Rekans

DI UFUK ADA FAJAR DI UFUK ADA HARAPAN

Hari ini Tanggal 1 Januari 2001, saat secara �de jure� diberlakukannya
desentralisasi dan otonomi daerah di republik tercinta. Di milis ini,
saat ini diibaratkan sebagai �Big Bang�, karena meminjam kembali
ungkapan rekan Piter �akan banyak sekali kekacauan yang akan timbul
dalam pelaksanaannya nanti...�.

Kapankah, dan berapa lama dibutuhkan untuk mencapai desentralisasi dan
otonomi daerah sebagai perwujudan demokrasi dan keadilan secara �de
facto� sejarah akan mencatat. Seperti apakah itu? Mungkin kita bisa
menggunakan beberapa indikator.

     1. Semakin kuat dan  dan berfungsinya perangkat demokrasi dan
     sehatnya �power sharing�: eksekutif, legislatif, pertisipasi
     masyarakat di daerah diikuti dengan semakin menurunnya
     demo-demo tidak berujung pangkal yang diikuti perusakan dan
     penjarahan;

     2. Meningkatnya pertumbuhan ekononomi di daerah-daerah yang
     diukur dengan pertumbuhan PDRB;

     3. Menurunnya angka unemployment atawa penggangguran;

     4. Yang sangat penting: membaiknya kemeratan pendapatan
     rumahtangga (household income), diukur dengan indeks
     kemerataan seperti ko-efisien Gini (dipujikan agar BPS
     memasukkan program pengukuran indeks kemerataan ke dalam
     program kerjanya)

Sejak Milis ini berdiri delapam bulan yang lalu, kita sudah banyak
berdiskusi seputar desentralisasi dan otonomi daerah; bahwa pesimisme
lebih banyak terlihat, termasuk �serial� Big Bang yang saya tulis, tentu
bukan karena  pesimisme kepada konsep desentralisasi dan otonomi daerah
itu sendiri, tetapi karena: (a) singkatnya persiapan, padahal kita
sedang berada dalam berbagai keterpurukan, (b) banyaknya lubang-lubang
pada UU Otda, yang bisa membawa petaka; dan (c) belum jelasnya visi dan
misi Pemerintah (baca: Presiden) mengenai hendak dibawa ke mana otda ini
(gitu aja kok repot).

Tetapi layar sudah terkembang, di depan badai menghadang pantang
pencalang kembali pulang. Di ufuk ada fajar di ufuk ada harapan. Paling
tidak di Milis ini kita tidak hanya �berbusa-busa�. Kita kutip dua
posting terbaru dari anggota kita:

     �Saya dan rekan sesama petani, sudah minta waktu kepada Pak
     Bupati untuk audiensi, (tapi belum ada jawaban aja) kami
     berniat menyampaikan pesan-pesan otda, khususnya menyampaikan
     keinginan kami untuk merdeka.  Lho, kok merdeka sih...? Iya,
     setelah puluhan tahun di bidang pertanian ini diberlakukan
     pembakuan yang sentralistik, mulai pembakuan sistem
     produksi/distribusi/penyanggaan, pembakuan wilayah, pembakuan
     program, pembakuan isntitusi petani, pembakuan institusi
     penyuluhan, pembakuan komoditi, pembakuan, kredit..., akhirnya
     pembakuan cara berpikir :). Nah, kami ingin agar peluang
     desentralisasi ini tidak menyampingkan desentralisasi bidang
     pertanian, sehingga kami bisa lebih bebas untuk menentukan
     produksi & komoditi, teknologi dan tentu saja kearifan
     tradisional kami� (Kang Obie, Sukabumi, 30/12/200);

Dan

     �Saya dan beberapa kawan yang peduli dengan petani nantinya
     punya rencana akan ngobrol tanggal 12 januari, setelah itu
     kita dan petani Sumatera Barat mulai merancang bahan hearing
     dengan legislatif di Sumbar� (Jpang, Padang, 30/12/200)

Ya,  di ufuk ada fajar di ufuk ada harapan, walau untuk mewujudkannya
butuh waktu, jalan berliku yang berkeringat. Negeri Belanda, yang
institusi, SDM dan administrasi pemerintahannya oke punya butuh waktu 20
tahun untuk menuntaskan desentralisasi dan otonomi daerahnya. Kita butuh
berapa tahun? Kalau kalkulasi seperti itu digunakan barangkali
Soekarno-Hatta tidak akan memproklamasikan Republik ini pada Tanggal 17
Agustus 1945. Tidak ada salahnya pada kesempatan ini kita mengutip
Ernest Renan yang sering dikutip Bung Hatta: �Hanya satu tanah yang
bernama tanah airku, dan dia hanya akan jaya karena usahaku�

Semoga dalam proses desentralisasi dan otonomi daerah ini, Merah Putih
tetap berkibar dari Sabang sampai Merauke, Merah Putih yang ramah, Merah
Putih yang untuk menegakkannya jangan lagi---sekali lagi---jangan lagi
menumpahkan darah anak-anak bangsa.

Dalam menutup Tahun 2000 dan memasuki Tahun 2001, saya yang waktu ini
mendapat amanat untuk menjadi Jamil atawa Penjaga Milis, dengan gembira
menyaksikan bahwa Milis yang didirikan Tanggal 18 April 2000 jumlah
anggota pada tutup Tahun 2000 sudah mencapai 145, tersebar di deluruh
INA dan mancanegara dengan statistik jumlah posting dalam tiga bulan
terkhir: 256, 417 dan 478. Di era desotda ini kiprah rekans dalam
menulis, menyampaikan unek-unek, berbagi pengetahuan dan pengalaman di
lapangan diharapkan semakin meningkat. Menulis apa saja boleh kok asal
dilandasi �dengan kearifan, kedewasaan dan berbasis intelektual�.

Akhirul kalam---bukan karena takut kena �pehaka�---saya ingin megutip
tulisan Bu Samil di Milis lain: �Milis Desentralisasi adalah "milis
belajar" dan "netral", yang tujuannya adalah untuk memotivasi peserta
berfikir kritis terhadap fenomena yang ada di sekitarnya. Karena kita
tahu bahwa kritis tanpa di landasi pola pikir yang  substansial, tidak
akan memecahkan persoalan, dan berakhir hanya dengan rasa putus asa atau
demo yang tidak bertujuan�

Selamat Tahun Baru 2001
Selamat Memasuki Era Baru Dengan Semangat Dan Pikiran Baru..

P.S. Naskah asli disiapkan untuk Milis Desentralisasi

Wassalam, Darwin Bahar


RantauNet http://www.rantaunet.com
=================================================
Mendaftar atau berhenti menerima RantauNet Mailing List di
http://www.rantaunet.com/subscribe.php3

Atau kirimkan email
Ke / To: [EMAIL PROTECTED]
Isi email / Messages, ketik pada baris/kolom pertama:
- mendaftar: subscribe rantau-net [email_anda]
- berhenti: unsubscribe rantau-net [email_anda]
Ket: [email_anda] = isikan alamat email anda tanpa tanda kurung
=================================================
WebPage RantauNet http://www.rantaunet.web.id dan Mailing List RantauNet
adalah servis dari EEBNET http://eebnet.com, Airland Groups, USA
=================================================

Kirim email ke