Sentilan cukup menarik juga dari milis
tetangga
Is
-----Original Message-----
From: Denny Indrayana [mailto:denny
From: Denny Indrayana [mailto:denny
Siapa bilang
Indonesia miskin-papa. Salah besar,
bohong benar. Indonesia negara kaya raya. Negeri
makmur-subur, damai-sentosa. Indonesia hanya
pura-pura miskin; pura-pura banyak utang;
pura-pura banyak teroris; pura-pura banyak
masalah. Sejatinya, Indonesia adalah negeri paling
bahagia di seluruh dunia, di seantero jagat raya.
Dunia yang mengira Indonesia miskin, tertipu.
Mereka hanya melihat kulit, tidak melihat isi.
Dunia terpana tampilan luar fisik Indonesia yang
coreng-moreng-bopeng, padahal itu hanya topeng.
Sebenarnya Indonesia bukan negeri gepeng
(gelandangan pengemis), tapi bangsa yang
keren-mentereng.
Indonesia itu negeri luar biasa kaya-raya.
Buktinya, punya utang 134,9 miliar AS pada akhir
2003, tenang-tenang saja (Kompas, 4 Maret 2004).
Malah dengan unjuk gigi, berutang lebih banyak
lagi. Agar negara kaya senang hati. Indonesia
pura-pura miskin, untuk baik budi.
Pengangguran 39,3 juta, no problem sama sekali
(Kompas, 5 Maret 2004). Kalau perlu, pengangguran
ditambah terus-menerus. Yang sudah bekerja, di PHK
saja. Karena PHK itu sebenarnya di Indonesia
adalah jurus mulus memberi fulus. Mau cepat kaya?
Minta di PHK saja. Dijamin, uang berat milyaran
Rupiah cepat masuk kantong. Tidak percaya? Tanya
sana pada pekerja BPPN yang kena “PHK”. Meski
prestasi tidak seberapa, bahkan cenderung menjadi
co-koruptor saja, BPPN-toh mesti di apresiasi
juga. Pejabatnya, di lindungi dengan kekebalan
hukum agar tidak bisa dituntut setelah puas
menurut, puas menjadi abdi sahaya, pada
penguasa-pengusaha yang minggat berobat – tapi tak
kunjung bertobat – di manca-negara.
Indonesia itu bangsa emas. Hanya emaslah yang
terus diuji, diasah. Kalau batu cadas, ketemu
langsung dibuang. Indonesia emas, bukan cadas.
Indonesia adalah jamrud khatulistiwa. Meski
dimana-mana ada bencana. Itu semua bukan laknat.
Itu semua nikmat, berkat yang diturunkan dalam
bentuk yang tidak memikat.
Gempa bumi di Nabire, itu nikmat. Banjir di
Jakarta itu rahmat. Flu burung di Jawa-Bali itu
berkat. Demam berdarah di Indonesia adalah bukti
bangsa ini hebat. Kalau negeri lain kalang-kabut
menghadapi semua itu. Indonesia, santai dan
damai-damai saja. Televisi tetap sarat menyajikan
hiburan yang menggoyang pantat.
Mau tahu resepnya Indonesia begitu hebat? Hanya
satu kata: TAAT. Pemimpin Indonesia semua
terhormat-bermartabat. Bayangkan saja, koruptor di
Indonesia itu agamanya, waduh…luar biasa kuat!
Sholatnya, tak pernah tinggal. Puasa Senin-Kamis,
selalu dijajal. Fakir-miskin, sering mendapat
hadiah massal. Istighfar, selalu dilafal. Supaya
semua ibadah itu jadi contoh-tauladan,
disiarkanlah oleh televisi secara nasional.
Itu baru kelasnya koruptor. Tentu, kelas
alim-ulama Indonesia jauh lebih mulia. Makanya
banyak calon presiden yang demam pesantren. Meski
hanya bertandang menjelang dead line. Seandainya
saja Pemilu tiap harian. Tentu pesantren akan
kebanjiran orderan. Meski KPU pasti ogah beneran,
karena kebayang pusing tujuh putaran, memikirkan
kotak suara dan kertasnya yang tak juga sampai ke
tujuan.
Di Indonesia agama itu difahami amat hakiki. Agama
itu ada, dikala orang tidak perlu mengingatnya.
Orang yang beragama, tidak perlu selalu pamer
keberagamaannya. Jika perlu, pura-pura saja lupa.
Sholat-puasa biasa, korupsi juga jalan apa-adanya.
Demikian juga deologi. Itukan mainan menjelang
pemilu yang paling layak di jual-beli. Paling
mudah dibungkus rapi. Otak dibungkus pikiran
libertarian; mulut dihias nyanyian agamawan;
tangan di sarungi kebiasaan fasis; perut dibaluti
ajaran kapitalis; dan bawah perut mengobral goyang
liberal (provoked by Anies Baswedan).
Ah…sudahlah. Pokoknya Indonesia itu tidak bisa
dilihat dengan mata biasa. Adanya, seperti
tiadanya. Yang kelihatan, belum tentu yang
kenyataan. Indonesia itu negeri paling sufi.
Buktinya, pendidikan di Australia saja di subsidi
(lihat artikel di bawah). Itu baru Australia,
belum lagi Amerika, Inggris dan semua negeri yang
mengaku adi daya. Dibanding Indonesia, tidak ada
apa-apanya.
Jadi, siapa bilang korupsi itu membawa cilaka.
Bukankah ia membawa devisa? Tidak percaya? Tanya
saja sana sama Singapura, Amerika dan Australia.
Mereka semua harus berterimakasih pada Ibu Mega
TeKa dan hakim-hakim akbar di MA.
PEMILU tinggal 30 hari lagi.
Yang Teramat Bangga Menjadi Indonesia,
Denny Indrayana
------------------
Australian Financial Review - March 5, 2004
Foreign Student Numbers Up
By Chelsey Martin
The $5 billion overseas student market continues
to grow solidly, with foreign enrolments in local
schools, universities, and vocational training
facilities increasing by 11 per cent in the past 12
months.
New data released by the federal government
yesterday revealed international enrolments grew to
303,324 in 2003, up from 273,855 in 2002.
The sector has become one of Australia's largest
export industries, ranking ahead of wool and close
to wheat in national earnings figures.
Yesterday's data will provide some much-needed
reassurance for education providers amid widespread
speculation Australia's attraction to foreign
students has been on the decline.
This has been attributed to strong competition
from European and Asian universities offering
English-language degrees and the problem of a
rising Australian dollar.
Universities experienced the strongest growth
during the period, with enrolments in the tertiary
sector up 17 per cent.
School enrolments followed close behind, growing
by 15 per cent, but vocational education and
training and English-language student numbers
increased by just 4 per cent.
According to the figures, Asia remains the
strongest market for Australian educators,
particularly
China, Hong Kong and Indonesia, which accounted
for 103,541 enrolments between them.
The largest growth market last year was India,
which grew by 26.6 per cent over the period to
14,386
students, but in a further positive sign for the
sector, interest from the Middle East and Africa
also grew by 22 per cent, while North American
enrolments increased by 13 per cent.
The federal government yesterday also revealed it
had bowed to pressure to improve transitional
support for the University of Western Sydney.
In an interview on Sydney radio station 2UE, the
Minister for Education, Brendan Nelson, said UWS
would receive an additional $2 million and 200
extra science places to help it cope with the
introduction of the new higher education funding
system, which distributes funding based on the
specific courses institutions offer.
"[The] University of Western Sydney will not only
not lose a single dollar of taxpayer funding
[under the new system], it will get an extra $2
million from the transition," he said.
A spokesman for the university said it had yet to
receive details of the additional funding, but the
minister's recognition that the university was
"critically important" was encouraging.
The latest sweetener from Dr Nelson is unlikely to
completely appease UWS vice-chancellor Janice
Reid, who has argued the cash-strapped sector
would be better off without the government's reform
package.
Overseas student enrolments in Australia from our
top 10 source countries
Country 2002 2003 change
China 47,931 57,579 20.1%
Hong Kong 22,091 23,803 7.7%
South Korea 18,658 22,159 18.8%
Indonesia 20,985 20,336 -3.1%
Malaysia 17,530 19,779 12.8%
Japan 17,329 18,987 9.6%
Thailand 15,643 17,025 8.8%
India 11,364 14,386 26.6%
USA 11,064 12,189 10.2%
Singapore 12,062 11,843 -1.8%
Other countries 79,198 85,238 7.6%
Total 273,855 303,324 10.8%
Source: The Department of Education Science and
Training
bohong benar. Indonesia negara kaya raya. Negeri
makmur-subur, damai-sentosa. Indonesia hanya
pura-pura miskin; pura-pura banyak utang;
pura-pura banyak teroris; pura-pura banyak
masalah. Sejatinya, Indonesia adalah negeri paling
bahagia di seluruh dunia, di seantero jagat raya.
Dunia yang mengira Indonesia miskin, tertipu.
Mereka hanya melihat kulit, tidak melihat isi.
Dunia terpana tampilan luar fisik Indonesia yang
coreng-moreng-bopeng, padahal itu hanya topeng.
Sebenarnya Indonesia bukan negeri gepeng
(gelandangan pengemis), tapi bangsa yang
keren-mentereng.
Indonesia itu negeri luar biasa kaya-raya.
Buktinya, punya utang 134,9 miliar AS pada akhir
2003, tenang-tenang saja (Kompas, 4 Maret 2004).
Malah dengan unjuk gigi, berutang lebih banyak
lagi. Agar negara kaya senang hati. Indonesia
pura-pura miskin, untuk baik budi.
Pengangguran 39,3 juta, no problem sama sekali
(Kompas, 5 Maret 2004). Kalau perlu, pengangguran
ditambah terus-menerus. Yang sudah bekerja, di PHK
saja. Karena PHK itu sebenarnya di Indonesia
adalah jurus mulus memberi fulus. Mau cepat kaya?
Minta di PHK saja. Dijamin, uang berat milyaran
Rupiah cepat masuk kantong. Tidak percaya? Tanya
sana pada pekerja BPPN yang kena “PHK”. Meski
prestasi tidak seberapa, bahkan cenderung menjadi
co-koruptor saja, BPPN-toh mesti di apresiasi
juga. Pejabatnya, di lindungi dengan kekebalan
hukum agar tidak bisa dituntut setelah puas
menurut, puas menjadi abdi sahaya, pada
penguasa-pengusaha yang minggat berobat – tapi tak
kunjung bertobat – di manca-negara.
Indonesia itu bangsa emas. Hanya emaslah yang
terus diuji, diasah. Kalau batu cadas, ketemu
langsung dibuang. Indonesia emas, bukan cadas.
Indonesia adalah jamrud khatulistiwa. Meski
dimana-mana ada bencana. Itu semua bukan laknat.
Itu semua nikmat, berkat yang diturunkan dalam
bentuk yang tidak memikat.
Gempa bumi di Nabire, itu nikmat. Banjir di
Jakarta itu rahmat. Flu burung di Jawa-Bali itu
berkat. Demam berdarah di Indonesia adalah bukti
bangsa ini hebat. Kalau negeri lain kalang-kabut
menghadapi semua itu. Indonesia, santai dan
damai-damai saja. Televisi tetap sarat menyajikan
hiburan yang menggoyang pantat.
Mau tahu resepnya Indonesia begitu hebat? Hanya
satu kata: TAAT. Pemimpin Indonesia semua
terhormat-bermartabat. Bayangkan saja, koruptor di
Indonesia itu agamanya, waduh…luar biasa kuat!
Sholatnya, tak pernah tinggal. Puasa Senin-Kamis,
selalu dijajal. Fakir-miskin, sering mendapat
hadiah massal. Istighfar, selalu dilafal. Supaya
semua ibadah itu jadi contoh-tauladan,
disiarkanlah oleh televisi secara nasional.
Itu baru kelasnya koruptor. Tentu, kelas
alim-ulama Indonesia jauh lebih mulia. Makanya
banyak calon presiden yang demam pesantren. Meski
hanya bertandang menjelang dead line. Seandainya
saja Pemilu tiap harian. Tentu pesantren akan
kebanjiran orderan. Meski KPU pasti ogah beneran,
karena kebayang pusing tujuh putaran, memikirkan
kotak suara dan kertasnya yang tak juga sampai ke
tujuan.
Di Indonesia agama itu difahami amat hakiki. Agama
itu ada, dikala orang tidak perlu mengingatnya.
Orang yang beragama, tidak perlu selalu pamer
keberagamaannya. Jika perlu, pura-pura saja lupa.
Sholat-puasa biasa, korupsi juga jalan apa-adanya.
Demikian juga deologi. Itukan mainan menjelang
pemilu yang paling layak di jual-beli. Paling
mudah dibungkus rapi. Otak dibungkus pikiran
libertarian; mulut dihias nyanyian agamawan;
tangan di sarungi kebiasaan fasis; perut dibaluti
ajaran kapitalis; dan bawah perut mengobral goyang
liberal (provoked by Anies Baswedan).
Ah…sudahlah. Pokoknya Indonesia itu tidak bisa
dilihat dengan mata biasa. Adanya, seperti
tiadanya. Yang kelihatan, belum tentu yang
kenyataan. Indonesia itu negeri paling sufi.
Buktinya, pendidikan di Australia saja di subsidi
(lihat artikel di bawah). Itu baru Australia,
belum lagi Amerika, Inggris dan semua negeri yang
mengaku adi daya. Dibanding Indonesia, tidak ada
apa-apanya.
Jadi, siapa bilang korupsi itu membawa cilaka.
Bukankah ia membawa devisa? Tidak percaya? Tanya
saja sana sama Singapura, Amerika dan Australia.
Mereka semua harus berterimakasih pada Ibu Mega
TeKa dan hakim-hakim akbar di MA.
PEMILU tinggal 30 hari lagi.
Yang Teramat Bangga Menjadi Indonesia,
Denny Indrayana
------------------
Australian Financial Review - March 5, 2004
Foreign Student Numbers Up
By Chelsey Martin
The $5 billion overseas student market continues
to grow solidly, with foreign enrolments in local
schools, universities, and vocational training
facilities increasing by 11 per cent in the past 12
months.
New data released by the federal government
yesterday revealed international enrolments grew to
303,324 in 2003, up from 273,855 in 2002.
The sector has become one of Australia's largest
export industries, ranking ahead of wool and close
to wheat in national earnings figures.
Yesterday's data will provide some much-needed
reassurance for education providers amid widespread
speculation Australia's attraction to foreign
students has been on the decline.
This has been attributed to strong competition
from European and Asian universities offering
English-language degrees and the problem of a
rising Australian dollar.
Universities experienced the strongest growth
during the period, with enrolments in the tertiary
sector up 17 per cent.
School enrolments followed close behind, growing
by 15 per cent, but vocational education and
training and English-language student numbers
increased by just 4 per cent.
According to the figures, Asia remains the
strongest market for Australian educators,
particularly
China, Hong Kong and Indonesia, which accounted
for 103,541 enrolments between them.
The largest growth market last year was India,
which grew by 26.6 per cent over the period to
14,386
students, but in a further positive sign for the
sector, interest from the Middle East and Africa
also grew by 22 per cent, while North American
enrolments increased by 13 per cent.
The federal government yesterday also revealed it
had bowed to pressure to improve transitional
support for the University of Western Sydney.
In an interview on Sydney radio station 2UE, the
Minister for Education, Brendan Nelson, said UWS
would receive an additional $2 million and 200
extra science places to help it cope with the
introduction of the new higher education funding
system, which distributes funding based on the
specific courses institutions offer.
"[The] University of Western Sydney will not only
not lose a single dollar of taxpayer funding
[under the new system], it will get an extra $2
million from the transition," he said.
A spokesman for the university said it had yet to
receive details of the additional funding, but the
minister's recognition that the university was
"critically important" was encouraging.
The latest sweetener from Dr Nelson is unlikely to
completely appease UWS vice-chancellor Janice
Reid, who has argued the cash-strapped sector
would be better off without the government's reform
package.
Overseas student enrolments in Australia from our
top 10 source countries
Country 2002 2003 change
China 47,931 57,579 20.1%
Hong Kong 22,091 23,803 7.7%
South Korea 18,658 22,159 18.8%
Indonesia 20,985 20,336 -3.1%
Malaysia 17,530 19,779 12.8%
Japan 17,329 18,987 9.6%
Thailand 15,643 17,025 8.8%
India 11,364 14,386 26.6%
USA 11,064 12,189 10.2%
Singapore 12,062 11,843 -1.8%
Other countries 79,198 85,238 7.6%
Total 273,855 303,324 10.8%
Source: The Department of Education Science and
Training
____________________________________________________ Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: http://groups.or.id/mailman/options/rantau-net ____________________________________________________
