Assalamualaikum Wr.Wb
Sanak Sehan yang terhormat,
Maaf saya kurang bisa menangkap maksud
Sehan wrote :
bicara dan diskusi akal dalam kata2 dan logika dasar
tentu sama halnya dengan berkaca tanpa cermin.
Jika berkenan mungkin sanak bisa menguraikan sedikit, sehingga bisa menambah ilmu bagi saya
Untuk Sanak Ahmad Ridha,
Maafkan saya kalau pertanyaan saya membuat sanak tidak nyaman,
Terus terang tulisan anda tentang akal (walau itu menurut anda artikel orang lain) menarik minat saya, karena sering saya berhadapan, bertemu atau membaca, tentang hal ini. Pada umum-nya (sekali lagi pada umumnya) kaum agamawan (apapun itu: Islam, Kristen, dll) cenderung menganggap akal atau pemikiran, sebagai sesuatu hal yang bertentang dengan agama (baca : kepercayaan), bahkan seringkali ketika ada yang mempertanyakan sesuatu tentang kepercayaan, langsung saja di hujat sebagai anti Tuhan, sirik, atau paling bagus dengan ucapan, � Udahlah percaya saja, toh orang lain dan atau orang2 dulu gak pernah ribut, kamu aja yang rese�.
Apalagi kalau ada yang coba mempertanyakan kepercayaan agama dengan ilmu pengetahuan yang sudah sangat berkembang sekarang ini, tambah repot lagi.
Sementara itu di sisi lain kaum rasionalis dan saintis, mengambil posisi yang berlawanan dengan kaum agamawan, yang menganggap kaum agamawan hanya pemimpi, yang tidak mau menggunakan akalnya bahkan cenderung mengambil keuntungan dari para pengikut mereka.
Tapi ini hanyalah sebuah pertanyaan, atau pendapat or what ever�, Kenapa pertanyaan ini saya ajukan kepada sanak karena saya tahu sanak mempunyai referensi yang sangat banyak, seperti kata pepatah Minang, Minta tuah ka nan manang, Baraja ka nan sudah dan saya pikir sanak adalah orang yang berkompeten dalam hal ini.
Thanx
Wassalam
Yanto Piboda
Btw : maksud sanak mengutip (QS. al-Baqarah 2:216) apa ya jadi takut, ada perang2 segala,,,, peas ah
Ahmad Ridha <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
S.Sehan writes:
> maaf ikutan dikit nih.
> bicara dan diskusi akal dalam kata2 dan logika dasar
> tentu sama halnya dengan berkaca tanpa cermin. jadi
> mudah2an tak terulang pada polemik tradisional yg
> sudah2.
>
Itulah alasan saya agak bingung jika harus menjelaskan lagi dengan kata-kata
saya sendiri dan saya juga khawatir terjatuh dalam debat kusir. Telah jelas
di dalam kutipan yang saya kirimkan terutama dalam ucapan 'Ali bin Abi
Thalib:
"Andaikata agama itu cukup dengan ra’yu (akal), maka bagian bawah khuf
(alas kaki) lebih utama untuk diusap daripada bagian atasnya. Aku
benar-benar melihat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengusap
bagian atas khuf-nya."
Perlu saya perjelas lagi bahwa yang saya kirimkan bukanlah uraian saya
pribadi namun merupakan kutipan dari buku seorang ulama (yang saya peroleh
di Internet). Isinya pun sebagian besar bukanlah pendapat pribadi beliau
namun merupakan atsar-atsar (ucapan-ucapan) dari para shahabat Rasulullah
radhiallahu 'anhum.
Mohon maaf jika ada kesalahan atau kurang berkenan.
Wassalaamu 'alaikum warahmatullahi wabarakaatuh,
Ahmad Ridha ibn Zainal Arifin ibn Muhammad Hamim
(l. 1980 M/1400 H)
Allah subhanahu wata'ala berfirman (yang artinya):
"Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang
kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu,
dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu;
Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui." (QS. al-Baqarah 2:216)
____________________________________________________
Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke:
http://groups.or.id/mailman/options/rantau-net
____________________________________________________
Do you Yahoo!?
SBC Yahoo! - Internet access at a great low price.
____________________________________________________ Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: http://groups.or.id/mailman/options/rantau-net ____________________________________________________
