Assalamu'alaikum WW

Untuak adidunsanak sadonyo...khususnyo sanak Indra, apokoh iko adolah salah satu caro sanak untuak menyelamatkan "Bangsa yang sekarat" ini ?????..., dan kalau buliah tau, apo rencana sanak salanjuiknyo untuak menyelamatkan "Bangsa yang sekarat" ini ? Bukannyo labiah elo mampelok-i dari dalam daripado dari lua ??? dan ambo juo ingin klarifikasi baraso iko bukan karano "indak mandapek"....dan khususnyo sanak Indra...apokah nan mandasari sanak dulu ikuik PAN ?? atau manarimo manjadi fungsionaris PAN ? kok kini indak amuah lai ??

Kalau manuruik ambo iko adolah pretensi buruak untuak pendidikan perpolitikan , di saat rakyat harok , di wakatu itu pulo kalua move-move politik dari urang nan diharok-kannyo.

Dan babaliak ka sanak Indra..., mungkin tulisan sanak di Kompas babarapo wakatu nan lalu itu nan paralu sanak baco baliak....dan memang sanak labiah maju dibandiang ambo dengan sanak memang mamulai karir perpolitikan dari Kandidat Ketua Umum SM-UI di tahun 1990-an, taruih jadi kulumnis dengan artikel-artikel di beberapa tabloid dan surek kaba... taruih manjadi fungsionaris di salah satu partai setelah era reformasi .... sampai kini mengundurkan diri dari jabatan tersebut... dibandiang ambo nan hanyo mambaco dan berkomentar

Ambo mungkin mewakili dunsanak nan lain nan ingin tau...sakurangnyo untuak sanak nan ado di Balerong iko..

Wassalam

Z Chaniago - Palai Rinuak -- (Bukan pemilih dan simpatisan PAN, hanya peduli )

http://www.mediaindo.co.id/cetak/news.asp?id=2001012200095871

Faisal Basri dan 15 Pengurus Resmi Keluar dari PAN
Media Indonesia - Umum (22/01/2001 00:09 WIB)

JAKARTA (Media): Ketua DPP PAN Faisal Basri bersama 15 orang pengurus DPP lainnya resmi keluar dari partai berlambang matahari itu.
Wakil Sekjen PAN Bara Hasibuan membacakan surat pengunduran diri yang ditandatangani secara bersama oleh 16 orang itu di Jakarta, kemarin.

Pengurus yang mengundurkan diri adalah Arif Arryman (Ketua Komisi Ekonomi Keuangan dan Industri), Toety Herati Nurhadi (Fungsioanaris dan pendiri), K Sindhunata (Majelis Pertimbangan Partai), M Nawir Messi (Ketua Komisi Sumber Daya Alam, Energi Kelautan, dan Lingkungan Hidup), Bernadus Djono Putro (Ketua Departemen Pembinaan PAN Luar Negeri), dan Amir Sidharta (Ketua Departemen Jaringan Kerja Budaya).

Selain itu, Nanang S Dirdja (Fungsionaris Departemen Antar Lembaga Budaya), Indra J Piliang (Fungsionaris Departemen Pengembangan Seni dan Budaya), Sigit Mursidi (Fungsionaris Departemen Hubungan Kerja Sama Luar Negeri), Irham Dilmi (Fungsionaris Departemen Hubungan Kerja Sama Luar Negeri), Sjahrial Djalil (Fungsioanaris Depertemen Kampanye dan Penggalangan Massa), Dandi Ramdani (Fungsioanaris Komisi Ekonomi Keuangan dan Industri), Leon Agusta (Fungsionaris Pengembangan Seni dan Budaya), dan Rubiana Fadjar (Fungsionaris Departemen Sumber Daya Perempuan).

Menurut Faisal, pengunduran diri itu tidak didasarkan kepada kekecewaan terhadap individu atau kelompok tertentu dalam PAN. "Pengunduran diri ini dilakukan karena banyaknya kebijakan politik partai yang sering berlawanan dengan platform partai dan tidak sejalan dengan agenda reformasi," katanya.

"Pengunduran diri ini bukan berarti tidak konsisten terhadap perjuangan teman-teman yang sama-sama mendirikan PAN. Tapi ini kami lakukan karena kami sudah sangat terluka dan kami tidak ingin terluka lagi, makanya kami mengundurkan diri," kata Faisal.

Bara Hasibuan menambahkan, belum ada rencana akan ke mana setelah mengundurkan diri. "Yang jelas proses demokratisasi dapat dilakukan melalui berbagai wadah politik. Tetapi wadah tersebut harus mampu mendukung percepatan demokratisasi. Tentunya kami nantinya akan memilih institusi yang sejalan dengan kami," jelas Bara.

Dalam wawancara dengan Metro TV, kemarin, Faisal menegaskan, partai yang dipimpin Amien Rais itu sudah tidak konsisten lagi pada perjuangan menegakkan reformasi.

"PAN sudah melenceng jauh dari ide dasar pendiriannya dulu, yakni memperjuangkan reformasi. Selain itu, penegakan budaya demokrasi dalam tubuh partai ini sangat lemah dan para pengambil keputusan tidak mematuhi aturan-aturan partai. PAN juga mendukung peran militer dalam kehidupan politik, yang tentu saja berlawanan dengan prinsip reformasi. Itulah yang menyebabkan kami keluar," katanya.

Menurut Faisal, ia tidak ada masalah secara pribadi dengan pimpinan PAN yang lain, termasuk dengan Amien Rais. "Hubungan secara pribadi tidak ada masalah, yang saya perangi adalah perilaku. Kalau perilaku korup, pendukung Orba harus kita lawan. Bukan sama orangnya, tetapi perilakunya," tegas Faisal


>From: "Indra J. Piliang" <[EMAIL PROTECTED]>
>IJP
>====================
>Bangsa Yang Sekarat
>Oleh
>Indra J. Piliang
>
>Apa yang dulu berperan besar membentuk Indonesia, dari tiada menjadi
>ada?
>Sebuah ide, tepatnya bangunan ide-ide yang ditumpuk-tumpuk menjadi
>kekuatan
>oleh elemen-elemen perjuangan nasional. Siapa yang paling berperanan
>di
>dalamnya? Siapa lagi kalau bukan cendekiawan yang bahu membahu
>dengan rakyat
>jelata. Halangan besar yang bernama kolonialisme, todongan senjata,
>dan
>minimnya dukungan internasional, dengan susah-payah berhasil
>dilewati ketka
>kemerdekaan sudah menjadi ide bersama.
>
>Pasca jatuhnya Soeharto, ketika sejumlah cendekiawan yang selama
>Orde Baru
>berada di pinggiran kekuasaan, bahkan di penjara, memutuskan terjun
>ke
>politik, harapan perbaikan kehidupan bangsa kembali menyembul dalam
>pikiran
>saya. Saya berharap ada sesuatu yang dipertaruhkan, juga
>dipertarungkan,
>yaitu ide-ide besar guna melepaskan belitan krisis multi-demensional
>yang
>mencekik tubuh bangsa Indonesia. Saya berharap, mereka menyalakan
>obor-obor
>penerang bagi bangkitnya harapan rakyat, di tengah gelombang
>kegelapan
>nurani yang menutupi udara Indonesia. Cendekiawan, yang berfungsi
>mirip resi
>dalam negara-negara berkembang, tentu bisa menguak kabut gelap, dan
>mengundang datangnya sinaran matahari yang memberikan harapan bagi
>berkembangnya kehidupan.
>
>Dengan kehadiran cendekiawan, politik tidak hanya sekedar
>persekongkolan
>merebut kekuasaan atas dasar kepentingan kotak-kotak politik yang
>bernama
>partai. Baju partai hanya dijadikan sebagai identitas pengenal,
>tanpa perlu
>memberatinya dengan muatan-muatan ideologis yang kalau tidak
>dibawakan
>dengan penuh ketelitian, bisa berakibat fatal bagi para pengikut
>politik
>yang fanatik. Dengan baju partai yang beraneka-warna itu, pluralisme
>mendapatkan lahannya, dan demokrasi menemukan tanah subur pasca
>kekeringan
>total dimasa rezim otoritarian Orde Baru.
>
>Tapi apa yang saya temukan kini? Kekeringan ide-ide besar. Nyaris
>tak ada
>ide baru yang mengundang keterlibatan banyak pihak untuk
>mendiskusikannya,
>dan menjadikan ide itu sebagai tujuan bersama untuk melepaskan
>bangsa dari
>belitan krisis. Yang saya saksikan justru perebutan kekuasaan
>menjadi
>satu-satunya ide yang dijadikan lahan keroyokan oleh kalangan
>politisi kita.
>Padahal, selama lebih dari 38 tahun (1959-1998) kekuasaan menjadi
>sesuatu
>yang ditakuti, bahkan oleh kaum cendekiawan, saking seringnya
>digunakan
>untuk menindas manusia dan kemanusiaan. Kekuasaan juga membunuh
>ide-ide, dan
>memenjarakan pemikiran dan pemikirnya, seperti kita lihat dari
>banyaknya
>kaum pembangkang yang ditahan tanpa proses hukum yang layak. Kini
>kekuasaan
>yang menakutkan itu dicoba ditaklukkan oleh para politisi kita,
>untuk bisa
>digenggam, dan digunakan demi tujuan politik masing-masing.
>
>Ketika ide-ide dasar terpuruk, dan kekuasaan menjadi tujuan, saat
>itu juga
>nasib bangsa dipertaruhkan. Siapapun yang menjadi politisi dan
>cendekiawan
>di masa sekarang, tentu diberi beban sejarah untuk menyelamatkan
>bangsa dari
>kehancurannya. Bagi politisi yang memegang kekuasaan, kita tentu
>berharap
>bahwa kekuasaan itu bisa digunakan semaksimal mungkin untuk
>menyelamatkan
>bangsa. Lebih-lebih bagi cendekiawan yang terjun ke politik,
>kekuasaan yang
>diraihnya harus bisa dijadikan sebagai alat untuk menebas
>kemiskinan,
>kebodohan, dan penyakit-penyakit sosial-budaya lainnya yang diidap
>bangsa
>ini. Pada saat politisi dan cendekiawan mengabaikan soal penting
>ini, maka
>sejarah akan mengutuk mereka sebagai orang pertama yang paling
>bertanggung-jawab atas tenggelamnya bangsa Indonesia ke kuburan
>sejarah.
>
>***
>
>Sebagai bangsa, kita tidak lagi mempunyai kebanggaan. Indonsia lebih
>mirip
>seperti animal farm (peternakan binatang), daripada sekumpulan
>orang-orang
>beradab yang memiliki peradaban tinggi. Sebagai bangsa, kita saling
>membunuh, atas nama apapun, dan dengan cara apapun. Siapapun yang
>hidup di
>Indonesia sekarang, terutama para politisi dan cendekiawan,
>mempunyai
>kontribusi atas pembunuhan demi pembunuhan itu. Kalau pelaku
>pembunuhan
>menggunakan pedang atau senapan, para politisi dan cendekiawan
>menggunakan
>kata-kata dan pena. Media juga punya peranan, sekecil apapun, karena
>turut
>menyebarkan kata-kata dan pena politisi dan cendekiawan ke
>medan-medan
>pertempuran.
>
>Pembunuhan bukan sekedar pelampiasan dendam yang menahun, tetapi
>sudah
>menjadi bagian dari kebiasaan, yang lama-kelamaan bisa menjadi
>bagian dari
>budaya bangsa Indonesia. Soalnya budaya dibentuk berdasarkan
>kebiasaan.
>Kebiasaan membunuh itu sebetulnya bukan perilaku masyarakat yang
>baru sama
>sekali, karena pernah dipraktekkan pasca G 30 S/PKI. Pembunuhan
>menjadi
>sesuatu yang menurut pendapat awam dibolehkan, kalau yang dibunuh
>itu adalah
>pelaku kejahatan. Kebiasaan ini, dalam Islam, disebut Qisas, yaitu
>utang
>nyawa bayar nyawa. Tetapi apa yang terjadi dalam komunitas bangsa
>ini jauh
>dari hukum-hukum agama, karena yang dibunuh dan dibakar belum tentu
>seorang
>pembunuh. Sekali pembunuhan menjadi kebiasaan, sulit sekali
>menghentikannya,
>karena perilaku ini ibarat kita membangunkan zombie. Ketika kita tak
>mampu
>memberikan suguhan darah lagi kepada zombie itu, maka ia akan
>membunuh kita.
>Zombie-zombie berwujud manusia itulah yang sekarang bergentayangan
>dalam
>masyarakat kita.
>
>Sebagai bangsa kita tak lagi mempunyai rasa saling percaya. Rasa
>saling
>tidak percaya itu ditunjukkan dengan sangat telanjang oleh elite
>politik,
>dan merembes ke masyarakat bawah. Padahal, bangsa ini dibentuk atas
>dasar
>saling percaya antara kaum pergerakan yang beragam ideologi, etnis,
>pemiran,
>dan latar belakang sejarah. Ketika rasa saling percaya hilang, yang
>tersisa
>hanyalah rasa curiga. Kecurigaan memperbesar perselisihan dan
>konflik yang
>sebetulnya kecil. Rasa curiga berbeda dengan kritisisme, karena
>kritisisme
>dibangun atas dasar keakuratan data, dan keinginan untuk
>memperbaiki
>keadaan dari sesuatu yang kita kritik.
>
>Sebagai bangsa kita sedang sekarat. Kita sekarat karena kehilangan
>banyak
>darah, akibat pembunuhan demi pembunuhan. Kita sekarat karena
>kemiskinan dan
>kelaparan yang melanda daerah-daerah bencana. Kita sekarat karena
>tak ada
>lagi ide-ide yang ditawarkan para politisi di panggung politik. Kita
>juga
>sekarat karena belitan kekuasaan makin mencekik nafas kita. Seperti
>Gibran
>yang menangisi proses kematian yang melanda bangsanya karena
>kelaparan, kita
>juga patut menangis. Bangsa ini mati, pelan-pelan, bukan karena
>perang
>melawan para agresor. Bangsa ini mati bukan karena ditenggelamkan
>oleh
>Tuhan, seperti Fir'aun atau seperti benua Atlantis. Bangsa ini mati
>karena
>kesalahan manusianya sendiri, dan karena manusianya itu tidak
>belajar dari
>kesalahannya. Bangsa ini mati karena dipimpin oleh manusia-manusia
>berjiwa
>kerdil, yang mempertaruhkan nasib rakyat di ujung tanduk.
>
>Dan nanti, di alam akherat, kita semua harus bertanggung-jawab atas
>kematian
>ini. Yang paling besar memegang kekuasaan, tentu mempunyai
>pertanggung-jawaban paling besar pula. Sedangkan rakyat kecil yang
>mati
>kelaparan, mungkin lebih tepat diberi ganjaran yang layak, karena
>mereka
>memang hanyalah akibat dari kelalaian politisi dan cendekiawannya.
>
>Jakarta, Medio Ramadhan, 2000.
>
 


Get your FREE download of MSN Explorer at http://explorer.msn.com

RantauNet http://www.rantaunet.com ================================================= Mendaftar atau berhenti menerima RantauNet Mailing List di http://www.rantaunet.com/subscribe.php3 ATAU Kirimkan email Ke / To: [EMAIL PROTECTED] Isi email / Messages, ketik pada baris/kolom pertama: - mendaftar: subscribe rantau-net [email_anda] - berhenti: unsubscribe rantau-net [email_anda] Ket: [email_anda] = isikan alamat email anda tanpa tanda kurung ================================================= WebPage RantauNet dan Mailing List RantauNet adalah servis dari EEBNET http://eebnet.com, Airland Groups, USA =================================================

Kirim email ke