----- Original Message -----
From: edyutama <[EMAIL PROTECTED]>
Soal krisis identitas Minang yang
> awak alami
> kini ko, ambo kiro indak dek karano nagari awwak banamo Provinsi Sumatra
> Barat. Malah
> mungkin indak ado sangkuik pauknyo jo itu.
> Mesti awak akui, generasi baru kini, terutamo di rantau memang banyak nan
> alah manipis raso
> keminangkabauannyo. Baitu pulo di kampung tarutamo di kota-kota. Bahkan
ado
> nan alah
> maulu atau indak namuah mangakui keminangkabauannyo lai. Tapi di
> kampung-kampung, di nagari-nagari, ambo masih mancaliak cukuik banyak nan
> manjadikan budaya Minangkabau sebagai
> sumber rujukan dan aktivitas sosialnyo. Jadi alun sapanuhnyo hilang.
> Kalau awak caliak salamo ko, atau istilah Minangnyo; "mancaliak contoh ka
> nan sudah, mancaliak tuah
> ka nan manang", raso kkeminangkabauan atau bakambangnyo identitas Minang,
> sabananyo
> kan dek ado sistem dalam keluarga atau kaum nan mansosialisasikan
> nilai-nilai keminangkabauan
> tu,
Pak Edy, awak satuju bahwa identitas sosial seseorang didapat karena
disosialisasikan oleh keluarga dan sistem suatu kaum. Hal ini mungkin bisa
memberi sedikit jawaban mengapa anak-anak yang tinggal di kampung-2 dan
nagari-nagari lebih kental rasa keminangkabauannya di bandingkan dengan
anak-anak yang tinggal di kota-kota. Menurut Hilary Clinton dalam bukunya It
Takes a Village, butuh orang satu kampung untuk membesarkan seorang anak.
Tentunya hal ini tak hanya berlaku dalam masyarakat Amerika. Sangat logis,
anak-2 atau orang yang tinggal di kampung dan nagari (rural) mengambil
rujukan kebudyaan minangkabau dalam aktivitas sosialnya sebab mereka
menerima secara penuh semua sifat partikularisme dari kebudayaan minang.
Perhatikan saja seorang anak yang lahir dan besar di kampung. Saat berangkat
ke sekolah, di jalan dia bertemu dengan orang minang. Sesampai disekolah
mereka bertemu dengan guru-guru dan teman-teman yang juga orang Minang.Pergi
ke perhelatan dia jumpai adalah seremoni orang minang. Begitu pula ketika me
reka tiba di tempat mengaji, di pasar, atau di sawah, yang mereka temui
adalah orang-orang yang memiliki nilai-nilai dan
perasaan-2 kebersamaan yang sama. Dengan bahasa kampusnya, aspek-2 sosial si
anak
sangat homogen.
Lain halnya dengan anak-anak kaum urban. Mereka tumbuh dan berkembang dalam
wilayah padat yang berisi orang-orang dengan aneka latar belakang dan mata
pencaharian yang berbeda. Untuk survive, hanya sifat-sifat yang bernilai
universalisme lah yang bisa di
terima.Selain ibu-bapaknya, anak-anak urban tak lagi punya kesempatan untuk
mengenal kerabat secara pribadi. Kendalanya tak hanya jarak tapi juga
ekonomi. Kerabat kaum urban adalah lingkungan tetangga. Dan antar sesama
tetangga di larang saling 'menyakiti'. Di Jakarta, anak minang yang
bertetangga dengan anak Jawa tak bisa 'mendongeng' bahwa diantara mereka
berdua dialah yang lebih cerdik karena kerbau nenek moyangnya menang dalam
pertarungan yang sangat heroik. Sebab anak Jawa yang cerdas akan menjawab
bahwa slogan seperti itu hanya milik orang-orang yang kalah. Memangnya
kepala siapa yang di ladoi oleh Aditiawarman selama beberapa
dekade?Disamping itu anak-anak urban tak mengenal pola hubungan sosial mak
adang-mak tuo atau mak etek-etek dsb. Yang mereka kenal adalah pola
hubungan kenalan baik, teman akrab, majikan-bawahan, langganan dan
sebagainya.Kontak antar pribadi tak lagi bisa total seperti di pedesaan
sebab kepadatan penduduk, kadang, mengaharuskan orang untuk berelasi hanya
secara segmental saja. Yang hobi mancing akan memasuki perkumpulan 'pecinta
ikan'
tanpa susah-2 bertanya apakah falsafah hidup anggota baru itu adalah adat
bersandi
syarak- syarak bersandi kitabullah?
Dari kedua tipe aspek sosial yang berbeda tersebut terlihat bahwa memang
sukar mengharapkan anak-anak urban keturunan minang itu menjadi minangkabau
asli seperti rekan rural mereka.Karena kita butuh satu kampung minangkabau
untuk mendidik seorang anak minangkabau. Sedangkan pertanyaan mengapa orang
cina tetap cina walaupun mereka sudah tujuh keturunan menetap di Indonesia,
jawabannya mungkin bisa dicari lewat politik diskriminasi yang di praktekan
sejak jaman belanda sampai jaman orde baru. Jaman Belanda mereka-2 ini
menduduki kelas sosial kedua setelah bule Eropa sedangkan kita pribumi cukup
terhormat di tempat ketiga. Dalam pemerintahan orde baru, kedudukan
terbalik, tempat-2 yang boleh mereka masuki di batasi.Dengan pemencilan
sosial seperti ini sangat mudah tumbuh prasangka-2, jadi lebih aman kalau
sesama WNI keturunan bergaul hanya dengan WNI keturunan pula. Bahasa
kampusnya lagi, masyarakat WNI keturunan itu sangat tertutup. That's why
mereka sukses menurunkan nilai-nilai kepada generasi mudanya.
bukan oleh apa yang dinamakan "negara" atau kekuasaan yang bersifat
> formal.
> Nah dalam konteks ko, awak bisa pulo mancaliak, jikok kampuang awak ko
> dituka namonyo
> jo Provinsi Minangkabau, manuruik ambo bisa labiah barbahayo. Partamo
> sababnyoo, pemerrintah
> akan sangat jauh mencampuri urusan kebudayaan awak.
--------yang ini bersambung.........
Salam dari rantau,
Evi
RantauNet http://www.rantaunet.com
=================================================
Mendaftar atau berhenti menerima RantauNet Mailing List di
http://www.rantaunet.com/subscribe.php3
ATAU Kirimkan email
Ke / To: [EMAIL PROTECTED]
Isi email / Messages, ketik pada baris/kolom pertama:
- mendaftar: subscribe rantau-net [email_anda]
- berhenti: unsubscribe rantau-net [email_anda]
Ket: [email_anda] = isikan alamat email anda tanpa tanda kurung
=================================================
WebPage RantauNet dan Mailing List RantauNet adalah
servis dari EEBNET http://eebnet.com, Airland Groups, USA
=================================================