Uda Indra J. Piliang di milis rantaunet,
Sabana manyentuh, iko ambo kirimkan pulo ka lapau sabalah., nan di
meja ambo kini Kompas salasa patang.
Tarimokasih kiriman ka milis ko.
Untuak stiker, ambo raso bisa juo disalekkan saketek di kaco suok,
nan pantiang ado merek "rantaunet", jo karateh se pun indak baa doh, kalau
nampak akan ambo sapo, untuk pambukak ota...
Salam
Elthaf Bagindo
> ----------
> From: Indra J. Piliang[SMTP:[EMAIL PROTECTED]]
> Reply To: [EMAIL PROTECTED]
> Sent: 20 Desember 2000 12:05
> To: [EMAIL PROTECTED]
> Subject: [RantauNet] Bangsa Yang Sekarat
>
> Ado nan mambaco Kompas hari Senin kapatang? Kabatulan tulisan Ambo dimuek.
>
> Iko nyoa.
>
> Ambo juo ka pulang kampuang hari Jum'at malam pakai Kijang. Tapi alun ado
> stiker lai.
>
> Salamaik bahari rayo, mohon maaf lahir batin.
>
> Salam,
>
>
> IJP
> ====================
>
>
>
> Bangsa Yang Sekarat
> Oleh
> Indra J. Piliang
>
> Apa yang dulu berperan besar membentuk Indonesia, dari tiada menjadi ada?
> Sebuah ide, tepatnya bangunan ide-ide yang ditumpuk-tumpuk menjadi
> kekuatan
> oleh elemen-elemen perjuangan nasional. Siapa yang paling berperanan di
> dalamnya? Siapa lagi kalau bukan cendekiawan yang bahu membahu dengan
> rakyat
> jelata. Halangan besar yang bernama kolonialisme, todongan senjata, dan
> minimnya dukungan internasional, dengan susah-payah berhasil dilewati
> ketka
> kemerdekaan sudah menjadi ide bersama.
>
> Pasca jatuhnya Soeharto, ketika sejumlah cendekiawan yang selama Orde Baru
>
> berada di pinggiran kekuasaan, bahkan di penjara, memutuskan terjun ke
> politik, harapan perbaikan kehidupan bangsa kembali menyembul dalam
> pikiran
> saya. Saya berharap ada sesuatu yang dipertaruhkan, juga dipertarungkan,
> yaitu ide-ide besar guna melepaskan belitan krisis multi-demensional yang
> mencekik tubuh bangsa Indonesia. Saya berharap, mereka menyalakan
> obor-obor
> penerang bagi bangkitnya harapan rakyat, di tengah gelombang kegelapan
> nurani yang menutupi udara Indonesia. Cendekiawan, yang berfungsi mirip
> resi
> dalam negara-negara berkembang, tentu bisa menguak kabut gelap, dan
> mengundang datangnya sinaran matahari yang memberikan harapan bagi
> berkembangnya kehidupan.
>
> Dengan kehadiran cendekiawan, politik tidak hanya sekedar persekongkolan
> merebut kekuasaan atas dasar kepentingan kotak-kotak politik yang bernama
>
> partai. Baju partai hanya dijadikan sebagai identitas pengenal, tanpa
> perlu
> memberatinya dengan muatan-muatan ideologis yang kalau tidak dibawakan
> dengan penuh ketelitian, bisa berakibat fatal bagi para pengikut politik
> yang fanatik. Dengan baju partai yang beraneka-warna itu, pluralisme
> mendapatkan lahannya, dan demokrasi menemukan tanah subur pasca kekeringan
>
> total dimasa rezim otoritarian Orde Baru.
>
> Tapi apa yang saya temukan kini? Kekeringan ide-ide besar. Nyaris tak ada
> ide baru yang mengundang keterlibatan banyak pihak untuk mendiskusikannya,
>
> dan menjadikan ide itu sebagai tujuan bersama untuk melepaskan bangsa dari
>
> belitan krisis. Yang saya saksikan justru perebutan kekuasaan menjadi
> satu-satunya ide yang dijadikan lahan keroyokan oleh kalangan politisi
> kita.
> Padahal, selama lebih dari 38 tahun (1959-1998) kekuasaan menjadi sesuatu
> yang ditakuti, bahkan oleh kaum cendekiawan, saking seringnya digunakan
> untuk menindas manusia dan kemanusiaan. Kekuasaan juga membunuh ide-ide,
> dan
> memenjarakan pemikiran dan pemikirnya, seperti kita lihat dari banyaknya
> kaum pembangkang yang ditahan tanpa proses hukum yang layak. Kini
> kekuasaan
> yang menakutkan itu dicoba ditaklukkan oleh para politisi kita, untuk bisa
>
> digenggam, dan digunakan demi tujuan politik masing-masing.
>
> Ketika ide-ide dasar terpuruk, dan kekuasaan menjadi tujuan, saat itu juga
>
> nasib bangsa dipertaruhkan. Siapapun yang menjadi politisi dan cendekiawan
>
> di masa sekarang, tentu diberi beban sejarah untuk menyelamatkan bangsa
> dari
> kehancurannya. Bagi politisi yang memegang kekuasaan, kita tentu berharap
> bahwa kekuasaan itu bisa digunakan semaksimal mungkin untuk menyelamatkan
> bangsa. Lebih-lebih bagi cendekiawan yang terjun ke politik, kekuasaan
> yang
> diraihnya harus bisa dijadikan sebagai alat untuk menebas kemiskinan,
> kebodohan, dan penyakit-penyakit sosial-budaya lainnya yang diidap bangsa
> ini. Pada saat politisi dan cendekiawan mengabaikan soal penting ini, maka
>
> sejarah akan mengutuk mereka sebagai orang pertama yang paling
> bertanggung-jawab atas tenggelamnya bangsa Indonesia ke kuburan sejarah.
>
> ***
>
> Sebagai bangsa, kita tidak lagi mempunyai kebanggaan. Indonsia lebih mirip
>
> seperti animal farm (peternakan binatang), daripada sekumpulan orang-orang
>
> beradab yang memiliki peradaban tinggi. Sebagai bangsa, kita saling
> membunuh, atas nama apapun, dan dengan cara apapun. Siapapun yang hidup di
>
> Indonesia sekarang, terutama para politisi dan cendekiawan, mempunyai
> kontribusi atas pembunuhan demi pembunuhan itu. Kalau pelaku pembunuhan
> menggunakan pedang atau senapan, para politisi dan cendekiawan menggunakan
>
> kata-kata dan pena. Media juga punya peranan, sekecil apapun, karena turut
>
> menyebarkan kata-kata dan pena politisi dan cendekiawan ke medan-medan
> pertempuran.
>
> Pembunuhan bukan sekedar pelampiasan dendam yang menahun, tetapi sudah
> menjadi bagian dari kebiasaan, yang lama-kelamaan bisa menjadi bagian dari
>
> budaya bangsa Indonesia. Soalnya budaya dibentuk berdasarkan kebiasaan.
> Kebiasaan membunuh itu sebetulnya bukan perilaku masyarakat yang baru sama
>
> sekali, karena pernah dipraktekkan pasca G 30 S/PKI. Pembunuhan menjadi
> sesuatu yang menurut pendapat awam dibolehkan, kalau yang dibunuh itu
> adalah
> pelaku kejahatan. Kebiasaan ini, dalam Islam, disebut Qisas, yaitu utang
> nyawa bayar nyawa. Tetapi apa yang terjadi dalam komunitas bangsa ini jauh
>
> dari hukum-hukum agama, karena yang dibunuh dan dibakar belum tentu
> seorang
> pembunuh. Sekali pembunuhan menjadi kebiasaan, sulit sekali
> menghentikannya,
> karena perilaku ini ibarat kita membangunkan zombie. Ketika kita tak mampu
>
> memberikan suguhan darah lagi kepada zombie itu, maka ia akan membunuh
> kita.
> Zombie-zombie berwujud manusia itulah yang sekarang bergentayangan dalam
> masyarakat kita.
>
> Sebagai bangsa kita tak lagi mempunyai rasa saling percaya. Rasa saling
> tidak percaya itu ditunjukkan dengan sangat telanjang oleh elite politik,
> dan merembes ke masyarakat bawah. Padahal, bangsa ini dibentuk atas dasar
> saling percaya antara kaum pergerakan yang beragam ideologi, etnis,
> pemiran,
> dan latar belakang sejarah. Ketika rasa saling percaya hilang, yang
> tersisa
> hanyalah rasa curiga. Kecurigaan memperbesar perselisihan dan konflik yang
>
> sebetulnya kecil. Rasa curiga berbeda dengan kritisisme, karena kritisisme
>
> dibangun atas dasar keakuratan data, dan keinginan untuk memperbaiki
> keadaan dari sesuatu yang kita kritik.
>
> Sebagai bangsa kita sedang sekarat. Kita sekarat karena kehilangan banyak
> darah, akibat pembunuhan demi pembunuhan. Kita sekarat karena kemiskinan
> dan
> kelaparan yang melanda daerah-daerah bencana. Kita sekarat karena tak ada
> lagi ide-ide yang ditawarkan para politisi di panggung politik. Kita juga
> sekarat karena belitan kekuasaan makin mencekik nafas kita. Seperti Gibran
>
> yang menangisi proses kematian yang melanda bangsanya karena kelaparan,
> kita
> juga patut menangis. Bangsa ini mati, pelan-pelan, bukan karena perang
> melawan para agresor. Bangsa ini mati bukan karena ditenggelamkan oleh
> Tuhan, seperti Fir'aun atau seperti benua Atlantis. Bangsa ini mati karena
>
> kesalahan manusianya sendiri, dan karena manusianya itu tidak belajar dari
>
> kesalahannya. Bangsa ini mati karena dipimpin oleh manusia-manusia berjiwa
>
> kerdil, yang mempertaruhkan nasib rakyat di ujung tanduk.
>
> Dan nanti, di alam akherat, kita semua harus bertanggung-jawab atas
> kematian
> ini. Yang paling besar memegang kekuasaan, tentu mempunyai
> pertanggung-jawaban paling besar pula. Sedangkan rakyat kecil yang mati
> kelaparan, mungkin lebih tepat diberi ganjaran yang layak, karena mereka
> memang hanyalah akibat dari kelalaian politisi dan cendekiawannya.
>
> Jakarta, Medio Ramadhan, 2000.
>
> _________________________________________________________________________
> Get Your Private, Free E-mail from MSN Hotmail at http://www.hotmail.com.
>
>
> RantauNet http://www.rantaunet.com
> =================================================
> Mendaftar atau berhenti menerima RantauNet Mailing List di
> http://www.rantaunet.com/subscribe.php3
>
> Atau kirimkan email
> Ke / To: [EMAIL PROTECTED]
> Isi email / Messages, ketik pada baris/kolom pertama:
> - mendaftar: subscribe rantau-net [email_anda]
> - berhenti: unsubscribe rantau-net [email_anda]
> Ket: [email_anda] = isikan alamat email anda tanpa tanda kurung
> =================================================
> WebPage RantauNet http://www.rantaunet.web.id dan Mailing List RantauNet
> adalah servis dari EEBNET http://eebnet.com, Airland Groups, USA
> =================================================
>
RantauNet http://www.rantaunet.com
=================================================
Mendaftar atau berhenti menerima RantauNet Mailing List di
http://www.rantaunet.com/subscribe.php3
Atau kirimkan email
Ke / To: [EMAIL PROTECTED]
Isi email / Messages, ketik pada baris/kolom pertama:
- mendaftar: subscribe rantau-net [email_anda]
- berhenti: unsubscribe rantau-net [email_anda]
Ket: [email_anda] = isikan alamat email anda tanpa tanda kurung
=================================================
WebPage RantauNet http://www.rantaunet.web.id dan Mailing List RantauNet
adalah servis dari EEBNET http://eebnet.com, Airland Groups, USA
=================================================