Hehehe... tiap kali gua ngomongin nabi pedophilenya atau ngomongin tkw, atau ngomongin kejahatan yg dilakukan orang Islam, orang Islam kaing2 ga keruan atau ngefitnah. Bangga lagi melakukannya.
Betul2 Islami. >________________________________ >From: Roman Proteus <[email protected]> >To: Proletar <[email protected]> >Sent: Monday, October 17, 2011 1:19 PM >Subject: Re: [proletar] KOMARUDDIN HIDAYAT: Islam Mazhab Indonesia > > > >Item juga gak pake diskusi, tuhannya di selangkangan soalnya, buktinya tiap >saat memuji muji tuhan selankangannya > >Hhahahahahahha > > > > >-----Original Message----- >From: item abu <[email protected]> >Sender: [email protected] >Date: Mon, 17 Oct 2011 12:51:15 >To: [email protected]<[email protected]> >Reply-To: [email protected] >Subject: Re: [proletar] KOMARUDDIN HIDAYAT: Islam Mazhab Indonesia > >Orang Islam itu emang ga pake diskusi, kalo ga nurut Islam, maka orangnya >dibantai. Kayak orang Ahmadiyah yg ga mau "diskusi", maka dibantai dgn >sadisnya. > >Yg ngebantai jg jadi pahlawan tuh, hehehe... > > > > >>________________________________ >>From: Roman Proteus <[email protected]> >>To: Proletar <[email protected]> >>Sent: Monday, October 17, 2011 9:44 AM >>Subject: Re: [proletar] KOMARUDDIN HIDAYAT: Islam Mazhab Indonesia >> >> >> >>Si item otaknya isinya selangkangan mana bisa diajak diskusi >> >> >> >>-----Original Message----- >>From: item abu <[email protected]> >>Sender: [email protected] >>Date: Mon, 17 Oct 2011 04:04:40 >>To: [email protected]<[email protected]> >>Reply-To: [email protected] >>Subject: Re: [proletar] KOMARUDDIN HIDAYAT: Islam Mazhab Indonesia >> >>Islam yg ga sesuai dgn Islam kita, bantai aja. Kan udah ada contoh ngebantai >>Ahmadiyah di Cikeungsi. >> >> >> >> >>>________________________________ >>>From: ajeg <[email protected]> >>>To: [email protected] >>>Sent: Sunday, October 16, 2011 10:00 PM >>>Subject: [proletar] KOMARUDDIN HIDAYAT: Islam Mazhab Indonesia >>> >>> >>> >>> >>>Kurang jelas apa yang maksud "mazhab" di sini sebab >>>contoh-contoh yang disebut Komaruddin Hidayat >>>sebetulnya masih persoalan "warna" atau "flavour"; >>>Islam dengan citarasa Indonesia. >>> >>>Sebelum agama-agama asing berdatangan, perempuan di >>>nusantara sudah biasa bekerja di luar rumah - di pasar, >>>di ladang, atau sekedar menjadi abdi di istana maupun >>>di rumah para penggede. Mereka juga sudah adab dalam >>>berbusana yang gaya pada eranya. Begitu pula di sektor >>>sospol. Tidak sedikit perempuan nusantara yang menjadi >>>pemimpin bahkan ratu. Suku Minang bahkan menempatkan >>>perempuan di posisi penuh wibawa. >>> >>>Artinya, dalam kehidupan sosial & politik, keragaman >>>serta kebersamaan sudah melandasi jiwa komunal masyarakat >>>nusantara. >>> >>>Itu sebabnya berbagai peradaban yang berdatangan ke >>>nusantara, Hindu, Budha, Islam, Kristen, mudah diterima >>>penduduknya. Pola hidup yang dibawa peradaban asing itu >>>bukan hal asing bagi masyarakat kepulauan ini. Terbukti, >>>ada Hindu-Budha "rasa" Bromo; Kristen "rasa" Flores; >>>maupun Islam "rasa" Bali dst. >>> >>>Bukan kebetulan kalau Islam yang lebih banyak terserap >>>dalam masyarakat majemuk yang punya kesadaran tunggal >>>bahwa hidupnya berkait erat dengan alam sekitar, bukan >>>melulu terikat hirarki politik kerajaan, sesepuh dll. >>>Kesadaran yang rumusnya seringkas: "Dan tiadalah >>>Kami mengutusmu melainkan untuk menjadi rahmat bagi >>>semesta alam" (QS 21:107). Rumusan yang menjadi pokok >>>keimanan maupun kehidupan manusia, terlebih dalam >>>menyikapi gejala alam seperti pemanasan global saat ini. >>> >>>Jadi, jelas bahwa sebelum Islam datang, masyarakat di >>>kepulauan nusantara sudah menjalankan peran sebagai >>>rahmat bagi alam semesta. Kedatangan Islam, juga agama >>>lain, hanyalah sebagai 'gong' dimulainya peran itu secara >>>komunal, dan Proklamasi adalah gerbang untuk berangkat >>>mengajak komunitas yang lebih luas, dunia. >>> >>>Karena itu, rasanya terlalu terburu-buru memakai istilah >>>"Islam mazhab Indonesia". Selain berkonotasi melulu ke >>>persoalan fiqih-aqidah-tauhid (sangat mengundang sinisme >>>dari kalangan fanatis), juga bisa antiklimaks dalam konteks >>>kajian demokrasi di forum internasional yang baru melek Islam, >>>terutama dengan bergolaknya dunia Arab saat ini. >>> >>>Tidak ada yang bisa dibanggakan dari demokratisasi >>>Indonesia sekarang karena "presiden demokratisnya" sudah >>>lama berhenti bicara perubahan iklim sekalipun Indonesia >>>adalah tuanrumah persiapan konferensi perubahan iklim yang >>>melahirkan Bali Roadmap. >>> >>>Tidak ada yang bisa dibanggakan dari demokratisasi >>>Indonesia sekarang karena "presiden demokratisnya" tak peduli >>>nasib pengungsi domestik, termasuk korban lumpur Bakrie yang >>>mengambinghitamkan alam. >>> >>>Di bawah kekuasaan "presiden demokratis" yang sekarang, Islam >>>justru berasa pait dan bau anyir dengan teror bom serta kelakuan >>>segelintir fanatis yang tak berkesudahan. >>> >>>--- From: >>> >>>> Islam Mazhab Indonesia >>>> Friday, 14 October 2011 >>>> >>>> Sejak gelombang demokratisasi merambah ke dunia Islam, perkembangan >>>> Islam Indonesia lalu mencuat menjadi sorotan dan objek kajian di >>>> berbagai forum internasional. >>>> >>>> Dosen-dosen muda di lingkungan perguruan tinggi Islam, semacam >>>> Institut Agama Islam Negeri (IAIN) dan Universitas Islam Negeri >>>> (UIN), banyak yang kemudian memperoleh tawaran beasiswa studi ke >>>> perguruan tinggi Barat untuk meraihprogrammasterdandoktor di bidang >>>> ilmu sosial yang berkaitan dengan dinamika sosial keagamaan di >>>> Indonesia. Oleh para pemerhati ilmu sosial, Indonesia merupakan >>>> laboratorium eksperimentasi Islam dan demokrasi yang selama ini >>>> keduanya dianggap tidak kompatibel. >>>> >>>> Mereka heran dan kagum atas eksperimentasi dan kemajuan >>>> demokratisasi di Indonesia yang merupakan kantong umat Islam >>>> terbesar di dunia, tanpa harus melakukan sekularisasi dengan >>>> senjata seperti yang dilakukan Kemal Ataturk di Turki.Ormas >>>> keagamaan dan parpol berbasis keagamaan justru menjadi motor >>>> demokratisasi di Indonesia. Sekarang tren serupa juga muncul di >>>> negara- negaraTimurTengah. >>>> >>>> Peran Islam dalam konteks keindonesiaan sesungguhnya sudah lama >>>> menjadi kajian sekelompok sarjana dan intelektual Indonesia. >>>> Terutama mereka yang memiliki latar belakang santri dan mendalami >>>> teori-teori ilmu sosial. Forum ini menyelenggarakan pertemuan >>>> setiap tahun dalam wadah Annual Conference on Islamic Studies >>>> (ACIS) yang saat ini sudah masuk tahun ke-11. >>>> >>>> Pada 10-13 Oktober 2011,ACIS melaksanakan konferensi bertempat di >>>> Bangka Belitung dengan tema Merangkai Mozaik Islam dalam Ruang >>>> Publik untuk Membangun Karakter Bangsa yang difasilitasi oleh >>>> Kementerian Agama. Pada forum tersebut hadir para pemakalah dari >>>> dalam dan luar negeri antara lain dari Mesir, Amerika Serikat, >>>> Malaysia, dan Yordania, menyajikan sekitar 345 makalah dengan >>>> jumlah peserta yang hadir tidak kurang dari 600 orang. >>>> >>>> Kalau sekitar 20 tahun lalu penulisan Islam Indonesia mayoritas >>>> dilakukan oleh sarjana asing, sekarang sudah banyak sarjana muslim >>>> Indonesia yang menulis tentang Indonesia ke dalam bahasa asing, >>>> sehingga menampilkan konten dan nuansa yang sangat berbeda. Ketika >>>> seorang santri yang juga doktor ilmu sosial menulis tentang >>>> pesantren misalnya tentu lebih mampu menyajikan data dan pengalaman >>>> otentik ketimbang peneliti asing yang melakukannya. >>>> >>>> Begitu pun penulisan dalam bidang lain.Hasil pengamatan sarjana >>>> asing dan sarjana dalam negeri tentu saling melengkapi. Bahkan ada >>>> di antara mereka yang melakukan riset bersama untuk diterbitkan >>>> dalam jurnal internasional. Berdasarkan hasil penelitian yang ada, >>>> Islam Indonesia memiliki mazhab tersendiri yang berbeda dari >>>> tradisi Islam di Timur Tengah. >>>> >>>> Baik dalam pemikiran politik, fikih, hubungan sosial, maupun >>>> pendidikan, pemahaman dan pemikiran Islam yang tumbuh di Indonesia >>>> punya warna dan karakter. Yang paling fenomenal adalah inovasi dan >>>> gaya busana muslimah Indonesia yang menjadi tren dunia Islam lain. >>>> Dari aspek politik, Indonesia sejak awal berbentuk republik dan >>>> negara bangsa,bukan kerajaan dan kesultanan, sangat berpengaruh >>>> pada partisipasi rakyat dalam gerakan sosial. >>>> >>>> Di Indonesia keragaman agama dan budaya memiliki tempat yang sama di >>>> depan hukum dan negara meskipun mayoritas rakyatnya beragama Islam. >>>> Ini jelas berbeda dari Arab Saudi, tempat kelahiran Islam, yang >>>> berbentuk kerajaan. Pola hidup penduduk bangsa maritim yang juga >>>> memiliki wilayah pertanian subur tentu berbeda dari gaya hidup >>>> penduduk padang pasir. Di Arab Saudi sampai hari ini wanita >>>> dilarang mengemudikan mobil. >>>> >>>> Sedangkan di Indonesia bahkan ada wanita yang menjadi pilot pesawat >>>> terbang. Karier ini pasti berimplikasi pada fikih maritim dan fikih >>>> udara.Bagaimana tata cara salat bagi para pelaut dan pekerja udara >>>> tentu memerlukan fikih baru yang belum terpikirkan oleh ulamaulama >>>> klasik yang tinggal di wilayah sahara dan savana. >>>> >>>> Demikianlah setiap agama selalu tumbuh berkembang bersama tradisi >>>> dan kondisi geografis daerah setempat.Terjadi proses tawar-menawar >>>> antara ajaran agama dan budaya pemeluk. Meski agama diyakini datang >>>> dari Tuhan Yang Maha-absolut,akhirnya agama berkembang di tangan >>>> pemeluknya yang juga makhluk budaya yang demikian beragam. >>>> >>>> Karena itu, tidak berlebihan jika Islam Indonesia akan melahirkan >>>> sebuah mazhab baru yang memperkaya warna Islam yang berkembang di >>>> Timur Tengah dan keberislaman yang berkembang di Barat yang >>>> posisinya sebagai minoritas. Tanpa banyak publikasi para pemerhati >>>> ilmu sosial, Indonesia sungguh diuntungkan oleh semakin banyaknya >>>> sarjana muslim yang secara rasional-intelektual selalu melakukan >>>> riset dan kajian Islam Indonesia sebagaimana program tahunan ACIS >>>> ini. >>>> >>>> Mereka adalah generasi baru kalangan santri yang tercerahkan dan >>>> memiliki alat intelektual yang cukup untuk ikut menjelaskan dinamika >>>> sosial keagamaan Indonesia pada dunia luar yang akhir-akhir ini >>>> diinterupsi oleh perilaku sekelompok ekstremis- radikalis yang >>>> melakukan bom bunuh diri dengan dalih jihad. >>>> >>>> Untuk membicarakan dinamika sosial-politik Indonesia, rasanya tidak >>>> lengkap kalau tidak memasukkan variabel agama, khususnya Islam yang >>>> dipeluk oleh mayoritas warga bangsa. Memang sangat diperlukan >>>> sekelompok intelektual muslim yang bersikap independen, mengambil >>>> jarak dari perebutan kekuasaan dan politik, lalu memikirkan format >>>> dan arah Islam mazhab Indonesia ke depan. >>>> >>>> PROF DR KOMARUDDIN HIDAYAT >>>> Rektor UIN Syarif Hidayatullah >>> >>> >>> >>> >>> >> >>[Non-text portions of this message have been removed] >> >> >> >>[Non-text portions of this message have been removed] >> >> >> >> >> > >[Non-text portions of this message have been removed] > > > >[Non-text portions of this message have been removed] > > > > > [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------------------ Post message: [email protected] Subscribe : [email protected] Unsubscribe : [email protected] List owner : [email protected] Homepage : http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: [email protected] [email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
