gua ngasih fakta dan data otentik malah dibilang membodohkan.
susah emang ngobrol sama pemakai koteka kayak elu.

--- In [email protected], "Sunny" <ambon@...> wrote:
>
> Mental biadab selalu komentarnya membodohkan apakah itu mengenai politik atau 
> agama Islam. 
> 
> From: johny_indon 
> Sent: Tuesday, October 11, 2011 10:32 AM
> To: [email protected] 
> Subject: [proletar] Re: Emas Papua Terancam Habis
> 
>   
> freeport bukannya ngga memberdayakan orang papua.
> tapi budaya asli orang papua, yg didukung oleh 
> agama mayoritas di sanalah, yg bikin mereka selalu terbelakang.
> temen gua yg gawe di papua bilang, karyawan freeport yg 
> asli papua kalo udah gajian bukannya nabung atau beli 
> sesuatu yg berguna, tapi malah mabok2an sama pesta2 ngga jelas.
> boleh cek sendiri ke karyawan freeport di papua.
> 
> pemerintah juga ngucurin duit otonomi rp 30 trilyun 
> per tahun, itu duit gratis dgn jumlah terbesar di seluruh indonesia.
> tapi itu duit bukannya dipake membangun papua, malah dikorup 
> sama pejabat2 berkulit item (abu) dan berambut kriting.
> http://hukum.kompasiana.com/2011/04/20/daftar-temuan-penyimpangan-dana-otonomi-khusus-papua-oleh-bpk/
> 
> mestinya para misionaris temen2 lu itu punya tanggung jawab untuk 
> memberadabkan orang papua, jangan cuman sekedar nyebarin 
> agama tapi budaya barbarnya terus dipiara.
> jangan sampe kejadian lagi kayak di foto ini:
> 
> http://politikana.com/images/medium/mungkin-biar-lebih-merakyat-si-teller-perlu-pakai-koteka-juga.jpg
> 
> --- In mailto:proletar%40yahoogroups.com, "Sunny" <ambon@> wrote:
> >
> > Ref: Tidak dapat diragukan lagi bahwa emas di Grasbeg bukan saja terancam 
> > habis, tetapi akan habis. Masalahnya hanya soal waktu saja. Makin lama 
> > makin cepat habis, mengingat teknologi explotasi modern, maka mungkin saja 
> > sebentar lagi tambang ditutup karena emas, tembanga, perak dan molybdenum 
> > sudah habis dikeruk. Pertanyaannya apa saja yang diperoleh rakyat Papua 
> > dari tambang emas mereka. Pertanyaan yang sama juga pasti akan ditanya oleh 
> > orang Dayak yang hutang mereka digundul dan kekayaan alam mereka dikeruk. 
> > Pertanyaan demikian tentu juga bukan saja dipertanyakan oleh orang Papua 
> > atau Dayak, tetapi oleh rakyat di berbagai daerah yang melihat kekayaan 
> > alam mereka dikeruk habis, tak ada perbaikan hidup malah beban hidup yang 
> > kian hari makin bertambah, menuju kemsikinan abadi. Pendapat terakhir ialah 
> > Indonesia merdeka bukan meringankan kehidupan rakyat malah memberatkan, 
> > apakah ini hadiah istimewa yang harus dipikul?
> > 
> > Seabgai cacatan dapat diberitahukan bahwa perusahaan PT Freeport Indonesia 
> > adalah pembayar pajak terbanyak ke kas NKRI.
> > 
> > 
> > http://www.cenderawasihpos.com/index.php?mib=berita.detail&id=3941
> > 
> > 
> > Senin, 10 Oktober 2011 , 08:10:00
> > 
> > Emas Papua Terancam Habis
> > 
> > 
> > 
> > PIPA BOCOR - Pipa besi yang mengalirkan konsentrat milik PT Freeport 
> > Indonesia, mengalami kebocoran bocor di area Mile 31 Timika, Kamis (6/10) 
> > sekitar pukul 19.00 WIT. Meskipun kini pipa tersebut sudah diperbaiki, 
> > namun ratusan warga masih tampak menyerbu lokasi kebocoran untuk mengambil 
> > sisa lumpur yang meluber dari pipa yang diyakininya mengandung emas.
> > JAKARTA - Masyarakat Indonesia merintih, sementara tambang emas Papua 
> > terancam habis. Ini jika Pemerintah Indonesia tak segera merenegosiasi 
> > kontrak karya dengan PT Freeport. Karena itu, keberanian Presiden Susilo 
> > Bambang Yudhoyono (SBY) jadi penentu keberhasilan renegosiasi ini.
> > ’’Kalau presiden mampu bersikap tegas atas kontrak karya yang 
> > dinilai menyalahi aturan, maka akan berhasil,’’ terang Dr 
> > Kurtubi, Pengamat Pertambangan dan Perminyakan kepada INDOPOS (Cenderawasih 
> > Pos Group), Sabtu (8/10). 
> > Kurtubi menjelaskan, dalam UU 45 tahun 2003 tentang Tarif Atas Jenis 
> > Penerimaan Negara Bukan Pajak yang Berlaku Pada Departemen Energi dan 
> > Sumber Daya Mineral, ada ambang batas soal royalti yang harus diberikan 
> > kepada negara.
> > Royalti emas di angka 3,75 persen, tembaga 4 persen, dan perak 3,25 persen. 
> > Namun saat ini, royalti yang diterima pemerintah dari Freeport hanya di 
> > kisaran 1 persen untuk emas, 1,5â€"3,5 persen untuk tembaga dan 1,25 
> > persen untuk perak.
> > Padahal sebagai negara, terang Kurtubi, pemerintah terkesan diam saja 
> > dengan pelanggaran atas undang-undang yang berlaku di republik ini. 
> > ’’Sudah ada dasar hukumnya kok. Tapi kalau pemerintah gak berani, 
> > tetap saja akan seperti ini,’’ katanya.
> > Apalagi, terang Kurtubi, penggunaan sistem flat dalam royalti yang disahkan 
> > dalam UU sama sekali tidak merugikan perusahaan eksplorasi tambang. Sebab, 
> > berapa pun kenaikan hasil tambang di pasaran, maka tidak ada lagi royalti 
> > yang harus dibayarkan pemerintah. Seperti saat ini, harga hasil tambang di 
> > pasaran naik sekitar 3- 4 persen. 
> > Dari kenaikan itu, pemerintah tidak mendapatkan untung dari harga pasar. 
> > Keuntungan murni milik para pengusaha tambang. ’’Jadi tidak ada 
> > alasan bagi pemerintah untuk tetap membiarkan ada pelanggaran undang-undang 
> > soal pembagian royalti,’’ cetus Kurtubi.
> > 
> > Pertanyakan Dana CSR
> > 
> > Kisruh soal pemberian royalti PT Freeport ke pemerintah terus melebar. 
> > Tidak hanya akan mengedepankan evaluasi pada kerjasama Freeport dan 
> > pemerintah. Komisi XI DPR RI juga berencana meminta penjelasan soal berapa 
> > besaran dana CSR (Corporate Social Responsibility) yang sudah digelontorkan 
> > Freeport ke warga Papua dan sekitar. ’’Dalam evaluasi kami akan 
> > mempertanyakan berapa besar dana CSR yang diberikan PT 
> > Freeport,’’ kata Achsanul Qosasi, Wakil Ketua Komisi XI DPR RI.
> > Soal dana CSR perlu diketahui mendetail. Sebab, keberadaan perusahaan asing 
> > juga harus memberikan kontribusi bagi masyarakat sekitar. Dengan begitu 
> > tidak hanya sebatas royalti yang diberikan pada pemerintah. Namun juga 
> > kesinambungan dengan warga yang ada di area sekitar penambangan.
> > ’’Kami akan minta detail anggaran yang diterima negara dari 
> > Freeport. Termasuk juga CSR-nya. Karena kami (Komisi XI) konsen pada 
> > goverment income,’’ terangnya. 
> > Politisi Partai Demokrat ini menerangkan, untuk mengetahui secara detail 
> > anggaran yang didapat dari Freeport ke pemerintah dan masyarakat Papua, 
> > sebelum masa sidang tahun ini berakhir, pihaknya mengagendakan pertemuan 
> > dengan Menteri Keuangan dan Dirjen Anggaran.
> > ’’Pertemuan tersebut akan membahas penerimaan bukan pajak bagi 
> > negara. Kami akan minta laporan secara detail soal berapa yang didapat dari 
> > Freeport. Kalau memang tidak sesuai, kami akan evaluasi,’’ 
> > terangnya. 
> > Sementara itu, tidak menguntungkannya kontrak karya PT Freeport Indonesia 
> > dengan pemerintah sudah berulangulang diprotes pengamat pertambangan. 
> > Kontrak karya itu dianggap terlalu menyesatkan dan menguntungkan pengelola 
> > saja.
> > ’’Sudah sering diungkapkan kalau kontrak itu tak menguntungkan. 
> > Tapi terus saja dijalankan pemerintah,’’ ujar Pengamat 
> > Pertambangan ITB Pri Agung Rakhmanto kepada INDOPOS, kemarin. 
> > Diakuinya, kontrak karya yang dibuat secara nyata memberikan celah 80 
> > persen keuntungan diambil pengelola. Sedangkan pemerintah hanya mendapatkan 
> > 20 persen dari nilai tersebut. Itu didapat melalui royalti dan pajak saja.
> > Menurutnya, kontrak karya ini memang perlu ditinjau ulang. Meski peluangnya 
> > sangat kecil sekali bisa terjadi. Apalagi keberanian pemerintah untuk 
> > meninjau ulang kontrak tersebut juga diragukan. ’’Saya lebih 
> > setuju menantang pemerintah untuk nasionalisasikan saja proyek itu. Biarkan 
> > semua pemerintah yang mengambil alih,’’ tegasnya. 
> > Tentunya, dia menerangkan nasionalisasi tidaklah mudah. Pemerintah harus 
> > berhadapan dengan berbagai tekanan politik Amerika dan sebagainya. Belum 
> > lagi terpaan protes dari banyak negara lain terhadap kebijakan tersebut.
> > Namun, menurut alumnus Perminyakan ITB ini, langkah tersebut lebih rasional 
> > dan efektif. Dengan alasan evaluasi kontrak karya tidak mungkin disetujui 
> > pengelola, sehingga pemerintah harus mengamibil paksa kegiatan tersebut. 
> > ’’Begini saja. Kan itu proyek ada di negara kita, aturan kita, 
> > kalau tidak nurut, paksa saja,’’ terangnya. 
> > Direktur Lembaga Kajian Reformasi Pertambangan dan Energi ini pun 
> > memastikan tekanan politik Amerika tidak bakal meluas. Sebab, secara umum 
> > memiliki ketergantungan terhadap proyek di Freeport tersebut. Artinya, kata 
> > dia, ada peluang pemerintah Amerika pun mengendur dengan tekanan dari 
> > pemerintah Indonesia. ’’Sekarang mau tidak pemerintah begitu. 
> > Jangan hanya gertakan,’’ ketusnya. 
> > Dia mengakui UU Pertambangan yang ada saat ini sudah cukup baik. Regulasi 
> > itu baru diberlaukan pada 2014. Sedangkan saat ini tentu belum bisa 
> > dilaksanakan. Regulasi tersebut, terang dia, telah menempatkan pemerintah 
> > sebagai penguasa penuh pertambangan di negerinya. Selanjutnya menunggu 
> > monitoring dalam pelaksanaan regulasi tersebut. Jangan sampai hanya jadi 
> > macan di atas kertas,’’ ucap alumnus Colorado School of Mines, 
> > Amerika, ini. (kin/rko) 
> > 
> > [Non-text portions of this message have been removed]
> >
> 
> 
> 
> 
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
>




------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke