Assalamu 'alaikum,
Otonomi daerah ko memang alah harus mulai kito perhatikan benar-benar, nan
di Makassar itu baru satu masalah nan diangkek, alun lai masalah pembuatan
peraturan perundang2an daerah nan juo harus di perbaharui, system pemilihan
wali nagari, job description camat, dll. ado mungkin ratusan perda nan harus
di buek oleh gubernur, bupati dan DPRD.
Perlu juo perhitingan anggaran biaya yang akurat dalam halperubahan iko, bra
banyak formulir2 nan harus diganti kop sureknyo, apokah masih harus memakai
lambang garuda pancasila atau pakai kop rumah gadang, dll dsb.
Kalau kito nio capek bisa menjalankan otonomi daerah, para akademisi harus
ikut membantu pemerintah daerah dalam banyak hal, indak bisa lalok
gubernur~DPR itu seharusnyo. Kalau lai itu nan dikarjoan Bapak2 itu kini,
tambahan insentif atau apolah namonyo ambo raso indak baa, alah samo jo
mambuek negara baru sabananyo ko, ijan hanya sibuk jo mambagi dana se
Duo malam nan lalu ambo ikut dalam diskusi ringan jo Bupati Solok nan sadang
ke Jkt, banyak idenyo dan tindakan maju nan alah ditampuah Solok sahinggo
berani mencanangkan diri sebagai Kabupaten pertama di Indonesia yang siap
menghadapi otonomi daerah.
Semoga langkahnyo indak terhambat di level gubernuran, dan semoga
sosialisasi ke bawah dapat dijalankannyo, kalau indak tantu sio-sio.
Wassalam,
Rudy G Syarfi
>From: Darwin Bahar <[EMAIL PROTECTED]>
>
>Rekans
>
>DAN PNS DI SULUT TERANCAM TIDAK TERIMA GAJI
>
>(Dulu ada Anekdot, Raja Thailand ingin mencari suami untuk seorang
>putrinya. Maka beliau membuat sayembara, pria pertama yang berhasil
>membuat gajah putih istana menangis, akan akan menjadi menantunya. Maka
>berdatanganlah para pemuda dari berbagai penjuru dunia guna mengikuti
>sayembara itu. Tidak sedikit pula yang membawa serta pawang dan dukun
>yang sakti mandraguna. Tetapi yang berhasil menyunting sang puteri
>jelita adalah Unyil, seorang PNS dari Indonesia. Lho? Rupanya ketika
>Unyil yang anggota Korpri itu menceritakan bagaimana ia hidup sebulan
>dengan gaji yang hanya cukup untuk hidup sepekan, Sang Gajah Putih
>langsung menangis tersedu-sedu)
>
>Sebagaimana diketahui, secara teknis desotda mecakup empat hal besar:
>(a) pelimpahan kewenangan sebagaian besar tugas-tugas pemerintahan dari
>Pemerintah Pusat kepada daerah; (b) perubahan kelembagaan di pusat dan
>daerah; (c) penyerahan sebagian besar PNS kepada daerah, dan (d)
>pelimpahan aset.
>
>Di antara keempat hal besar tersebut yang paling kritikal adalah
>penyerahan atawa mutasi sebanyak lebih kurang 1,9 juta PNS, karena yang
>mengalami mutasi tersebut adalah manusia, yang kalau tidak dilakukan
>secara cermat, terencana dan terkendali dengan baik bisa menyebabkan
>�Sang Gajah Putih� menangis setiap hari.
>
>Sebagaimana dilaporkan Media Indonesia 6/1/2001:
>
> �Ribuan pegawai negeri sipil (PNS) di jajaran Pemda Sulawesi
> Utara terancam tidak menerima gaji, karena dana alokasi umum
> (DAU) dan gaji pegawai yang dikucurkan pemerintah pusat untuk
> tahun anggaran baru ini hanya mencapai Rp 111,9 miliar.
> Sedangkan total anggaran yang diperhitungkan pemerintah
> setempat untuk membiayai gaji pegawai sebanyak 11.352 orang
> dan (dibutuhkan) DAU sebesar Rp 120 miliar per tahun.�
>
>Dan jelas hal tersebut di atas tidak hanya kasus Sulut. Sebagaimana
>diberitakan Jawa Pos 8/1/2001, H. Soekarwo, SH, MHum, Kepala Dinas
>Pendapatan Daerah Proviinsi Jatim, menjawab wartawan Jawa Pos yang
>bertanya, �Berarti pelaksanaan otonomi daerah memang sangat prematur?�
>
> �Menurut saya terlalu berani, sehingga risikonya juga besar.
> Sekarang saja, blunder sudah mulai terjadi. Misalnya gejala
> yang muncul sekarang, beberapa daerah mulai berani menolak
> membayar gaji pegawai dari pusat yang selama ini dititipkan di
> daerah. Gara-garanya DAU yang simpang siur�
>
>Tetapi yang dihadapi para anggota Korpri---yang pengurusnya digaji oleh
>Pemerintah tetapi sekarang tidak kedengaran bunyinya---tidak hanya tidak
>terbayarkan atau tertundanya pembayaran gaji (membayangkan ini saja saya
>sudah merinding) tetapi tidak sedikit pula akan kehilangan jabatan,
>posisi dan karir yang sudah dibina bertahun-tahun, yang saya tidak bisa
>membayangkan kalau saya yang berada di sana?
>
>Karena itu dengan segala hormat saya kepada integritas, kapabilitas dan
>intelektualitas Prof. Ryaas, semestinya beliau tidak mengatakan orang
>yang mengeritik UU Otonomi Daerah yang diarsitekinya sebagai �orang yang
>tidak tahu masalah�, tetapi tetap di posisi beliau sebagai Meneg
>PAN---betapun sulitnya---dan berusaha mereduksi korban yang tidak perlu
>dalam proses desentralisasi dan otonomi daerah yang tujuannya sangat
>mulia ini. Toh ada juga menteri-menteri yang punya kualitas dan
>integritas, misalnya Mentamben dan Meneg LH yang bisa betahan di
>Kabinet.
>
>Dan saya tidak heran kalau �Sang Gajah Putih� masih akan menangis di
>hari-hari mendatang.
>
>Tetapi apalah awak ini. Bak mentimun bungkuk, masuk tak genap, keluar
>tak ganjil.
>
>P.S. Naskah asli disiapkan untuk Milis Desentralisasi
>
>Wassalam, Darwin Bahar
>
_________________________________________________________________________
Get Your Private, Free E-mail from MSN Hotmail at http://www.hotmail.com.
RantauNet http://www.rantaunet.com
=================================================
Mendaftar atau berhenti menerima RantauNet Mailing List di
http://www.rantaunet.com/subscribe.php3
ATAU Kirimkan email
Ke / To: [EMAIL PROTECTED]
Isi email / Messages, ketik pada baris/kolom pertama:
- mendaftar: subscribe rantau-net [email_anda]
- berhenti: unsubscribe rantau-net [email_anda]
Ket: [email_anda] = isikan alamat email anda tanpa tanda kurung
=================================================
WebPage RantauNet dan Mailing List RantauNet adalah
servis dari EEBNET http://eebnet.com, Airland Groups, USA
=================================================