ANTARA BUNG KARNO DAN BUNG HATTA
Dari berlembar lembar koran Kompas tgl 1 Juni 2001 yg membahas ttg bung Karno , ada
satu artikel yg cukup menarik bagi saya , yaitu mengenai hubungan antara bung karno
dan bung Hatta yang berakhir dengan �perceraian� di awal th 60-an. Setelah berpisah
dari bung Hatta , terlihat bung Karno
Ini adalah kenyataan sebuah sejarah yg cukup menyedihkan karena sebenarnya antara bung
Karno dan Bung Hatta terdapat kekurangan dan kelebihan yang saling melengkapi diantara
keduanya. Sehingga ketika berpecah bung Karno kehilangan kesetimbangannya, sampai
akhirnya jatuh oleh Soeharto, dan bung Hatta pun yg sangat berharga pikiran dan
tindakannya tidak bisa dirasakan lagi manfaatnya sampai ia meninggal.
Cukup menarik bahwa bung Hatta memilih mundur dari kehidupan politik daripada menjadi
oposan nya bung Karno, karena ia tak mau melukai hati bung Karno sebagai sahabatnya
sejak lama, sampai akhir hayatnya hubungan sosial antara bung Karno dan bung Hatta
tetap baik. Sebuah sikap ksatria yg mungkin susah untuk dipahami saat ini.
Yang menarik ialah bahwa salah sumber perbedaan diantara dua tokoh bangsa ialah dalam
cara pandang mereka mengelola negara. Bung Hatta yg berpola pikir Egaliter dan
demokrat ( pola pikir orang Minang) agak susah untuk menerima pola pikir Bung Karno
yang paternalistik ( khas pola pikir njawani dan Bali ).
Menurut bung Hatta rakyat harus dicerdaskan ( dicerahkan ) dan dari merekalah
berkembang demokrasi ( ingat konsep Nagari dan �Parlemen� Lapau ) sedangkan menurut
bung Karno rakyat, adalah sekumpulan massa yang dipimpin oleh seorang pemimpin besar
untuk mencapai kemakmuran bersama (konsep ratu adil dalam budaya Jawa dan masyarakat
kasta dalam budaya Bali) .
Menurut bung Hatta konsep bung Karno tentang Demokrasi , demokrasi terpimpin bukanlah
Demokrasi yg sebenarnya, dan sejarah telah membuktikan nya. Sebenarnya konsep
Demokrasi Pancasila yg dikembangkan oleh pak Harto pada prinsip nya sama saja dengan
ide bung Karno tersebut.
Jadi saya menyimpulkan bahwa salah satu penyebab keretakan hubungan antara bung Karno
dan bung Hatta ialah ketidak mampuan untuk memahami latar belakang historis dari kedua
orang tersebut. Bung Karno dengan latar belakang Jawa dan Bali nya ( yang walaupun
telah ter modern kan dengan pendidikan dan pergaulannya) , dan Bung Hatta dengan latar
belakang budaya Minang dan pola pikir barat ( sekolah di Belanda).
Bukan maksud saya untuk memasalahkan hal etnis , tapi ini cukup menarik untuk menjadi
kajian kita bersama , jadi cobalah lihat hal ini semua dari sisi ke ilmu an.
( tak ada maksud saya untuk bersikap radikal dalam hal ini , istri saya sendiri
adalah orang Jawa Barat).
Selain itu ternyata bahwa Bung Karno nampaknya �alergi� pula dengan tokoh tokoh Minang
lainnya seperti M Natsir , Buya Hamka,Sutan Syahrir , Tan Malaka dll. ( walaupun sama
sama pengagum pemikiran kiri seperti Sutan Syahrir dan Tan Malaka) hal tersebut telah
terjadi sejak pergerakan kemerdekaan di tahun 1930-an sampai tahun 1960-an.
Pada jaman Orla adalah masa menyedihkan pula bagi tokoh tokoh minang , Sutan Syahrir
sahabatnya sejak jaman belanda , meninggal ketika dipenjara , Buya Hamka dipenjara
pula,
M Natsir dikucilkan , PRRI di Sumbar dihabisi ( namun syukur di maafkan ), Masyumi di
bubarkan ( banyak digerakkan oleh tokoh Minang). PDRI di Bukittinggi yg peran nya
sangat menentukan coba dikecil kan artinya oleh bung Karno dan juga pak Harto.
Bisa dikatakan akhir era Soekarno adalah masa deklinasi orang minang di negara ini ,
pada jaman pak Harto akhirnya yg muncul ialah orang Minang yg telah njawani (
berperilaku politik seperti budaya jawa) sebab dengan cara itulah hidup bisa sukses.
Sehingga minang yg kita kenal ialah orang Minang dengan sifat negatif yg lebih banyak,
karena akhirnya orang berpikir pragmatis. Tokoh tokoh minang yg berjiwa ksatria akhir
nya tergeser oleh jaman, sungguh menyedihkan. Kalau saya pulang ke Sumbar menurut saya
pejabat pemerintahan relatif telah berpikir secara njawani. Saya salut dengan konsep
nagari yg mulai dikembangkan kembali.
Konsep Egaliter dan demokrat yang dikembangkan dari budaya minang ( Nagari dan mahota
di lapau) mungkin bisa menjadi suatu sumbangan untuk tatanan politik Indonesia yang
selama ini diwarnai oleh pola politik kerajaan jawa ( Paternalistik ,feodal dan agak
takhyul) , karena semua presiden kita dari bung Karno sampai terakhir Gus Dur secara
tidak disadari memiliki alam berpikir bawah sadar yg sama. Dan nampaknya semuanya
nggak suka dengan orang Minang ( yg benar benar Minang ) karena akan merepotkan
kemapanan kekuasaannya.
Kepiawaian orang Minang mengelola negara bisa dibuktikan dengan keberhasilan kabinet
Hatta dan kabinet M Natsir , yg dipandang cukup berhasil pada masanya.
Jadi pada saat berderu derunya peringatan satu abad bung Karno, mungkin kita perlu
juga bercermin dari sejarah mengenai perjalanan sejarah orang Minang , khususnya dalam
era kepemimpinan bung Karno .
Nampaknya perlu juga kita kembangkan wacana untuk membahas pola pikir tokoh tokoh
Minang yg mudah mudahan bisa pulalah sedikit memberikan alternatif di tengah negeri yg
sedang carut marut ini.
Namun jangan lah kita terjatuh dalam pola pikir yg chauvistik ( merasa diri/etnis yg
paling benar) , marilah kita berpikir secara sehat dan dewasa.
ditunggu komentar nyo.
Wassalam
Malin Sinaro
--
_______________________________________________
Get your free email from http://mymail.altavista.com
RantauNet http://www.rantaunet.com
=================================================
Mendaftar atau berhenti menerima RantauNet Mailing List di
http://www.rantaunet.com/subscribe.php3
ATAU Kirimkan email
Ke / To: [EMAIL PROTECTED]
Isi email / Messages, ketik pada baris/kolom pertama:
- mendaftar: subscribe rantau-net [email_anda]
- berhenti: unsubscribe rantau-net [email_anda]
Ket: [email_anda] = isikan alamat email anda tanpa tanda kurung
=================================================
WebPage RantauNet dan Mailing List RantauNet adalah
servis dari EEBNET http://eebnet.com, Airland Groups, USA
=================================================