Refl: Bila model perawatan yang diajukan adalah sangat mujarab, maka 
pertanyaannya ialah mengapa dulu tidak bersuara untuk merawat RI dalam kancah 
Hindia Belanda? Apakah orang Papua tidak bisa merawat diri mereka sendiri?


http://www.suarapembaruan.com/tajukrencana/merawat-papua-di-nkri/14442
Merawat Papua di NKRI
Senin, 5 Desember 2011 | 13:11

Pemerintah berkewajiban untuk menjaga Papua tetap dalam pangkuan NKRI. Hal itu 
mengingat semangat dan gerakan separatis masih mengakar, terutama di kalangan 
penduduk asli. Adanya keinginan memisahkan diri dari NKRI tersebut, tak lepas 
dari nasib mereka yang tetap terbelakang, ditambah maraknya pelanggaran hak 
asasi manusia (HAM).

Selama bertahun-tahun, rakyat Papua merasa diperlakukan tak adil. Kekayaan 
alamnya dikeruk, namun mereka masih hidup dalam kemiskinan. Ketimpangan 
hasil-hasil pembangunan, mengakibatkan kondisi masyarakat di dua provinsi, 
Papua dan Papua Barat, masih ada yang terbelakang. Sebut saja ketersediaan 
infrastruktur fisik minim, serta pembangunan bidang pendidikan dan bidang 
kesehatan yang belum memadai, mengakibatkan rakyat Papua masih banyak yang 
terbelakang.

Hal itulah yang kerap memicu aksi-aksi yang menjurus pada separatisme, yang 
selalu dikaitkan dengan historis proses integrasi ke NKRI, yang oleh sebagian 
kalangan di Papua, belum bisa diterima sepenuh hati. Apalagi, rekaman 
kasus-kasus kekerasan yang dilakukan aparat keamanan terhadap warga Papua, 
secara tersebar luas di seluruh dunia. Akibatnya, tercipta kampanye negatif 
terhadap Pemerintah RI, dan sebaliknya menumbuhkan simpati internasional yang 
mendukung kemerdekaan Papua.

Secara geopolitik dan geoekonomi, posisi Papua sangat strategis. Kekayaan 
alamnya yang melimpah mengundang minat banyak negara untuk dapat mengeruk 
sebanyak-banyaknya hasil Bumi Cenderawasih tersebut. Saat ini, relatif baru 
Amerika Serikat (AS) yang menancapkan kukunya di Papua, melalui kehadiran 
Freeport. Namun, bukan berarti yang lain diam. Tiongkok, yang berambisi menjadi 
kekuatan ekonomi baru dunia, mencari sumber energi untuk mendukung ambisinya 
itu. Salah satu pilihan tentu Papua.

Itulah mengapa semakin banyak negara yang mengincar Papua. Isu-isu HAM sengaja 
dipolitisasi secara internasional, untuk menjadi alat penekan bagi Pemerintah 
Indonesia. Semua itu dilakukan tentu demi keuntungan ekonomi negara 
bersangkutan. Hal inilah yang harus diwaspadai dan mendapat perhatian serius 
pemerintah. Di satu sisi, pemerintah wajib menjaga integrasi Papua ke pangkuan 
Ibu Pertiwi. Pengalaman lepasnya Timor Timur 12 tahun lalu tak boleh terulang.

Di sisi lain, pemerintah harus mampu mengantisipasi tekanan internasional yang 
memanfaatkan isu-isu pelanggaran HAM dan ketimpangan ekonomi. Harus dicermati 
kepentingan ekonomi dan politik negara-negara yang saat ini mulai menyuarakan 
simpatinya terhadap apa yang terjadi di Papua.

Satu-satunya cara adalah memberi perhatian lebih kepada Papua. Pemerintah 
menyadari secara geopolitik, Papua sangat rawan dan bisa mengancam keutuhan 
NKRI jika tidak ditangani secara baik. Itulah mengapa wilayah itu diberi 
kewenangan yang begitu luas untuk menjalankan pembangunan sesuai sumber daya 
yang dimiliki melalui status otonomi khusus, disertai kebijakan desentralisasi 
fiskal yang cukup besar guna mendukung akselerasi pembangunan di segala bidang 
kehidupan dengan mengucurkan dana otsus.

Tak cukup hanya itu, dalam Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan 
Ekonomi Indonesia (MP3EI) yang diluncurkan Mei lalu, Papua juga ditetapkan 
sebagai salah satu koridor pembangunan ekonomi. Segala langkah itu dimaksudkan 
untuk menata Papua agar sejajar dengan wilayah lain di republik ini.

Kini, di saat eskalasi politik di Papua memanas, pemerintah membentuk Unit 
Percepatan Pembangunan Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat (UP4B), serta 
menginstruksikan pembentukan Desk Papua di setiap kementerian. Langkah itu 
merupakan cermin respons pemerintah terhadap kondisi di Papua, dan untuk 
merawat agar dua provinsi di ujung timur Indonesia itu tetap di pangkuan NKRI.

Namun, tantangan terbesar adalah komitmen pemerintah mengimplementasikan semua 
kebijakan untuk Papua secara penuh. Pengalaman selama ini, hal itu tak pernah 
terwujud. Dana otsus, misalnya, terbukti banyak yang dikorupsi, bahkan oleh 
pejabat Pemprov Papua dan Papua Barat sendiri. Maraknya korupsi dana otsus, 
tentu mengganggu keseluruhan kebijakan pemerintah pusat terhadap Papua. 
Masyarakat yang tak kunjung menikmati kue pembangunan, dengan mudah merasa 
dianaktirikan, dan menyemaikan bibit separatisme.

Selain itu, pola pendekatan keamanan harus ditinjau kembali. Kehadiran Polri 
dan TNI di Papua, harus benar-benar memperhatikan aspek penegakan HAM. Sebab, 
terbukti HAM menjadi isu yang sangat sensitif, dan dengan mudah dipolitisasi 
secara internasional. 

Secara keseluruhan, pola penanganan persoalan klasik di Papua tak bisa lagi 
mengandalkan pendekatan keamanan. Saatnya pendekatan pembangunan dan 
kesejahteraan menjadi ujung tombak. Sebab, hanya dengan pendekatan ini, warga 
asli Papua akan merasa menjadi satu bangsa dengan masyarakat Indonesia lainnya. 

Solusi yang lebih fundamental, pemerintah harus membuat grand design 
pembangunan Papua dan Papua Barat. Kita juga harus menyadari, bahwa bukan cuma 
uang yang dibutuhkan rakyat Papua, tetapi juga harapan agar diperlakukan setara 
dengan terus mengajak dialog. Jika pemerintah mampu menjamin itu, dengan 
sendirinya rakyat Papua akan mencintai NKRI dengan sepenuh hati.


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke