http://www.analisadaily.com/news/read/2011/11/10/21001/bangsa_tanpa_nilai_kepahlawanan/#.TsGaQPKv-y4
Opini - Kamis, 10 Nov 2011 01:29 WIB Bangsa Tanpa Nilai Kepahlawanan Illustrasi Oleh : Drs. Maringan Panjaitan, M.Si. Jangankan untuk membela kebenaran dan keadilan sebagai cermin jiwa kepahlawanan, hanya untuk mentaati lampu merah saja kita sangat sulit. Mau jadi apakah bangsa ini kalau disiplinnya tidak ada dalam praktik dan lakon hidup sehari-hari? Padahal budaya disiplin merupakan penjabaran dari sebuah nilai kepahlawanan. Tidak mungkin bisa menjadi pahlawanan kalau tidak disiplin dalam segala hal. Memang lakon kepahlawanan sudah sangat jarang kita jumpai dewasa ini. Seiring dengan dinamika kehidupan masyarakat yang semakin kompleks, banyak persoalan yang dihadapi oleh masyarakat dalam konteks bernegara dan berbangsa. Salah satu masalah krusial yang belum terselesaikan dalam tubuh bangsa ini adalah praktik korupsi. Korupsi merupakan hasil akhir dari sebuah bangunan negara yang hukumnya lemah. Lemahnya supremasi hukum dan budaya disiplin yang tidak ada telah ikut membuat korupsi makin terlembaga dengan baik. Para mafia hukum, melakukan praktik yang merugikan bangsa ini dengan cara yang sangat rapih dan tersusun. Atau, praktik korupsi sudah dirancang dengan bagus sehingga sangat sulit untuk menumpasnya sampai ke akar-akarnya. Berdirinya KPK tidak serta merta membawa perubahan yang signifikan bagi bangsa ini tentang indeks korupsi kita. Bahkan pemerintah kita selama 10 tahun umur reformasi belum punya progress report yang baik dalam hal pemberantasan korupsi. Korupsi berjamaah terus terjadi dan sangat sulit dihentikan. Ketika masyarakat mengharapkan kepahlawanan KPK dalam membabat korupsi ternyata muncul upaya pelemahan KPK. Ironisnya lagi banyak anggota DPR, bahkan ketua DPR sendiri pernah berwacana supaya KPK dibubarkan. Ini pernyataan yang tidak masuk di akal oleh publik. Kalau ada oknum KPK yang melakukan kesalahan dan tidak sesuai dengan budaya hukum yang tegak, itu berada pada tataran oknum. Bukan pada aspek kelembagaan. Sementara ekspektasi masyarakat dalam mengharapkan KPK sebagai instrumen kelembagaan dalam membabat korupsi sangat tinggi. Masihkah bangsa ini bisa berjalan jika pemerintah, masyarakat, LSM, akademisi, pelaku bisnis, dan komponen pendukung bangsa lainnya bisa berjalan jika nilai kepahlawanan itu sudah tidak ada. 10 November 66 tahun yang lalu oleh arek-arek Suroboyo harus menjadi sebuah historis yang reflektif bagi semua pengelola negara ini. Apa yang mereka lakukan bukan untuk kepentingan pribadi dan golongan. Mereka melakukan sesuatu yang sangat berharga yang tidak mungkin bisa diukur dengan nilai ekonomi. Mereka tidak bicara tunjangan, anggaran, dan bargaining saat mereka melakukan perang dengan NICA kala itu. Pelajaran maha agung dari pahlawan 10 November perlu kita transformasikan dalam aspek politik, ekonomi, hukum, sosial budaya, teknologi dan bidang lainnya. Pernahkan pemerintah kita ini berpikir dengan jernih bahwa melalui politik mereka akan mensejahterakan masyarakat? Politik adalah instrumen negara dalam mencapai cita-cita. Politik bukan mencari kekuasaan melulu, sekalipun hakikat politik kekuasaan. Mengggunakan kekuasaan untuk kesejahteraan masyarakat adalah tindakan terpuji yang merupakan tujuan politik. Jauh dari Harapan Masyarakat Politisi kita jauh dari harapan masyarakat. Mereka memilihnya melalui Pemilu tentu dengan satu tujuan, ada orang terpelajar, terdidik yang mau merumuskan masa depan kita melalui berbagai Renstra yang disusun oleh mereka. Ini berubah, mereka menyusun renstra tentu dengan tujuan memperkaya diri. Lihat fenomena studi banding DPR ditengah krisis ekonomi yang dihadapi oleh masyarakat. Seharusnya dana studi banding itu bisa digunakan untuk peruntukan masyarakat miskin yang punya nilai kemanusiaan. Belum lagi mafia anggaran yang terjadi di sekitar DPR dan pemerintahan pusat. Politik kita tidak punya identitas kepahlawanan dan jauh dari politisi sejati yang punya padnangan jauh kedepan. Seharusnya politik merupakan instrumen membawa perubahan bagi masyarakat yang penuh dengan ideologi dan cita-cita bersama seperti yang dikemukakan oleh Plato dan Aristoteles. Dalam bidang hukum pun kita sangat kacau. Hukum kita tidak ramah dengan nilai kepahlawanan. Hukum bisa diperjualbelikan oleh penguasa. Bangsa kita menghabiskan energi yang tidka perlu tentang remisi koruptor. Remisi koruptor adalah sebuah bentuk pembumihangusan pada dunia hukum. Bayangkan orang yang sudah membuat sendi kehidupan nasional ambruk harus diberi keringanan. Sementara banyak maling ayam yang karena hidup makin susah tidak bisa menerima remisi karena tidak punya akses dan uang untuk mengurus remisi bagi dirinya. Supremasi hukum kita sedang berada pada titik nadir. Kita harus menyadari tidak mungkin bangsa bisa membangun tanpa ada supremasi hukum sebagai agenda bersama kita semua. Dalam bidang ekonomi pun kita lemah. Pelaku ekonomi kecil seperti UKM dan UMK selalu dimarginalkan oleh pemerintah pusat. Mereka lebih fokus dengan industri modal besar karena menjanjikan keuntungan fianasial jangka pendek. Sementara mengurus UKM adalah pekerjaan sosial yang mungkin tidak menghasilkan uang. Alih-alih mengurus UKM, konsep pemberdayaan UKM hanya bersifat lips service. Para pelaku UKM kalau sudah berhadapan dengan birokrasi pemerintah akan banyak menghadapi pengetatan persyaratan. Masyarakat kecil selalu menjado korban kebijakan ekonomi yang tidak adil. Padahal SDA dan potensi bahari kita sangat besar. Tidak bisa kita bayangkan jika bangsa ini berjalan tanpa nilai kepahlawanan. Untuk itu mensemaikan kembali nilai kepahlawanan perlu dilakukan oleh pemerintah, masyarakat dan seluruhanak bangsa. Marilah membangun kesadaran kolektif bahwa nilai kepahlawanan adalah solusi untuk masalah bangsa saat ini. Kepentingan lebih besar jika didahulukan akan melahirkan kesejahteraan bersama. Pada akhirnya masyarakat juga yang sejahtera. *** Penulis adalah: Wakil Rektor III UHN Medan/Kepala Lab Politik FISIPOL UHN Medan [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------------------ Post message: [email protected] Subscribe : [email protected] Unsubscribe : [email protected] List owner : [email protected] Homepage : http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: [email protected] [email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
