Nasionalisasi vs Privatisasi: Disini-kan sedang dibahas topik ttg kelemahan nasionalisasi menjadikan sarang korupsi dan tidak profesional. Nah, sebenarnya kalau mau cerdik dan menimbang aspek keuntungannya, maka saya punya solusi...
jang pertama, kita timbang dulu keuntungan Nasionalisasi 1. Pemerintah mendapatkan keuntungan pajak 2. Pemerintah mendapatkan keuntungan deviden jang kedua, kita timbang kerugian 1. Sarang korupsi 2. Tidak profesesional Sebenarnya ada solusi, yaitu nasionalisasi, tapi apabila memang etos kerja pribumi masih belum profesional dan mental korupsi, bisa saja membayar tenaga asing yang profesional dan yg punya integritas dan profesionalitas tinggi. Hal ini setidaknya akan meminimalizir kelemahan poin kedua, sehingga poin pertama dari keuntungan nasionalisasi mayoritas dengan system hybrid (saham pemerintah lebih besar dari saham swasta private atau public) tetap tercapai. Hal ini juga dilakukan di Dubai oleh Al-Maktoum, mereka punya Dubai Investment Holding yang tenaganya justru kebanyakan orang western. (sbg catatan, sambil mempekerjakan orang western di BUMN, tenaga pribumi mulai transfer knowledge dan juga merubah mindset terutama di etos kerja dan profesionalisme, agar kelak bisa sejajar dalam hal kemampuan, etos kerja, dan profesionalisme dengan western) ---- Ws, 14/11/11 ------------------------------------ Post message: [email protected] Subscribe : [email protected] Unsubscribe : [email protected] List owner : [email protected] Homepage : http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: [email protected] [email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
