Anak Bunuh Ibu Kandung Dipukul Pakai Kayu, Lalu Dibakar Hidup-hidup
By posmetro
Selasa, 27-April-2004, 16:06:31 WIB 21 klik

MANINJAU, METRO
Legenda kedurhakaan Malin Kundang sudah terkenal ke seantero jagad Nusantara
ini, tapi kasus yang terjadi di Kabupaten Agam ini nampaknya lebih durhaka
ketimbang Malin Kundang.

Sebab, dalam legenda Malin Kundang disebutkan karena Malin Kundang yang
pulang setelah kaya raya tidak lagi mengakui ibunya, tapi peristiwa tragis
yang terjadi di dusun Rambai II Koto, Koto Gadang Kecamatan Tanjuang Raya
ini justru lebih kejam dari kisah Maling Kundang ini.
Buktinya, seorang anak yang dijaga dan diperhatikan dengan sungguh-sungguh
oleh ibunya, justru menghabisi ibunya sendiri dengan cara memukul dengan
kayu hingga pingsan, setelah terjatuh langsung dibakar hidup-hidup. Karena
tak ada teriakan histeris dari korban, maka dengan mulus anak durhaka itu
membakar tubuh ibu kandungnya hingga jadi abu. Gilanya lagi, setelah tubuh
ringkih nan tua itu jadi abu, justru dibiarkan saja diterbangkan angin kian
kemari bersama abu kayu bekas pembakarannya.
Terungkapnya kisah sedih yang menimpa Nurniah (69) ini, baru Senin (26/04),
ketika salah seorang kakak "Jnd" pulang dari rantau dan menanyakan
keberadaan ibu kandungnya. Ketika ditanya kakaknya itu, "Jnd" bingung yang
kemudian dilaporkan kepada pihak berwajib bahwa ibunya hilang. Tapi akhirnya
perbuatan terkutuk pelaku diungkap setelah adanya kecurigaan dari kakak
pelaku Senin (26/04). Sebab, selama tiga malam berturut-turut, tubuh yang
tak berdaya itu selalu dibakar guna menghilangkan jejak. Seiring dengan itu
pula, Senin (26/04), "Jnd" sianak durhaka itu langsung diciduk tim buser
Polres Agam yang dibantu tim buser Polsek Tanjung Raya.
Menurut pengakuan anak durhaka itu kepada penyidik yang memeriksanya di
kantor polisi menyebutkan, pembakaran tubuh Nurniah (69), menurut "Jnd"
dimulai pada Minggu (18/04) lalu sekitar pukul 01.00 WIB, kemudian berlanjut
sampai tiga malam berturut-turut. Sedangkan pada siang harinya tersangka
masih terlihat biasa-biasa saja.
Informasi yang dihimpun POSMETRO menyebutkan, korban Nurniah (69) selama ini
tinggal berdua bersama "Jnd" yang merupakan pelaku utama pembunuhan terhadap
korban. Mereka tinggal di sebuah rumah semi permanen di perkampuangan yang
rumah penduduk tidak seberapa.
"Jnd" merupakan anak ke-7 dari delapan bersaudara. Sudah lama ibu dan anak
itu tinggal bersama, sedangkan kakaknya pergi merantau yang diantaranya
adalah ke Duri, Pekan Baru. Alasan pelaku tidak pergi merantau, karena
dirinya membutuhkan perawatan sebab menderita sakit gula yang kronis. Itu
pulalah sebabnya, dalam menjalani hidup keseharian pola makannya perlu
diatur, karena tidak punya uang untuk perawatan, maka pengaturan makan itu
diambil alih wanita tua itu.
Tidak Senang Diatur
Sebagai ibu yang melahirkannya, tentu saja Nurniah memberikan perhatian yang
cukup sehingga setiap hari makan sibuah hati dikontrol meskipun ia telah
berumur dewasa. Tapi ternyata, ketatnya penjagaan siibu berbuah petaka.
Sebab, sianak durhaka dari dusun Rambai II Koto itu tidak senang, kalau ia
selalu diatur oleh ibunya sendiri. Padahal, perhatian siibu kepadanya
semata-mata demi kepentingan dirinya, demi menjaga kesehatannya. Dan niat
jahat-pun muncul dibenaknya.
Akhirnya niat jahat itu dilakukannya pada Minggu (18/04) sekitar pukul 01.00
WIB. Ketika itu korban Nuriah pergi ke belakang buang air besar, dan pelaku
membuntuti dari belakang. Begitu sampai dekat jenjang belakang rumah akan
masuk ke dapur, "Jnd" memukul ibunya dengan menggunakan sebuah kayu sehingga
sang ibu jatuh pingsan. Melihat ibunya tidak berdaya pelaku bukannya
memberikan pertolongan, melainkan mengambil kain usang dan kayu yang mudah
terbakar.
Kain usang dan kayu yang mudah terbakar itu diletakkan di atas ibunya dan
kemudian disiram dengan minyak tanah di luar dekat jenjang dapur belakang
rumah. Api langsung membakar tubuh korban dan baju yang dikenakan korban
sehingga korban tewas dan tubuhnya mengecil. Melihat tubuh itu belum juga
habis dimakan api, pelaku kembali mengulangi membakar tubuh ibunya malam
berikutnya hingga sampai berturut-turut tiga malam sampai akhirnya tubuh
Nurniah, ibu kandung korban hangus terbakar menjadi abu. Yang tinggal hanya
tulang belulang korban.
Dengan terbakarnya tubuh korban hingga jadi abu, pelaku membiarkan tulang
belulang yang sudah terbakar itu tertumpuk dalam tempat sampah di tempat
pembakaran, begitu juga abu bekas kayu yang dipakai.
Menurut pengakuan pelaku kepada pihak penyidik, setelah ibunya tewas dan
tidak nampak lagi oleh warga, ada tetangga yang bertanya kepadanya karena
orangtunya tidak kelihatan lagi. Saat itu ia mengatakan kalau ibunya pergi
ke tempat kakaknya di Duri, Pekanbaru.
Tapi ibarat kata pepatah, sepandai-pandainya menyimpan bangkai, yang busuk
itu pasti berbau juga. Dan itulah yang terjadi pada diri "Jnd". Salah
seorang kakaknya pulang ke kampung dan menanyakan keberadaan ibunya, karena
ibunya tidak ditemui kemudian dilaporkan ke Polsek Tanjung Raya.
Menerima laporan ini pihak Polsek melakukan pengumpulan data dan fakta di
lapangan sebagaimana diungkapkan oleh Kapolres Agam AKBP Drs.Untung Subagyo
melalui Kapolsek Tanjung Raya Iptu Lilik S. Namun pada Senin pagi saudara
korban curiga melihat adanya sisa pembakaran di belakang rumah dan melihat
ada tulang-tulang yang kemudian memberi tahu pihak berwajib.
Menerima laporan ini anggota Polsek Tanjung raya turun kelapangan bersama
dengan anggota Satreskrim Polres Agam dipimpin oleh Kasat Reskrim AKP Anggon
Salazar T, yang kemudian menciduk pelaku. Saat diringkus, pelaku sempat
menangis seakan menyesali perbuatan yang telah dilakukannya. Tapi, apa boleh
buat, anak durhaka yang tak tahu diuntung itu akhirnya digiring masuk sel
Mapolres Agam.
Kapolres Agam AKBP Drs.Untung Subagyo kepada POSMETRO membenarkan kejadian
ini dan pelaku sekarang sudah diamankan di Polsek Tanjung Raya guna
pengusutan lebih lanjut. Menurutnya, pihak kepolisian akan terus
mengembangkan kasus ini hingga tuntas, dan kasus ini merupakan kasus yang
tergolong menonjol di tahun 2004 ini . (d)
========================

Pengakuan Pelaku Pembakar Ibu Kandung "Setiap Hari Saya Diberi Nasi Sedikit"
By posmetro
Selasa, 27-April-2004, 16:03:11 WIB 21 klik

MANINJAU, METRO
Ternyata motif pembunuhan ibu kandung yang berakhir dengan pembakaran yang
dilakukan oleh "Jnd" (23) bermotifkan dendam san sakit hati. Ia sakit hati
dan dendam kepada ibu kandungnya itu, karena selalu diberi nasi sedikit oleh
korban. "Saya selalu diberi nasi sedikit oleh ibu", akunya kepada pihak
penyidik kemarin.

Padahal, kalau dirunut kepada dirinya sendiri, "Jnd" menderita sakit gula
yang kornis yang perlu penanganan tim medis, tapi karena terbentur biaya
maka pelaku hanya dirawat ibu kandungnya. Tapi, kenapa sampai ia tega
menghabisi ibu kandungnya dengan sadis, polisi masih mengembangkan kasus
ini.
Sementara itu dari keluarga korban sendiri belum diperoleh keterangan yang
resmi, namun informasi menyebutkan kalau pelaku menderita sakit gula yang
disinyalir juga ada komplikasi penyakit lain,sehingga pelaku tidak bisa
disuguhkan makan yang banyak atau seenaknya. Sebab dikuatirkan, penyakit
pelaku kambuh dan yang akan menderita dia sendiri.
Informasi lain yang diperoleh menyangkut jiwa atau gangguan pikiran korban
juga belum bisa dipastikan, karena menurut sebahagian informasi kalau korban
mengalami stress karena sudah lama menderita sakit gula sehingga makan
sehari-hari harus ditakar. Sedangkan disisi lain diperoleh kalau pelaku
mengalami gangguan jiwa namun tidak begitu berat.
Berdasarkan investigasi POSMETRO, ketika ditanya oleh petugas di Polsek
Tanjung Raya, tersangka menjawab pertanyaan terkadang lurus dan terkadang
agak bertele-tele sehingga petugas sedikit kelabakan saat melakukan
introgasi kepada pelaku.
Kapolres Agam AKBP Drs. Untung Subagyo yang dikonfirmasikan POSMETRO tentang
kemungkinan pelaku mengalami gangguan jiwa ini menyebutkan, kalau sekarang
pihaknya belum dapat memastikan apakah pelaku mengalami gangguan jiwa atau
tidak. Namun yang pasti hingga kemarin terus dilakukan penyidikan dan juga
pengembangan kasus ini.
Untuk memastikan apakah pelaku mengalami ganguan jiwa atau bukan, pihak
Polres Agam akan melakukan koordinasi ke Polda Sumbar supaya dilakukan
pemeriksaan terhadap tersangka. " Kita akan berkoordinasi dengan Polda agar
pelaku diperiksa dulu apakah pelaku mengalami ganguan jiwa atau tidak,"
katanya yang kemudian juga menyebutkan kalau hingga kemarin indikasi
tersebut belum ada.
Hingga kemarin pihak kepolisian telah menyita beberapa barang bukti di
lokasi pembakaran berupa potongan baju long dress yang diduga dipakai
korban, abu sisa pembakaran dan kayu sisa pembakaran serta barang bukti
lainnya yang mendukung pihak kepolisian untuk mengungkap kasus ini.
Keluarga korban yang mengetahui segera melakukan pengumpulan terhadap
abu-abu sisa pembakaran dan melakukan penguburan. Hingga kemarin suasana di
rumah duka cukup haru dan tegang. Namun terhadap kasus ini nampaknya pihak
keluarga dalam pengungkapannya menyerahkan segala sesuatunya kepada pihak
kepolisian. (d )
====================================


____________________________________________________
Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: 
http://groups.or.id/mailman/options/rantau-net
____________________________________________________

Kirim email ke