ARGENTINA
 
Oleh: Revrisond Baswir
 
IMF kembali makan korban. Di tengah-tengah suasana umat Islam se dunia masih merayakan Idul Fitri, dan umat Kristiani bersiap-siap menyambut hari Natal, bangsa Argentina justru bersimpuh menangis di bawah tatapan dingin IMF. Kerusuhan masal yang meledak Kamis (20/12) lalu, berakhir menelan 24 orang korban jiwa dan sekitar dua ratus orang luka-luka. Pemerintahan Presiden Fernando de la Rua terguling setelah memerintah selama dua tahun. Dan bangsa Argentina gagal memenuhi kewajiban utang luar negerinya yang akan jatuh tempo akhir bulan ini.
 
Seperti biasa, menanggapi tragedi yang memilukan tersebut, sejumlah pejabat ekonomi dan ekonom neoliberal Indonesia, segera angkat suara. Menurut mereka, situasi ekonomi Indonesia sangat berbeda dari Argentina. Pemerintah Argentina menerapkan rezim kurs tetap, sementara pemerintah Indonesia menerapkan rezim kurs mengambang bebas. Bahkan, sebagaimana diprediksi oleh Menko Perekonomian Dorodjatun Kuntjorojakti, ekonomi Indonesia justru akan mengalami kebangkitan pada triwulan ketiga tahun 2002.
 
Bahwa situasi ekonomi Indonesia tidak sama dengan Argentina, tentu tidak perlu ada keraguan mengenai hal itu. Tetapi tidak berarti bahwa antara keduanya sama sekali tidak memiliki kesamaan. Pertama, Indonesia dan Argentina adalah sama-sama negara penghutang terbesar di dunia. Utang luar negeri Indonesia saat ini berjumlah sekitar 137 miliar dollar AS. Sementara utang luar negeri Argentina berjumlah sekitar 132 miliar dollar AS.
 
Kedua, Indonesia dan Argentina sama-sama mengalami kesulitan dalam membayar kewajiban utang luar negerinya. Sesuai dengan APBN 2002, pemerintah Indonesia tidak hanya berencana meminta penjadualan ulang pembayaran angsuran pokok utang luar negeri, tetapi juga pembayaran bunganya.
 
Dan ketiga, ini yang paling penting, Indonesia dan Argentina adalah sama-sama pasien IMF yang telah mengalami krisis selama empat tahun berturut-turut. Kemarahan rakyat yang memicu kerusuhan masal Kamis lalu jelas dipicu oleh pelaksanaan program pengencangan ikat pinggang yang digariskan IMF. Bahkan, tekanan IMF untuk melaksanakan program pengencangan ikat pinggang yang disertai dengan penundaan pencairan pinjaman sebesar 1,2 milyar dollar pada 13 Desember lalu, patut dituduh sebagai hal yang paling bertanggungjawab terhadap tragedi tersebut.
 
Tetapi jika dicermati situasi ekonomi dan politik Indonesia secara keseluruhan, ancaman yang dihadapi Indonesia sesungguhnya jauh lebih serius daripada Argentina.
 
Pertama, Argentina hanya sebuah negara kecil dengan penduduk sebesar 37 juta jiwa. Jika jumlah pengangguran di Argentina pada tahun 2001 ini membengkak mencapai 18 persen, maka jumlah seluruh penganggur di Argentina tidak lebih dari tiga juta angkatan kerja. Sementara Indonesia adalah sebuah negara besar dengan jumlah penduduk 210 juta jiwa. Dengan angka pengangguran mencapai 40 persen, jumlah seluruh pencari kerja di Indonesia hampir sama jumlahnya dengan jumlah seluruh penduduk Argentina.
 
Kedua, secara rata-rata nasional, Argentina adalah sebuah negeri yang jauh lebih makmur daripada Indonesia. PDB perkapita Argentina pada tahun 1999 sudah mencapai 7.600 dollar AS. Sementara Indonesia adalah sebuah negeri super miskin dengan PDB perkapita pada tahun yang sama hanya sekitar 600 dollar AS.
 
Dan ketiga, Argentina sama sekali tidak menghadapi ancaman disintegrasi bangsa. Selain hanya berpenduduk 37 juta jiwa, dengan keragaman etnis yang terbatas, benih-benih disintegrasi bangsa memang tidak terdapat di Argentina. Sebaliknya dengan Indonesia, jauh sebelum krisis, ancaman disintegrasi bangsa telah terus menerus menyertai negeri ini. Bahkan, setelah selama empat tahun di bawah perawatan IMF, ancaman disintegrasi bangsa yang dihadapi Indonesia justru cenderung meluas. Menyusul Aceh dan Papua, kekecewaan terhadap Jakarta kini juga merebak di Kalimantan Timur, Riau, Sumatera Barat, dan Sulawesi Selatan.
 
Mencermati keseluruhan situasi ekonomi-politik tersebut, rasanya sama sekali tidak ada alasan bagi siapa pun di Indonesia untuk begitu saja mengabaikan tragedi Argentina. Sebaliknya, kegagalan IMF dalam menyelamatkan perekonomian negeri itu, sepatutnya dipetik sebagai pelajaran berharga untuk tidak begitu saja menyerahkan masa depan perekonomian negeri ini kepada lembaga keuangan multilateral tersebut. Bukti-bukti kegagalan IMF terbentang di seluruh penjuru dunia. Menjadi sangat aneh jika para pejabat ekonomi dan para ekonom neoliberal Indonesia masih tetap berkeras kepala memandang 'jalan IMF' sebagai jalan yang tidak penuh bahaya.
 
Dari sekian banyak pelajaran penting yang dapat ditarik dari tangisan Argentina, di antaranya adalah soal batas kesabaran rakyat. Rakyat Indonesia yang terbiasa hidup menderita mungkin memiliki daya tahan yang lebih baik  daripada kelas menengah Argentina. Tetapi itu sama sekali tidak berarti bahwa rakyat Indonesia tidak memiliki batas kesabaran. Ketiadan kerja dan peningkatan biaya hidup yang berlangsung terus menerus, pasti ada batasnya. Sebab itu, kesetiaan pada IMF yang bermuara pada permintaan penjadualan ulang utang luar negeri, sepatutnya diimbangi secara sungguh-sungguh dengan penciptaan lapangan kerja dan penanggulangan kemiskinan.
 
Kemudian, soalnya perlunya keseimbangan antara pemulihan kepercayaan investor asing dengan upaya membangun dukungan rakyat. Sehubungan dengan itu, kordinasi kebijakan harus diupayakan agar benar-benar mampu memperkuat pasar domestik secara optimal. Kebijakan fiskal yang membebani rakyat, yang disertai dengan kebijakan moneter yang ketat, jelas konterproduktif bagi pergerakan sektor riil. Lebih-lebih bila hal itu diperparah oleh ketiadaan kepastian hukum dan birokrasi yang korup. Jangankan penguatan pasar domestik, investor asing pun akan berpikir tiga kali untuk berinvestasi di sini.
 
Akhirnya, sebagaimana telah kita alami pada tahun 1998, cara kekerasan sama sekali bukan jalan keluar untuk meredam kemarahan rakyat. Baik dalam menangani ancaman disintegrasi, pemogokan buruh, kemarahan petani, dan kekecewaan kaum miskin kota, pikiran untuk menggunakan cara kekerasan harus dibuang jauh-jauh. Defisit anggaran  memang perlu dicari jalan keluarnya, tetapi semata-mata membebankannya kepada rakyat banyak jelas memancing perkara. Sebab itu, siapa pun yang memerintah di Jakarta, harus belajar untuk berempati terhadap aspirasi kelompok-kelompok yang terpinggirkan.
 
Untuk itu, mumpung bulan Syawal masih terbentang dihadapan kita, marilah kita coba membangun kebersamaan dan saling pengertian dalam arti seluas-luasnya. Situasi Indonesia memang tidak sama dengan Argentina. Tetapi Indonesia bisa sama-sama menangis seperti dialami Argentina. Ah, jangan menangis Indonesia!
 
@Republika, 24 Desember 2001.
 
 

Kirim email ke