http://www.harianterbit.com/artikel/fokus/artikel.php?aid=133274
SBY = Obama? Ngaca dong!
Tanggal : 19 Sep 2011
Sumber : Harian Terbit
JAKARTA - Ada-ada saja. Masa Presiden SBY disamakan dengan Presiden Amerika,
Barack Obama, terutama dalam hal merosotnya tingkat kepercayaan publik terhadap
pemerintahannya.
"Gak ngaca apa? Ndak bisa disamakan dengan Obama, karena turunnya tingkat
kepercayaan publik AS kepada dia akibat krisis ekonomi yang ditinggalkan
presiden sebelumnya. Sementara turunnya kepercayaan publik kepada SBY karena
suburnya korupsi, bahkan melibatkan para menterinya, juga partai yang
mengusungnya, Partai Demokrat," kata aktivis Gerakan Demokrasi Ir Abdurrachim.
Dihubungi Harian Terbit, Senin (19/9), Abdurrachim dari angkatan 77/78 ini
menyebutkan, kini citra Obama sudah naik kembali, sementara SBY terus jeblok.
"Obama sekarang dipuji rakyatnya karena melakukan langkah-langkah konkret, SBY
melakukan apa? Jadi, jangan mimpilah menyamakan SBY dengan obama, masih
jauh...masih jauh..., ibarat langit dan bumi."
Adalah Ahmad Mubarok, anggota Dewan Pembina Partai Demokrat (PD), yang menyebut
bahwa menurunnya tingkat kepercayaan publik kepada Obama.
"Biasa saja, kalau tingkat kepercayaan masyarakat turun diterima saja. Bahkan
Obama juga pernah lebih rendah daripada SBY," ujarnya.
Sementara itu, pengamat politik dari UI Arbi Sa-nit mengatakan kalau Achmad
Mubarak, fungsionaris Partai Demokrat, yang menyamakan popularitas kabinet SBY
dengan Barrack Obama juga pernah "jeblok" adalah merupakan pernyataan yang
keliru.
"Istilah gaul anak muda sekarang, ngaca dong. Soalnya, jauh beda antara kabinet
SBY dengan Obama. Kabinet Obama berasal dari partai yang sama, beda dengan
kabinet SBY yang berasal dari berbagai partai pendukung," kata Arbi yang
dihubungi Senin pagi.
Pernyataan Mubarok, kata Arbi, itu hanya mempermalukan Partai Demokrat. "Itulah
gambaran parahnya pemahaman politik dari orang-orang Partai Demokrat. Mereka
bukan politisi profesional, sehingga kebijakan yang mereka ambil jadi
berantakan," kata Arbi.
Soal kasus korupsi yang banyak mendera kabinet SBY, Arbi mengakui, di kabinet
Obama juga memang terjadi hingga terjadi pergantian kabinet. Bedanya, di
Amerika Serikat ada yang langsung mengundurkan diri, bukan menunggu "dipecat".
Seperti diketahui, Hasil riset Lingkaran Survei Indonesia (LSI) menunjukkan
tingkat kepercayaan masyarakat terhadap pemerintahan Presiden SBY turun hingga
besisa tinggal 37,7 persen."Kalau saya bilang kepercayaan publik kepada SBY
turun sampai 75 persen," ujar Abdurrachim.
Lain lagi komentar kalangan masyarakat. Mereka menilai sangat berlebihan kalau
menyamakan antara kabinet SBY dengan kabinet Obama. "Enak aja menyamakan
kabinet SBY dengan Obama. Itu terlalu lebay namanya, terlalu berlebihan," kata
Siti Rabiah, seorang guru TK/PAUD di Bekasi Timur, Kota Bekasi.
Menurut mahasiswa pascasarjana sebuah universitas swasta di Jakarta ini,
pernyataan petinggi Partai Demokrat yang menyamakan popularitas kabinet SBY
dengan kabinet Obama hanya upaya menghibur diri dan mencari muka untuk ketua
dewan pembina partai berlambang bintang mercy tersebut.
"Sangat nggak lucu dong menyamakan kabinet SBY yang digerogoti skandal korupsi
dengan kabinet Obama. Lagi pula, kurang pas kalau hanya mengambil indikator
karena popularitas kabinet Obama yang pernah jeblok," kata Siti Rabiah.
Hal senada diungkapkan Achmad Yusuf, Deputi Pencegahan Gerakan Nasional
Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (GN-PK) Pusat. Salah satu penyebab
melorotnya popularitas kabinet SBY, karena tingkat kepercayaan masyarakat
berkurang akibat kabinet SBY didera berbagai isu skandal korupsi dari menteri
dan kadernya di Partai Demokrat. (aliem/a
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------------------
Post message: [email protected]
Subscribe : [email protected]
Unsubscribe : [email protected]
List owner : [email protected]
Homepage : http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/proletar/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
[email protected]
[email protected]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[email protected]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/