Berikut kiriman berita dari teman Anda yang beralamat di:
[EMAIL PROTECTED]
----------------------------------------
Pesan pengirim:
Mandukuang dan maamba gadang,perlu adanya sebuah tafsir tengan budaya
minang nan basandi syara', syara' basandi Kitabullah.
----------------------------------------
Media Indonesia, Kamis, 22 November 2001

Perlu Tafsir Baru Budaya Minang


PADANG (Media): Perubahan paradigma kebudayaan menuntut orang Minang untuk
melakukan penafsiran baru terhadap nilai-nilai falsafah kebudayaannya,
seperti yang dilakukan Jepang pada era Tokugawa.

"Meskipun kebudayaan Minangkabau cukup akomodatif terhadap perubahan,
namun kita harus berani mengkritisi mana adat yang perlu dikritisi,
direvisi, dan diubah berdasarkan kategori adat serta konsepnya. Dan, mana
adat yang perlu dipertahankan," ujar pengamat kebudayaan dari Universitas
Bung Hatta (UBH) Padang Drs Anwar Nasihin MHum, kemarin di Padang.

Menurut dia, berdasarkan falsafah adat Minangkabau, sejauh masih dalam
wilayah adat yang diadatkan, adat yang teradat, dan adat istiadat,
perubahan tetap dibenarkan. Sebagaimana pepatah-petitih mengatakan:
"Bakisa tagak di tanah nan sabingka, bakisa duduak di lapeik nan sahalai".
Artinya boleh berubah, tetapi ada nilai adat yang harus dipertahankan.

Lebih lanjut ia mengatakan, beberapa falsafah Minang, seperti Anak
dipangku kamanakan dibimbing, akhir-akhir ini oleh sebagian cendekiawan
sering dituding sebagai dukungan budaya yang negatif terhadap tumbuh
suburnya KKN atau sukuisme. Namun hal ini terjadi karena penerjemahannya
kurang bijaksana.

"Kita perlu mengupayakan lagi penafsiran baru budaya dan adat istiadat
untuk disesuaikan dengan masyarakat yang menjunjung reformasi dan
demokrasi seperti sekarang ini," ujar Nasihin.

Menurut Nasihin sebelum Islam masuk ke Minangkabau kehidupan bermasyarakat
sudah diatur oleh masyarakat dan disusun oleh nenek moyang mereka dengan
merujuk kepada alam. Alam mengajarkan contoh-contoh baik, bahkan penuh
hikmat untuk ditiru dan diterapkan dalam kehidupan, bila kita mampu
memetik makna darinya.

Falsafah kehidupan masyarakat Minangkabau Adat basandi syara, syara
basandi kitabullah adalah salah satu hasil penafsiran baru dan dicetuskan
oleh kaum Paderi (pembaharu), serta kaum adat di Bukit Marapalam,
Tanahdatar. Situasi yang sama juga bisa dilihat dari pengalaman Jepang,
khususnya dalam usaha-usaha menyukseskan otonomi daerah, dan umumnya dalam
memodernisasikan bangsa.

Ia mengatakan pada zaman Tokugawa (awal abad ke-18), beberapa sejarawan
Jepang mencatat munculnya fenomena berkembangnya iptek,
pemikiran-pemikiran baru dalam bidang filsafat dan tumbuhnya
penafsiran-penafsiran baru mengenai ajaran agama-agama yang ada.

Perbandingan pola modernisasi Minangkabau dan Jepang pada zaman Tokugawa
telah memusatkan perhatian pada peranan agama atau filsafat. Pada zaman
Tokugawa agama-agama telah dikerahkan untuk penyebaran bibit modernisasi.

Sementara itu, pada revolusi pederi, agama juga dijadikan alasan untuk
meninggalkan pola pikir irasional dan kebiasaan-kebiasaan yang
bertentangan dengan moralitas. Tujuannya agar mewujudkan masyarakat yang
berpikir, bersikap, dan bertindak lebih realistis serta maju. (Ant/B-1)

Sumber: http://www.mediaindo.co.id/cetak/berita.asp?ID=2001112202362876
----------------------------------------
http://www.mediaindo.co.id/
Copyright � 1999-2001 Media Indonesia. All rights reserved.


RantauNet http://www.rantaunet.com

Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/register.php3
===============================================
Mendaftar atau berhenti menerima RantauNet Mailing List di
http://www.rantaunet.com/subscribe.php3

ATAU Kirimkan email
Ke/To: [EMAIL PROTECTED]
Isi email/Messages, ketik pada baris/kolom pertama:
-mendaftar--> subscribe rantau-net [email_anda]
-berhenti----> unsubscribe rantau-net [email_anda]
Keterangan: [email_anda] = isikan alamat email anda tanpa tanda kurung
===============================================

Kirim email ke