Wa'alaikum salam wr.wb. Dalam konteks apakah pertanyaan ini...? Kalau bicara hitam-putih yang ada cuma kholik dan makhluk, maka tentu saja kalau bukan kholik tentulah makhluk. Jelas dalam konteks ini Al-Qur'an adalah bukan kholiq yaitu makhluk
Pasti dengan argumentasi ini akan timbul pernyataan selanjutnya , bahwa kalau makhluk maka tentulah tidak sempurna sebagaimana makhluk2 lainnya yang mengalami hukum alam / sunatulllah. Yang berubah rubah, yang muda menjadi tua, yang tua menjadi mati....( walau banyak juga bayi yang mati...heheh..) Namun kalau kita lihat secara hakikatnya, Alqur'an adalah firman Allah yang terangkum dan dijanjikan sendiri oleh Allah akan dilindungi dan tak akan berubah. Disini benar2 terletak kepada keimanan seseorang, kalau iman kepada firman Allah tersebut, maka tentulah tak perlu adanya kritik mengenai hermeneutika tersebut. wassalam Adrisman ----- Original Message ----- From: "basrihasan" <[EMAIL PROTECTED]> To: <[EMAIL PROTECTED]>; "Komunitas MINANGKABAU (Urang Awak) Pertama di Internet (sejak 1993)" <[EMAIL PROTECTED]> Sent: Tuesday, March 09, 2004 4:29 AM Subject: Re: [EMAIL PROTECTED] jilbab, tubuh dan seksualitas > Assalamu'alaikum wr. wb. > > Sekarang saya yang tanya: Al-Quran itu makgluk atau bukan? > > Salam > > SBN > ----- Original Message ----- > From: Ronald P. Putra <[EMAIL PROTECTED]> > To: Komunitas MINANGKABAU Pertama di Internet <[EMAIL PROTECTED]> > Sent: Tuesday, March 09, 2004 3:53 PM > Subject: Re: [EMAIL PROTECTED] jilbab, tubuh dan seksualitas > > > > semoga bermanfa'at.... > > Jurnal Pemikiran Islam 'ISLAMIA', Jawaban Terhadap Pemikiran Islam Sekuler > dan Liberal > > Publikasi: 08/03/2004 10:49 WIB > > eramuslim - Gerakan sekularisme (gerakan anti nilai-nilai Islami atau > pemisahan nilai-nilai agama dengan dunia) yang digulirkan oleh mereka yang > mengklaim diri sebagai (Islam) Liberal menjadi ancaman serius umat Islam > Indonesia. Pasalnya, gerakan ini bakal mengikis habis upaya penerapan > nilai-nilai Islami dalam kehidupan sosial, politik, budaya, hukum dan > sebagainya. Bahkan, mereka mengangggap teks Al-Qur'an itu harus dikritik > (hermeneutika) sebagaimana Bible dikritik oleh para teolog Kristen. > Akibatnya, ayat-ayat Al-Qur'an yang muhkamat menjadi mutasyabihat, yang > qath'iy menjadi dzanny, yang ma'lum menjadi majhul, yang yaqin menjadi > dzanny, dan selanjutnya. Singkatnya, Al-Qur'an dianggap tidak suci lagi > sebagaimana Bible dan Taurat diselewengkan pemeluknya sendiri. > > Menghadapi gerakan kaum Liberal, para pemuja tradisi Barat itu, sejumlah > ilmuwan muda dari International Institute of Islamic Thougth and > Civilatition (ISTAC) International Islamic University of Malaysia (IIUM) > meluncurkan jurnal pemikiran dan peradaban Islam dengan nama "ISLAMIA." > Jurnal tiga bulanan ini dimaksudkan untuk meng-counter- isu-isu atau > wacana-wacana miring tentang Al-Qur'an, Sya'riah Islam, Hadis Nabi Saw, dan > lain-lainnya. > > "Tantantangan sekulurisme di Indonesia lebih serius dan berbahaya dibanding > di Malaysia. Santri-santri pondok pesantren sudah kena virus sekularisasi. > Para petinggi ormas Islam dan perguruan tinggi juga banyak yang terjebak > dengan ide-ide atau isu-isu yang diimpor dari para orintalis itu,"ujar dewan > redaksi Adian Husaini MA. > > Adian, yang juga mahasiswa S3 ISTAC, itu mengaku heran dan kaget dengan > sikap para tokoh Islam yang begitu mudah mengekor teori-teori Barat. "Kenapa > mereka tidak kritis dengan ide-ide Barat itu,"sambungnya. Dalam kunjungannya > ke beberapa kampus dalam acara "Workshop Pemikiran dan Peradaban Islam", > banyak mahasiswa dan guru besar di Universitas Islam Negeri (UIN) di Jakarta > maupun Yogyakarta dan tokoh Muhammdiyah yang secara mentah-mentah mengadopsi > ide-ide itu. "Mereka ini harus diberi pencerahan. Karena yang mereka kutip > untuk dijadikan rujukan itu hanya satu sumber saja,"tuturnya. > > DR. Ugi Suharto, dosen ISTAC, menyatakan, upaya mereka mengkritik Al-Qur'an > dengan cara hermeneutik adalah dalam rangka menjatuhkan validitas Al-Qur'an. > "Dan ini tidak menguntungkan kaum Muslimin,"tutur anggota dewan redaksi > ISLAMIA itu. Para kaum liberal mengikuti jejak para teolog dan orientalis > itu lantaran mereka tidak paham betul dengan sejarah hermeutika Bible. > "Mereka mau mensejajarkan nash Al-Qur'an dengan Bible. Padahal sejarahnya > berbeda,"sambung doktor ekonomi yang fasih tentang ulumul Qur'an dan Hadis. > > Direktur Utama ISLAMIA Eddy Setiawan berharap, dengan lahirnya ISLAMIA Barat > juga mengakui kontribusi Islam terhadap peradaban dunia. "Saat ini ada upaya > dari kalangan Barat untuk mengatakan bahwa Islam tak punya andil dalam > pembangunan,"paparnya. Ia menambahkan, ISLAMIA akan terbit terus. Jadi ini > bukan yang pertama dan bukan yang terakhir. (na/sf) > > http://www.eramoslem.com/br/ns/43/9479,1,v.html ____________________________________________________ Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: http://groups.or.id/mailman/options/rantau-net ____________________________________________________
