piboda yanto writes:

Assalamualaikum Wr.Wb

Wa 'alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh


Pada umum-nya (sekali lagi pada umumnya) kaum agamawan (apapun itu: Islam, Kristen, dll) cenderung menganggap akal atau pemikiran, sebagai sesuatu hal yang bertentang dengan agama (baca : kepercayaan), bahkan seringkali ketika ada yang mempertanyakan sesuatu tentang kepercayaan, langsung saja di hujat sebagai anti Tuhan, sirik, atau paling bagus dengan ucapan, Â Udahlah percaya saja, toh orang lain dan atau orang2 dulu gak pernah ribut, kamu aja yang reseÂ.

Yang saya ketahui akal memang bermanfaat bagi manusia berfikir dan menunjang kehidupannya. Tidaklah dikatakan bahwa semua yang dari akal adalah buruk. Akan tetapi dari yang saya pahami dari ucapan 'Ali bin Abi Thalib radhiallahu 'anhu adalah bahwa dalam penggunaan akalnya, manusia wajib selalu tunduk kepada perintah Allah dan Rasul-Nya yang sampai kepada kita melalui dalil-dalil yang sah.


Dalam atsar beliau, disebutkan bahwa andaikata agama itu cukup dengan akal tentunya yang lebih utama untuk diusap adalah bagian bawah khuf karena di situlah tempat kotoran berkumpul. Akan tetapi ternyata yang disyari'atkan adalah pengusapan bagian atas khuf. Oleh karena itu dalil harus diutamakan atas pendapat akal.

Atau contoh lain yang mungkin serupa, haramnya daging babi saya rasa umat Islam sepakat karena jelas disebutkan dalam al-Qur'an (QS. 16:115). Ada yang mengatakan bahwa daging babi diharamkan karena ternyata di dalamnya terdapat banyak sumber penyakit mis. cacing pita, dll. Dengan jika kemajuan teknologi kemudian sumber-sumber penyakit tersebut dapat dihilangkan, apakah lantas daging babi menjadi tidak haram karena menurut akal sumber kemudharatan sudah hilang? Tentu tidak karena dalilnya berlaku secara mutlak (kecuali keadaan darurat yang merupakan masalah berbeda). Di sini akal harus tunduk walaupun sebagian orang mengatakan bahwa babi memiliki beberapa kelebihan dari segi ekonomis.

Adapun alasan saya mengutipkan ayat tentang kewajiban jihad bukanlah maksudnya saya mengajak perang. Akan tetapi di sini terlihat jelas perintah Allah untuk taat dan tidak mengikuti akal dan perasaan kita sendiri dalam mengambil keputusan. Manusia memiliki sifat lemah lembut sehingga tidak menyukai peperangan namun Allah mewajibkan jihad karena sesungguhnya ada kebaikan di dalamnya. Bagaimanakah kita akan mempertahankan diri jika kita tidak siap membela diri?

Selanjutnya Allah mengingatkan kita (yang artinya):
"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui." (QS. al-Baqarah 2:216)


Mengapakah akal manusia harus tunduk kepada perintah Allah dan Rasul-Nya padahal akal membantu manusia dalam kehidupannya? Ingatlah firman Allah subhanahu wa ta'ala (yang artinya):
"Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu, dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepada-Nya lah kamu akan dikumpulkan." (QS. al-Anfaal 8:24)


Ternyata Allah memerintahkan kita untuk memenuhi seruan Allah dan Rasul-Nya karena akan memberi kemaslahatan dan menunjuki kita kepada kebenaran.

Yang tercela adalah menentang setelah jelas dalil-dalilnya (QS. 4:115). Ingat, tujuan kita diciptakan hanyalah untuk menyembah Allah (QS. 51:56).

seperti kata pepatah Minang, Minta tuah ka nan manang, Baraja ka nan sudah dan saya pikir sanak adalah orang yang berkompeten dalam hal ini.

Semoga Allah memberikan saya kebaikan yang disangkakan dan mengurangi keburukan-keburukan saya. Sungguh saya hanyalah seseorang yang berusaha menuntut ilmu dan masih sangat miskin di dalamnya. Itulah sebabnya saya berusaha menggunakan banyak referensi agar tidak terjebak dalam pendapat/hawa nafsu saya sendiri. Seperti halnya saat kita kuliah harus membuat tulisan ilmiah yang sesuai dengan 'dalil-dalil' tentunya lebih patut lagi bagi kita untuk tunduk pada dalil dari Hakim yang seadil-adilnya.


Semoga yang kita bicarakan di sini memberikan manfaat dan semoga Allah menghendaki kebaikan bagi kita semua.

Allahu a'lam bishshawab.

Ahmad Ridha ibn Zainal Arifin ibn Muhammad Hamim
(l. 1980 M/1400 H)



____________________________________________________
Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: http://groups.or.id/mailman/options/rantau-net
____________________________________________________

Kirim email ke