Ambo buliah nanyo ka Indra J Piliang,
Pembangunan bukan kah batolak belakang jo kabebasan.?
Pembanguan jo mental spritual bukanyo duo kato yang juo sangat babeda
degradasinyo.?
Pada tataran ma negara malapehkan hegemoninyo manyangkuik mental spiritual
ko.?
Teralienasi bukankah lebih ka sikap personal dalam menyikapi keadaan nan
ado.?
Civil society yang Indra J Piliang paparkan apobedanya dengan jargon
masyarakat madani.?
Kalau cikal bakal masyarakat madani (ambo maliek hampia mirip jo
teokrasinyo aristoteles dan wilayatul faqihnyo urang iran) ambo mandanga di
urang kampuang awak, sabalun orla dan orba mahancuakan struktur masyarakat
minangkabau lah  mempunyai cikal bakal dengan adonyo lembaga dalam nagari
yang tergabung dari unsur niniak mamak dan cadiak pandai dalam nagari yang
punya otoritas dalam manantukan kabijakkan publik, yang proses
kaanggotaanyo beranjak dari komunitas taketek dengan tantangan yang manajak
naik.

Salam dari rang danau.

----- Original Message -----
From: "ijp" <[EMAIL PROTECTED]>
SUARA PEMBARUAN DAILY

---------------------------------------------------------------------------
-----

Pembangunan, Alienasi atau Pembebasan?


Indra J Piliang

''...Bangunlah Jiwanya... Bangunlah Badannya...''


WR Soepratman


Pembangunan merupakan kata kunci dari keseluruhan jalannya rezim Orde Baru.
Pembangunan dikaitkan ke dalam dan ke luar diri manusia, baik berupa
infrastruktur (berupa sarana dan prasarana), suprastruktur (berupa
lembaga-lembaga/birokrasi), maupun mental spiritual. Begitu getolnya rezim
Orde Baru menggunakan kata ini sehingga pers pun disebut sebagai Pers
Pembangunan. Pendidikan pun tak lepas dari kata ini sehingga menghasilkan
lulusan-lulusan yang siap pakai.

Untuk mengejar impiannya, kebebasan dibungkam. Padahal, dimensi terpenting
dari pembangunan justru kebebasan. Kebebasan itu menyangkut perlindungan
dan kesamaan di depan hukum, kebebasan berbicara, dan kebebasan mendapatkan
pekerjaan. Tetapi yang terjadi selama Orde Baru justru kebalikannya. Demi
pembangunan, kebebasan warga negara diabaikan. Sensor sangat ketat,
termasuk sensor atas pikiran, karya-karya ilmiah, dan kebebasan akademis.

Kegagalan pembangunan Orde Baru sudah banyak dibahas. Tetapi yang kurang
diuraikan adalah bagaimana kegagalan demi kegagalan itu menjadi bahan untuk
memformulasikan konsep, paradigma, dan metodologi yang tepat untuk
pembangunan. Dari sinilah muncul dua pertanyaan: apakah manusia untuk
pembangunan ataukah pembangunan untuk manusia?

Dari yang sudah terjadi, selama ini manusia justru adalah korban yang
dipersembahkan kepada ideologi pembangunan. Demi pertumbuhan kapital,
manusia-manusia miskin tak dipedulikan. Pembangunan telah direduksi menjadi
angka-angka statistik, berupa pertumbuhan pendapatan per kapita, atau
angka-angka kenaikan standar hidup, konsumsi, bahkan nilai kalori yang
dimakan. Padahal, di balik angka-angka itu, terdapat berbagai jenis rent
seeking economy, penggusuran, bahkan kehancuran lingkungan.

Padahal, pembangunan semestinya dipersembahkan untuk manusia. Manusia,
sebagai bagian dari alam, serta sebagai bagian dari mahkluk beragama,
menjadikan pembangunan itu sebagai upaya untuk mencapai kehidupan
tertinggi. Dalam Islam, pembangunan jenis ini dikaitkan dengan pembangunan
Islami yang dibedakan dengan pembangunan sekular. Dengan corak ini,
pembangunan tidak lagi bersifat materialistik, "serbabenda'', serta
tertolong dari penghadapan secara antagonis antara hukum manusia dan "hukum
Tuhan''.


Pembangunan Materi

Tetapi apa lacur? Pembangunan memang terkait erat dengan materi.
Pembangunan yang bersifat material sudah dijadikan sebagai "ajimat" paling
unggul akhir abad ke-20. Pembangunan itu dikaitkan dengan penguasaan
terhadap teknologi, standar pendapatan per kapita, bahkan juga keteririsan
dengan pasar global. Artinya, tak ada lagi dimensi lokal/tribal untuk
pembangunan. Semuanya sudah mempunyai standar khusus, yang memberi jalan
masuk bagi organisasi internasional: IMF, World Bank, Multinational
Corporation, dan seterusnya. Pembangunan semacam itu akhirnya hanya
menempatkan entitas lokal/tribal sebagai faktor ikutan. Ia menjadi sekrup
kecil dalam mesin besar kapitalisme.

Ikon terpenting dari pembangunan material itu adalah uang. Uang ada dalam
industri perbankan dan pasar-pasar saham. Hanya karena memiliki saham di
negeri yang tak pernah disinggahi, seorang pemilik saham bisa dengan
sekejap membuat bangkrut perusahaannya, menimbulkan ribuan pengangguran,
bahkan bisa menjatuhkan rezim yang berkuasa. Kejatuhan rezim Orde Baru
adalah contohnya: betapa kehancuran di dunia perbankan membawa implikasi
sosial-politik yang serius.

Uang kemudian bisa berupa lembaran-lembaran obligasi, atau aset berupa
properti, kendaraan, tanah, dan hutan. Tetapi, lagi-lagi, semuanya terkait
dengan perhitungan ekonomi. Setiap aset dihargai sesuai dengan nilai
ekonomisnya. Apabila tak lagi bernilai, nilainya sama dengan besi
rongsokan, tak berarti. Begitu banyaknya mal, pabrik, gedung, tanah, hutan,
atau kekayaan laut Indonesia, toh karena perhitungan ekonominya kecil, maka
seakan-akan tak berguna bagi pemulihan akibat krisis. Adalah aneh, dengan
seluruh benda itu, Indonesia justru bagian dari negara termiskin di dunia,
dengan tingkat kemiskinan 60% dari total penduduk.

Pembangunan material nyatanya tak berguna untuk meningkatkan kesejahteraan
rakyat, selama pemilikan atas materi itu berkaitan dengan nilai uang. Dari
sebab itulah dapat dijelaskan mengapa begitu perkasanya uang dolar,
dibandingkan dengan uang rupiah, mengingat tingkat produktivitas dari
rupiah yang lemah. Selama dolar masih menjadi patokan dalam nilai tukar di
Indonesia, selama itu juga perekonomian Indonesia akan terpuruk. Jangankan
untuk dapat tampil perkasa, bahkan untuk bangkit bagi pemenuhan kebutuhan
penduduk saja sulitnya bukan main.


Mental-Spiritual

Pembangunan mental-spiritual kemudian menjadi penting, apabila dikaitkan
dengan hakikat keberadaan manusia. Pembangunan mental-spiritual itu juga
dapat kita saksikan, dalam zaman modern ini, dengan berkembangnya berbagai
jenis teknik latihan/pernapasan yang dikembangkan dari zaman klasik. Dari
sini justru terlihat sebuah paradoks, bahwa pembangunan material saja tidak
cukup, karena bisa membuat lelah batin. Manusia justru teralienasi dari
lingkungan fisiknya. Bentuk yang bisa kita sajikan adalah dengan
merajalelanya berbagai bentuk obat-obatan psikotropika. Obat-obatan itu
merupakan virus terbesar atas kemanusiaan, karena peredarannya yang meluas,
lintas negara, bahkan mampu juga mempengaruhi jatuh-bangunnya sebuah rezim.

Tetapi, lagi-lagi, terdapat ganjalan apakah pembangunan jenis ini
benar-benar menjadi tugas negara, mengingat beragamnya dasar kepercayaan
penduduk. Artinya, apabila pembangunan mental-spiritual difasilitasi oleh
negara, yang terjadi justru "pemaksaan" versi negara atas dimensi spiritual
itu. Padahal ruang-ruang spiritual, dalam kehidupan modern, lebih banyak
bersifat individual, daripada kolegial.

Lalu di mana letak pembangunan mental-spiritual, kalau bukan di level
negara? Sebetulnya bisa ditaruh pada level civil society, atau lebih-lebih
lagi lembaga-lembaga nonnegara (NGO) yang independen. Lembaga-lembaga itu
potensial melakukan fungsi-fungsi pembangunan mental-spiritual (dan
kebudayaan secara luas), tanpa harus dibebani oleh tugas-tugas "doktriner"
ala rezim yang berkuasa. Sebab, apabila civil society atau NGO berkembang
dengan wajar, dinamika internalnya akan membawa serta unsur-unsur
demokrasi. Demokrasi akan membawa kesejajaran atau budaya egalitarian.

Sebaliknya, apabila negara hadir, yang terjadi adalah hegemoni. Hegemoni,
bagaimanapun, akan menimbulkan kontrahegemoni. Apabila perbenturan antara
hegemoni dan kontra hegemoni berjalan tanpa kompromi, yang terjadi adalah
kekerasan demi kekerasan atau anarki demi anarki. Yang diuntungkan oleh
kekerasan itu hanyalah rezim yang disiplin atau memiliki kelebihan di
bidang persenjataan, bisa berbentuk militer atau para militer.


Segitiga Kesejajaran

Untuk itu, pembangunan sebagai alat untuk memanusiakan manusia dan demi
manusia, harus sedapat mungkin mengisi berbagai segi dari kehidupan manusia
itu. Dalam level yang lebih tinggi, komunitas manusia sebetulnya terbagi
tiga. Pertama, birokrasi/penyelenggara negara. Kedua, civil society.
Ketiga, business community. Ketiganya, ketika diisikan pembangunan, harus
dikembangkan secara sejajar.

Yang terjadi selama Orde Baru justru hanya mematangkan dan membesarkan satu
bagian, yaitu unsur birokrasi/penyelenggara negara. Lewat KKN, unsur itu
begitu semrawut, bahkan dengan beban yang sangat besar, antara lain utang.
Lama kelamaan, beban itu meledak menjadi krisis tak terurai, tetapi
sayangnya menimpa unsur lain yang tak ikut menikmatinya. Pada- hal, unsur
lain itu nyaris dimatikan. Kalaupun dicoba untuk dikembangkan, bentuknya
adalah korporatisme. Korporatisme hanya menguntungkan segelintir orang
karena yang berkuasa bukan sistem, melainkan orang per orang.

Ke depan, ketiga unsur itu harus benar-benar mendapatkan perhatian. Tak
terkecuali kampus. Pembangunan fisik-material dan mental-spiritual harus
menembus ketiga unsur itu. Paradigma yang dipakai dalam pembanguan bersifat
holistis, melibatkan dua dimensi: manusia dan Tuhan. Tetapi, ketika
hubungan dengan Tuhan sangat bersifat personal, hubungan antarmanusia harus
diatur dalam konvensi atau aturan main yang tegas. Masyarakat bisnis,
misalnya, tidak hanya dididik dengan akuntansi, tetapi juga unsur-unsur
spiritual, dan penghargaan atas manusia. Sebab, kalau hanya satu unsur
menonjol, dan di dalamnya juga hanya ada satu bahasa atau metode berpikir,
yang terjadi sebetulnya adalah alienasi manusia oleh pembangunan. Dan itu
di luar tujuan sebenarnya dari pembangunan, yaitu pembebasan.


Penulis adalah peneliti CSIS.



---------------------------------------------------------------------------
-----

Last modified: 4/12/2001





RantauNet http://www.rantaunet.com

Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/register.php3
===============================================
Mendaftar atau berhenti menerima RantauNet Mailing List di
http://www.rantaunet.com/subscribe.php3

ATAU Kirimkan email
Ke/To: [EMAIL PROTECTED]
Isi email/Messages, ketik pada baris/kolom pertama:
-mendaftar--> subscribe rantau-net [email_anda]
-berhenti----> unsubscribe rantau-net [email_anda]
Keterangan: [email_anda] = isikan alamat email anda tanpa tanda kurung
===============================================

Kirim email ke