Wah menarik sekali ulasannya, tapi nampaknya Bung
Karno agak mendingan di banding Gus Dur dalam pola
pikir demokrasinya.
Gus Dur sendiri pernah bilang bahwa saat ini tak ada
lagi tokoh Minang ber bobot seperti jaman dulu ,
sehingga ia tak memasukkan orang Minang dalam
kabinetnya.
saya punya ide , mungkin kita perlu juga membahas/
mendiskusikan pola pikir tokoh tokoh minang seperti
Bung Hatta ,
M Natsir , Tan Malaka, Sutan Syahrir, M Yamin dll.
nampaknya bisa memberikan alternatif pola pikir
terutama dalam politik kenegaraan. karena selama ini
ide dan kiprah sejarah mereka sering di tutup tutupi.
Trims
--- hendra mesa <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> ANTARA BUNG KARNO DAN BUNG HATTA
>
> Ambo mohon maaf indak manulih pakai bahaso minang ,
> karena tangan ambo agak barek dek lah lamo ndak
> dipagunokan, mudah mudahan tulisan iko ada munfaaek
> nyo , ditunggu bana komentarnyo.
>
> Dari berlembar lembar koran Kompas tgl 1 Juni 2001
> yg membahas ttg bung Karno , ada satu artikel yg
> cukup menarik bagi saya , yaitu mengenai hubungan
> antara bung karno dan bung Hatta yang berakhir
> dengan �perceraian� di awal th 60-an. Setelah
> berpisah dari bung Hatta , terlihat bung Karno
>
> Ini adalah kenyataan sebuah sejarah yg cukup
> menyedihkan karena sebenarnya antara bung Karno dan
> Bung Hatta terdapat kekurangan dan kelebihan yang
> saling melengkapi diantara keduanya. Sehingga ketika
> berpecah bung Karno kehilangan kesetimbangannya,
> sampai akhirnya jatuh oleh Soeharto, dan bung Hatta
> pun yg sangat berharga pikiran dan tindakannya tidak
> bisa dirasakan lagi manfaatnya sampai ia meninggal.
>
> Cukup menarik bahwa bung Hatta memilih mundur dari
> kehidupan politik daripada menjadi oposan nya bung
> Karno, karena ia tak mau melukai hati bung Karno
> sebagai sahabatnya sejak lama, sampai akhir hayatnya
> hubungan sosial antara bung Karno dan bung Hatta
> tetap baik. Sebuah sikap ksatria yg mungkin susah
> untuk dipahami saat ini.
>
> Yang menarik ialah bahwa salah sumber perbedaan
> diantara dua tokoh bangsa ialah dalam cara pandang
> mereka mengelola negara. Bung Hatta yg berpola pikir
> Egaliter dan demokrat ( pola pikir orang Minang)
> agak susah untuk menerima pola pikir Bung Karno yang
> paternalistik ( khas pola pikir njawani dan Bali ).
>
> Menurut bung Hatta rakyat harus dicerdaskan (
> dicerahkan ) dan dari merekalah berkembang demokrasi
> ( ingat konsep Nagari dan �Parlemen� Lapau )
> sedangkan menurut bung Karno rakyat, adalah
> sekumpulan massa yang dipimpin oleh seorang
> pemimpin besar untuk mencapai kemakmuran bersama
> (konsep ratu adil dalam budaya Jawa dan masyarakat
> kasta dalam budaya Bali) .
> Menurut bung Hatta konsep bung Karno tentang
> Demokrasi , demokrasi terpimpin bukanlah Demokrasi
> yg sebenarnya, dan sejarah telah membuktikan nya.
> Sebenarnya konsep Demokrasi Pancasila yg
> dikembangkan oleh pak Harto pada prinsip nya sama
> saja dengan ide bung Karno tersebut.
>
> Jadi saya menyimpulkan bahwa salah satu penyebab
> keretakan hubungan antara bung Karno dan bung Hatta
> ialah ketidak mampuan untuk memahami latar belakang
> historis dari kedua orang tersebut. Bung Karno
> dengan latar belakang Jawa dan Bali nya ( yang
> walaupun telah ter modern kan dengan pendidikan dan
> pergaulannya) , dan Bung Hatta dengan latar belakang
> budaya Minang dan pola pikir barat ( sekolah di
> Belanda).
> Bukan maksud saya untuk memasalahkan hal etnis ,
> tapi ini cukup menarik untuk menjadi kajian kita
> bersama , jadi cobalah lihat hal ini semua dari
> sisi ke ilmu an.
> ( tak ada maksud saya untuk bersikap radikal dalam
> hal ini , istri saya sendiri adalah orang Jawa
> Barat).
>
> Selain itu ternyata bahwa Bung Karno nampaknya
> �alergi� pula dengan tokoh tokoh Minang lainnya
> seperti M Natsir , Buya Hamka,Sutan Syahrir , Tan
> Malaka dll. ( walaupun sama sama pengagum pemikiran
> kiri seperti Sutan Syahrir dan Tan Malaka) hal
> tersebut telah terjadi sejak pergerakan kemerdekaan
> di tahun 1930-an sampai tahun 1960-an.
>
> Pada jaman Orla adalah masa menyedihkan pula bagi
> tokoh tokoh minang , Sutan Syahrir sahabatnya sejak
> jaman belanda , meninggal ketika dipenjara , Buya
> Hamka dipenjara pula,
> M Natsir dikucilkan , PRRI di Sumbar dihabisi (
> namun syukur di maafkan ), Masyumi di bubarkan (
> banyak digerakkan oleh tokoh Minang). PDRI di
> Bukittinggi yg peran nya sangat menentukan coba
> dikecil kan artinya oleh bung Karno dan juga pak
> Harto.
>
> Bisa dikatakan akhir era Soekarno adalah masa
> deklinasi orang minang di negara ini , pada jaman
> pak Harto akhirnya yg muncul ialah orang Minang yg
> telah njawani ( berperilaku politik seperti budaya
> jawa) sebab dengan cara itulah hidup bisa sukses.
> Sehingga minang yg kita kenal ialah orang Minang
> dengan sifat negatif yg lebih banyak, karena
> akhirnya orang berpikir pragmatis. Tokoh tokoh
> minang yg berjiwa ksatria akhir nya tergeser oleh
> jaman, sungguh menyedihkan. Kalau saya pulang ke
> Sumbar menurut saya pejabat pemerintahan relatif
> telah berpikir secara njawani. Saya salut dengan
> konsep nagari yg mulai dikembangkan kembali.
>
> Konsep Egaliter dan demokrat yang dikembangkan dari
> budaya minang ( Nagari dan mahota di lapau) mungkin
> bisa menjadi suatu sumbangan untuk tatanan politik
> Indonesia yang selama ini diwarnai oleh pola politik
> kerajaan jawa ( Paternalistik ,feodal dan agak
> takhyul) , karena semua presiden kita dari bung
> Karno sampai terakhir Gus Dur secara tidak disadari
> memiliki alam berpikir bawah sadar yg sama. Dan
> nampaknya semuanya nggak suka dengan orang Minang (
> yg benar benar Minang ) karena akan merepotkan
> kemapanan kekuasaannya.
>
> Kepiawaian orang Minang mengelola negara bisa
> dibuktikan dengan keberhasilan kabinet Hatta dan
> kabinet M Natsir , yg dipandang cukup berhasil pada
> masanya.
>
> Jadi pada saat berderu derunya peringatan satu abad
> bung Karno, mungkin kita perlu juga bercermin dari
> sejarah mengenai perjalanan sejarah orang Minang ,
> khususnya dalam era kepemimpinan bung Karno .
>
> Nampaknya perlu juga kita kembangkan wacana untuk
> membahas pola pikir tokoh tokoh Minang yg mudah
> mudahan bisa pulalah sedikit memberikan alternatif
> di tengah negeri yg sedang carut marut ini.
> bukan pula pikir Chauvinistik ( merasa bahwa suatu
> etnis lebih unggul) yg kita kembangkan, namun pola
> pikir terbuka yg sehat.
>
> Wassalam
>
> Malin Sinaro
>
> --
>
> _______________________________________________
> Get your free email from http://mymail.altavista.com
>
>
> RantauNet http://www.rantaunet.com
> =================================================
> Mendaftar atau berhenti menerima RantauNet Mailing
> List di
> http://www.rantaunet.com/subscribe.php3
>
> ATAU Kirimkan email
> Ke / To: [EMAIL PROTECTED]
> Isi email / Messages, ketik pada baris/kolom
> pertama:
> - mendaftar: subscribe rantau-net [email_anda]
> - berhenti: unsubscribe rantau-net [email_anda]
> Ket: [email_anda] = isikan alamat email anda tanpa
> tanda kurung
> =================================================
> WebPage RantauNet dan Mailing List RantauNet adalah
> servis dari EEBNET http://eebnet.com, Airland
> Groups, USA
> =================================================
__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Get personalized email addresses from Yahoo! Mail - only $35
a year! http://personal.mail.yahoo.com/
RantauNet http://www.rantaunet.com
Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/register.php3
===============================================
Mendaftar atau berhenti menerima RantauNet Mailing List di
http://www.rantaunet.com/subscribe.php3
ATAU Kirimkan email
Ke/To: [EMAIL PROTECTED]
Isi email/Messages, ketik pada baris/kolom pertama:
-mendaftar--> subscribe rantau-net [email_anda]
-berhenti----> unsubscribe rantau-net [email_anda]
Keterangan: [email_anda] = isikan alamat email anda tanpa tanda kurung
===============================================