Bicara ttg demokrasi tentu saja tak perlu dan tak bisa
ada kesimpulan. tapi alangkah lebih baiknya jika kita
bicara tentang cara pandang dan cara pikir dalam
mengelola persoalan sendiri, yaitu persoalan kita
dalam bernegara. Bicara ttg demokrasi, theokrasi atau
monarki atau apapun tentulah hanyalah sebuah kumpulan
ide2 dan usul yg teramat banyak. tapi sungguh cukup
sedikit dan sempit utk mampu mengelola persoalan kita.


Tidak peduli apakah itu demokrasi islam, demokrasi
terpimpin, demokrasi liberal ataupun demokrasi
pancasila. mengadopsi atribut sama saja mengebiri diri
sendiri. tentu tidak akan begitu sesuai dg persoalan
yg dihadapi. jangankan pilihan2 yg saya sebutkan
diatas, bahkan dengan mengeneralisir pilihan menjadi
demokrasi sajapun tak akan cukup membantu kita
menghadapi persoalan yg ada. entah kenapa kita harus
memilih2 system yg sesuai dari yg telah ada tersebut.
kenapa tidak kita sebut saja bahwa system bernegara
kita adalah "abcd". tidak perduli apakah "abcd" itu
berbentuk demokrasi atau apapun. atau bahkan tak
berbentuk sekalipun (setidaknya tidak sama dg bentuk2
yg ada) akan tetapi merupakan suatu yg lahir dari
kesadaran objektifitas dari berkomunitas/bernegara itu
sendiri yg dilandasi niat baik dan tujuan2 yg tentu
merupakan tujuan yg sesungguhnya dan tidak hanya jadi
hiasan seminar2 atau buku2 panduan sekolah serta
aturan2 yg tak pernah diterapkan. tapi sebuah tujuan
kolektif yg meresap dalam komunitas itu sendiri.

Spt halnya demokrasi itu sendiri yg merupakan ide
mutakhir dijaman kuno dulu. dia pun lahir dari
kebutuhan dan tuntutan ideal masyarakat yg ada. dan
jgn pernah disamakan masyarakat yg sekarang dg
masyarakat saat itu. dan jgn pula membahas contoh2
bodoh yg sangat tidak berguna dibahas seperti
"demokrasi2" yg ada di negara2 lain. bukankah kalau
kita lihat negara2 yg ada didunia ini jauh lebih
banyak yg terkebelakang daripada yg maju. dan yg maju
selalu merupakan produk dari system kepercayaan diri
yg mengekspresikan kebutuhan mereka sendiri yg tentu
tidak akan persis sama dg negara atau komunitas lain.
bahkan keterperangkapan kita akan kata negarapun harus
dikoreksi dulu sebelum memikirkan system yg sesuai
itu. mungkin seluruh persepsi hrs ditata ulang agar
kita bener tau apa itu yg kita butuhkan.

Sedikit lagi komentar tentang "demokrasi". perlu kita
sadari juga bahwa kenaifan kolektif lain yg kita
lakukan adalah menyempitnya ruang fikir system
bernegara itu menjadi lebih banyak terpaku pada
pemilihan kepemimpinan belaka. bahkan jika kita
berani, tak ada pemimpin pun tak apa2 asal ada
fundament yg tepat dan benar yg menyusun syestem yg
sesuai. dan mohon jgn didebat bahwa pendapat saya
dalam paragraf ini keliru dg mengatakan bahwa memang
ada kenaifan kolektif ttg perspektif demokrasi yg
banyak terfokus hanya pada pemilihan kepemimpinan.
bagi anda2 mungkin tidak demikian tapi tolong periksa
pemahaman dominan yg ada di kepala masyarakat umum.

hal lain yg mungkin juga perlu dilihat ulang adalah
cara bernegara itu sendiri. jika berpijak pada teori2
primitif bahwa negara adalah masyarakat, wilayah dan
pengelola organisasi negara itu sendiri maka ya..
maaf2 saja bahwa kita akan tetap berada dalam
keterperangkapan tradisional yg ada. karena
sesungguhnya saat ini kita tidak sedang diskusi ttg
ketatatnegaraan tapai lebih jauh adalah ttg komunitas.
jadi mahon maaf pada para akademisi yg berlatar
tatanegara bahwa tolong simpan ilmu anda dan mari kita
bicara komunitas. 

tak ada yg perlu tersimpulkan dari obrolan ini karena
ini hanyalah sebuah anjuran sederhana agar kita keluar
dari segala perangkap disiplin yg ada. pengetahuan
kadang2 membuat org yg tidak pintar menjadi makin
bodoh. dan pengetahuan lebih banyak hanya membebani
otak dan pikiran belaka. 

dan jangan pula ada yg tersinggung akibat gaya bahasa
dan cara mengemukakan pikiran. setiap pilihan kata dan
susuanan kalimat tentu ada maksudnya. dan seluruh
maksud insya allah saya landasi niat baik.


salam,


--- "   -- (*o*) --" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> 
> ----- Original Message ----- 
> From: "yanto_piboda" <[EMAIL PROTECTED]>
> 
> Demokrasi di Indonesia juga bukan merupakan konsep
> tunggal.Sebelum demokrasi Pancasila kita mengenal
> demokrasi  Parlementer dan Terpimpin.Telah saya
> katakan bahwa bicara ttg demokrasi artinya bicara
> ttg banyak aliran pemikiran. Dan setiap demokrasi yg
> pernah berlangsung mempunyai ciri-ciri sendiri yg
> merupakan variasi dari sejarah perkembangan
> sebelumnya. Dalam perode demokrasi parlementer,
> cirinya adalah besarnya pernan partai2 politik
> melalui parlemen.  Dalam periode ini kebinet jatuh
> bangun dalam rentang usia yg tidak panjang.
> Bayangkan, pambangunan apa yg bisa dilakukan bila
> sebuah kabinet hanya berumur 5 bulan untuk kemudian
> diganti oleh kabinet lainya. Terus karena gak puas
> sebagai sebagai rubberstramp president belaka karena
> pemerintahan dijalan oleh perdana mentri, Sukarno
> muncul dg ide demokrasi terpimpinnya.Nah, disini
> kedaan terbalik, Presiden punya kekuasaan begitu
> besar hingga bisa membubarkan DPR hasil pemilu.
> Daaann...Sekarang, demokrasi Pancasila.......Sebagai
> sebuah demokrasri kontitusi Pancasila ini sudah
> bagus, walau agak nyebalin dg melarang adanya
> oposisi, tapi konsep musyawarah untuk mencapai
> mufakatnya lebih dari lumayan. Mungkin karena
> landasan semangat kekeluargaan ini barangkalai,
> mengapa setiap pengusa di Indonesia lebih suka
> mengabdi pada keluarga dan kelompoknya ketimbang
> kepada kita, masyarakat Indonesia.
> 
> So, kesimpulan, bicara ttg demokrasi sama seperti
> bicara ttg kebenaran in persfective on beholder, dia
> bisa melar kemanapun tanpa bisa diputuskan. Saya
> jadi ingat kata-kata Buddha, do not believe in
> anything simply because you have heard it. Do not
> believe in anything simply because it is spoken and
> rumored by many.  Do not believe in anything merely
> on the authority of your teachers and elders. Do not
> believe in traditions because they have been handed
> down for many generations. But after observation and
> analysis, when you find that anything agrees with
> reason and is conducive to the good and benefit of
> one and all, then accept it and live up to it. Jadi,
> bila Sehhan punya konsep baru ttg bernegara, telinga
> saya sangat terbuka untuk mendengarkan.
> 
> Segitu saja, Om Piboda. Nice talking to you...
> 
> Wassalam,
> 
> --Gm



        
                
__________________________________
Do you Yahoo!?
Yahoo! Movies - Buy advance tickets for 'Shrek 2'
http://movies.yahoo.com/showtimes/movie?mid=1808405861 
____________________________________________________
Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: 
http://groups.or.id/mailman/options/rantau-net
____________________________________________________

Kirim email ke