http://www.sinarharapan.co.id/content/read/komnas-ham-dalami-pembakaran-gereja-dan-rumah-di-distrik-mulia/ 05.12.2011 14:35
Komnas HAM Dalami Pembakaran Gereja dan Rumah di Distrik Mulia Penulis : Odeodata H Julia/Muhamad Nasir/Lili Sunardi/M Bachtiar Nur) JAYAPURA – Komnas HAM perwakilan Papua hingga Senin (5/12) pagi masih mencari tahu kebenaran terkait pembakaran gereja dan rumah warga yang dilakukan aparat Brimob Mabes Polri usai tewasnya Bripda Ferliyanto Kaluku dan Bripda Eko Afriansyah pada Sabtu (3/12) siang. Pembakaran itu disebut-sebut terjadi di Kampung Wandenggobak, Distrik Mulia, Kabupaten Puncak Jaya, Papua. Kampung ini merupakan lokasi terjadinya penembakan yang menewaskan dua anggota Brimob itu. Ketua Komnas HAM Papua Jules Ongge mengatakan Komnas HAM Papua memang menerima informasi itu melalui pesan singkat. “Tetapi kami tidak mau gegabah dan kecolongan. Harus dicari tahu motif dan kronologis sebenarnya soal informasi itu. Kami sudah mengetahui informasi itu lewat kurir, tetapi harus dicari tahu dulu kebenarannya,” katanya kepada SH di Kantor Gubernur di Dok II, Jayapura Senin siang. Jules juga mengungkapkan Kabupaten Puncak Jaya saat ini dijadikan basis milisi dari TPN/OPM. “Sebenarnya soal Puncak Jaya ini hanyalah masalah kesejahteraan penduduk di sana. Kelompok ini menganggap pemda setempat tidak bisa selesaikan masalah, sehingga TPN/OPM ini langsung berhadapan dengan masyarakat,” katanya lagi. Menurutnya, saat ini di kabupaten yang berada pada ketinggian di atas permukaan laut (DPL) 2.500 meter ini sudah ditempatkan banyak pasukan di Puncak Jaya, seperti dari Brimob, Kopassus, BIN, BAIS, dan Kostrad. Akibatnya, setiap warga baru yang datang ke kabupaten ini disambut dengan sikap dingin dan penuh tatapan curiga. Bupati Puncak Jaya Lukas Enembe mengungkapkan saat ini Kabupaten Puncak Jaya sudah merupakan mata rantai pergerakan separatis yang harus segera diberantas karena kekuatan mereka sudah mencapai 60 pucuk. “Baru 60 pucuk saja kita sudah susah menghadapinya. Pasukan yang diturunkan ke Puncak Jaya haruslah menguasai medan dan adat istiadat setempat. Selain itu juga pasukan organik harus bekerja sama dengan nonorganik,” ujarnya. Siang tadi sekitar 10.00 WIT, Muspida Papua di antaranya penjabat Gubernur Papua Syamsul Arief Rifai, Kapolda Papua Irjen BL Tobing, Pangdam XVII Cenderawasih Mayjen TNI Erfi Triassunu, serta pihak Majelis Rakyat Papua (MRP) dan DPRD Papua mengadakan pertemuan tertutup di Kantor Gubernur Papua. Keterangan yang diperoleh SH menyebutkan, aksi pembakaran itu dilakukan hanya beberapa menit setelah aksi penembakan terhadap dua anggota Brimob itu. Aksi itu diduga kuat dilakukan pasukan Brimob yang kesal karena anggotanya tewas ditembak di lokasi tersebut. Jules K, salah seorang warga Mulia membenarkan kejadian itu. "Pembakaran rumah dan honai warga terjadi Sabtu sekitar pukul 15.30 WIT, hanya beberapa menit setelah aksi penembakan. Salah satu gereja juga ikut dibakar," ungkapnya. Status Tertib Sipil Di Jakarta, Kepala Pusat Komunikasi Publik Kementerian Pertahanan Brigjen TNI Hartind Asrin kepada SH, Senin pagi ini mengatakan, status di Papua masih tertib sipil sehingga penegakan keamanan tetap merupakan tanggung jawab Polri. “Statusnya tetap tertib sipil. Polri sebagai penanggung jawab keamanan tentu saja dibantu Kodam setempat. Kekerasan memang meningkat terhadap aparat tetapi masih bersifat lokal, belum serius,” katanya. Ia mengungkapkan beberapa waktu terakhir aksi penembakan terhadap aparat Polri cenderung meningkat, namun belum dianggap serius. Secara terpisah Kepala Bagian Penerangan Umum Divisi Humas Polri Kombes Boy Rafli Amar di Jakarta, Minggu (4/12) siang menyatakan, Mabes Polri kembali harus meminta anggotanya yang bertugas di Papua, khususnya di Puncak Jaya, untuk meningkatkan kewaspadaan dari serangan kelompok sipil bersenjata yang telah memakan korban jiwa. "Karena ini akan menimbulkan keresahan di kalangan masyarakat Puncak Jaya dan Papua pada umumnya. Petugas saat ini tetap di sana untuk menjaga kondisi-kondisi yang kerap terjadi serangan-serangan sporadis oleh kelompok sipil bersenjata yang memang ada di sana," katanya. Seperti diketahui, dua anggota Brimob dari Mako Brimob Kelapa Dua Depok Jawa Barat tewas setelah diserang kelompok bersenjata di Papua. Mereka adalah Bripda Ferliyanto Kaluku dan Bripda Eko Afriansyah. Dua jenazah itu kini telah dipulangkan ke rumah keluarga masing-masing untuk dimakamkan. Dia menduga penyerangnya berjumlah lima hingga sepuluh orang yang bersenjatakan senjata api laras panjang. "Tidak bisa dipastikan semua bawa senjata atau tidak, yang pasti mereka gunakan senjata api," ujarnya. Boy menambahkan, pihaknya hingga kini masih belum dapat menyimpulkan penyerang tersebut merupakan anggota kelompok tertentu. Ini karena kepolisian masih melakukan penyelidikan dan masih memerlukan bukti-bukti untuk memperjelasnya. Namun menurutnya, pihaknya juga menduga pelaku penembakan terhadap kedua anggota Brimob tersebut juga sama dengan pelaku penembakan Kapolsek Mulia Dominggus Otto Awes pada Oktober lalu. Sementara itu, anggota Polres Jayapura Bripda Ridwan Napitupulu yang dianiaya orang tidak dikenal di Berap, Nimbokrang Kabupaten Jayapura, akhirnya meninggal, Senin dini hari sekitar pukul 00.30 di Rumah Sakit Bhayangkara Jayapura. Jenazah Ridwan segera diberangkatkan ke Medan, Senin siang sekitar pukul 12.20 dari Jayapura menggunakan pesawat Garuda. Ridwan merupakan salah seorang anggota Polres Jayapura yang dianiaya gerombolan di kampung Berap, Distrik Demta, Kabupaten Jayapura, pada Kamis (1/12) malam. Saat itu, almarhum bersama rekannya, Bripka Dian Budi Santoso, diadang dan dianiaya gerombolan saat patroli di daerah setempat. Terus Dikejar Kepala Bidang Humas Polda Papua Kombes Wachyono di Jayapura, Minggu siang mengatakan, upaya pengejaran dan penyisiran terhadap TPN/OPM yang dilakukan aparat Brimob usai tewasnya dua rekan mereka dan seorang terkena tembakan, terpaksa ditunda karena terhalang kabut tebal yang menyelimuti Kali Semen Kampung Wandenggobak. "Anggota kewalahan, gunung terjal dengan hutan lebat sangat sulit ditelusuri. Sementara OPM sangat menguasai alamnya, dan mereka seolah-olah bisa langsung tidak terlihat," katanya. Wachyono mengatakan, pengejaran akan dilanjutkan jika cuaca sudah mendukung. Jenazah anggota Brimob yang tewas tertembak di Kali Semen, Bripda Eko Apriansyah, Minggu malam tiba di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II Palembang, Sumatera Selatan (Sumsel). Jenazahnya dikebumikan Senin siang ini di Desa Sukomoro, Banyuasin. Peti jenazah almarhum sebelumnya diangkut dari Jakarta menggunakan pesawat Garuda GA 126, 113 2445 JKT 200. Upacara penghormatan terakhir dipimpin langsung Kapolda Sumsel Irjen Dikdik M Arief Mansyur. Penembakan yang menewaskan dua anggota Brimob dari Satuan Gegana Mabes Polri dan melukai satu orang ini terjadi Sabtu siang di Kali Semen. Mereka diadang kelompok bersenjata OPM. Pengadangan terhadap anggota Brimob itu berawal ketika mereka mengevakuasi dua anggota Brimob yang sakit malaria di Pos Tingginambut. Saat perjalanan menuju Mulia mereka diadang di Kali Semen, lalu diadang dan ditembaki OPM. Dua anggota Brimob kemudian tewas tertembak, sedangkan satu lagi mengalami luka tembak. Anggota yang meninggal yakni Bripda Ferly dan Bripda Eko dari Satuan Gegana Mabes Polri. Sementara Bripda Syukur yang kena tembak di paha dan masih hidup berasal dari Detasemen C Brimob Papua. [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------------------ Post message: [email protected] Subscribe : [email protected] Unsubscribe : [email protected] List owner : [email protected] Homepage : http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: [email protected] [email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
