GAMMA 42-3: 11-12-2001
 
Soni: Hentikan Privatisasi
           
Program privatisasi bakal mendatangkan bencana di kemudian hari. Di            samping liar, rakyat tak memperoleh apa-apa.

           
MENARI di atas kepedihan orang lain. Itulah gambaran para pemodal             internasional yang belakangan ingin menguasai beberapa BUMN. Seolah-olah, kata Revrisond Baswir, dosen Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, semua ini telah mereka rencanakan sebelumnya. Krisis ekonomi yang sudah berlangsung lebih empat tahun itu secara sistematis telah membuka peluang bagi mereka untuk memborong perusahaan-perusahaan Indonesia dengan harga sangat murah, merosot hingga 75%. 
           
Pemerintah Indonesia juga terperangkap utang, yang kini jumlahnya             menembus angka Rp 1.400 trilyun. Itu sebabnya, pemerintah terpaksa             menyisihkan anggaran negara untuk membayar utang dalam dan luar             negeri sebesar rata-rata Rp 90 trilyun per tahun. Yang lebih menyedihkan lagi, secara halus, pemerintah kemudian dipaksa untuk menjual BUMN dengan harga bantingan. 
           
Lantas, sang juragan IMF datang, menyediakan dana cadangan US$ 43             milyar untuk menopang penguatan rupiah, dengan seabrek kewajiban yang secara rinci tertuang dalam LOI (Letter of Intent). Salah satunya dengan program penjualan atau privatisasi BUMN dengan target Rp 6,5 trilyun per tahun. 
           
Pemerintah panik. Meski tanpa payung undang-undang (UU), pelaksanaan             program privatisasi nekat digelar. Tidak seperti yang terjadi di negara lain. Turki memayungi program serupa dengan UU No. 4046/1997. Yugoslavia (Serbia) menggunakan UU Pengalihan Kepemilikan (Law of Ownership Transformation). Sedangkan di Brazil, kegiatan itu dipayungi UU No. 13-IV/1990. 
           
Karena itu, tak heran jika pelaksanaan privatisasi seakan bergerak liar. Misalnya, privatisasi PT Semen Gresik Group (SGG) pada 1998. "Sejak awal, ditandai praktik patgulipat (insider trading). Sebagaimana terungkap secara terinci dalam laporan pengaduan Bapepam kepada Kejaksaan Agung. Setidaknya, terdapat 14 perusahaan yang tersebut yang berujung dengan pemecatan Ketua Bapepam Putu Ary Suta. Entah apa yang terjadi, kasus itu hingga kini tenggelam begitu saja seperti ditelan ombak," kata pria kelahiran Pekanbaru, 28 Februari 1958, ini. 
           
Peruntukan dana hasil pelaksanaan privatisasi BUMN itu pun tidak jelas ujung pangkalnya. "Tidak seperti yang terjadi di Yugoslavia, dananya digunakan untuk pelaksanaan pembangunan (50%), untuk Depnaker (25%), sisanya (25%) untuk membiayai pensiun dan asuransi pegawai," papar Revrisond. 
           
Sementara, di Indonesia, sebut Sony, begitu ia biasa disapa, dana hasil privatisasi BUMN itu cenderung digunakan oleh penguasa seenak perutnya. Sony merisaukan, jangan-jangan yang dilakukan pemerintah selama ini tidak lebih dari sekadar "rampokisasi" dengan kedok privatisasi. 
           
Masalah put option saham pemerintah di SGG maupun spin off Semen            Padang (SP) dan Semen Tonasa (ST) dari SGG juga mendapat sorotan dari penyandang gelar M.B.A. dalam bidang general business di Western Michigan University, AS, ini. Berikut petikan wawancaranya: 
           
Tanggapan Anda tentang penundaan put option 51% saham SGG kepada             Cemex? 
           
Inti persoalannya ada dua pertanyaan besar. Pertanyaan pertama yang             harus dijawab, apa alasan pemerintah menjual BUMN? Kalau kita analisis, privatisasi itu bukan program baru. Sejak 1988, zaman Presiden Soeharto juga sudah ada privatisasi. Waktu itu tujuannya menyehatkan BUMN dengan menjual di pasar modal. Ketika krisis, tidak hanya pasar modal, tetapi melalui mitra strategis. Lain lagi alasan pemerintah sekarang. Ternyata, pemerintah butuh uang untuk bayar utang. 
           
Jadi, apakah patut meneruskan penjualan itu? Kalau logika ini yang             dipakai, berbahaya sekali. Nilai equity (kepemilikan pemerintah) tinggal Rp 250 trilyun. Dari total aset Rp 850 trilyun, Rp 400 trilyun berupa tabungan masyarakat (utang pemerintah), Rp 200 trilyun utang jangka panjang (obligasi), jadi nilai bersih tinggal Rp 250 trilyun. Kalau kita bisa bayar bunga untuk 3 tahun, tahun             ke-4 dan tahun ke-5, kan, masih terus punya kewajiban untuk bayar             bunga.
 
Mestinya, yang dilakukan pemerintah adalah mengupayakan pemotongan utang luar negeri. Tak perlu ada penjualan BUMN. Kalaupun mau dijual, siapa yang mau beli harus jelas? Tidak sekadar investor atau pemodal. Tapi, harus diusut karakternya, track record-nya, dan dapat uang dari mana? Dari informasi yang saya dapat, Cemex itu di negaranya adalah perusahaan monopoli yang menguasai 71% pasar. Ini berbahaya sekali. 
           
Cemex akan melakukan praktik serupa ke Indonesia. Selain itu, Cemex             kena penalti di Amerika Serikat karena melakukan praktik dumping. Di             Meksiko mereka jual semen 100 dolar/ton, di AS 31 dolar/ton. Cemex juga dikenal sebagai perusahaan yang melakukan praktik money laundering. Dan ketika masuk ke Indonesia tidak pakai uang sendiri. 
           
Mereka membuat perusahaan papan nama yang anggotanya terdiri atas             venture club, yaitu gabungan perusahaan pelepas uang (venture capital). Dan dari sana mereka mendapat royalti. Ada 10 perusahaan (pelaku praktik money laundering) di seluruh dunia yang terlibat. Antara lain, American Investment Group (AS), Government of Singapore Investment Center (Singapura), CDPQ (Kanada), dan GIAM (Belgia), sebuah perusahaan yang berpusat di Cayman Island. Ke-10 perusahaan ini juga buka cabang di Cayman Island. 
           
Apakah semua ini tidak berbahaya jika dipraktikkan di Indonesia? 
           
Asal tahu saja, Cemex itu milik Loranzo Zumbrano, seorang pengusaha             sangat kaya yang merupakan Liem Sioe Liong-nya Meksiko. Zumbrano             adalah pengusaha kroni yang dekat dengan PRI, partai pemerintah yang            berkuasa, mirip Golkar di sini. Ia termasuk 100 pengusaha terkaya di             dunia. Ketika aset perusahaan itu digabung dengan perusahaan keluarga, Zumbrano tercatat sebagai orang ke-8 terkaya dengan harta senilai US$ 2,9 milyar. 
           
Nah, kalau di sini kita memusuhi Liem, Eka Tjipta, Prajogo, Bob Hasan, sekarang kita mengundang orang baru lagi yang "mirip", dan telah menyebabkan krisis Meksiko. Orang yang membuat hancur perekonomian Meksiko, yang membuat Meksiko mengalami krisis berulang-ulang. Ini namanya bukan mitra strategis, melainkan rampok strategis! 
           
Apa makna di balik penundaan keputusan pemerintah ini? 
           
Itu artinya, pemerintah memaksakan tetap ingin bayar utang. Selain itu, walaupun ada praktik curang Cemex, masih ada juga orang-orang yang terlibat dalam pengambilan keputusan ingin melanjutkan terus. Jangan-jangan karena persekot mereka sudah masuk duluan kepada orang-orang di sektor kekuasaan. 
           
Lalu apa yang harus kita perbuat? 
           
DPR harus menghentikan privatisasi secara keseluruhan. Atur yang jelas soal privatisasi dalam UU, baru lanjutkan lagi. Tak ada pilihan lain soal ini. Ini juga sesuai dengan aspirasi yang berkembang. 
           
Tetapi, yang terjadi bagaimana? 
           
Janji spin off SGG diucapkan oleh tiga orang presiden, mulai dari era Habibie, Abdurrahman Wahid, hingga Megawati. Tapi, tidak satu pun ditepati. Sebetulnya, enggak ada risiko (dari Cemex) kalau kita memutuskan spin-off. Dalam perjanjian itu tidak diatur kita akan menjual dengan harga tertentu. Tetapi, ketika berhasil membeli 14%, Cemex memang menginginkan mayoritas. Itu sebabnya Cemex tampak bersemangat, hingga rela memasang iklan di sejumlah media dalam dua 
hari berturut-turut. 
           
Apa yang diperoleh pemerintah jika meneruskan penjualan? 
           
Masyarakat tidak memperoleh manfaat apa-apa dari hasil privatisasi.             Malah, uangnya langsung menguap lagi untuk bayar bunga utang. 
 
Apa pendapat Anda mengenai rencana pemerintah untuk membeli kembali             saham ST dan SP paska spin off dari SGG? 
           
Ada tiga kekuatan tarik menarik soal put option. Cemex yang             menginginkan put option 51%. Sementara, pemerintah sendiri tetap             menghendaki agar dapat uang untuk membiayai APBN. Di sisi lain,             masyarakat Sumatera Barat dan Sulawesi Selatan menginginkan spin off. 
Dengan keputusan ini, Cemex dan pemerintah jelas diuntungkan. 
           
Karena, pemerintah dapat uang dan saham Cemex di Semen Gresik             meningkat. Tetapi, masyarakat Sumatera Barat dan Sulawesi Selatan             jelas dirugikan. Ini artinya, keputusan pemerintah itu berat sebelah, lebih mementingkan Cemex dan pemerintah sendiri. 
           
Dengan skenario pemerintah itu, ternyata tidak hanya spin off. Soalnya, saham Cemex di Semen Padang dan Semen Tonasa malah meningkat. Kepemilikan saham Cemex di SP dan ST yang dulunya 25,5% kini naik jadi 37,5%. Meski saham pemerintah juga naik. Kalau begini, put option jelas sekali dilakukan. 
           
Dengan langkah itu, pemerintah mencoba mencari optimalisasi. Keinginan Cemex terpenuhi, sahamnya di Semen Gresik menjadi 76%. Sementara, saham pemerintah di SP dan ST juga meningkat. Pemerintah dapat uang sekitar US$ 250 juta. Tetapi, SP dan ST tetap dirugikan. Akan lebih menguntungkan bila kedua BUMN itu tetap dengan status quo. 
           
Solusi terbaiknya apa? 
           
Meski tak dapat duit, pemerintah tidak akan merugi bila menguasai SP             dan ST 100%. Pemerintah jangan hanya membeli 51%, tapi membeli 100%            saham SP dan ST. Lebih baik pisah. Walau tak dapat duit, kita masih             untung dapat perusahaan. SP dan ST menjadi milik kita. Silakan saja             Cemex mengakuisisi SGG sampai habis. Dengan begitu, kan, pisah. Biar             saja SGG lepas ke Cemex.
-Mohammad Rochiq dan Yudi Yusmili (Yogyakarta) 
          
 
 GAMMA Digital News: Bersih, Berani, Mandiri - Interaktif!
 � Hak Cipta Dilindungi oleh Undang-Undang, 1999. - Webmaster info
 
 
 
 

Kirim email ke