Gagal Jadi Anggauta UN Tanpa Berdamai Dengan Israel !!!
Agenda untuk mempertimbangan keanggautaan Palestina menjadi anggauta UN tidak
bisa digelar, tidak ada voting, karena prosedur lamaran menjadi anggauta UN
salah dilakukan oleh Abbas.
Melamar menjadi anggauta UN harus melalui prosedur pendahuluan yaitu disahkan
atau disetujui oleh ke 15 anggauta keamanan UN dimana 5 negara diantaranya
adalah pemegang hak veto.
Demikianlah, Abbas yang mengatas namakan negara Palestina tanpa legitimacy,
telah langsung memberikan lamaran untuk diakui sebagai negara anggauta dibadan
dunia ini kepada sekretaris jendral UN yaitu Ban Ki Moon. Namun Ban Ki Moon
tidak bisa memproses selanjutnya atas lamaran Abbas tsb, tetapi oleh Ban Ki
Moon diberi penjelasan, bahwa sebaiknya Abbas melakukan dulu perundingan
damai-nya dengan Israel agar bisa memasukan lamaran nantinya ke badan sekurity
15 negara untuk dipertimbangkan.
Lamaran Palestina untuk menjadi anggauta UN ter-katung2 tidak bisa diproses
selanjutnya tanpa perlu diveto Amerika yang sebelumnya telah menyatakan akan
memveto-nya.
Dalam kesempatan bertamasya ke Amerika saat ini, tidak lupa Abbas mengutuk
Hamas yang padahal sebelumnya dia sendiri yang menyatakan berkonsiliasi dengan
Hamas.
http://www.cnn.com/2007/WORLD/meast/06/20/gaza/index.html
Menurut Abbas, dalam perjalanannya ke Amerika, Hamas membuat plot pembunuhan
Abbas dengan menanamkan bomb2 disekitar tempat2 keberadaan Abbas. Dalam
kesempatan yang sama, Abbas mengutuk kejahatan Hamas, yang oleh Abbas dituduh
sebagai "Pengkhianat". Kesempatan rekonsiliasi yang disetujui bersama jadi
batal akibat terjadinya peristiwa percobaan pembunuhan ini. Terakhir Abbas
menyatakan bahwa Hamas tidak patut untuk ikut serta dalam semua dialog.
Kegagalan Abbas yang ber-ulang2 ini makin mempersulit posisinya untuk
mendapatkan dukungan negara anggauta UN. Dan sebagai akibat kegagalan yang
sekarang, Abbas me-ngejar2 PM Netanyahu dari Israel yang menghindari diri untuk
bertemu muka dengan Abbas. Abbas berusaha menghubungi Netanyahu untuk diajak
memulai perundingan damai, tetapi response Netanyahu hanya dingin saja tidak
berminat untuk memenuhi harapan Abbas. Tapi kepada para wartawan, Netanyahu
menyatakan bahwa bulan depan dia akan ber-cakap2 secara umum dengan Abbas tanpa
menyinggung masalah perdamaian.
Jelas, posisi Abbas adalah posisi sulit, negara yang diwakilinya tidak punya
uang, tidak punya sumber alam, rakyatnya pengangguran, dan biaya ke Amerika
semuanya ditanggung Amerika termasuk hotel2 mewahnya. Ibaratnya kepala Abbas
ini di-elus2 sambil di-jitakin oleh Amerika dan seluruh dunia. Dia cuma bikin
ulah untuk menarik perhatian dunia kepada dirinya, semua kerjaannya tak ada
yang berhasil, mulanya memuji Hamas dan ketemu sama2 menanda tangani
rekonsiliasi, gaji semua anggauta2 Hamas dibayar oleh Abbas yang mendapatkan
duitnya dari Israel dan Amerika. Tetapi kemudian kepada si pemberi dana itu
oleh Abbas diceritakan bahwa si Hamas itu pengkhianat dan dia tidak jadi
rekonsiliasi.
Baik Amerika maupun Israel hanya basa basi meng-angguk2an kepala saja pura2
percaya apa yang didongengkan oleh Abbas.
George Mitchell wakil Amerika di UN ditanya wartawan, kapan Palestina ini bisa
berdiri, diakui dan jadi anggauta UN, olehnya dijawab bahwa jalannya masih
panjaaaaang. Dia mengharapkan tahun depan bisa dimulai berunding dan topik
perundingannya itu tetap tidak masuk akal, yaitu Israel disuruhnya bubar
mengungsi karena negaranya mau diambil alih oleh Palestina yang selalu kalah
perang.
Abbas dengan bualan Palestina-nya tetap berlaku sebagai negara raksasa yang
harus mendikte Israel dan Amerika sementara kenyataannya si Abbas hidup dari
gaji Israel dan Amerika dimana setiap saat dia diintipi oleh Hamas untuk
dibantai.
Tetapi oleh Ban Ki Moon, presiden Abbas ini dibolehkan daftar ulang menjadi
peninjau di UN, maksudnya nantinya status sebagai peninjau atau "observer" ini
bisa dinaikkan ketingkat yang lebih tinggi menjadi "permanent observer" seperti
yang didapati oleh negara Vatican. Tentunya untuk bisa naik status-pun perlu
waktu beberapa tahun yang dievaluasi oleh negara2 anggauta UN. Jadi kalo sudah
berhasil menjadi "permanent observer" seumur hidup tak akan bisa menjadi
anggauta UN, karena cukup sebagai peninjau tetap saja.
Yaaa... kita warga negara yang mayoritas muslimin harusnya bercermin kepada
nasib Palestina ini, karena perjalanan negara kita bukanlah nanjak kepuncak
gunung melainkan sedang longsor ke jurang yang lebih hina daripada si Abbas
yang meskipun terhina merasa terhormat, merasa mendapatkan kehormatan.
Ny. Muslim binti Muskitawati.
------------------------------------
Post message: [email protected]
Subscribe : [email protected]
Unsubscribe : [email protected]
List owner : [email protected]
Homepage : http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/proletar/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
[email protected]
[email protected]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[email protected]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/