http://www.jambiekspres.co.id/opini/20657-ambon-menangise.html
Rabu, 14 September 2011 10:07
Ambon Menangise
PEKIK amarah kembali menodai alam indah Ambon. Kita semua sedih dan
berduka. Tenunan kedamaian yang sudah terajut kembali dengan bagus setelah
kerusuhan pahit pada awal 2000-an kini robek kembali. Semoga robek ini tak
berkepanjangan. Warga Ambon yang berakal sehat sudah sangat letih dengan aneka
kekerasan.
Amat tragis ketika perkara yang belum jelas duduk soalnya, yakni tewasnya
seorang pengojek, menjadi pemicu huru-hara. Itulah belati bermata dua teknologi
informasi. Di tangan orang berakal sehat, kecepatan pertukaran informasi
bermanfaat luar biasa. Namun, ketika teknologi informasi berada di tangan orang
yang kepalanya penuh amarah, alat komunikasi membiakkan kesumat.
Setelah korban jatuh, barang-barang rusak, dan debu-debu amuk mereda,
penyesalanlah yang terjadi. Tentu penyesalan yang terlambat, meski tetap
berguna. Yang berbahaya adalah jika tidak ada penyesalan setelah semua
kesia-siaan ini sempat menyandera akal waras kita.
Penyesalan ini mudah-mudahan menjadi pengingat kita sebelum bergegabah
melangkah, di mana pun. Sudah banyak analisis yang menyiangi penyebab ledakan
angkara murka ini. Entah karena agama, politik, perbedaan, intoleransi,
provokasi, ataupun karena solidaritas spontan. Masing-masing ada derajat
kebenarannya. Yang juga selalu relevan dalam peristiwa semacam itu adalah
faktor ekonomi.
Banyaknya anak muda yang sulit mendapat pekerjaan yang layak dan
memberikan harapan masa depan menimbulkan kerisauan. Energi berlebih itu
kebanyakan tersalur di sektor informal, seperti menjadi pengojek, PKL,
pengasong, atau pekerjaan jalanan lain. Pemerintah terkadang datang malah tidak
memperlebar kesempatan kerja itu, tapi mengganggu mereka dengan alasan
penertiban. Alangkah banyak anak muda kita, dengan pendidikan pas-pasan, yang
harus berjibaku di jalanan demi mempertahankan hidup.
Sektor pekerjaan formal tak cukup banyak tersedia. Itu tak hanya terjadi
di Ambon. Alangkah banyak peristiwa kekerasan komunal, mulai tawuran antar
pelajar, perang antarsuporter, hingga gelut antarkampung, yang kerap terjadi.
Mereka seolah-olah tidak punya sesuatu yang diberati bila mereka, dengan ikut
orgi kekerasan itu, menjadi luka, cacat, ditangkap aparat, bahkan tewas. Para
partisipan kekerasan tersebut, yang kebanyakan berusia muda atau angkatan
kerja, seolah merasa nyaman berlindung di cangkang semu seperti nama sekolah,
nama kampung, bendera klub bola, bahkan ’’agama’’ dalam arti sangat sempit dan
absurd.
Kita kembali ke Ambon dan Kepulauan Maluku umumnya. Kita ingat, kepulauan
cantik yang tersohor dengan rempah-rempah, terutama pala, itu pernah menjadi
rebutan global pada abad ke-17. Sampai-sampai, setelah perang seabad, Belanda
rela bertukar untuk mendapatkan Pulau Run yang dikuasai Inggris dengan New
Amsterdam dalam Perjanjian Breda pada 13 Juli 1667. Sebagaimana diketahui, New
Amsterdam kini menjadi Manhattan sebagai jantung Kota New York. Membandingkan
kemajuan New York dengan Pulau Run, atau Maluku keseluruhan, terasa maha
njomplang. Pulau Run pun makin tak dikenal. (Presiden SBY dalam pidato yang
ditranskrip Setneg saat menerima gelar adat pada 24 November 2009 ragu-ragu
dengan bertanya: ’’Pulau Rum, betul namanya?’’)
Tanah kita pernah menjadi tanah surga. Kita sudah lama menyianyiakannya.
Kesejahteraan pun masih jauh dari jangkauan. Karena itulah, orang bisa mudah
marah tak terkendali di tanah surga ini karena merasa tak kehilangan apa pun
bila melakukan sesuatu yang sembrono. Karena itu, kita harus membangun
kesejahteraan rakyat agar segala perbedaan terasa ringan belaka. Semoga Ambon
yang kini menangise segera kembali menjadi manise. (*)
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------------------
Post message: [email protected]
Subscribe : [email protected]
Unsubscribe : [email protected]
List owner : [email protected]
Homepage : http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/proletar/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
[email protected]
[email protected]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[email protected]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/