dengan judul “Bagaimana Para Jenderal itu Tewas?”
berdasarkan visum et repertum yang dibuat oleh tim dokter yang ditunjuk oleh
Soeharto. Visum itu bertolak belakang dengan berita-berita yang dimuat dalam
harian Angkatan Bersendjata dan Berita Yudha – yang dikelola oleh Angkatan
Darat – bahwa para jenderal yang diculik pada dini hari 1 Oktober 1965
mengalami penyiksaan keji seperti pencungkilan mata dan pemotongan alat
kelamin. Visum itu jelas memperlihatkan bahwa tidak ada mata yang dicungkil
dan semua kemaluan utuh pada tempatnya. Pertanyaannya, mengapa Angkatan
Darat tidak mengumumkan kebenaran itu melalui media yang dikontrolnya, dan
justru membiarkan cerita-cerita yang tidak benar memenuhi
halaman-halamannya?

Kita juga tahu dari kesaksian dan keterangan mereka yang terlibat dalam
pembasmian PKI bahwa “kemarahan” massa yang seolah tidak bisa dikontrol
sebenarnya adalah reaksi terhadap berita-berita yang tidak benar dan
diketahui tidak benar oleh mereka yang menerbitkannya. Sampai sekarang belum
diketahui peran dari tim Angkatan Darat yang menyusun script tentang G-30-S
dalam fantasi tentang kekejaman di Lubang Buaya ini. Hal ini juga merupakan
misteri yang masih harus diselidiki karena akibatnya yang luar biasa. Di
mana-mana pejabat militer berpidato tentang “kekejaman” G-30-S yang tidak
pernah terjadi dan menuntut balas dengan membunuh sebanyak mungkin orang
komunis.

Tapi penyulut reaksi massal yang paling penting adalah pernyataan bahwa jika
PKI menang dan G-30-S berhasil maka banyak orang non-komunis, apalagi
anti-komunis, akan diperlakukan sama seperti cerita Angkatan Darat mengenai
kekejaman di Lubang Buaya (yang tidak pernah terjadi). Di banyak tempat
beredar daftar orang yang akan akan dihabisi oleh PKI seandainya G-30-S
berhasil: pemimpin agama, tokoh politik, pemuda dan mahasiswa. Dalam banyak
wawancara, termasuk dengan mereka yang terlibat dalam aksi kekerasan
terhadap orang kiri, terungkap bahwa daftar itu diumumkan oleh pemimpin
militer yang “menemukannya” di kantor PKI atau organisasi massa kiri.
Bersamaan dengan itu kadang “ditemukan” juga senjata api, uang dalam jumlah
luar biasa, timbunan makanan, dan yang paling menghebohkan alat pencungkil
mata, yang di banyak daerah penghasil karet lebih dikenal sebagai alat
penyadap getah karet.

Aksi kekerasan dan pembunuhan massal karena ini bukanlah reaksi alamiah
terhadap “kekejaman” G-30-S, tetapi terhadap representasi atau script yang
ditulis oleh Orde Baru mengenai peristiwa itu. Cerita-cerita bohong tentang
kekejaman di Lubang Buaya itulah yang membuat orang kemudian mengambil
tindakan. Tapi tentu itu tidak cukup. Di banyak tempat kita tahu bahwa
pembunuhan massal disulut langsung oleh pasukan militer, dan di beberapa
tempat tidak akan terjadi seandainya tidak dipimpin oleh militer.

Dengan kesimpulan ini saya tidak hendak menggambarkan PKI sebagai domba dan
militer, AS dan siapa pun yang terlibat dalam kampanye fitnah dan pembunuhan
massal sebagai serigala. Saya juga tidak ingin mengatakan bahwa pembunuhan
terhadap para perwira di Lubang Buaya dapat dibenarkan. PKI memang berniat
menguasai negara, seperti juga partai politik yang lain. Di daerah-daerah
banyak kadernya yang aktif dan menurut cerita yang saya dengar, juga sangar
dan kadang mengintimidasi orang yang tidak sepaham. Demonstrasi PKI dan
ormas kiri biasanya sangat ramai dan juga menakutkan bagi mereka yang
menjadi sasarannya. Aksi-aksi sepihak untuk menegakkan UUPA 1960 yang
dilancarkan BTI (dan sebenarnya organisasi petani lain juga) memang kadang
disertai bentrokan, mirip dengan apa yang kita saksikan setiap hari di
televisi sekarang ini. Tapi semua itu tidak dapat menjelaskan mengapa
pembunuhan massal terhadap orang PKI terjadi setelah Oktober 1965.

Jika pembunuhan massal tidak dapat dilihat sebagai reaksi alamiah terhadap
G-30-S, tapi sebagai tindakan yang disulut oleh script karangan Angkatan
Darat, maka kita juga tidak dapat melihat pembunuhan itu sebagai konflik
antara PKI dan kekuatan politik lainnya. Tidak ada pertempuran antara dua
pihak seperti layaknya sebuah konflik. Di beberapa tempat orang dengan
sukarela pergi ke tempat-tempat penahanan untuk “mengklarifikasi” posisi
mereka terhadap G-30-S, tapi tetap ditahan. Pembunuhan massal sepenuhnya
merupakan orkestrasi dari penguasa militer yang juga melibatkan elemen sipil
di dalamnya. Masalahnya, dalam script karangan penguasa Orde Baru,
keterlibatan elemen sipil ini menjadi “bukti” bahwa kemarahan terhadap PKI
adalah sesuatu yang genuine tumbuh dari bawah, dan bahwa peran tentara dalam
semua urusan ini justru menyelamatkan negara dari kehancuran. Teringat
pepatah, “sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui.”

Dalih Pembunuhan Massal menegaskan hal yang sangat penting, bahwa G-30-S
disalahtafsirkan secara sengaja, dipelintir dan dihadirkan kembali secara
salah pula agar menjadi dalih untuk melancarkan operasi pembasmian yang
menjadi salah satu kengerian terbesar dalam sejarah modern dunia. Walau
masih ada beberapa lubang dan misteri yang belum terungkap, karya John Roosa
ini sudah memberikan tilik-dalam yang baik tentang G-30-S sebagai sebuah
gerakan. Tentu tidak dapat dikatakan sebagai karya final. Tapi jika masih
ada “teori dalang” lain yang muncul berdasarkan dugaan dan desas-desus, maka
itu hanya mungkin dilakukan dengan resiko mempermalukan diri sendiri dan
menunjukkan ketidaktahuan tentang apa yang sudah diketahui luas. Setiap
penulisan sejarah yang serius akan mempertimbangkan dengan serius apa-apa
yang sudah diketahui dan ditulis sebelumnya. Tulisan tentang masa lalu yang
disusun berdasarkan fantasi atau khayalan dan desas-desus karena itu tidak
layak mendapat perhatian serius.



* * *


1 Belakangan para penulis script Orde Baru melawan keterangan mereka sendiri
dengan memasukkan Soekarno sebagai tokoh antagonis yang mendukung G-30-S
untuk menggulingkan pemerintahannya sendiri.***

* Versi awal makalah ringkas ini disampaikan dalam diskusi buku Dalih
Pembunuhan Massal: Gerakan 30 September dan Kudeta Soeharto karya John
Roosa, yang diselenggarakan di kampus Universitas Sanata Dharma, Jogjakarta,
31 Maret 2008. Setelah diskusi itu saya memperbaikinya dengan masukan dan
komentar dari para peserta diskusi.



Hilmar Farid










[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke