coba perhatikan kalimat tolol ini:

"Di Perancis tiap penduduk kudu bayar premi asuransi tapi sama-sama berhak 
dapat rawatan praktis gratis, cuma kudu bayar presentase kecil untuk biaya 
obat-obat"

dia pikir "bayar premi" = "gratis".

--- In [email protected], "Bukan Pedanda" <bukan.pedanda@...> wrote:
>
> 
> Asuransi kesehatan, seperti setiap asuransi, terasa rugi selama belum 
> sakit..Tapi sekalinya sakit dan perlu dirawat dirumah sakit atau perlu 
> operasi yang ruwet baru terasa guna asuransi itu. 
> 
> Terlepas dari itu sistem asuransi kesehatan di Australia lebih ruwet dari di 
> Perancis misalnya. Di Perancis tiap penduduk kudu bayar premi asuransi tapi 
> sama-sama berhak dapat rawatan praktis gratis, cuma kudu bayar presentase 
> kecil untuk biaya obat-obat..
> 
> 
> --- In [email protected], "Teddy S." <teddyr@> wrote:
> >
> > Di Australia tidak wajib untuk punya asuransi kesehatan pribadi (swasta), 
> > tapi ada konsekuensinya bagi yang tidak memiliki dan masih bekerja berupa 
> > tambahan 2% premium jika nantinya memutuskan untuk bergabung. Premium untuk 
> > asuransi kesehatan pribadi ini harus dibayar 100% dari kantong sendiri. 
> > Kalau tidak punya ini masih ada Medicare yang tidak memberikan penggantian 
> > bagi perawatan gigi, tapi cukup baik untuk memberikan perlindungan 
> > kesehatan mendasar. Ibu saya tidak membayar retribusi (levy) untuk 
> > Medicare, tapi saya yang bekerja membayar retribusi tersebut yang merupakan 
> > persentasi dari pendapatan. Jadi seperti halnya pajak, semakin besar 
> > pendapatan, semakin besar pula retribusinya.
> > 
> > Bagi saya selama ini kalau dihitung-hitung sebenarnya rugi untuk punya 
> > asuransi kesehatan pribadi karena praktis pengeluaran saya hanyalah untuk 
> > perawatan gigi yang penggantiannya juga tidak utuh. Jadi jika anda sehat, 
> > maka akan rugi untuk membayar premiumnya. Sebelumnya saya pernah 
> > memanfaatkan untuk operasi 4 gigi bungsu secara serempak pada seorang 
> > dokter spesialis yang saya tuntut harus tanpa ada rasa sakit dan ini memang 
> > benar. Akibatnya masih harus menombok dari kantong sendiri sekitar A$ 600. 
> > Kolega saya ada yang tidak menombok, tapi harus menahan rasa sakit.
> > 
> > Ibu saya tidak punya asuransi kesehatan pribadi hingga harus menunggu untuk 
> > suatu prosedur yang dilakukan di rumah sakit. Pada pengalaman yang lalu, 
> > saya harus menutup sedikit tambahan biaya karena konsultasi dengan dokter 
> > spesialis tidak mendapat penggantian 100% oleh Medicare.
> > Tapi prosedur dengan cepat bisa dilakukan di rumah sakit karena sang dokter 
> > spesialis dapat jatah kamar operasi di rumah sakit tersebut. Rupanya sang 
> > dokter spesialis menagih Medicare sekitar A$ 700 per prosedur ERCP dengan 
> > ibu saya tidak membayar sepeserpun juga dan 3 kali prosedur diperlukan.
> > 
> > 
> > --- In [email protected], "Bukan Pedanda" <bukan.pedanda@> wrote:
> > >
> > > 
> > > Sekedar untuk mengingatkan pelajaran yang  layak ditiru: 
> > > 
> > > Di berbagai negeri demokratik yang maju, tiap orang diwajibkan untuk 
> > > punya asuransi kesehatan, jadi masaalah biaya tidak lagi menjadi 
> > > persoalan bagi tiap orang sakit.
> > > 
> > > Untuk pembayar preminya, yanag memang mahal, negara meringankan beban: di 
> > > negeri Beladna, misalnya, orang yang berpenghasilan tidak mencukupi, 
> > > seperti orang gelandangan, dapat tunjuangan dari Jawatan Pajak (!) untuk 
> > > membaya preminya.
> > > 
> > > Artinya: tiap orang, termasuk orang gelandangan, berhak untuk dapat 
> > > perawatan yang sama dari dokter, rumah sakit dan laboratorium medikal..  
> > > 
> > >  
> > > 
> > > --- In [email protected], "Sunny" <ambon@> wrote:
> > > >
> > > > http://www.suarapembaruan.com/suarapembaca/jangan-sakit-karena-miskin/12010
> > > > Jangan Sakit Karena Miskin
> > > > 
> > > > 
> > > > Selasa, 4 Oktober 2011 | 14:17
> > > > 
> > > > Saya sangat sedih saat mendengar seorang bayi yang masih berusia 7 
> > > > bulan harus menghembuskan napas terakhirnya karena orang tuanya miskin. 
> > > > Seorang Ayah dengan penghasilan 900.000 per bulan sekarang harus 
> > > > merasakan kesedihan mendalam karena anaknya meninggal dan sekarang dia 
> > > > harus memikul beban hutang hampir Rp 30 juta. Apakah warga miskin 
> > > > dilarang sakit? Apakah hanya yang mempunyai uang yang boleh masuk rumah 
> > > > sakit dan di berikan perawatan? Saya rasa, ironis sekali.
> > > > 
> > > > Saya sangat berharap kejadian seperti ini tidak akan pernah terulang 
> > > > lagi. Karena, sungguh disayangkan, nyawa harus melayang hanya karena 
> > > > tidak ada dana untuk biaya pengobatan. Warga miskin juga butuh 
> > > > pelayanan kesehatan. 
> > > > 
> > > > Kita semua hanyalah manusia biasa yang senantiasa kapanpun dapat 
> > > > terkena penyakit.
> > > > 
> > > > Nanda Agastya Wardana
> > > > Mahasiswi Jurusan Psikologi
> > > > Universitas Bina Nusantara 
> > > > 
> > > > 
> > > > 
> > > > [Non-text portions of this message have been removed]
> > > >
> > >
> >
>




------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke