Bantai? Gua bilang juga apa, elu tuh biadab. Tukang bantai. Sodara kembarnya pembantai di Cikeusik.
Sekarang tau kan lu bahwa elu itu biadab. Penghayal tapi biadabh... --- item abu <itemabu@...> wrote: > Islam yg ga sesuai dgn Islam kita, bantai aja. Kan udah ada contoh > ngebantai Ahmadiyah di Cikeungsi. > > ________________________________ > From: ajeg <ajegilelu@...> > > > Kurang jelas apa yang maksud "mazhab" di sini sebab > > contoh-contoh yang disebut Komaruddin Hidayat > > sebetulnya masih persoalan "warna" atau "flavour"; > > Islam dengan citarasa Indonesia. > > > > Sebelum agama-agama asing berdatangan, perempuan di > > nusantara sudah biasa bekerja di luar rumah - di pasar, > > di ladang, atau sekedar menjadi abdi di istana maupun > > di rumah para penggede. Mereka juga sudah adab dalam > > berbusana yang gaya pada eranya. Begitu pula di sektor > > sospol. Tidak sedikit perempuan nusantara yang menjadi > > pemimpin bahkan ratu. Suku Minang bahkan menempatkan > > perempuan di posisi penuh wibawa. > > > > Artinya, dalam kehidupan sosial & politik, keragaman > > serta kebersamaan sudah melandasi jiwa komunal masyarakat > > nusantara. > > > > Itu sebabnya berbagai peradaban yang berdatangan ke > > nusantara, Hindu, Budha, Islam, Kristen, mudah diterima > > penduduknya. Pola hidup yang dibawa peradaban asing itu > > bukan hal asing bagi masyarakat kepulauan ini. Terbukti, > > ada Hindu-Budha "rasa" Bromo; Kristen "rasa" Flores; > > maupun Islam "rasa" Bali dst. > > > > Bukan kebetulan kalau Islam yang lebih banyak terserap > > dalam masyarakat majemuk yang punya kesadaran tunggal > > bahwa hidupnya berkait erat dengan alam sekitar, bukan > > melulu terikat hirarki politik kerajaan, sesepuh dll. > > Kesadaran yang rumusnya seringkas: "Dan tiadalah > > Kami mengutusmu melainkan untuk menjadi rahmat bagi > > semesta alam" (QS 21:107). Rumusan yang menjadi pokok > > keimanan maupun kehidupan manusia, terlebih dalam > > menyikapi gejala alam seperti pemanasan global saat ini. > > > > Jadi, jelas bahwa sebelum Islam datang, masyarakat di > > kepulauan nusantara sudah menjalankan peran sebagai > > rahmat bagi alam semesta. Kedatangan Islam, juga agama > > lain, hanyalah sebagai 'gong' dimulainya peran itu secara > > komunal, dan Proklamasi adalah gerbang untuk berangkat > > mengajak komunitas yang lebih luas, dunia. > > > > Karena itu, rasanya terlalu terburu-buru memakai istilah > > "Islam mazhab Indonesia". Selain berkonotasi melulu ke > > persoalan fiqih-aqidah-tauhid (sangat mengundang sinisme > > dari kalangan fanatis), juga bisa antiklimaks dalam konteks > > kajian demokrasi di forum internasional yang baru melek Islam, > > terutama dengan bergolaknya dunia Arab saat ini. > > > > Tidak ada yang bisa dibanggakan dari demokratisasi > > Indonesia sekarang karena "presiden demokratisnya" sudah > > lama berhenti bicara perubahan iklim sekalipun Indonesia > > adalah tuanrumah persiapan konferensi perubahan iklim yang > > melahirkan Bali Roadmap. > > > > Tidak ada yang bisa dibanggakan dari demokratisasi > > Indonesia sekarang karena "presiden demokratisnya" tak peduli > > nasib pengungsi domestik, termasuk korban lumpur Bakrie yang > > mengambinghitamkan alam. > > > > Di bawah kekuasaan "presiden demokratis" yang sekarang, Islam > > justru berasa pait dan bau anyir dengan teror bom serta kelakuan > > segelintir fanatis yang tak berkesudahan. > > > > --- From: > > > > > Islam Mazhab Indonesia > > > Friday, 14 October 2011 > > > > > > Sejak gelombang demokratisasi merambah ke dunia Islam, > > > perkembangan Islam Indonesia lalu mencuat menjadi sorotan dan > > > objek kajian di berbagai forum internasional. > > > > > > Dosen-dosen muda di lingkungan perguruan tinggi Islam, semacam > > > Institut Agama Islam Negeri (IAIN) dan Universitas Islam Negeri > > > (UIN), banyak yang kemudian memperoleh tawaran beasiswa studi > > > ke perguruan tinggi Barat untuk meraihprogrammasterdandoktor di > > > bidang ilmu sosial yang berkaitan dengan dinamika sosial > > > keagamaan di Indonesia. Oleh para pemerhati ilmu sosial, > > > Indonesia merupakan laboratorium eksperimentasi Islam dan > > > demokrasi yang selama ini keduanya dianggap tidak kompatibel. > > > > > > Mereka heran dan kagum atas eksperimentasi dan kemajuan > > > demokratisasi di Indonesia yang merupakan kantong umat Islam > > > terbesar di dunia, tanpa harus melakukan sekularisasi dengan > > > senjata seperti yang dilakukan Kemal Ataturk di Turki.Ormas > > > keagamaan dan parpol berbasis keagamaan justru menjadi motor > > > demokratisasi di Indonesia. Sekarang tren serupa juga muncul di > > > negara- negaraTimurTengah. > > > > > > Peran Islam dalam konteks keindonesiaan sesungguhnya sudah lama > > > menjadi kajian sekelompok sarjana dan intelektual Indonesia. > > > Terutama mereka yang memiliki latar belakang santri dan > > > mendalami teori-teori ilmu sosial. Forum ini menyelenggarakan > > > pertemuan setiap tahun dalam wadah Annual Conference on Islamic > > > Studies (ACIS) yang saat ini sudah masuk tahun ke-11. > > > > > > Pada 10-13 Oktober 2011,ACIS melaksanakan konferensi bertempat > > > di Bangka Belitung dengan tema Merangkai Mozaik Islam dalam > > > Ruang Publik untuk Membangun Karakter Bangsa yang difasilitasi > > > oleh Kementerian Agama. Pada forum tersebut hadir para > > > pemakalah dari dalam dan luar negeri antara lain dari Mesir, > > > Amerika Serikat, Malaysia, dan Yordania, menyajikan sekitar 345 > > > makalah dengan jumlah peserta yang hadir tidak kurang dari 600 > > > orang. > > > > > > Kalau sekitar 20 tahun lalu penulisan Islam Indonesia mayoritas > > > dilakukan oleh sarjana asing, sekarang sudah banyak sarjana > > > muslim Indonesia yang menulis tentang Indonesia ke dalam bahasa > > > asing, sehingga menampilkan konten dan nuansa yang sangat > > > berbeda. Ketika seorang santri yang juga doktor ilmu sosial > > > menulis tentang pesantren misalnya tentu lebih mampu menyajikan > > > data dan pengalaman otentik ketimbang peneliti asing yang > > > melakukannya. > > > > > > Begitu pun penulisan dalam bidang lain.Hasil pengamatan sarjana > > > asing dan sarjana dalam negeri tentu saling melengkapi. Bahkan > > > ada di antara mereka yang melakukan riset bersama untuk > > > diterbitkan dalam jurnal internasional. Berdasarkan hasil > > > penelitian yang ada, Islam Indonesia memiliki mazhab tersendiri > > > yang berbeda dari tradisi Islam di Timur Tengah. > > > > > > Baik dalam pemikiran politik, fikih, hubungan sosial, maupun > > > pendidikan, pemahaman dan pemikiran Islam yang tumbuh di > > > Indonesia punya warna dan karakter. Yang paling fenomenal > > > adalah inovasi dan gaya busana muslimah Indonesia yang menjadi > > > tren dunia Islam lain. > > > Dari aspek politik, Indonesia sejak awal berbentuk republik dan > > > negara bangsa,bukan kerajaan dan kesultanan, sangat berpengaruh > > > pada partisipasi rakyat dalam gerakan sosial. > > > > > > Di Indonesia keragaman agama dan budaya memiliki tempat yang > > > sama di depan hukum dan negara meskipun mayoritas rakyatnya > > > beragama Islam. > > > Ini jelas berbeda dari Arab Saudi, tempat kelahiran Islam, yang > > > berbentuk kerajaan. Pola hidup penduduk bangsa maritim yang > > > juga memiliki wilayah pertanian subur tentu berbeda dari gaya > > > hidup penduduk padang pasir. Di Arab Saudi sampai hari ini > > > wanita dilarang mengemudikan mobil. > > > > > > Sedangkan di Indonesia bahkan ada wanita yang menjadi pilot > > > pesawat terbang. Karier ini pasti berimplikasi pada fikih > > > maritim dan fikih udara.Bagaimana tata cara salat bagi para > > > pelaut dan pekerja udara tentu memerlukan fikih baru yang belum > > > terpikirkan oleh ulamaulama klasik yang tinggal di wilayah > > > sahara dan savana. > > > > > > Demikianlah setiap agama selalu tumbuh berkembang bersama > > > tradisi dan kondisi geografis daerah setempat.Terjadi proses > > > tawar-menawar antara ajaran agama dan budaya pemeluk. Meski > > > agama diyakini datang dari Tuhan Yang Maha-absolut,akhirnya > > > agama berkembang di tangan pemeluknya yang juga makhluk budaya > > > yang demikian beragam. > > > > > > Karena itu, tidak berlebihan jika Islam Indonesia akan > > > melahirkan sebuah mazhab baru yang memperkaya warna Islam yang > > > berkembang di Timur Tengah dan keberislaman yang berkembang di > > > Barat yang posisinya sebagai minoritas. Tanpa banyak publikasi > > > para pemerhati ilmu sosial, Indonesia sungguh diuntungkan oleh > > > semakin banyaknya sarjana muslim yang secara rasional- > > > intelektual selalu melakukan riset dan kajian Islam Indonesia > > > sebagaimana program tahunan ACIS ini. > > > > > > Mereka adalah generasi baru kalangan santri yang tercerahkan dan > > > memiliki alat intelektual yang cukup untuk ikut menjelaskan > > > dinamika sosial keagamaan Indonesia pada dunia luar yang > > > akhir-akhir ini diinterupsi oleh perilaku sekelompok ekstremis- > > > radikalis yang melakukan bom bunuh diri dengan dalih jihad. > > > > > > Untuk membicarakan dinamika sosial-politik Indonesia, rasanya > > > tidak lengkap kalau tidak memasukkan variabel agama, khususnya > > > Islam yang dipeluk oleh mayoritas warga bangsa. Memang sangat > > > diperlukan sekelompok intelektual muslim yang bersikap > > > independen, mengambil jarak dari perebutan kekuasaan dan > > > politik, lalu memikirkan format dan arah Islam mazhab Indonesia > > > ke depan. > > > > > > PROF DR KOMARUDDIN HIDAYAT > > > Rektor UIN Syarif Hidayatullah > > > > > > > [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------------------ Post message: [email protected] Subscribe : [email protected] Unsubscribe : [email protected] List owner : [email protected] Homepage : http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: [email protected] [email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
