Ado nan mambaco Kompas hari Senin kapatang? Kabatulan tulisan Ambo dimuek. 
Iko nyoa.

Ambo juo ka pulang kampuang hari Jum'at malam pakai Kijang. Tapi alun ado 
stiker lai.

Salamaik bahari rayo, mohon maaf lahir batin.

Salam,


IJP
====================



Bangsa Yang Sekarat
Oleh
Indra J. Piliang

Apa yang dulu berperan besar membentuk Indonesia, dari tiada menjadi ada? 
Sebuah ide, tepatnya bangunan ide-ide yang ditumpuk-tumpuk menjadi kekuatan 
oleh elemen-elemen perjuangan nasional. Siapa yang paling berperanan di 
dalamnya? Siapa lagi kalau bukan cendekiawan yang bahu membahu dengan rakyat 
jelata. Halangan besar yang bernama kolonialisme, todongan senjata, dan 
minimnya dukungan internasional, dengan susah-payah berhasil dilewati ketka 
kemerdekaan sudah menjadi ide bersama.

Pasca jatuhnya Soeharto, ketika sejumlah cendekiawan yang selama Orde Baru 
berada di pinggiran kekuasaan, bahkan di penjara, memutuskan terjun ke 
politik, harapan perbaikan kehidupan bangsa kembali menyembul dalam pikiran 
saya. Saya berharap ada sesuatu yang dipertaruhkan, juga dipertarungkan, 
yaitu ide-ide besar guna melepaskan belitan krisis multi-demensional yang 
mencekik tubuh bangsa Indonesia. Saya berharap, mereka menyalakan obor-obor 
penerang bagi bangkitnya harapan rakyat, di tengah gelombang kegelapan 
nurani yang menutupi udara Indonesia. Cendekiawan, yang berfungsi mirip resi 
dalam negara-negara berkembang, tentu bisa menguak kabut gelap, dan 
mengundang datangnya sinaran matahari yang memberikan harapan bagi 
berkembangnya kehidupan.

Dengan kehadiran cendekiawan, politik tidak hanya sekedar persekongkolan 
merebut kekuasaan atas dasar  kepentingan kotak-kotak politik yang bernama 
partai.  Baju partai hanya dijadikan sebagai identitas pengenal, tanpa perlu 
memberatinya dengan muatan-muatan ideologis yang kalau tidak dibawakan 
dengan penuh ketelitian, bisa berakibat fatal bagi para pengikut politik 
yang fanatik. Dengan baju partai yang beraneka-warna itu, pluralisme 
mendapatkan lahannya, dan demokrasi menemukan tanah subur pasca kekeringan 
total dimasa rezim otoritarian Orde Baru.

Tapi apa yang saya temukan kini? Kekeringan ide-ide besar. Nyaris tak ada 
ide baru yang mengundang keterlibatan banyak pihak untuk mendiskusikannya, 
dan menjadikan ide itu sebagai tujuan bersama untuk melepaskan bangsa dari  
belitan krisis. Yang saya saksikan justru perebutan kekuasaan menjadi 
satu-satunya ide yang dijadikan lahan keroyokan oleh kalangan politisi kita. 
Padahal, selama lebih dari 38 tahun (1959-1998) kekuasaan menjadi sesuatu 
yang ditakuti, bahkan oleh kaum cendekiawan, saking seringnya digunakan 
untuk menindas manusia dan kemanusiaan. Kekuasaan juga membunuh ide-ide, dan 
memenjarakan pemikiran dan pemikirnya, seperti kita lihat dari banyaknya 
kaum pembangkang yang ditahan tanpa proses hukum yang layak. Kini kekuasaan 
yang menakutkan itu dicoba ditaklukkan oleh para politisi kita, untuk bisa 
digenggam, dan digunakan demi tujuan politik masing-masing.

Ketika ide-ide dasar terpuruk, dan kekuasaan menjadi tujuan, saat itu juga 
nasib bangsa dipertaruhkan. Siapapun yang menjadi politisi dan cendekiawan 
di masa sekarang, tentu diberi beban sejarah untuk menyelamatkan bangsa dari 
kehancurannya. Bagi politisi yang memegang kekuasaan, kita tentu berharap 
bahwa kekuasaan itu bisa digunakan semaksimal mungkin untuk menyelamatkan 
bangsa. Lebih-lebih bagi cendekiawan yang terjun ke politik, kekuasaan yang 
diraihnya harus bisa dijadikan sebagai alat untuk menebas kemiskinan, 
kebodohan, dan penyakit-penyakit sosial-budaya lainnya yang diidap bangsa 
ini. Pada saat politisi dan cendekiawan mengabaikan soal penting ini, maka 
sejarah akan mengutuk mereka sebagai orang pertama yang paling 
bertanggung-jawab atas tenggelamnya bangsa Indonesia ke kuburan sejarah.

***

Sebagai bangsa, kita tidak lagi mempunyai kebanggaan. Indonsia lebih mirip 
seperti animal farm (peternakan binatang), daripada sekumpulan orang-orang 
beradab yang memiliki peradaban tinggi. Sebagai bangsa, kita saling 
membunuh, atas nama apapun, dan dengan cara apapun. Siapapun yang hidup di 
Indonesia sekarang, terutama para politisi dan cendekiawan, mempunyai 
kontribusi atas pembunuhan demi pembunuhan itu. Kalau pelaku pembunuhan 
menggunakan pedang atau senapan, para politisi dan cendekiawan menggunakan 
kata-kata dan pena. Media juga punya peranan, sekecil apapun, karena turut 
menyebarkan kata-kata dan pena politisi dan cendekiawan ke medan-medan 
pertempuran.

Pembunuhan bukan sekedar pelampiasan dendam yang menahun, tetapi sudah 
menjadi bagian dari kebiasaan, yang lama-kelamaan bisa menjadi bagian dari 
budaya bangsa Indonesia. Soalnya budaya dibentuk berdasarkan kebiasaan. 
Kebiasaan membunuh itu sebetulnya bukan perilaku masyarakat yang baru sama 
sekali, karena pernah dipraktekkan pasca G 30 S/PKI. Pembunuhan menjadi 
sesuatu yang menurut pendapat awam dibolehkan, kalau yang dibunuh itu adalah 
pelaku kejahatan. Kebiasaan ini, dalam Islam, disebut Qisas, yaitu utang 
nyawa bayar nyawa. Tetapi apa yang terjadi dalam komunitas bangsa ini jauh 
dari hukum-hukum agama, karena yang dibunuh dan dibakar belum tentu seorang 
pembunuh. Sekali pembunuhan menjadi kebiasaan, sulit sekali menghentikannya, 
karena perilaku ini ibarat kita membangunkan zombie. Ketika kita tak mampu 
memberikan suguhan darah lagi kepada zombie itu, maka ia akan membunuh kita. 
Zombie-zombie berwujud manusia itulah yang sekarang bergentayangan dalam 
masyarakat kita.

Sebagai bangsa kita tak lagi mempunyai rasa saling percaya. Rasa saling 
tidak percaya itu ditunjukkan dengan sangat telanjang oleh elite politik, 
dan merembes ke masyarakat bawah. Padahal, bangsa ini dibentuk atas dasar 
saling percaya antara kaum pergerakan yang beragam ideologi, etnis, pemiran, 
dan latar belakang sejarah. Ketika rasa saling percaya hilang, yang tersisa 
hanyalah rasa curiga. Kecurigaan memperbesar perselisihan dan konflik yang 
sebetulnya kecil. Rasa curiga berbeda dengan kritisisme, karena kritisisme 
dibangun atas dasar  keakuratan data, dan keinginan untuk memperbaiki 
keadaan dari sesuatu yang kita kritik.

Sebagai bangsa kita sedang sekarat. Kita sekarat karena kehilangan banyak 
darah, akibat pembunuhan demi pembunuhan. Kita sekarat karena kemiskinan dan 
kelaparan yang melanda daerah-daerah bencana. Kita sekarat karena tak ada 
lagi ide-ide yang ditawarkan para politisi di panggung politik. Kita juga 
sekarat karena belitan kekuasaan makin mencekik nafas kita. Seperti Gibran 
yang menangisi proses kematian yang melanda bangsanya karena kelaparan, kita 
juga patut menangis. Bangsa ini mati, pelan-pelan, bukan karena perang 
melawan para agresor. Bangsa ini mati bukan karena ditenggelamkan oleh 
Tuhan, seperti Fir'aun atau seperti benua Atlantis. Bangsa ini mati karena 
kesalahan manusianya sendiri, dan karena manusianya itu tidak belajar dari 
kesalahannya. Bangsa ini mati karena dipimpin oleh manusia-manusia berjiwa 
kerdil, yang mempertaruhkan nasib rakyat di ujung tanduk.

Dan nanti, di alam akherat, kita semua harus bertanggung-jawab atas kematian 
ini. Yang paling besar memegang kekuasaan, tentu mempunyai 
pertanggung-jawaban paling besar pula. Sedangkan rakyat kecil yang mati 
kelaparan, mungkin lebih tepat diberi ganjaran yang layak, karena mereka 
memang hanyalah akibat dari kelalaian politisi dan cendekiawannya.

Jakarta, Medio Ramadhan, 2000.

_________________________________________________________________________
Get Your Private, Free E-mail from MSN Hotmail at http://www.hotmail.com.


RantauNet http://www.rantaunet.com
=================================================
Mendaftar atau berhenti menerima RantauNet Mailing List di
http://www.rantaunet.com/subscribe.php3

Atau kirimkan email
Ke / To: [EMAIL PROTECTED]
Isi email / Messages, ketik pada baris/kolom pertama:
- mendaftar: subscribe rantau-net [email_anda]
- berhenti: unsubscribe rantau-net [email_anda]
Ket: [email_anda] = isikan alamat email anda tanpa tanda kurung
=================================================
WebPage RantauNet http://www.rantaunet.web.id dan Mailing List RantauNet
adalah servis dari EEBNET http://eebnet.com, Airland Groups, USA
=================================================

Kirim email ke