Refl :Apakah reshuffle akan memperbaiki pekerjaan berbagai kementrian dan membawa hasil gemilang bagi perbaikan hidup rakyat mayoritas ataukah masalahnya seperti orang tenggelam baru mau belajar berenang?
http://www.cenderawasihpos.com/index.php?mib=berita.detail&id=3422 Senin, 19 September 2011 , 04:45:00 Sepuluh Kementrian Layak Direshuffle LSI: Kepercayaan Publik Pada Kabinet Hanya 37,7 Persen JAKARTA - Rencana digelarnya reshuffle Kabinet Indonesia Bersatu II sebaiknya segera terealisasi. Ini karena, kepercayaan publik pada kinerja KIB II saat ini terus merosot tajam. Berdasarkan hasil survei Lingkaran Survei Indonesia (LSI) kepercayaan publik kepada kabinet Susilo Bambang Yudhoyono dan Boediono hanya menyentuh angka 37,7 persen. "Kepuasan publik pada pemerintah ini merosot. Ini adalah waktu yang pas (pemerintahan SBY-Boediono) untuk melakukan reshuffle," ujar Adjie Alfarabi, peneliti LSI dalam paparan hasil survei Melorotnya Kepercayaan Publik Atas Dua Tahun Kabinet SBY-Boediono di kantor LSI, kemarin (18/9). Angka tersebut kalah dengan pendapat responden yang menyatakan tidak puas. Sebanyak 44,7 persen responden menyatakan tidak puas kepada kinerja KIB II. Survei itu sendiri digelar pada rentang tanggal 5-10 September, dengan melibatkan 1200 responden di seluruh provinsi melalui mekanisme wawancara tatap muka. Menurut Adjie, jika dibandingkan dengan tingkat kepercayaan publik sebelumnya, angka 37,7 persen adalah titik terendah. Pada survei LSI terkait 100 hari kabinet SBY-Boediono yang digelar Januari 2010, kepercayaan publik masih mencapai 52,3 persen. "Angka 50 persen keatas itu masih masuk dalam kategori bahwa publik masih menaruh harapan pada pemerintah," ujarnya. Namun, pada survei satu tahun kabinet SBY-Boediono pada bulan September 2010, angkanya menurun. LSI mencatat bahwa kepercayaan publik kepada kabinet SBY-Boediono telah berada pada angka 46,5 persen. Kepercayaan itu terus menurun pada dua tahun perjalanan kabinet SBY-Boediono. "Secara keseluruhan, kepercayaan publik menurun sekitar 15 persen," terang Adjie. Apa yang menyebabkan turunnya kepercayaan publik" Adjie menyatakan, ada lima indikasi menurunnya kepercayaan publik. Dalam hal ini ada lima tipe problem di 10 kementrian yang menyebabkan melorotnya kepuasan publik. Yang paling utama adalah heboh isu korupsi, yang mau tidak mau mengkaitkan Mentrian Pemuda dan Olahraga Andi Mallarangeng, dan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Muhaimin Iskandar. "Isu korupsi kementrian memberikan daya rusak paling besar bagi kabinet," kata Adjie. Selanjutnya, kebijakan negatif kementrian juga memberi kontribusi menurunnya kepercayaan publik. LSI menyebut ada empat menteri, yakni Menakertrans Muhaimin Iskandar, Menteri Hukum dan HAM Patrialis Akbar, Menteri Agama Suryadharma Ali, dan Menteri Energi dan Sumber Daya Manusia Darwin Z Saleh. Muhaimin misalkan, dinilai lemah dalam perlindungan TKI. Kasus dipancungnya Tenaga Kerja Wanita Ruyati di Arab Saudi menjadi contoh. Patrialis dinilai memiliki kebijakan negatif karena pernah memberi remisi pada koruptor. "Suryadharma tidak mampu melindungi warga minoritas (Ahmadiyah, red), dan kasus tabung gas untuk Kementrian ESDM masih terjadi saat ini," jelasnya. Problem lain adalah "cacat moral" yang terjadi pada sejumlah menteri KIB II. LSI mencatat ada tiga menteri, yakni Menteri Perhubungan Freddy Numberi, Menteri ESDM Darwin Z Saleh, Menteri Perumahan Rakyat Suharso Monoarfa yang diduga memiliki masalah keluarga. "Jika komitmen dengan istri saja dilanggar, bagaimana komitmen dengan rakyat yang tidak memiliki hubungan istimewa dengan menteri," kritik Adjie. Masalah Suharso juga tidak hanya itu. Dalam hal tugasnya sebagai Menpera, LSI mencatat kekecewaan publik karena masih merasa kesulitan mendapatkan rumah yang layak. Ini termasuk juga kekecewaan publik kepada Menteri Pertanian Suswono yang sulit merealisasikan harga bahan pokok yang terjangkau. Problem terakhir adalah masalah kesehatan menteri. Selama ini, tercatat Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih yang diisukan terkena kanker paru-paru. Termasuk yang terbaru adalah Menteri BUMN Mustafa Abubakar yang masuk rumah sakit karena diduga sakit jantung. "Menteri yang sakit tentu sulit bekerja maksimal," kata Adjie. Menurut Adjie, tolok ukur dari problem menteri itu merupakan tanggapan kualitatif dari responden. Tidak adanya angka kuantitatif yang menyebut problem-problem menteri itu, disebabkan karena tidak memungkinkan tanggapan kualitatif disebut secara numerik. "Namun, jika bisa diukur, angkanya bisa lebih turun, karena dalam tanya jawab terlihat sekali skeptisisme publik," jelasnya. Adjie menambahkan, dengan posisi ini, LSI merekomendasikan agar proses reshuffle kabinet segera direalisasikan. Dengan mengganti beberapa menteri yang bermasalah, akan menjadi momentum meraih kembali kepercayaan publik. "Presiden SBY sebaiknya lebih selektif dengan calon menteri yang diajukan partai," kata Adjie. Untuk calon menteri dari parpol, lanjut dia, bisa dipertimbangkan jika memiliki kapasitas yang mumpuni. "Calon parpol bisa diakomodasi, sejauh kompeten dan punya leadership yang baik dan tak tercela," tandasnya. (bay) GRAFIS [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------------------ Post message: [email protected] Subscribe : [email protected] Unsubscribe : [email protected] List owner : [email protected] Homepage : http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: [email protected] [email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
