Islam yg ga sesuai dgn Islam kita, bantai aja. Kan udah ada contoh ngebantai 
Ahmadiyah di Cikeungsi.




>________________________________
>From: ajeg <[email protected]>
>To: [email protected]
>Sent: Sunday, October 16, 2011 10:00 PM
>Subject: [proletar] KOMARUDDIN HIDAYAT: Islam Mazhab Indonesia
>
>
>  
>
>Kurang jelas apa yang maksud "mazhab" di sini sebab 
>contoh-contoh yang disebut Komaruddin Hidayat 
>sebetulnya masih persoalan "warna" atau "flavour"; 
>Islam dengan citarasa Indonesia. 
>
>Sebelum agama-agama asing berdatangan, perempuan di 
>nusantara sudah biasa bekerja di luar rumah - di pasar, 
>di ladang, atau sekedar menjadi abdi di istana maupun 
>di rumah para penggede. Mereka juga sudah adab dalam 
>berbusana yang gaya pada eranya. Begitu pula di sektor 
>sospol. Tidak sedikit perempuan nusantara yang menjadi 
>pemimpin bahkan ratu. Suku Minang bahkan menempatkan 
>perempuan di posisi penuh wibawa. 
>
>Artinya, dalam kehidupan sosial & politik, keragaman 
>serta kebersamaan sudah melandasi jiwa komunal masyarakat 
>nusantara. 
>
>Itu sebabnya berbagai peradaban yang berdatangan ke 
>nusantara, Hindu, Budha, Islam, Kristen, mudah diterima 
>penduduknya. Pola hidup yang dibawa peradaban asing itu 
>bukan hal asing bagi masyarakat kepulauan ini. Terbukti, 
>ada Hindu-Budha "rasa" Bromo; Kristen "rasa" Flores; 
>maupun Islam "rasa" Bali dst. 
>
>Bukan kebetulan kalau Islam yang lebih banyak terserap 
>dalam masyarakat majemuk yang punya kesadaran tunggal 
>bahwa hidupnya berkait erat dengan alam sekitar, bukan 
>melulu terikat hirarki politik kerajaan, sesepuh dll. 
>Kesadaran yang rumusnya seringkas: "Dan tiadalah 
>Kami mengutusmu melainkan untuk menjadi rahmat bagi 
>semesta alam" (QS 21:107). Rumusan yang menjadi pokok 
>keimanan maupun kehidupan manusia, terlebih dalam 
>menyikapi gejala alam seperti pemanasan global saat ini. 
>
>Jadi, jelas bahwa sebelum Islam datang, masyarakat di 
>kepulauan nusantara sudah menjalankan peran sebagai 
>rahmat bagi alam semesta. Kedatangan Islam, juga agama 
>lain, hanyalah sebagai 'gong' dimulainya peran itu secara 
>komunal, dan Proklamasi adalah gerbang untuk berangkat 
>mengajak komunitas yang lebih luas, dunia. 
>
>Karena itu, rasanya terlalu terburu-buru memakai istilah 
>"Islam mazhab Indonesia". Selain berkonotasi melulu ke 
>persoalan fiqih-aqidah-tauhid (sangat mengundang sinisme 
>dari kalangan fanatis), juga bisa antiklimaks dalam konteks 
>kajian demokrasi di forum internasional yang baru melek Islam, 
>terutama dengan bergolaknya dunia Arab saat ini. 
>
>Tidak ada yang bisa dibanggakan dari demokratisasi 
>Indonesia sekarang karena "presiden demokratisnya" sudah 
>lama berhenti bicara perubahan iklim sekalipun Indonesia 
>adalah tuanrumah persiapan konferensi perubahan iklim yang 
>melahirkan Bali Roadmap. 
>
>Tidak ada yang bisa dibanggakan dari demokratisasi 
>Indonesia sekarang karena "presiden demokratisnya" tak peduli 
>nasib pengungsi domestik, termasuk korban lumpur Bakrie yang 
>mengambinghitamkan alam. 
>
>Di bawah kekuasaan "presiden demokratis" yang sekarang, Islam 
>justru berasa pait dan bau anyir dengan teror bom serta kelakuan 
>segelintir fanatis yang tak berkesudahan. 
>
>--- From: 
>
>> Islam Mazhab Indonesia 
>> Friday, 14 October 2011
>>
>> Sejak gelombang demokratisasi merambah ke dunia Islam, perkembangan
>> Islam Indonesia lalu mencuat menjadi sorotan dan objek kajian di
>> berbagai forum internasional.
>> 
>> Dosen-dosen muda di lingkungan perguruan tinggi Islam, semacam 
>> Institut Agama Islam Negeri (IAIN) dan Universitas Islam Negeri 
>> (UIN), banyak yang kemudian memperoleh tawaran beasiswa studi ke 
>> perguruan tinggi Barat untuk meraihprogrammasterdandoktor di bidang 
>> ilmu sosial yang berkaitan dengan dinamika sosial keagamaan di 
>> Indonesia. Oleh para pemerhati ilmu sosial, Indonesia merupakan 
>> laboratorium eksperimentasi Islam dan demokrasi yang selama ini 
>> keduanya dianggap tidak kompatibel.
>> 
>> Mereka heran dan kagum atas eksperimentasi dan kemajuan 
>> demokratisasi di Indonesia yang merupakan kantong umat Islam 
>> terbesar di dunia, tanpa harus melakukan sekularisasi dengan 
>> senjata seperti yang dilakukan Kemal Ataturk di Turki.Ormas 
>> keagamaan dan parpol berbasis keagamaan justru menjadi motor 
>> demokratisasi di Indonesia. Sekarang tren serupa juga muncul di 
>> negara- negaraTimurTengah.
>> 
>> Peran Islam dalam konteks keindonesiaan sesungguhnya sudah lama 
>> menjadi kajian sekelompok sarjana dan intelektual Indonesia. 
>> Terutama mereka yang memiliki latar belakang santri dan mendalami 
>> teori-teori ilmu sosial. Forum ini menyelenggarakan pertemuan 
>> setiap tahun dalam wadah Annual Conference on Islamic Studies 
>> (ACIS) yang saat ini sudah masuk tahun ke-11.
>> 
>> Pada 10-13 Oktober 2011,ACIS melaksanakan konferensi bertempat di 
>> Bangka Belitung dengan tema Merangkai Mozaik Islam dalam Ruang 
>> Publik untuk Membangun Karakter Bangsa yang difasilitasi oleh 
>> Kementerian Agama. Pada forum tersebut hadir para pemakalah dari 
>> dalam dan luar negeri antara lain dari Mesir, Amerika Serikat, 
>> Malaysia, dan Yordania, menyajikan sekitar 345 makalah dengan 
>> jumlah peserta yang hadir tidak kurang dari 600 orang.
>> 
>> Kalau sekitar 20 tahun lalu penulisan Islam Indonesia mayoritas
>> dilakukan oleh sarjana asing, sekarang sudah banyak sarjana muslim
>> Indonesia yang menulis tentang Indonesia ke dalam bahasa asing, 
>> sehingga menampilkan konten dan nuansa yang sangat berbeda. Ketika 
>> seorang santri yang juga doktor ilmu sosial menulis tentang 
>> pesantren misalnya tentu lebih mampu menyajikan data dan pengalaman 
>> otentik ketimbang peneliti asing yang melakukannya.
>> 
>> Begitu pun penulisan dalam bidang lain.Hasil pengamatan sarjana 
>> asing dan sarjana dalam negeri tentu saling melengkapi. Bahkan ada 
>> di antara mereka yang melakukan riset bersama untuk diterbitkan 
>> dalam jurnal internasional. Berdasarkan hasil penelitian yang ada, 
>> Islam Indonesia memiliki mazhab tersendiri yang berbeda dari 
>> tradisi Islam di Timur Tengah.
>> 
>> Baik dalam pemikiran politik, fikih, hubungan sosial, maupun 
>> pendidikan, pemahaman dan pemikiran Islam yang tumbuh di Indonesia 
>> punya warna dan karakter. Yang paling fenomenal adalah inovasi dan 
>> gaya busana muslimah Indonesia yang menjadi tren dunia Islam lain. 
>> Dari aspek politik, Indonesia sejak awal berbentuk republik dan 
>> negara bangsa,bukan kerajaan dan kesultanan, sangat berpengaruh 
>> pada partisipasi rakyat dalam gerakan sosial.
>> 
>> Di Indonesia keragaman agama dan budaya memiliki tempat yang sama di
>> depan hukum dan negara meskipun mayoritas rakyatnya beragama Islam. 
>> Ini jelas berbeda dari Arab Saudi, tempat kelahiran Islam, yang 
>> berbentuk kerajaan. Pola hidup penduduk bangsa maritim yang juga 
>> memiliki wilayah pertanian subur tentu berbeda dari gaya hidup 
>> penduduk padang pasir. Di Arab Saudi sampai hari ini wanita 
>> dilarang mengemudikan mobil.
>> 
>> Sedangkan di Indonesia bahkan ada wanita yang menjadi pilot pesawat
>> terbang. Karier ini pasti berimplikasi pada fikih maritim dan fikih
>> udara.Bagaimana tata cara salat bagi para pelaut dan pekerja udara 
>> tentu memerlukan fikih baru yang belum terpikirkan oleh ulamaulama 
>> klasik yang tinggal di wilayah sahara dan savana.
>> 
>> Demikianlah setiap agama selalu tumbuh berkembang bersama tradisi 
>> dan kondisi geografis daerah setempat.Terjadi proses tawar-menawar 
>> antara ajaran agama dan budaya pemeluk. Meski agama diyakini datang 
>> dari Tuhan Yang Maha-absolut,akhirnya agama berkembang di tangan 
>> pemeluknya yang juga makhluk budaya yang demikian beragam.
>> 
>> Karena itu, tidak berlebihan jika Islam Indonesia akan melahirkan 
>> sebuah mazhab baru yang memperkaya warna Islam yang berkembang di 
>> Timur Tengah dan keberislaman yang berkembang di Barat yang 
>> posisinya sebagai minoritas. Tanpa banyak publikasi para pemerhati 
>> ilmu sosial, Indonesia sungguh diuntungkan oleh semakin banyaknya 
>> sarjana muslim yang secara rasional-intelektual selalu melakukan 
>> riset dan kajian Islam Indonesia sebagaimana program tahunan ACIS 
>> ini.
>> 
>> Mereka adalah generasi baru kalangan santri yang tercerahkan dan
>> memiliki alat intelektual yang cukup untuk ikut menjelaskan dinamika
>> sosial keagamaan Indonesia pada dunia luar yang akhir-akhir ini
>> diinterupsi oleh perilaku sekelompok ekstremis- radikalis yang 
>> melakukan bom bunuh diri dengan dalih jihad.
>> 
>> Untuk membicarakan dinamika sosial-politik Indonesia, rasanya tidak
>> lengkap kalau tidak memasukkan variabel agama, khususnya Islam yang
>> dipeluk oleh mayoritas warga bangsa. Memang sangat diperlukan 
>> sekelompok intelektual muslim yang bersikap independen, mengambil 
>> jarak dari perebutan kekuasaan dan politik, lalu memikirkan format 
>> dan arah Islam mazhab Indonesia ke depan. 
>> 
>> PROF DR KOMARUDDIN HIDAYAT
>> Rektor UIN Syarif Hidayatullah
>
>
> 
>
>

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke